STANDAR FASE DALAM KURFA PERJALANAN HIDUP

EEE YANG AYAH DAN IBU CINTAI

ayah ingin kalian memahami dan meyakini bahwa fase kehidupan yang pasti kita alami di dunia yang “fana” ini yg dimulai proesesnya Pra kehidupan-Mati, bagi semua manusia secara umum adalah;

1)Janin-bayii dalam kandungan- LAHIR,

2)Bayi-anak-Remaja,

3)Dewasa,

4)Tua dan

MATI.

Pada semua fase tersebut, bila Allah SWT menghendaki, manusia akan “diuji” atas kemampuannya dalam mengelola semua potensi dirinya (Fikiran, hati dan kesehatan fhisik) sehingga mampu merencanakan, menetapkan dan melaksanakan semua kehidupan yang diputuskan oleh DIRI KITA SENDIRI dan bila Allah SWT mengijinkannya.

Peran orang tua pada prinsipnya adalah “MENGANTARKAN” kalian selama kalian butuhkan dan Allah SWT ijinkan.

Pada setiap fase tersebut yang bersamaan dengan proses pertumbuhan (fhisik) dan perkembangan (emosi, kematangan berfikir, ekspresi cinta dan kasih sayang) manusia sejak janin-tua, yang umumnya memiliki karakter tantangan, tanggung jawab dan kemampuan sesuai kondisi masing-masing dan situasi sosial lingkungannya (keluarga, teman, lungkungan dll)

Untuk meraih “keberhasilan”, sangat tergantung dari ukuran (cara pandang hidu) yg kita tetapkan untuk menjadi acuan kita dalam kehidupan.

1) Acuan hidup Yang ideal adalah “ukuran moral keagamaan”, itu berarti ukurannya adalah “Alquran dan ketauladanan Nabi Muhammad SAW”. Praktisnya adalah ukuran hidup berdasarkan Apa yang dilarang dan apa yang diperintahkan Allah SWT .

2) Acuan lainnya adalan acuan sosial (peradaban/budaya) yaitu “eksisitensi kita” dimana kta berada. Apa yg benar/baik untuk dicapai (ukurannya adalah jabatan, kekayaan, ketokohan, kesehatan dll)

Dari kedua acuan hidup tersebut, yang utama ayah berpesan pada kalian adalah “rasa bahagia” kalian masing masing dalam menjalankan hidup ini. Yang sangat ditentukan oleh semua ukuran yang kalian pilih (cara pandang hidup) yang akan tersimpan dalam “back maind” kalian sesuai motivasi hidup kalian yang kalian tetapkan sendiri.

Untuk itu ayah berpesan yang dapat kalian jadikan “refresensi hidup”;

1) Optimallah pada semua fase kehidupan dengan cara; a) pada fase 1 dan 2, sebelum dewasa , nikmati kehidupan kalian tanpa beban tanggung jawab dengan terus belajar dan ikuti nasihat yang baik dari orang tua dan guru kalian. b) pada fase 2 (dewasa 17-60), jalankan hidup penuh tanggung jawab secara maksimal, terutama sebagai orang tua bagi anak anak, peran sosial lingkungan hidup (tetangga atau lingkungan kantor/negara/bangsa), dan peran sebagai umat Islam. selain tanggung jawab sbagai anak bagi orang tuanya, kakak/adik bagi saudaranya dll.

Semua fase tersebut “pasti” terjadi. Tantangan besarnya adalah proses perubahan fase yg kita alami. Bgmn kesiapan kita masing masing saat bayi menjadi anak anak- kemudian menjadi dewasa dan setetusnya secara optimal.

Saat ini kalian semua sedang berprose untuk menjadi “dewasa”. ini adalah fase yg sangat penting untuk keberhasilan fase berikutnya. Untuk itu ayah ingin pastikan ayah dan ibu selalu ada untuk kalian saat membutuhkan terutama dalam mengambil keputusan dalam memilih langkah kehidupan. Ayah siap kapanpun kalian perlukan untuk diskusi atau lainnya.

Yang utama, ayah ingatkan bahwa; 1) Semua fase tersebut akan terjadi dan tidak bisa ditunda atau dihindari. 2)Setiap pergantian fase dibutuhkan komitmen dan upaya serius dalam melaksanakannya. Semuanya membutuhkan; INTEGRITAS, KEJUJURAN, KONSISTENSI, KSATRIA (Gantle), TIDAK SOMBONG dan UPAYA MAKSIMAL DALAM MEMPERSIAPKAN DIRI DALAM MERAIH CITA CITA, JUGA IKHLAS MEMJALANI KEHIDUPAN YANG TELAH DITETAPKAN ALLAH SWT UNTUK KITA SEBAGAI HASIL USAHA KERAS KITA KARENA ALLAH SWT lah yang mengijinkan semua kejadian yang kita alami, yang penting kita harus mendapatkan hikmah atas semua kejadian yang kita alami (baik/buruk/senang/sedih) karena kita akan diuji untuk kehidupan berikutnya setalah mati.

tuntutan untuk “move on” setiap fase itu tidaj mudah tapi kita bisa persiapkan dengan baik. Edo telah meraskannya dan cukup berhasil. Bisa Evan dan Elang jadikan referensi.

Ayah dan ibu juga sedang berproses untuk fase tua dan mati. Kita semua bisa saling menghargai, saling mebantu, saling terbuka dan saling mendoakan .., karena pada dasarnya kita hidup (lahir) dan kita pertanggungjawabkan kehidupan kita setelah mati nantinya adalah “sendirian”. Kita harus tanggung jawab sendirian atas dosa dan kebaikan kita perbuat di dunia, yang lainnya hanya bisa meringankan dosa kita saja. sesuai sengan “prinsip keimanan” adalah antara kita “masing masing” (individual) dengan sang khalig.

Ayah dan Ibu mendoakan kalian “sukses” dalam menjalani hidup yang tidak mudah ini nak, ayah dan ibu yakin kalian akan jauh lebih bahagia dari kami, Amin.

ingat hidup hanyalah singkat dan sementara, jadilah dewasa dan bijaksana, berbahagia karena ikhlas dan selalu bersyukur apapun yang terjadi yang Allah berikan, walau terkadang tidak sesuai dengan harapan dan upaya keras yang kita lakukan. percayalah Allah SWT memberikan yg terbaik pada kita selama kita mejalankan perintah Nya. Ingatlah bahwa tidak semua manusia memiliki fungsi dan tugas hidup secara sosial yang sama. Yang penting berusaha melakukan semampu yang kita dapat lakukan dalam mencapai apa yang kita yakini akan bermanfaat bagi agama, bangsa, negara, lingkungan, keluarga dan diri kita sendiri layaknya “pemimpin di muka bumi” yang hidup ribuan tahun, sekaligus menyadari kita sebagai mahluk ciptaanNya yang siap kapanpun dipanggil kembali ke haribaanNya. Apapun yang terjadi sebagai hasil usaha kita, terimalah dengan ikhlas kerena yakinlah bahwa semua atas izinNya, dan teruslah menyadari akan hikmah di balik kejadian tersebut.

Bahagialah karena kita bersyukur dan menerima apapun yang diberikan Allah SWT pada kita, bukan kita harus bahagia karena mendapatkan semua yang kita inginkan.

Begitulah konsep hidup dalam Islam, simana kita sebagai manusia yang merupqkan salah satu mahluk ciptaan Tuhan. Sesuai Alquran, dimana Kita semua sebagai mahluk yang terbaik yang diciptakan Allah SWT (sebagai khalifah di muka bumi), harusnya sadar bahwa fungsi dan tugas kita yang telah ditetapkan Allah (melalui Alquran), yang utama adalah mejalankan kehidupan seauai aturan yang ditetapkan oleh sang Pencipta dunia dan seisinya, yag dimuat dalam Alquran (sebagai Juklak/peraturan/manual hidup oleh Allah SWT) dan prakteknya dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Peluk cium ayah dan ibu yang sangat menyayangi kalian.

(HH, Jakarta, 20 Juni 2018.)

Kondisi Kehidupan Sosial Berbangsa & Bernegara Yang Diwariskan Oleh Orde Baru Terakhir Pada thn 1998, Yang Merupakan “Modal ???” Awal Bagi Generasi Penerus Di Era Reformasi …

Mengngat pepatah, “Bahkan Kerbau Tidak Ingin Jatuh Kedua kali pada lubang yang sama”, apakah kita cukup bertanggung jawab dan masih merasa “sayang” pada anak dan cucu kita yang akan menerukan tugas pembangunan pada era mellenia mendatang, dengan tidak bisa mewariskan negara dan bangsa yang sungguh-sungguh menjadi “modal” besar bagi pertarungan eksistensi negara dalam era dunia yang telah menyatu berbasi digital saat ini dan masa mendatang ??? (HH)

Kontrak kerjasama antar negara yang “pertamakali terjadi yang ditandatangani oleh Soeharto, sebagai Prisiden Indonesia kedua secara langsung adalah “Freport” pada tahun 1967. Dapat diyakini merupakan “kompensasi” /harga bagi terjadinya peristiwa politik “huru hara G30 S”, yang merupakan pemicu lengsernya kekuasaan Soekarno (Proklamator dan bapak bangsa Indonesia), ketika itu selaku presiden pertama RI yang “harus” meneyerahkan kekuasaan pada Soeharto, rezim orde baru yang dipaksa rakyat Indonesia menyerahkan kekuasaannya selama 32 tahun, pada th 1998 untuk dilakukan reformasi secara menyeluruh konsep penyelenggaraan negara “gaya” orde baru tersebut. Dimana pemerintahan yg berkuasa meninabobokkan bangsa dengan “kamuflase” adem, ayem dan tenterem, melaui berbagai “subsisdi” barang konsumsi rumah tangga (listrik, bensin dll) dan menjadikan APBN sbg “sumber kehidupan ekonomi sebagian besar rakyat, melalui program bantuan sosial dan atau sumber daya “proyek” pemerintah bagi pertumbuhan pengusaha Indonesia. Sedangkan sumber dana APBN dari sedikit prosentase bagian eksplorasi kekeyaan alam Indonesia (emas, minyak dll) oleh negara Amerika dan lainnya yang “ditengkulaki” oleh kaum “elit” Indonesia (pengsaha dan para pejabat negara), dengan mengadaikan kontrak puluhan tahun (contoh Freeport sudah lebih dari 50 tahun). Sehingga situasi bangsa Indonesia, menjadi “malas” berproduksi, karena merasa “adem, ayem, walau hanya bisa makan “seadanya” dan tanpa kejelasan harapan lebih baik bagi generasi anak anaknya. karena terlena dg subsidi, bantuan sosial dan pendapatan “seadanya” melalui “bancaan seadnya bersumber dana APBN. Sehingga Indonesia selama ini dikenal sbg negara berkembang yg tidak dapat menjadi negara “maju”, akibat tidak memiliki “produksi barang eksport” (kecuali “produksi primer sumber alam Indonesia” yang dieksflorasi perusahaan negara lain) dan kita mendapatkan fee 1 % saja ? untuk sumber devisa negara dengan ditambahkan hutang luar negeri sebagai sumber anggaran APBN. Selain karena malas akibat dininabobokan pemerintah, rendahnya produk bruto Indonesia diakibatkan oleh rendahnya kualitas manusia Indonesia.

Sehingga kondisi yg diwariskan oleh rezim orde baru, adalah Negara pertumbuhan ekonominya bukan adannya produksi barang eksport untuk menjadi sumber devisa negara, tetapi pertumbuhan ekonomi yg diakibatkan ratusan juta penduduk Indonesia sebagai “obyek” sasaran “pasar produk import” semata.

Sehinga Indonesiayg terjebak dalam “middle trap”, Kekayaan alam yg terus terkuras habis, dan laju pembangunan yg sangat lamban, sehingga harapan akan adannya peluang kemajuan nagara untuk menjadi lebih baik berdasarkan waktu berjalan, hanyalah “dongeng” dari rezim berkuasa. Bahkan kecenderungan akan datang, Indonesia akan terpuruk, bila tidak segera melakukkan perubahan. Itulah yang sesungguhnya pemicunya lengsernya Soeharta dan awal bagi era reformasi.

Setelah 20 tahun berjalannya reformasi ??? ….

(HH).

Mengapa Bulan “RHAMADAN” ? Sebagai Masa Waktu Terbaik Diantara Semua Bulan Dalam Kehidupan Manusia.

….

pemimpin di muka bumi (dalam arti yang luas dan kontekstual) dan membawa manfaat bagi semua mahluk (Rahmatan Lil Alamin)Masa waktu Bulan Rhamadan, adalah suatu masa waktu yang sangat menentukan kualitas manusia sebagai mahluk ciptaanNya yang ditinggikan Allah SWT sebagai “Khalifah/Pemimpin di muka bumi”, penentu kualitas keberlanjutan kehidupan di dunia. Bulan Rhamadan dapat kita fahami sebagai masa waktu “pendadaran” bagi peningkatan kualitas moral kemanusiaan berdasarkan nilai nilai keagamaan, melalui praktik simulasi kehidupan realitas sosial yang sesuai dengan ketentuan Al’Quran sebagai pedomannya. Selain fungsi “pendadaran”, ibadah puasa di bulan Rhamadan, juga menjadi “pengendali keseimbangan”, dari pengaruh 11 (sebelas) bulan lainnya pada proses pembentukan karakter moral manusia yang terbaik, yang diyakini akan mampu memikul tanggung jawab sebagai “khalifah/pemimpin di muka bumi” (dalam arti yang luas dan kontekstual) dan membawa manfaat bagi semua mahluk di muka bumi (Islam sebagai “Rahmatan Lil Alamin”), layaknya kehidupan “surgawi”. (HH-HanibalHamidi)

Marhaban Ya Rhamadan, 1439 H”, Selamat menjalankan ibadah Saum, semoga kita semua mendapatkan Rhido Alllah SWT, sehingga kita semua mampu menyempurnakan pelaksanaan ibadah puasa kita masing-masing dan menjadi karakteristik kehidupan sosial kita pada semua dimensi kehidupan”, Amin. Mohon maaf lahir dan batin kepada semua pihak yang terlibat dengan inter aksi sosial kita, sehingga dapat meningkatkan peluang atas Rhido Allah.

(HH-HanibalHamidi)

Tingkat Kemandirian Desa Berdasarkan Indeks Desa Membangun Tahun 2014

Prosentase Tingkat Kemandirian Pada 74.754 Desa Secara Nasional, Berdasarkan Data Podes Tahun 2014, Yang Diukur Terhadap Daya Tahan Desa Pada Aspek Sosial, Ekonomi dan Linggkungan Alam, Untuk Mendapatkan Gambaran Kualitas Pondasi Pembangunan Indonesia Yang Berkelanjutan Saat Ini, Sekaligus Sebagai Acuan Penyusunan Rencana Pembangunan Desa Secara Konfrehensif Berdasarkan Paradigma “Desa Membangun” Menuju Kesejahteraan Nasional Yang Berkeadilan dan Berkelanjutan.

Berdasarkan Indikator Yang Tersedia Pada Podes 2014, Yang Terpilih Menjadi Indikator Indeks Desa Membangun, Menunjukkan Prosentase Tingkat Kemandirian Desa Yang Rendah. Tetapi Hal Ini Juga Tidak Menunjukkan Kesulitan Yang Berarti Dalam Melakukkan Rekayasa Pembangunan Kemandirian Desa Sesuai Target Kinerja Nawa Cita 3, “membangun Indonesia dari pinggiran” pada tahun 2019.

Melalui Pembangunan Desa Yang Terintegrasi Bagi Seluruh Pihak Terkait (Pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota, Desa), Maka IDM Merupakan “Kompas” Bagi Semua Pihak Dalam Membangun Desa Sesuai Tugas dan Kewenangannya Masing-Masing Berlandaskan Rencana Desa Membangun Yang Telah Ditetapkan Oleh Desa Yang Prooritas Pembangunannya Juga Disesuaikan Berdasarkan Indeks Desa Membangun.

Penyempurnaan Indikator Desa Membangun Diperlukan Bagi Tingkat Kepekaan Dalam Mewakili Nilai Pada Isue (Variabel/Sub Variabel) Yang Diinginkan Untuk Diukur. (HH, Inisiator Sekaligus Ketua Tim Penyusunan IDM)

Pembangunan Manusia Seutuhnya.

PEMBANGUNAN BERWAWASAN KEPENDUDUKAN, Amanah UU No 52, Tahun 2009 Tentang Perkwmbangan Kependududkan dan Pembangunan Keluarga. Menjadi Pintu Masuk Bagi Mewujudkan Karakter Bangsa Berlandaskan Nilai Luhur Bangsa; Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, Komitmen Kemerdekaan (Anti Kolonial) Dalam Mewujudkan Secepatnya Kedaulatan Politik, Kemandirian Ekonomi Dan Kepribadian Bangsa Dalam Memastikan Kesiapan Memimpin Dunia Bebasis Digital. HH

Enggan Mati Sebelum Bertani

Rasa Bangga Dan Cinta Pada Yang Mulia Para PETANI Kita Tunjukkan Dengan BerKomitmen padaPeningkatan Secepat Cepatnya Pada Kesejahteraan Yang Berkelanjutan Seluruh Warga Desa, HH …

Pimpinan Bank Dunia Perwakilan Indonesia Menilai Baik Kinerja Pembangunan Sosial Dasar Desa.

Rodrigo Chaves, Pimpinan Utama World Bank Indonesia, Pada Kunjungannya Ke Salah Satu Desa, Lokasi Kegiatan Program Generasi Sehat & Cerdas Di Nusa Tenggara Barat, Di Bawah Tanggung Jawab Direktur Pelayanan Sosial Dasar, Kementerian Desa PDTT, Pada Tgl. 24 Agustus 2016, Menyatakan Rasa Gembira Atas Keberhasilan Proses “Transisi” Pelaksanaan Program GSC, Yang Merupakan Salah Satu Kegiatan PNPM Di Kemendagri, Dapat Dilakukan Penyesuain Secara Utuh (Design Program, Paradigma dan Lainnya) Pada Tahun 2015, Tanpa Adanya Penundaan Waktu Dalam Proses Adaptasi Tersebut Berdasarkan UU Desa (Satu-satunya Program), HH.

Wakil Presiden World Bank, Washington, Laura Tuck Senang Mengetahui Keberhasilan Program GSC Yang Anggarannya Didukung Oleh WB dan APBN.

Wakil Presiden World Bank, Laura Tuck, Pada Kunjungannya Ke Salah Satu Desa, Lokasi Kegiatan Program Generasi Sehat & Cerdas Di Nusa Tenggara Barat, Di Bawah Tanggung Jawab Direktur Pelayanan Sosial Dasar, Kementerian Desa PDTT, Pada Tgl. 24 Agustus 2016, Menyatakan Rasa Gembira Atas Keberhasilan Proses “Transisi” Pelaksanaan Program GSC, Yang Merupakan Salah Satu Kegiatan PNPM Di Kemendagri, Dapat Dilakukan Penyesuain Secara Utuh (Design Program, Paradigma dan Lainnya) Pada Tahun 2015, Tanpa Adanya Penundaan Waktu Dalam Proses Adaptasi Tersebut Berdasarkan UU Desa (Satu-satunya Program), HH.

Peluncuran INDEKS DESA MEMBANGUN (Instrumen Kendali Tata Kelola Percepatan Pembangunan Desa Berbasis Kedaulatan Desa, UU Desa), PSD-Kementerian Desa PDTT, Otober 2016, Hanibal Hamidi.

Proses Awal Diskusi Pemanfaatan Dana Eks PNPM, Lebih Dari 3 Trilyun Bagi Upaya Percepatan Pembangunan Desa (Optimalisasi Gerakan Desa Membangun), Erani Yustika (Dirjen PPMD), Yogana (WB), Hanibal Hamidi (Direktur PSD, Fasilitator), Kementerian Desa PDTT, Jakarta 2015, HH

Penghargaan Bagi PBNU Atas Dukungan Pada Agenda PERCEPATAN PEMBANGUNAN INDONESIA SEHAT BERBASIS PERDESAAN SEHATA SELURUH INDONESIA, Jakarta 2014, Asdep Kesehatan, HH.

DUKUNGAN KETUA UMUM PBNU, Kiai Haji. SAID AQIL SIRADZ, Pada PERCEPATAN WUJUD INDONESIA SEHAT BERBASIS PERDESAAN SEHAT, Asdep Kesehatan, Jakarta 2014, HH

DISKUSI BERSAMA MENTERI KESEHATAN DALAM KERANGKA PERCEPATAN WUJUD INDONESIA SEHAT, BERBASIS PERDESAAN SEHAT, Pulau Komodo, NTT, 2014, HH

PERCEPATAN PEMBANGUNAN GENERASI SEHAT & CERDAS DESA, PSD-GSC, JAKARTA 2015, HH

KEBIJAKAN PRIORITAS KESEJAHTERAAN PEREMPUAN, ANAK & KESEJAHTERAAN SOSIAL DESA, Jakarta 2015, PSD, HH

PENEGUHAN KEBIJAKAN PELAYANAN SOSIAL DASAR, PSD, Desember 2015, Jakarta, HH

REMBUK DESA MEMBANGUN INDONESI, NAWA CITA 3, MEMBANGUN INDONESIA DARI PINGGIRAN, PSD, Desember 2015, Jakarta, HH

REMBUK DESA MEMBANGUN INDONESIA, PSD, Desember 2015, Jakarta, HH

FESTIVAL “DESA MEMBANGUN INDONESIA”, PSD, Jakarta, Desember 2015, HH

KONGRES “DESA MEMBANGUN DESA”, PSD, JAKARTA, DESEMBER 2015, HH

Seminar “DESA MEMBANGUN INDONESIA”, Universitas Brawijaya, Malang, Desember 2016

Membangun Peradaban Dari Kaki Gunung Ceremai

Menjadi Bidan di kaki gunung Ceremai sangat menantang, karena jarak antar dusun yang berjauhan, naik turun yang curam, bahkan tidak bisa dijangkau kendaraan karena harus berjalan kaki. Namun hal ini tidak menyurutkan seorang perempuan kelahiran Solo, ia adalah Lestari 34 tahun. Ditengah 7000 warga desa Sidawangi, yang terletak di perbatasan Cirebon dan Kuningan, Tari mengabdi selama 12 tahun.

untuk lebih lengkapnya dapat di baca pada website kantor berita anak Indonesia pada link berikut : Lestari Membangun Peradaban Dari Kaki Gunung Ceremai

Indonesia Sehat akan terwujud melalai 5 Pilar Perdesaan Sehat secara utuh

Pelapor Khusus untuk Hak atas Pangan Dewan HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Hilal Elver, menyebut kasus gizi buruk yang menimpa suku pedalaman Asmat di Papua sebagai insiden tragis.

“Saya ingin menarik perhatian Anda semua pada sebuah insiden yang sangat tragis. Dalam beberapa bulan terakhir, 72 anak meninggal di Kabupaten Asmat, Papua–66 anak meninggal akibat campak dan 6 lainnya akibat gizi buruk,” kata Elver dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (18/4).

“Karena ini memalukan bagi sebuah negara yang punya perkembangan ekonomi yang baik dan sumber daya yang melimpah, tetapi masih ada warganya yang mengalami gizi buruk.”

Elver mengatakan kasus Asmat mencerminkan bagaimana gizi buruk masih menjadi masalah sangat serius bagi Indonesia, meski tingkat pertumbuhan dan produktivitas pangan terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.Untuk lebih lengkapnya dapat di baca di laman CNNIndonesia pada Link Berikut

Indonesia Sehat akan terwujud melalai 5 Pilar Perdesaan Sehat secara utuh Dokter Puskesmas, Bidan Desa, Air Bersih, Sanitasi dan Gizi berkualitas.

HH

Ketulusan hati Petruk yang merupakan lakon sang Raja yang Bijak, Jumawa dan Pembawa Kemakmuran Rakyat

Kepada Yth. Seniorku

Untuk sampaikan Pendapat saya tentang isue dalam sepanduk tersebut, ijinkan saya menjelaskan pemikiran saya.

Sesungguhnya saya adalah orang yang senang mempelajari keunikan masing masing manusia, yg sangat sadar bahwa setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, dan juga dihadirkan sesuai momen dan waktunya untuk berperan sebagai apa, yang tidak pernah kita ketatahui pasti tujuan dan maknanya. Hal tersebut diketahui saat kita telah melaluinya, pada saat beberapa waktu kemudian. Saya juga cukup rasional dalam bersikap. Salah satu sikap saya pada 2014 memilih capres yang “nampak” performancenya paling siap. Selaku rakyat biasa yang memiliki kewajiban dan hak konstitusional untuk mengeksfresikan “Daulat Rakyat” dalam menentukan pilihan presiden, pimpinan daerah maupun perwakilan DPR atau DPD setiap lima tahunan, maka berdasarkan info yang tersedia oleh berbagai media dan sumber informasi (yang juga tidak saya ketahui apakah ada keberpihakan pada salah satu pasangan capres atau tidak) yang dapat saya akses, akan mengarah kepada calon yang “mengesankan” lebih siap untuk kita pilih. Tentunya pertimbangan saat memilih saat itu, selaku rakyat biasa yang relatif lebih muda dari hari ini, dan merasa tidak ada kepentingan secara langsung, maka dasar pemilihan hanya “normatif” sesuai penilaian umum tentang “pemimpin” selama ini dianggap baik oleh masyarakat umumnya (Hegomoni budaya Jawa), yaitu “bibit, bobot maupun bebet”. Tentunya kita ketahui bersama siapakah yang akan kita pilih bila dasar pemilihan kita adalah falsafah tsb.

Seperti kita ketahui dan kita yakini bersama, keterpilihan seseorang untuk memikul tugas sebagai Presiden yang sangat berat, tentunya sangat ditentukan oleh takdir yang telah ditetapkan oleh kehendak Allah SWT, dan Jokowi yang ditakdirkan sebagai Presiden ke 7 Indonesia. Banyak pertanyaan mengapa seorang Jokowi yang Allah takdirkan untuk memimpin Indonesia ?

Saya termasuk rakyat yang meyakini bahwa Allah sayang pada negra dan semua rakyat Indonesia, melalui takdir Pak Jokowi sebagai Presiden ke 7 RI. Sehingga untuk mempelajari dan mengetahui siapakah sesungguhnya Jokowi (keunikan), yang bagi sebagian banyak orang layaknya “petruk jadi raja”, saya terus mengamati tindak tanduk sang “raja” pada berbagai kegiatan dalam berbagai dimensi kehidupan sebagai manusia, selama menjadi presiden.

Kepentingan saya yang saat ini, yang memiliki 3 anak yg mulai dewasa, sadar bahwa mereka akan menghadapi persaingan yang sangat berat di dunia yang menyatu akibat digitalisasi. Perkembangan “digitalisasi” sebagai instrumen bantu interaksi sosial masyarakat, yang fungsinya dapat “menihilkan jarak dan ruang” dalam interaksi sosial, sangat progresif kemajuannya, sehingga sangat sulit diprediksi “dampak perubahan sosial yang terjadi pada lebih dari 10 tahun mendatang (berdasarkan berbagai kajian di berbagai negara, keyakinan prediksi perubahan sosial yang mungkin terjadi hanya pada maksimal 10 tahun mendatang). Sehingga menimbulkan kesulitan dalam menentukan rencana antisifasinya. Sehingga menurut pemikiran saya sangat terbatas, tidak boleh ada kesalahan dalam merencanakan langkah terbaik, karena tidak ada ruang dan waktu lagi bagi “perbaikan kesalahan” di masa mendatang, masa bagi generasi anak anak kita semua. Maka pilihannya kita adalah “memperkuat daya tahan” dari berbagai dimensi dengan cara memastikan warisan berupa “sistem pemerintahan negara RI” yg sangat baik, terjaga (rigid) dan akomodatif/responsif terhadap dinamika sosial masa mendatang, selain mempersiapkan manusia yg cerdas, bijak dan berkarakter sesuai ideologi negara dan bangsa Indonesia, “Pancasila” yg sangat manusiawi. Bagi kita sasarn strtegisnya adalah memastikan dokumen strategis RPJMN ke 4 fase RPJPN I (2020-2025) dan RPJPN II (2025-2045), sesuai dengan pemikiran apa warisan yang akan kita berikan sebagai “bekal” pertarungan yang akan dilalui anak anak kita pada masa digital saat ini dan masa mendatang.

Untuk semua pertimbangan tersebut di atas, maka kesimpulan saya adalah sebagai berikut; “Kelemahan sang raja adalah layaknya orang kampung yang ingin bersihkan kota, dia punya niat yang baik (Goodwil) dan mengetahui dan berani menghadapi resikonya. Tetapi tidak banyak mengetahui informasi tentang kota secara baik (tokohnya dll). Dia hanya tahu info jenis kejahatan besarnya, modus “mafioso” dll, itupun tidaklah cukup update dan tidak detail. Yang dia tahu, adalah secara prinsif, bahwa semua “budaya buruk” yang selama puluhan tahun terbentuk, menyisakan banyak “budaya tidak produktif”, manja dan masih banyak para antek “budaya” korup dan lainnya. Dia hanya mengetahui ciri-ciri “karakter” para elit komunitas penganut “budaya warisan aristokrat/budaya panggung” tsb.

Tapi karena hanya punya teman “seperjuangan” dalam menjadikan dirinya “walikota”, dan karena dia juga harus jadi orang jawa yang menghargai dukungan orang orang tsb saat menjadikannya walikota, walau akhirnya dia tahu bahwa teman seperjuangannya tsb adalah “tipikal dg para antek budaya korup tsb, dengan “pilihan modus yang berbeda”. Diapun menyelesaikan kendala itu secara “apik”, dengan pentahapan, mengingatkan melalui lembaga lembaga formal atau “gestur tubuhnya atau komunikasi politiknya” yang bisa memberikan “signal” mengingatkan. Dan bila “signal” tersebut tidak terespon baik, maka diapun sudah merasa sudah tidak bersalah lagi untuk secara tegas menindak.

Inilah menurut kami, penyebab utama “tidak terpenuhinya janji janji tsb, karena sibuk mempelajari dan menyikapi hal, yang selayaknya tidak diperlukan bagi seorang raja. Tetapi takdir Allah telah memimilihnya menjadi raja, Siapa yg kita harus persalahkan dalam keterpilihan saat 2014 ? … apakah kita persalahkan yg menetapkan “takdir” ? Bisa kualat kita.

Untuk beberapa maslah yg sangat dekat dg makna “integritas” dirinya selaku “kesatria”, disertai informasi dari sekitarnya yg tidak utuh atas kebutuhan pilihan kebijakannya, maka kondisi tersebut masih cukup potensial membelenggunya. Yang saat ini, masa tahun politik, hambatan tersebut dikuatkan dengan “konsolidasi” para antek budaya korup tsb yang menetapkan sang raja sebagai musuh bersama, pada momen pilpres mendatang, Konsolidasi “komunitas mapan terdahulu, yang saat ini menjadi para pemilik “kapital” yang sangat besar”, karena sadar kalau “sang rojo” saat ini tidak sama dengan masa pencalonan pada tahun 2014, karena sudah lebih memahami siapa “para elit kota” dan apa tujuannya serta di mana posisinya dalam perjuangan menjadikan kota yang sesungguhnya kaya raya ini, untuk menjadi kota maju dan sejahtera, tapi saat ini hanya sebagai kota menengah yg cenderung akan menjadi kota miskin bila tidak ada perubahan secara radikal, akibat warisan “sistem/budaya korup, elit”, yang melebarkan “jurang kesenjangan, ketidakadilan” antar wilayah maupun antar sesama masyarakat.

Bagi saya saat ini, dan saya yakin (berdasarkan pengamatan 3 tahun jd rojo), paling tidak sang rojo punya niat, untuk menjadi “Bapak” serta “suami” dari anak anak dan istrinya yg dinilai oleh masyarakat sekitarnya sebagai pengabdi/pejuang yang gigigih dan cerdas bagi kemajuan rakyat dan kerajaannya. Dia juga punya harga diri dan rasa malu pada para keluarganya bila melakukan kejahatan pada rakyat dan kerajaannya. Dia sadar bahwa dia harus banyak belajar dan memiliki kepercayaan diri untuk dapat tercatat dalam sejarah sebagai “raja yang membawa kebaikan bagi rakyat dan kerajaannya. Tetapi Dia juga tidak merasa malu untuk mengkoreksi langkahnya setelah dia semakin banyak pengetahuan tentang “isue” terkait kemajuan maupun hambatan bagi rakyat dan kerajaannya, selama hal tersebut menjadikan lebih baik bagi kepentingan rakyat dan kerajaannya. Bukti telah cukup untk meyakini siapakah sang Petruk ?

Saat ini kita harus kembalikan pada diri kita, apa yg kita harus pilih;

  1. Orang baik yg punya niat baik, walau kurang tepat untuk jadi “walikota”, tapi bernasib baik terpilih jadi “raja” th 2014. Sehingga selama 3 tahun ini, telah banyak belajar sekaligus membuktikan niat baik, keberanian dan konsistensi dan semakin meningkatkan percaya dirinya untuk mampu mewujudkan niatnya (termasuk janji yg terlambat dipenuhinya), sehingga saat ini pantas kita beri kesempatan kedua, dengan “mengawal” di lingkaran dekatnya sbg penyedia informasi apapun yg Valid dan terkini, yg dibutuhkannya bagi keputusan kebijakan yang diambil berdasarkan kepekaan “intuisi“ kepemimpinannya yg datang entah dari mana (takdirnya) tp kita harus yakini (Konskwensi pilihan ini adalah dibutuhkan sikap “loyalitas mutlak” atas keputusannya), tidak mempertanyakannya, hanya boleh menyempurnakan “caranya” atau pilihan ke
  2. Siapapun yg sangat luar biasa (yang nampak nyata), tapi kita tidak pernah punya catatan kisahnya tentang “niat” sesungguhnya didalam hati dan fikirannya atas semua keberhasilan tsb, bahkan info perjalanan hidupnya yg tersedia cenderung mengarah pd ambisi penaklukan belaka atau ambisi tunggal untuk meraih jabatan puncak kekuasaan tanpa ada yg bisa menyainginya … EGO AMBISIUS semata … yang kita ketahui akan jatuh kepada karakter pemimpin otoriter (bak dewa/tuhan), atau pilihan ke
  3. Menyerahkan diri pada keputusan “pertemanan/persaudaraan/trendy/kepentingan “group yang sama” atau bersama sama tidak memilih, hanya merecord semua dinamika para pemain tanpa ikut dalam permainan

Saatnya kita memilih, tanpa adanya kemungkinan salah, karena sudah tidak ada lagi ruang dan waktu untuk memperbaiki nantinya (resiko “bubar” ?)

Merdesa dalam memilih …
Hanibal Hamidi

Silaturahmi Muslimat NU ke Sekretariat Merdesa Institute

Yth. Ibu Nyai Said Aqil Siradz beserta Ibu Arifah, Ibu Hanny dan Ibu Andi Nurhiyari para pimpinan Muslimat yang kami muliakan.

Kami Atas nama tim kerja kemitraan dengan MNU, dari KPDT (th. 2012-2014) dan Kemendesa (Tahun. 2015-2017), menyampaikan Terima kasih atas kerja sama yang baik selama ini. Khususnya dari saya dan keluarga merasa bangga dan sangat bermakna bagi semangat kerja kami dikemudian waktu, atas kunjungan silaturahmi yang dipimpin langsung oleh yang mulia Ibu Nyai Said Aqil Sirazd. Walau harus tertatih saat menaiiki tangga kantor sekretariat Merdesa Institute yang cukup terjal, di jl. Veteran 1 no 31, Jakarta Pusat, tapi beliau tetap laksanakan niat baiknya untuk bertatap muka silaturahmi dengan kami. Kami teladani semangat dan kebaikan Ibu Nyai tersebut. Semoga Allah SWT melimpahkan keberkahan bagi Ibu Nyai beserta tim MNU yang tadi telah berkenan berkunjung. Amin YRA. Kami mohon maaf atas kesalahan dan atau sikap tidak menyenangkan dari kami.

Semoga kita dapat bekerjasama kembali, secepatnya nanti. Amin.

HanibalHamidi

Pembangunan Kewarganegaraan melalui peningkatan kualitas keluarga

Masih Draft … proses penyempurnaan …..

Menyadari bahwa saat ini dunia memasuki transformasi tahap 4, akibat kemajuan ilmu pengetahuan dalam bidang komunikasi, yaitu “instrumen bantu inter aksi sosial berbagai dimensi kehidupan”, yang dikenal dengan “Digital”, setelah bahasa, tulisan, Fhotocopy (Mekanik/Elektronik). Dimana perkembangan kehidupan manusia sebagai mahluk sosial, mengalami perubahan yang sangat ekstrim, akibat adanya kecenderungan “fungsi ruang dan waktu” sangat minimal. Semuanya bermuara pada banyaknya kemungkinan “nilai” diantara nilai 0 (Nol) dan 1 (Satu), mendekati makna “tidak terhingga”. Akibatnya dinamika kemungkinan perkembangan ilmu pengetahuan yang berdampak langsung pada semua dimensi kehidupan, sangat sulit diprediksi, baik pola maupun kecepatan perubahannya. Sehingga sangat sulit untuk mempersiapkan antisipasinya.

Kita harus memastikan negara yang kita wariskan kepada generasi “Mellenia Indonesia” adalah negara yang memiliki sistim yang “Rigid, visioner dan berkarakter budaya Nusantara yg Agung dan Tangguh dalam tata kelola interaksi yang saling meningkatkan “nilai” antara Penduduk, sumber daya alam lingkungan dan Pemerintahan, melui implementasi nilai nilai pancasila (1-4) dalam kehidupan bernegara dan berbangsa sebagai warga negara yang  dibuktikan melalui segera terwujudnya Sila Kelima. Untuk itu prasyaratnya adalah “Manusia Indonesia yang seutuhnya (harkat & martabat sebagai “kalifah di muka bumi”), sehingga ekspresi “kedaulatan rakyat” nya tidak “keliru” terus menerus.

Mewariskan negara yg memiliki sistem tata kelola negara yg mumpuni dan visioner (era digital) disertai kualitas generasi mendatang yang berkarakter Agung dan Tangguh , agar dipersiapkan saat ini juga melalui penyusunan draft RPJMN 2020-2024, dan RPJPN 2025-2045, melalui kendali draft Visi & misi Semua Capres 2019,merupakan langkah cerdas dan bijak.

Dalam pemikiran inilah yg mendasari pemilihan siapa sebaiknya presiden mendatang.

Catatan era generasi ke milenial yang bergantung dengan teknologi dalam segala aspek kehidupannya seperti halnya bite komputer antara angka 0 dan 1 tidak lebih ;

  1. Terlalu sulit prediksi kedepan, karena terlalu banyak peluang dinamika yang berkembang dalam pola interaksi masyarakat sehingga tidak ada satu negara manapun yang menyatakan mampu melihat ke depan lebih dari 15 tahun mendatang.
  2. Lemahnya komitmen nasionalisme kenegaraan, karena sesunggunya saat in mereka lebih banyak waktunya sebagai penduduk dunia secara aktif (melalui akun media sosial dunia yang dimiliki), dibandingkan sebagai warga NKRI.
  3. Rekomondasi

A.  perkuat nasionalisme visioner generasi mendatang (usia 0 – 25 tahun) melalui Kualitas keluarga/Kualitas perempuan sebagai basis utama pembangunan kewarganegaraan, bukan jargon atau “romantisme masa lalu” (dalam buku atau pengalamannya).visi yang berfokus pada eksiatensi Indonesia melalui industri berbasis agraris (darat & laut).
B)Adanya sistem tata kelola negara yg mengacu konstitusi
C) Penegakkan hukum

HH

Diplomasi “Berkarakter Negara Bangsa Indonesia” Menlu RI, Retno Lestari Priansari Marsudi (RLPM), Di Australia.

Menlu RI, Retno Lestari Priansari Marsudi saat mengunjungi Australia, Dengan pilihan “gaya diplomasi” melalui pilihan Berbusana dengan Tambahan “Selendang Bermotif Amborijin” Pada seluruh agenda kenegaraan di Australia. Hal ini “merefresentasikan” Sikap Negara Yang Jelas Terhadap Permasalahan Mendasar Negara Australia Dimata Indonesia & Dunia, Pada Isue “Bangsa Amborijin”. Sehingga kemungkinan respon Australia terhadap gaya diplomasi tersebut, “tidak produktif” bagi Indonesia sesuai tujuan kunjungan kenegaraan tersebut, Tetapi pilihan gaya diplomasi tersebut tetap dilakukan, hal ini menunjukkan bahwa “Indonesia adalah negara berdaulat secara politik, Berdikari Secara Ekonomi dan Berkarakter Nusantara yang agung dan tangguh” (Tri Sakti).

Suku bangsa Amborijin” adalah Bangsa Yang Lebih Dulu Ada dalam di wilayah Benua Australia, Yang lebih memiliki hak atas tanah leluhurnya. Tetapi realitanya saat ini, Bangsa Amborijin sudah “tidak ada” Karena oleh pemerintahan Negara Australia dilakukan “Penyingkiran Bangsa Amborijin”.

Menlu Retno Sebagai “Wakil Pemerintahan Indonesia”, Kebijakannya berpedoman pada Amanah Konstitusi RI (Pemukaan UUD 1945), Yang Mana Sangat Bertentangan Dengan Kebijakan Politik Dalam Negeri Australia Pada Isue “Bangsa Amborijin”.

Maka dengan pilihan “gaya Diplomasi Selendang Bermotif Amborijin” Dalam Seluruh Acara Kenegaraan Di Australia Sangat Tepat. Keputusan Pilihan “Gaya Diplomasi” Latar Belakang Sejarah Negara Australia, “Pada Seluruh Agenda Kunjungan Kenegaraan RI Di Australia Menlu RI, Retno Lestari di Australia Berbusana Dengan Tambahan “Selendang Bermotif “Khas” Produksi Bangsa Amborijin”, Yang Digunakan Pada Seluruh Agenda Di Australia, akan memastikan “Eksistensi Indonesia”. (Pilihan Gaya Diplomasi Yang Menggambarkan Kualitas Manusia Indonesia Yang “Agung dan Tangguh” Yang Dihasilkan Dari “Gerakan Nasional Revolusi Mental”).

Amborijinadalah “Simbul Pemusnahan Bangsa Oleh Bangsa Lainnya Dalam Satu Wilayah.

Hormat Kami

Hanibal Hamidi

#HibahDiriTukDesa #DesaMembangun #PembangunanBerwawasanKependudukan

Program Diklat Berjenjang GSC di Nominasikan dalam ajang UNESCO Hamdan Awards

Program Diklat Berjenjang Guru PAUD Desa adalah Kerjasama antara Kementerian Desa dan Kemeterian Pendidikan dan Kebudayaan yang dimulai pada awal tahun 2016 pada isue percepatan ketersediaan Guru PAUD di seluruh Desa. Dilaksanakan dalam kerangka menindaklanjuti arahan Ibu Presiden, Hj. Iriana Joko Widodo pada rapat Oase (Organisasi Aksi Solideritas Era) Kabinet Kerja dalam isue PAUD Desa. Program ini dilaksanakan melalui Program Generasi Sehat Cerdas Indonesia, dibawah tanggung jawab Direktur Pelayanan Sosial Dasar, Kementerian Dsa PDTT, Hanibal Hamidi, yang dimulai sejak awal tahun 2016, dan telah menghasilkan lebih dari 15.000 Guru PAUD Desa. Selain itu terobosan lainnya adalah materi pembelajaran yang disesuaikan dengan semangat Daulat Desa, Melalui Buku PAUD Desa yang disusun bersama komunitas belajar Qaryah Thayyibah, Salatiga, pimpinan Bahruddin.

Program ini didanai hibah luar negeri yang difasilitasi oleh WB dan Usaid, dalam rangka mempercepat ketersediaan guru PAUD di Desa. Dimana untuk menjaga mutu maka guru PAUD yang harus memiliki sertifikat sarjana, Sedangkan SDM di Desa tidak ada guru PAUD bersertifikat Sarjana Guru PAUD. Maka pola pendidikan berjenjang adalah terobosan bagi pemenuhan hak dasar anak usia dini untuk dapat pendidikan sejak dini. Sampai saat ini telah dihasilkan Guru PAUD lebih dari 14.000. Terima kasih Pak Haris, Dirjen Pendidikan, kemendikbud atas dukungannya terhadap pemenuhan tanggung jawab negara atas mandat konstitusi untuk pemenuhan hak dasar seluruh warga NKRI, khususnya penduduk usia dini di seluruh Desa.

Berita bahwa Program Diklat Berjenjang GSC mendapat perhatian Unesco ka,i dapatkan dari Pak Haris, sahabat Pejabat Dirjend Pendidikan, Kemendikbud yang merupakan penanggung jawab kerja sama program ini di Kemendikbud, yang mengatakan ” Pak Hanibal, Alhamdulilah program Generasi PAUD Cerdas Desa (kerjasama dit. PSD Kemendesa dg Dit.PAUD dan Dit. PGK Kemendikbud), Diklat Berjenjang, ECD frontline sukses dinominasikan sebagai salah satu penerima Hamdan Awards”. Hadiah akan diberikan pada bulan Oktober mendatang, Terima kasih Pak Haris. berikut link beritanya: UNESCO Rewards

#DaulatDesa #HibahDiriTukDesa

Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan keluarga

Isu-isu kependudukan dan lingkungan hidup merupakan isu sentral sejak lama, akibat dari eksploitasi alam secara berlebihan yang disertai dengan ketidak adilan dalam pemanfaatannya bagi masyarakat sekitarnya. Sehingga menimbulkan isu sentral pembangunan keberlanjutan dunia tentang berbagai ancaman terhadap manusia dan lingkungannya pemukimannya, mulai dari perubahan iklim, kebutuhan hutan bagi paru-pari dunia, hingga kesetaraan pemenuhan hak dasar setiap warga negara dan keluarga oleh pemerintahan negara masing-masing. Penduduk dan lingkungan alam kehidupannya memiliki hubungan saling mempengaruhi dan saling ketergantungan, dan tidak dapat salah satu terabaikan. Perjalanan sejarah Indonesia pernah menyatukan kedua isu tersebut dalam tanggung jawab Kementrian Pembangunan Manusia (seutuhnya). Kemudian direduksi menjadi sumberdaya manusia. Sesungguhnya pembangunan kualitas  kependudukan telah dijadikan salah satu aspek dalam pembangunan nasional yang ada, namun pelaksanaannya sangat parsial bahkan cenderung sektoral.

Untuk lebih lengkapnya dapat di baca di link Berikut :

Perkembangan Kependudukan & Pembangunan Keluarga

Profil Singkat Hanibal Hamidi

Kerangka fikir penulisan tentang siapakah Hanibal Hamidi ?, yang dikenal sebagai pegawai ASN dengan semua catatan kinerjanya yang cukup baik dengan gagasan pengembangan konsep program yang “radikal”, yang menukik pada akar permasalahan.

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa seseorang dalam malakukan sesuatu, sangat dipengaruhi oleh pilihan keputusannya sendiri, yang memiliki “platform” struktur berfikir masing-masing individu yang lebih kita kenal sebagai “profile seseorang”. Setiap orang akan berbeda dalam menilai dan menyikapi semua stimulus inpuls yang masuk dalam pemikirannya dan akan dikonfirmasikan oleh “nilai-nilai” sosial dan material yang ada dalam pemikiran orang tersebut. Beberapa faktor sosiogenis (motif personal) tersebut antara lain keingintahuan, kompetisi, cinta, harga diri, nilai kehidupan, kebutuhan. Selain faktor “dasar” atau “Profilenya”, prilaku seseorang akan dipengaruhi oleh faktor situasional saat kegiatan itu terjadi, antara lain Ekologi, suasana, teknologi, budaya, psikososial lingkungan. Maka sangat penting untuk mengetahui “profile Kapasitas dan Kompetensi seseorang pegawai ASN, bagi kepentingan efektifitas bekerja sama, pengembangan potensi kinerja maupun mengantisipasi atas potensi hambatan kerja seseorang dalam kerja sama berbagai pihak.

Sumber Informasi tentang Hanibal Hamidi yang digali dan dianalisa dari teman, keluarga, mitra kerjanya disertai dengan bukti-bukti faktual baik tertulis atau terekam melalui kamera serta pernyataan langsung dari Hanibal Hamidi sendiri dan atau pihak yang terkait. Diharapkan semua informasi tentang Hanibal Hamidi, selaku pejabat teknokrasi pemerintahan dapat bermanfaat bagi kita semua, amin.

Untuk lebih jelasnya kami lampirkan dalam format PDF pada link di bawah ini

  1. Riwayat Hidup Hanibal Hamidi
  2. profil Hanibal Hamidi

Koreksi dan masukan, kepada kami sebagai tim penyusun profile ini, kami berterima kasih. Sedangkan koreksi dan masukan pada Hanibal Hamidi, dapat di alamatkan pada alamat email hanibal2412@gmail.com.

Salam Merdesa

Tim Kerja Hak Dasar

Laporan Akhir Pelaksanaan Program P2DTK 2006-2012 oleh NMC-P2DTK (Report of Support for Poor and Dissadvantaged Areas Program, 2006-2012)

https://www.scribd.com/doc/120975945/Laporan-Akhir-Pelaksanaan-Program-P2DTK-2006-2012-oleh-NMC-P2DTK-Report-of-Support-for-Poor-and-Dissadvantaged-Areas-Program-2006-2012

Salam Kejuangan Nusantara Pembangunan Yang Inklusif dan Berkelanjutan Berbasis Desa

Hanibal H

Direktorat Pelayanan Sosial Dasar
Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi

Hanibal2464
#HibahDiriTukDesa
Blog; perdesaansehat.com

Komisi ASN Tegur Menteri Desa Terkait Pemberhentian Pejabat

Komisi Aparatur Sipil Negara (ASN) meminta kepada Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi untuk meninjau kembali surat keputusan No. 80/2017 tertanggal 28Agustus 2017

Dalam surat tersebut, Komisi ASN juga meminta agar dua pejabat yang diberhentikan, yakni Hanibal Hamidi dan Nurdin Ibrahim untuk ditempatkan sesuai job fit evaluation.

Jika terdapat pelanggaran disiplin oleh Hanibal dan Nurdin, maka hendaknya dilakukan pemanggilan, pemeriksaan, dan pengenaan sanksi yang sesuai peraturan pemerintah no.53 tahun 2010 tentang Disiplin ASN.

Untuk lebih lanjutnya dapat di baca pada website kabarjitu.com pada Link Berikut

Uji Kompetensi dan Kapasitas JPT Pratama Kemendesa PDTT 2017

Berikut kami lampirkan uji kompetensi dan Kapasitas JPT Pratama Kemendesa PDTT 2017 tahap demi tahap dapat di unduh pada Link di bawah ini :

Pengumuman_Hasil_Akhir_Seleksi_Terbuka_Pengisian_11_Jabatanundangan asessmentundangan seleksi terbuka pengisian jabatan pimpinan tinggi madya kemendesa pdttpengumuman hasil seleksi kompetensi teknis pengisian jpt madya kemendesa pdtt 2017pengumuman Hasil seleksi Administrasi jpt Madya Kemendesa PDTT 2017

Siapakah Hanibal Hamidi ?

Kerangka fikir penulisan tentang siapakah Hanibal Hamidi ?, yang dikenal sebagai pegawai ASN dengan semua catatan kinerjanya yang cukup baik dengan gagasan pengembangan konsep program yang “radikal”, yang menukik pada akar permasalahan.

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa seseorang dalam malakukan sesuatu, sangat dipengaruhi oleh pilihan keputusannya sendiri, yang memiliki “platform” struktur berfikir masing-masing individu yang lebih kita kenal sebagai “profile seseorang”. Setiap orang akan berbeda dalam menilai dan menyikapi semua stimulus inpuls yang masuk dalam pemikirannya  dan akan dikonfirmasikan oleh “nilai-nilai” sosial dan material yang ada dalam pemikiran orang tersebut. Beberapa faktor sosiogenis (motif personal) tersebut antara lain keingintahuan, kompetisi, cinta, harga diri, nilai kehidupan, kebutuhan. Selain faktor “dasar” atau “Profilenya”, prilaku seseorang akan dipengaruhi oleh faktor situasional saat kegiatan itu terjadi, antara lain Ekologi, suasana, teknologi, budaya, psikososial lingkungan. Maka sangat penting untuk mengetahui “profile Kapasitas dan Kompetensi seseorang pegawai ASN, bagi kepentingan efektifitas bekerja sama, pengembangan potensi kinerja maupun mengantisipasi atas potensi hambatan kerja seseorang dalam kerja sama berbagai pihak.

  

Sumber Informasi tentang Hanibal Hamidi yang digali dan dianalisa dari teman, keluarga, mitra kerjanya disertai dengan bukti-bukti faktual baik tertulis atau terekam melalui kamera serta pernyataan langsung dari Hanibal Hamidi sendiri dan atau pihak yang terkait. Diharapkan semua informasi tentang Hanibal Hamidi, selaku pejabat teknokrasi pemerintahan dapat bermanfaat bagi kita semua, amin.

 

Koreksi dan masukan, kepada kami sebagai tim penyusun profile ini, kami berterima kasih. Sedangkan koreksi dan masukan pada Hanibal Hamidi, dapat di alamatkan pada alamat email hanibal2412@gmail.com.

 

Salam Merdesa

Tim Kerja Hak Dasar

 

Profile Hanibal Hamidi

NIP 19641224 199803 1 010

Hanibal Hamidi memulai karirnya sebagai birokrat dari bawah, dengan status Pegawai Tidak Tetap (PTT), pada Kementerian Kesehatan tahun 1995. Dari awal penugasannya tersebut sampai dengan saat ini, Hanibal telah bekerja selama 22 tahun pada 3 Instansi pemerintah pusat. Penugasannya sebagai PNS di Kementerian Kesehatan dilaksnakan selama 12 tahun, di beberapa Kabupaten Provinsi Lampung. Sedangkan penugasan sebagai PNS Kementerian Daerah Tertinggal dilaksanakan selama 7 tahun, sejak tahun 2007 sampai dengan tahun 2014. Dilanjutkan pengabdiannya pada Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi yang merupakan kementerian baru atas amanat UU Desa, sejak tahun 2015 sampai dengan tahun 2017.

 

Sebagai pegawai ASN yang telah bekerja selama 22 tahun, Hanibal Hamidi memiliki golongan IV D, sebagai Pembina Utama Madya, dan menjabat sebagai Direktur Pelayanan Sosial Dasar, di Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal di Transmigrasi.

 

Perjanan karirnya, sebagai profesional kesehatan yang menyandang gelar akademis Dokter, dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya pada tahun 1993, dan kemudian menjadi Master Kesehatan Masyarakat, lulusan Program Pasca Sarjana di Universitas Indonesia (UI), Jakarta pada tahun 2002. Tekatnya untuk terus menambah pengetahuan dalam rangka meningkatkan kapasitas dan kapabilitasnya selaku teknokrat pemerintahan, mendorongnya untuk mengikuti pendidikan Program Doktoral angkatan pertama, pada Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), dengan peminatan jurusan Ilmu Pemerintahan di Bandung sejak tahun 2014 sampai saat ini.

 

Semua potensi yang dimilikinya diabdikannya pada instansi pemerintah, sejak Hanibal diakui oleh Unair pada tahun 1993 berhak menyandang gelar profesional Dokter, kemudian bekarja dengan status pegawai kontrak pada tahun 1993-1994, sebagai Dokter Lepas Pantai di berbagai wilayah kelautan Indonesia pada instansi BUMN Pertamina,

 

Cara pandangnya selaku pegawai ASN berdasarkan begitu banyak pernyataan yang didengar secara langsung dari teman teman yang bukan pegawai pemerintahan, bahwa pegawai negeri adalah pegawai yang “enak”, kerjanya sedikit. Waktunya banyak digunakan melakukan kepentingan pribadi, tidak memiliki kapasitas profesional dan utamanya tidak memiliki kesadaran bahwa bekerja di pemerintahan adalah tugas mulia yang butuh jiwa pengabdian bagi bangsa dan negara. Penilaian seperti hal

tersebut, mengakibatkan keraguannya untuk merasa bangga dan bersemangat dalam melanjutkan sebagai PNS.

 

Tetapi dengan berjalannya waktu, terutama pehamannya tentang tata kelola pemerintahan yang baik setelah Hanibal Hamidi mengikuti kursus singkat selama 3 minggu di Lembaga Pertahanan Nasional (LEMHANAS) tahun 2007, serta menjadi peserta didik program Doktoral angkatan pertama Institute Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) tahun 2013. Hanibal menyadari bahwa sesungguhnya ANS merupakan unsur strategis pemerintahan, dalam kerangka pencapaian tujuan bernegara sesuai amanah konstitusi. Menurut pemikirannya, sudah terlalu lama dan juga terlalu banyak sumber daya bangsa dan negara yang telah digunakan pemerintah untuk pembangunan selama ini, tetapi kurang efektif. Sehingga sampai 70 tahun kita merdeka, kemajuan pencapaian tujuan bernegara bagi pemenuhan “Hak Hak Dasar” seluruh warga NKRI. masih sangat jauh dari harapan masyarakat.

 

Menyadari kinerja pembangunan yang dilakukan pemerintah selama ini, dimana hasil serta dampaknya dalam mensejahterakan masyarakat masih cukup rendah, sedangkan fasilitas kerja para pejabat pemerintahan dirasakannya cukup baik. Kesadaran atas kondisi tersebut menimbulkan komitmen pada dirinya untuk melaksanakan kewajiban sebagai ASN secara profesional dan menghasilkan kinerja yang terbaik dalam melaksanakan tugasnya. Hanibal Hamidi menyadari bahwa dalam semangat reformasi haruslah menjadi semangat kerja semua unsur pemerintahan. Kesadarn bahwa terdapat pembagian tugas dan fungsi antara pemerintahan pusat, pemerintahan otonomi daerah dan pemerintahan otonomi desa. Hal tersebut membawa konskuensi selaku pegawai ASN pemerintah pusat, maka apapun yang dilakukan serta kebijakan program dan atau kegiatan yang ditetapkan akan menjadi acuan bagi banyak pemrintahan daerah dan desa. Sehingga tidak ada pilihan lainnya, kecuali harus melaksanakan tugas dengan sangat serius, berhati hati, dan harus bejerja sangat keras untuk menghindari adanya kesalahan, keterlambatan, maupun telah mempertimbangan dari berbagai dimensi sehingga dapat memastikan hasil maupun dampaknya sesuai dengan rumusan konsep kebijakan yang ditetapkan nantinya selaku pejabat di instansi  pemrintahan pusat,

 

Berlandaskan kesadaran dan komitmen tersebut, Hanibal Hamidi sampai saat ini merasa tidak pantas untuk mengambil hak cutinya sebagai PNS. Bahkan sangat sering melanjutkan pekerjaannya di rumah bahkan di waktu libur sekalipun. Protes dari keluarga, saudara dan temannya yang sangat “cemburu” dengan “kantornya” yang telah “merampas waktu kebersamaan Hanibal dengan keluarga dan teman temannya. Tetapi setelah mendengar penjelasannya akhirnya dapat memakluminya. Keluarga hanya meminta sikap tersebut harus berakhir saat telah pensiun nantinya.

 

Semangat, untuk bekerja keras dan keinginan untuk terus belajar untuk meningkatkan kapasitas dirinya, memang telah menjadi pilihannya. Sejalan dengan hal tersebut, nasehat moral dari kedua orang tuanya yang telah tiada dan sangat dibanggakannya agar dapat menjaga kehormatan keluarga dengan bekerja baik dan tidak memalukan keluarga, menjadikan dirinya semakin teguh untuk terus berpihak pada masyarakat. Beberapa pemahaman atas nasehat kedua orang tuanya dalam hal moral keagamaan, terutama ibunya yang selalu mengingatkan bahwa “tiadak ada gunanya semua harta, jabatan dan lainnya bila tidak melakukan sholat dalam setiap waktu”. Selain itu pembelajaran yang didapat dalam dinamika sosial kehidupannya, menyadari bahwa hal-hal yang strategis yang pantas diperjuangkan untuk dijadikan warisan penting bagi generasi medatang, menuntun pilihan sikapnya sebagai pegawai ASN dalam tugas dan fungsi kenegaraan, untuk memastikan pelaksanaan kewajiban pemerintah sebagai pelayan masyarakat dalam kerangka pemenuhan hak-hak dasar seluruh warga negara. Sehingga semua faktor baik tersebut, menjadikan dirinya mampu melaksnakan semua kewajiban penugasannya secara efektif, di tengah hambatan kerja yang tidak mudah terutama dari lingkungan kerjanya sendiri. Hal ini sejalan dengan hasil pemeriksaan dan analisa Lembaga Administrasi Negara (LAN) pada tahun 2015.

 

Kesadaran bahwa pembangunan yang berkelanjutan membutuhkan komitmen seluruh unsur dan elemen negara, baik seluruh pemerintahan maupun warga negara Indonesia. Karakter (budaya) bangsa Nusantara yang agung, sesungguhnya telah lama ada sesuai pernyataan Presiden Soekarno, bahwa Panca Sila bukanlah ciptaannya, tetapi berasal dari nilai-nilai luhur yang ada di tengah-tengah masyarakat pedesaan Indonesia. Sebagi mana yang kita ketahui bersama, bahwa makna semua sila dalam Panca Sila tersebut, merupakan nilai-nilai kearifan lokal desa yang ada dalam budaya masyarakat perdesaan.  pembangunan Indonesia yang diarahkan pada ketahanan keluarga Hanibal Hamidi tidak mau bernegosiasi atas sikap yang diyakininya telah sesuai dengan tanggung jawab pada berbagai peran sosial kemasyarakatan. Selaku pegawai ASN sesuai dengan ketentuan UU ASN, selaku manusia sesuai dengan nasehat orang tuanya dan semua yang dipahami dan mampu dilakukannya berdasarkan pesan moral keagamaan Islam dari ketauladanan nabi Muhammad SAW

 

Sehingga pihak pihak di luar lingkungan tempat tugasnya lebih mengakui “keberadaannya” melalui gagasan – gagasannya yang diinisiasinya, berbanding terbalik dengan pihak pihak dalam lingkungan kerjanya sendiri. Hal ini sekaligus mnyadarkannya, betapa sikap dalam menjaga integritas kenegaraan sangat rendah dalam komunitas lingkungan tempat kerjanya, pada saat dihadapakan dengan kepentingan pribadi dalam waktu yang sama. Tepatlah kiranya bila hal yang paling strategis dalam memastikan Indonesia dapat menjadi negara yang maju dan disegani dunia, adalah melaui upaya “Revolusi Mental”, dalam kerangka membangun karakter bangsa. Seperti apa yang kita ketahui bersama tentang modal sosial negara negara yang terdahulu dikenal memiliki karakter yang baik, dan saat ini menjadi  negara  yang sejahtera dan disegani banyak negara lain.

 

Beberapa informasi tentang Hanibal Hamidi yang didapat dari pengamatan dan pendapat banyak pihak yang mengenalnya serta menkonfirmasi langsung padanya, Hal tersebut sejalan dengan hasil pemeriksaan dan analisa Lembaga Administrasi Negara (LAN) Bidang Pemetaan Kompetensi dan kapasitas Aparatur, Pusat Kajian, pendidikan dan Pelatihan, LAN. Hasil pemeriksaan kompetensi dan kapasitas Hanibal Hamidi, yang diterbitkan pada tanggal 26 Oktober 2015 tersebut;

1)     Berdasarkan psikogram, nampak bahwa kemampuan berfikir abstrak, kerja detail, sistematika kerja, pengelolaan energi, pengendalian emosi dan kematangan hubungan inter personal dinilai baik, sehingga kapasitasnya dinilai mampu menyelesaikan tugas tugasnya selaku pejabat tinggi dengan tepat waktu dan berkualitas.

2)     Sedangkan performance Kompetensinya terkait dengan; Integritas diri, Hanibal Hamidi sangat tinggi yang menunjukkan bahwa perkataan dan perbuatannya sangat sejalan. selain pengetahuan yang luas dan berpengalaman yang banyak, kesdaran berorganisasi dan mengembangkan jejaring kerja cukup tinggi. Pengalaman dan pengetahuan yang luas, dan sangat memahami ketentuan peraturan perundang undangan karena sangat konsen untuk menghindari pelanggaran dan kesesuaian dengan kewenangannya. Profile kompetensinya tersebut dinilai mampu menyelesaikan maslah dengan baik dan cepat.

 

Latar belakang keluarga, kerangka berfikir, komitmen tugas dan profile Kapasitas dan Kompetensi Hanibal Hamidi berdasarkan pemeriksaan dan analisa LAN, sangat berkorelasi dengan produk kinerjanya diberbagai jabatan penugasan.

Semua produk kinerjanya pada hampir semua penugasnanya, dinilai oleh banyak pihak telah melampaui target kinerja yang ditentukan bagi unit kerja yang menjadi tanggung jawabnya. Beberapa informasi tentang kinerja Hanibal Hamidi, sebagai berikut:

1)     Saat bertugas sebagai ASN Kementerian Kesehatan sejak tahun 1996-2007), komitmen dan kerja kerasnya mendapat Penghargaan sebagai Dokter Teladan pada tahu 1998, atas kinerjanya saat bertugas sebagai Doter PTT, sehingga mendapat prioritas menjadi PNS di Kementerian Kesehatan. Pada tahun 2006 Hanibal Hamidi menjabat sebagai Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Way Kanan.

2)     Penghargaan kenaikan pangkat luar biasa saat menjabat plt. Asisten Deputi urusan pembinaan lembaga pendidikan luar sekolah dan kesehatan masyarakat pada tahun 2008. Sebagai penghargaan oleh Menteri KPDT saat itu, Lukman Edy, kepada Hanibal Hamidi, mengembangkan konsep Percepatan Pembanguanan Sosial Ekonomi Daerah Tertinggal, yang berhasil mendatangkan Presiden Soesilo Bambang Yudoyono hadir dalam salah satu acara programnya di Kalimantan Tengah tahun 2008.

 

Selain kedua prestasi yang dihargai secara langsung dengan penghargaan secara kelembagaan yang dituangkan dalam dokumen administrasi pemerintahan, kinerja lainnya cukup banyak pada setiap jabatan yang ditugaskan kepadanya, antara lain;

 

1)     Pada tahun 2017, Hanibal Hamidi selaku peserta seleksi terbuka JPT Madya, eslon 1, selaku calon Dirjend PPMD, dinilai lulus dan dietapkan oleh panitia lelang JPT Madya. Sebagai salah satu nama yang dikirimkan ke Tim Penilai Akhir untuk menjadi salah satu dari 3 orang yang terpilih memiliki nilai uji kompetensi, uji kapasitas, serta semua uji yang dilakukan telah memenuhi syarat sebagi JPT Madya.  Bahkan dalam nilai administrasi atas semua kelengkapan bukti kinerja selama ini dan pengalam kerja Hanibal Hamidi, mendapat nilai tertinggi dari Panitia seleksi terbuka JPT Madya di Kementerian Desa PDTT tahun 2017. Penilaian tersebut sejalan dengan penilaian Lembaga Administrasi Negara (LAN), yang melakukan uji kempetensi pada tahun 2017, kapasitas, kepemimpinan dan lainnya yang menilai bahwa Integritas nya sangat tinggi, dan pengalaman serta penegatahuan yang sangat luas, menjadikan sosok ASN yang diyakini mampu melaksanakan tugas dengan cepat serta menjaga kualitas kerja yang baik.

2)     Saat bertugas sebagai Direktur Pelayanan Sosial Dasar tahun 2015-2017, Hanibal Hamidi, sebagai inisiator sekaligus ketua tim penyusun Indeks Desa Membangun. Cara fikir dokter bahwa dengan mengetahui peneyebab utama penyakit maka akan ada kepastian diagnosa “penyakit” apa yang menyebabkan Desa menjadi Desa Tertinggal, Berkembang dan Mandiri. Dengan mengtahui akar masalah bagi Desa untuk mandiri, maka akan mengantarkan kita mengetahui apa yang harus menjadi prioritas “pengobatan” Desa tersebut. IDM berfungsi sebagai instrumen penilaian (Satescope), bagi perkembangan kemandirian desa yang berkelanjutan yang mengacu pada UU Desa dan potensi lokal desa (Phisik dan Sosial) dalam bidang sosial, bidang ekonomi dan bidang lingkungan. IDM dalah produk kebijakan paling utama dan strategis bagi Kementerian Desa, PDTT. IDM dan menjadi acuan bagi semua pemerintahan otonomi, Desa, Kabupatan, Provinsi, Kabupaten dan atau Kotamdya, serta seluruh desa dan kementerian terkait bagi dasar penetapan klasifikasi Desa dan acuan fokus intervensi pembangunan Desa serta performance kinerja pembangunan nasional. IDM juga menjadi penentu besaran alokasi dana desa. Pengakuan tentang konsep IDM, oleh Menteri Desa PDTT, Marwan Japar, dijadikan Peraturan Menteri Desa  Pembangunan Daerah Tertingga dan Transmigrasi No. 2Tahun 2016, Tentang Indeks Desa Membangun, beserta lampirannya Buku Status Kemandirian Desa secara nasional, sebagai data dasar Kementerian Desa, PDTT.

3)     Selaku Direktur PSD, Hanibal Hamidi juga cukup dikenal kemapuan manajerialnya oleh lembaga Internasional World Bank, Australia Aid maupun Lembaga Bantuan Sosial, Kementerian Luar Negeri Amerika melalui MCAI (Mellenium Chalnge Acount Indonesia. Hal ini karena Hanibal Hamidi, mampu menjadikan Program GSC, yang bersumber anggaran HIBAH berbagai negara yang dikoodinasikan oleh lembaga WB (World Bank), sebagai satu satunya program PNPM yang dilanjutkan pelaksanaanya, tanpa harus ada “jeda” waktu untuk penyelarasannya dalam implementasi UU Desa. GSC bekerja bagi 5.789 desa yang kualitas kesehatan dan pendidikannya rendah di 66 Kabupaten dalam 11 Provinsi. Bahkan keberhasilannya diakui oleh WB, dengan kunjungaan wakil presiden WB, Laura Tuc di Desa Kahuripan Selatan, Kabupaten Lombok Barat, NTB pada tahun 2016. Selain itu, Hanibal Hamidi berhasil meyakinkan WB untuk menambah waktu pelaksanaan GSC selama satu tahun untuk menyerap sisa dana akibat dinamika perbedaan nilai bantuan yang menggunakan satuan dollar Amerika dengan Rupiah saat ini. Selain itu, MCAI menambah anggaran kerja sama dengan Direktorat PSD bagi isue “stunting” tahun 2017, sebagai respon atas komitmen presiden Jokowi terhadap ketangguhan generasi mendatang.

4)     Sebagai Asisten Deputi Urusan Kesehatan di Kementerian Daerah Tertinggal tahun 2011-2014, Hanibal Hamidi mampu meyakinkan menteri PDT ketika itu Peraturan Menteri Pembanguan Daerah Tertinggal, No 1,Tahun 2013, Tentang Pedoman Pembangunan Perdesaan Sehat. Adalah gagasan dan inisiasi Hanibal Hamidi Program Perdesaan Sehat ditujukan bagi kelemahan yang stratrgis dan mendasar dalam pembangunan kesehatan selama ini. Sebagai salah satu hak dasar bagi seluruh warga negara di manapun berada, harus dipastikan bahwa pelayanan kesehatan harus dapat terjangkau dan juga berkualitas oleh seluruh masyarakat. Karena kondisi daerah tertinggal terutama masyarakat di perdesaan pada umumnya kualitas kesehatannya rendah, maka untuk mewujudkan keadilan sosial bagi suluruh rakyat di daerah tertinggal dibutuhkan linstrumen keberpihakan untuk fasilitasi dan koordinasi dalam intervensi pembangunan yang terintegrasi, guna percepatan pembangunan kesehatan daerah tertinggal. Karena konsep program tersebut dirasa sangat tepat oleh berbagai pihak terkait, maka “deklarasi peluncuran program Perdesaan Sehat (PS)” dihadiri banyak tokoh nasional dan daerah. Lounching PS dilaksanakan pada tgl 20 Desember 2013 di Desa Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat yang berbatasan secara langsung dengan wilayah Malaysia, dilakukan oleh Menteri PDT, Helmy Faisal Zaini, beserta 9 Istri para menteri yang tergabung dalam SIKIB (Solideritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu). Kehadiran sembilan istri para menteri Anggota SIKIB dipimpin oleh Ibu Ratna Djoko Suyanto yang dikoordinasikan oleh Bpk. Moeryono Alladin. Konsep PS yang pelaksanaannya pada 7 Regional Wilayah Indonesia di bawah koordinasi 7 Perguruan Tinggi Negeri ternama, sampai saat ini menjadi materi pembelajaran bagi banyak perguruan tinggi serta dikembangkan melalui skripsi, disertasi dan kajian lainnya oleh berbagai perguruan tinggi sampai saat ini.

5)     Saat menjadi Asisten Deputi Perdesaan pada tahun 2010 , Hanibal Hamidi mengahasilkan gagasan terobosan bagi percepatan pembangunan perdesaan melalui gagasan program “Bedah Desa”. Sebagai prioritas kebijakan KPDT, Bedah Desa sebagai instrumen Pembangunan Desa Terpadu di lounching oleh Menteri PDT, Helmy Faisal Zaini pada tanggal 22 Desember tahun 2010 di Ancol. Pada sambutan Deputi Daerah Khusus KPDT, Tatag Wiranto, yang merupakan salah seorang tokoh perencanan pembangunan nasional yang membidani lahirnya program PNPM, menyatakan bahwa Bedah Desa adalah lebih baik dari PNPM.

6)     Bersamaan dengan gagasan Program “Bedah Desa”, Hanibal Hamidi juga berhasil meningkatkan performance salah satu Program Inti PNPM, P2DTK (Program Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Khusus) sekaligus persiapan pengakhiran program tersebut pada tahun 2011 di P2DTK adalah program Kerjasama WB dan Pemerintah Indonesia bagi penurunan kemiskinan di lokasi 10 propinsi, 51 kabupaten dan 186 Kecamatan.

7)     Sedangkan tahun 2009-2010, sebagai Kepala Biro Perncanaan Pembangunan Daerah Tertinggal, berdasarkan kerangka berfikir seorang dokter bagi penyakit Kabupaten Daerah Tertnggal, berhasil mendorong gagasan perubahan Indikator Daerah Tertinggal. Indikator yang sebelumnya dinilai dari akumulasi nilai 6 Dimensi Pembangunan yang menjadi dasar penetapan Daerah Tertinggal. Sehingga menjadi “bias” akibat adanya nilai yang “redenden” atau “penumpukan” nilai bagi satu dimensi pembangunan yang seharusnya diwakili hanya satu indikator saja. Dengan gagasan berubahan dengan 3 indikator dimensi pembangunan yaitu, Pembangunan kualitas manusia, Pembangunan Ekonomi dan Kedalaman Kemiskinan untuk koreksi adanya indikator pertumbuhan ekononomi pada kelompok masyarakat tertentu saja. Gagasan tersubut ditetapkan sebagai kebijakan nasional di Dokumen RPJMN 2010-2014, serta menjadi Kebijakan Kementerian PDT dalam Dokumen Renstra KPDT tahun 2010-2014. Dengan demikian ketepatan arah kebijakan PDT dan Kebijakan prioritas Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal sesuai dapat diarahkan sesuai dengan indikator terkait.

8)     saat menjabat sebagai Kepala Biro Perencanaa Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal, Gagasan Hanibal Hamidi, sering menjadi a)Nara sumber tetap dalam rapat rapat strategis Dewan Ketahanan Nasional, yang merupakan lembaga strategis Nasional yang dipimpin langsung oleh Presiden. Hanibal Hamidi juga banyak dipercaya untuk menjadi b) Anggota sekretariat Komisi Zoonosis Indonesia, Tahun 2010 (SK Menteri Koordinasi Kesejahteraan Rakyat). c)Sebagai anggota sekretariat koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Nasional, Tahun 2012, ( SK Menteri Koordinasi Kesejahteraan Rakyat). dan Wakil Ketua Pelaksana Pokja Nasional Eliminasi Polio dan Rubella, Tahun 2016, (SK Menteri Kesehatan)

9)     Selain itu Hanibal Hamidi selaku pemegang brevet LEMHANAS setelah mengikti kursus singkat lemhanas (Lembaga Pertahananan Nasional) pada tahun 2007, sejak tahun 2007 sampai saat ini tercatat sebagai Pengurus Lembaga Kesehatan NU, PBNU.

PENDEKATAN KATAJAGA, WC4ALL SE KELURAHAN

Pesan dari Pak Budi Jamban : “PENDEKATAN KATAJAGA, WC4ALL SE KELURAHAN diteliti mahasiswa kesehatan masyarakat Universitas Negeri Semarang. menunjukkan kontaminasi turun di dampak tipus juga turun signifikan. Inilah alasan kenapa kita harus KERJA KERAS untuk percepat WC4ALL INDONESIA.Banyak yang harus dilakukan oleh bangsa ini,tapi membuat jamban adalah yg pertama, semoga uluran lain ikut datang padanya.Walau rumah menyedihkan, tetap harus punya WC. seperti daerah rob semarang utara”

.

Mantap, terus jaga semangat dan pengorganisasian kerja advocacy bagi berbagai pihak terkait yang berkesesuaian dengan sasaran komunitas strategis yang ditetapkan. Syarat utamannya adalah “berikan panggung pada masing masing kontributor” Gerakan KATAJAGA pada semua tingkatan masing masing wilayah. 
Sehingga tidak terjadi dominasi peran oleh siapapun terutama oleh kita sebagai inisiator.

Semoga kemajuan capaian perjuangan kita semua bagi mewujudkan bangsa yang bermartabat, mendapatkan Ridho Allah, amin.

Salam KATAJAGA Indonesia.

 Salam Kejuangan Nusantara
 Desa Membangun Indonesia
                 Hanibal H

           #HibahDiriTukDesa

Selamat Berjuang Pada Tahun Baru 2018 Bagi Indonesia Yang Maju, Sejahtera, Bahagia dan Berkelanjutan.

Semangat !!!
Terus bergerak untuk mewujudkan warisan penting bagi modal generasi mendatang dalam “pertarungan anak cucu kita” di era digital sebagai dasar utama instrumen inter aksi sosial yang “menegasikan makna ruang dan waktu” dalam berbagai dimensi kehidupan, sehingga terlalu banyak kemungkinan dinamika kondiisi sosial masa mendatang untuk dijadikan acuan rencana responsif kita semua.

Maka pilihan kita saat ini dan visioner adalah “memperkuat diri sendiri dan bangsa dalam hal yang esensial dan radikal.

Kata kunci adalah “Kamandirian, Karakter Bangsa, Keluarga dan Individu, dan Sistem Kelembagaan Pemerintahan Yang Berkelanjutan” dalam mewujudkan dan elaksanakan Konstitusi (Panca Sila, UUD, NKRI6. Sehingga mampu menjamin “Kita Berdaulat Secara Politik”.

Hanibal Hamidi
Jakara, Januari 2018

Menjalin Kerjasama Bakamla dengan Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi

Setelah Melaksanakan Kegiatan Pemecahan Rekok Paskibra Terbanyak pada saat memperingatai hari kemerdekaan Republik Indonesia yang di adakan di Pulau Sebatik Provinsi Kalimantan Utara yang berbatasan langsung dengan Negara tetangga Malaysia pada tanggal 17 Agustus 2017 atas gagasan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi bekerjasama dengan Badan Keamanan Laut Nasional yang berlangsung meriah dan sukses.

WhatsApp Image 2018-01-01 at 01.07.21(2)

Untuk Menindak lanjuti kerjasama tersebut di adakan kembali pertemuan antar pimpinan Kementerian dan Badan yang dilaksanakan di Ruang Menteri di Komplek Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. Pertemuan tersebut menghasilkan kerjasama keberlanjutan untuk menyatukan tujuan bersama pada wilayah Indonesia terdepan dan berbatasan dengan Negara-Negara Tetangga.

WhatsApp Image 2018-01-01 at 01.07.21(1).jpeg

Pada kesempatan ini pula dilaksanakan penandatanganan foto bersama penunjukan Eko Putro Sandjojo (Menteri  Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi) sebagai warga kehormatan Badan Keamanan Laut Republik Indonesia

Catatan Akhir Tahun, Pemerintah Gagal Jalankan Program Dana Desa

LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Refleksi pembangunan perdesaan tahun 2017 adalah gagalnya pelaksanaan dana desa sebagai suatu skema perwujudan semangat UU Desa.

Demikian ditegaskan Ketua Departemen Luar Negeri Badan Pelaksana Pusat (BPP) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Serikat Petani Indonesia (SPI) Zainal Arifin Fuad dalam Catatan Akhir Tahun 2017 SPI.

Menurut Zainal, melihat kenyataan terkait dana desa terdapat dua isu besar yang perlu dibenahi, antara lain; pertama, pendistribusian dana desa seharusnya diarahkan untuk kepentingan pemberdayaan melalui penguatan kapasitas dari mayoritas masyarakat perdesaan. Penguatan ini haruslah didasarkan kepada karakteristik potensi desa serta kelembagaan ekonomi koperasi yang khas sebagai media pengembangan ekonomi masyarakat perdesaan secara luas.

Dalam realitanya, tidak jelas apakah target pembangunan infrastruktur yang didanai dari dana desa secara sistematis berimbas kepada kesejahteraan masyarakat tani di Indonesia, namun yang pasti target pembangunan Infrastruktur tersebut dinikmati oleh kelompok-kelompok kecil kontraktor dengan legitimasi dari desa.

Persentase penggunaan dana desa untuk pembangunan infrastruktur dalam tiga tahun terakhir tercatat kurang lebih 90 persen. Sisanya adalah untuk kegiatan pemerintahan dan kegiatan pemberdayaan desa. Mirisnya, angka dana desa yang digunakan untuk pemberdayaan desa tidak lebih dari 5 persen.

“Dengan target pembangunan infrastruktur yang senantiasa diukur pemerintah pusat maka desa akan tidak lebih sebagai operator pelaksanaan proyek semata,” kata Zainal dalam keterangan tertulis kepada redaksi, Kamis (27/12).

Kedua, pemerintah harus melihat pembangunan perdesaan sebagai pembangunan yang menitikberarkan kepada perlindungan kepada khazanah lokal perdesaan. Upaya pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan perlu dilakukan agar masyarakat desa tetap berdaya dalam melanjutkan relasi sosial, politik dan kulturalnya secara mandiri.

Bukan dengan memberikan instruksi yang mengubah wajah perdesaan menjadi bercorak kapitalis dan industrialis.

“Secara rata-rata petani masih dilingkupi kegamangan pemerintahan desa dalam menggantungkan ekonomi petani dan mata rantai distribusi hasil panen petani kepada pihak lain. Alhasil manfaat BUMDes belum dirasakan langsung oleh petani dalam berusaha tani,” ujar Zainal.

berita ini di kutip dari rmol.co yang dapat di baca lebih lengkapnya pada link berikut.

Orang Tionghoa di Indonesia Dijadikan Musuh, Bukan Sumber Pengetahuan Seperti Pesan Alquran, Belajar Sampai Negeri China

 

MARI KITA BELAJAR GAYA HIDUP ORANG TIONGKOK

Oleh : KH. A. Hasyim Muzadi
Pengasuh Pesantren Mahasiswa Al Hikam Malang

Saya ingin menyampaikan sesuatu yang menarik tentang RRT (Republik Rakyat Tiongkok) kepada anda sekalian.

Dengan perjalanan ini, saya menjadi lebih mengerti kenapa Rasulullah SAW menganjurkan kita supaya mencari ilmu, sekalipun ke Negeri Tiongkok.

Saya perhatikan ada beberapa kekhususan dari orang Tiongkok yaitu:

1. Segi Historis (Sejarah)

Tiongkok adalah bangsa yang tua karena beribu-ribu tahun sebelum masehi, Tiongkok sudah menjadi bangsa yang besar bersama dengan Romawi, Yunani, Persia, India, dll.

Ini adalah bangsa-bangsa tua yang ribuan tahun sebelum masehi sudah dikenal dalam sejarah.

 

2. Segi Geografis

RRT persis berada pada posisi tengah-tengah dari Benua Asia. Adapun selisih waktu antara Beijing dengan Jakarta hanya 1 jam sebagaimana selisih WIB dan WITA.

Luas Negara RRT ini luar biasa, bahkan melampui luasnya Amerika Serikat dan hampir sama dengan luas Uni Sovyet sebelum pecah.

3. Segi Populasi

Negara RRT mempunyai jumlah populasi terbesar di dunia, yaitu mencapai 1,3 milyar jiwa. Ini jumlah penduduk yang ada di Tiongkok daratan, belum lagi bangsa Tionghoa yang berada di luar RRT (Overseas Chinese).

Di Negara mana-mana pasti ada orang Tionghoa, termasuk Kalpataru, Cengger Ayam, bahkan daerah yang nyelempit-nyelempit itu. Ada satu pribahasa mengatakan : Dimana ada tebit matahari, disitulah ada orang Tionghoa .

Jadi, tidak ada satu kota pun di dunia ini yang tidak ada orang Tionghoanya.

Jumlah populasi orang Tionghoa yang berada di luar RRT itu kalau ditotal sekitar 600 juta jiwa. Sehingga kalau ditotal secara keseluruhan, maka jumlah populasi warga Tionghoa mencapai hampir 2 milyar jiwa.

4. Segi Ekonomi

Tiongkok ini adalah bangsa yang mempunyai etos kerja tinggi dan pekerja keras.

Dalam satu hari, orang Tiongkok mampu bekerja selama 11 jam, padahal kita saja yang bekerja 8 jam sehari sudah merasa berat.

Perhatikan orang Tiongkok yang buka toko. Pada pukul 06.00 dia sudah membuka toko dan tutup menjelang Maghrib, kemudian malam harinya, dia totalan. Jadi, waktu yang tersisa itu hanya digunakan untuk tidur atau untuk keperluan yang berkaitan dengan usaha dagangnya.

Di samping sebagai pekerja keras, orang Tiongkok adalah pekerja rajin dan cerdas.

Sekarang ini, tidak ada satu barang pun di dunia ini yang tidak ditiru oleh Negara RRT. Suatu saat saya pergi ke pasar malem. Di sana saya ditunjukkan jam tangan merk Rolex, mulai dari yang asli seharga 70 juta Rupiah, sampai Rolex yang seharga Rp. 70.000, dan kita sulit untuk membedakan antara yang asli dengan yang palsu. Oleh karena itu, RRT mempunyai potensi luar biasa untuk menghancurkan Barat. Apalagi produksi-produksi di sana dibuat secara besar-besaran, yaitu kalau satu orang membuat 10 baju, maka dari RRT akan mengekspor sekitar 12-13 milyar baju.

5. Rasa Persaudaraan (Kekeluargaan)

Bangsa Tiongkok mempunyai rasa batin “keluarga besar” bila dinegara luar , kalau orang Tiongkok ketemu sama orang Tiongkok lainnya, perasaannya lebih akrab dibandingkan ketemu dengan bangsa lain.

6. Segi Politik

Dahulu Negara RRT diperintah oleh Kaisar. Tunduk kepada Kaisar adalah harga mati, sehingga pada zaman Kekaisaran, Kaisar menyuruh rakyat untuk membangun tembok Raksasa Tiongkok meski harus mengorbankan ratusan ribu jiwa. Tembok Rajsasa Tiongkok ini dibangun di puncak-puncak bukit dan panjangnya sekitar sepanjang 6000 KM. Kalau ada pekerja yang mati, maka langsung dikuburkan di dekat situ. Jadi, tembok Rajsasa Tiongkok itu sebenarnya angker karena ada alam arwahnya.

Setelah itu Negara RRT dipimpin oleh Komunis. Pemerintahan Komunis ditambah dengan etos kerja bangsa Tiongkok yang luar biasa, menjadikan Negara RRT memperoleh untung besar. Kenapa?, karena nilai yang dimakan oleh masing-masing orang Tiongkok, lebih sedikit dari pada nilai hasil kerja mereka. Ibaratnya: kalau nilai kerjanya Rp. 20.000 perhari, maka dia hanya memakainya sebanyak Rp, 10.000 sehari, sedangkan yang Rp. 10.000 lainnya menjadi hak Negara, sehingga yang semakin kuat adalah Negaranya. Ini terjadi pada waktu pemerintahan Komunis dipimpin oleh tokoh bernama Mao Zhedong.

Setelah Mao Zhedong meninggal dunia, sistem ekonomi RRT diubah, namun politiknya tetap berhaluan Komunis. Artinya: orang Tiongkok masih diperintahkan untuk kolektivitas, tapi ekonomi RRT mulai dibuka pelan-pelan. Dari situ, mulai ada ekspor dan impor, investasi, dsb. Bahkan lebih dari 4 juta anak-anak muda Tiongkok , dikirim ke seluruh dunia untuk belajar membuat barang-barang yang dibuat di negara-negara yang mereka tempati. Semua itu dibiayai oleh Negara.

Akhirnya ekonomi Tiongkok meledak dan berkembang sangat pesat. Kenapa?, karena bangsa Tiongkok itu tidak suka hidup mewah, di samping karena budaya, juga karena faktor politik Komunisme yang dianut.

Jadi, Negara RRT itu dari Komunis, bergeser ke arah Sosialis yang agak longgar, bahkan sekarang menjadi Kapitalis, namun bukan “dikapitalisasi” oleh orang lain.

Dalam tempo kurang dari 20 tahun, kota-kota besar di RRT disulap menjadi lebih hebat dari pada Washington dan New York. Jadi, di sana saya seperti memasuki daerah yang exclusive , karena saya dulu pernah ke RRT, tapi tidak seperti yang sekarang ini. Sekarang ini Negara RRT luar biasa hebatnya dan mulai menggeser posisi ekonomi Barat.

Kenapa itu bisa terjadi?, karena RRT tidak mau terikat dengan semua ikatan ekonomi internasional, baik itu IMF, ILO, WTO, dsb. Sehingga RRT ini berjalan tidak berdasarkan konsensus internasional, melainkan menggelinding sendirian dengan kekuatan raksasa yang mereka miliki.

Hidup orang Tiongkok tetep sederhana, karena mereka mempunyai budaya yang mengacu kepada filsafat Konghucu. Sekalipun orang Tiongkok adalah komunis yang menganut ajaran tidak bertuhan (atheisme), tapi sebenarnya mereka masih mengamalkan jujung tinggi ajaran Kongfuche sampai hari ini.

Orang Tiongkok yang beragama Kristen menganut Konghucu juga, orang Tiongkok yang beragama Islam juga menganut firsafat Konghucu, dsb.

Filosofi Konghucu sedari dulu sudah menjadi landasan berbangsa dan bernegara.

Umat Islam di Tiongkok tidak besar, jumlah mereka kurang lebih sekitar 50 juta saja. Apa artinya 50 juta muslim di tengah-tengah 1.3 milyar penduduk RRT. Orang Islam di sana rata-rata sudah berusia tua yang kelasnya “Husnul khatimah”.

Nah, yang menarik bagi saya dan mungkin cocok dengan kandungan Hadits di atas adalah bahwa bangsa Tiongkok itu selalu hidup di bawah jumlah penghasilannya. Saya kira, sikap ini perlu kamu tiru. Tidak ada orang Tiongkok yang menghabiskan uang Rp. 10.000 sehari, kalau penghasilannya tidak mencapai Rp. 15.000. Ketika orang Tiongkok masih berpenghasilan Rp. 5.000, maka dia hanya makan sebanyak Rp. 4.000 saja. Jadi, irang Tiongkok itu pantang memakan habis hasil keringatnya dan harus ada sisa dari hasil keringatnya tadi.

Bangsa Tiongkok /Tionghoa sudah terbiasa hidup sederhana. Mereka bisa bikin mobil, motor, dsb. Mereka juga bisa meniru sepeda motor model Harley Davidson. Meskipun demikian, mereka jarang naik sepeda motor.

Saya lihat di kota Beijing , kalau orang mau bepergian yang jaraknya kurang dari 1 KM, maka mereka memilih jalan kaki; kalau lebih dari 1 KM, mereka memilih naik sepeda; dan kalau lebih dari 5 KM, maka mereka memilih naik bus.

Kalau sudah kaya betul, baru mereka mempunyai mobil; itupun jarang dipakai, karena mereka lebih suka naik bus sekalipun sudah mempunyai mobil sendiri. Alasan mereka sederhana dan rasional, yaitu jalan kaki itu lebih hemat, lebih sehat, lebih selamat, dan anti-polusi.

Di sana juga banyak sepeda pancal, namun sepeda yang dipakai itu jelek-jelek, karena yang baik-baik itu untuk dijual. Jadi, bangsa Tiongkok ini mempunyai sifat-sifat yang agak aneh dibandingkan dengan bangsa-bangsa yang lain. Du Tiongkok itu kalau yang terbaik untuk dijual, sedangkan yang jelek untuk dipakai sendiri.

Di RRT jarang ada rumah mewah, yang banyak adalah rumah susun, maklum jumlah penduduknya milyaran orang. Sedangkan bangunan yang megah-megah adalah semacam universitas, pertokoan, mall, kantor, dsb.

Orang-orang Tiongkok/Tionghoa jarang yang gemuk, padahal makannya banyak. Mereka bisa langsing karena sering jalan kaki dan berolah raga rutin.

Bahkan hampir seluruh tumbuh-tumbuhan yang berkhasiat sebagai obat-obatan, tumbuh subur di Negara Tiongkok/RRT, Ibaratnya, Negara Tiongkok adalah miniatur dari tanaman-tanaman yang berkhasiat obat.

Lha, ini yang menginspirasi Mr. Li Xiang untuk memproduksi obat-obatan, tapi sudah dimodernisir.

Pabrik yang dimiliki oleh Mr. Xiang ini sekarang sudah menguasai 1/3 pasaran obat di dunia. Dia menggunakan sistem MLM (Multi Level Marketing) dan sistem bonus, yaitu setiap orang yang berhasil menggaet pelanggan lain, akan diberi bonus. Jadi, kalau saya membuat 100 anak Al-Hikam membeli produk obatnya, maka saya akan mendapatkan keuntungan dari 100 orang tadi. Dengan sistem promosi yang berjenjang seperti ini, maka orang berlomba-lomba kaya melalui pabrik milik Mr. Xiang ini. Bonusnya juga ndak tanggung-tanggung, ada bonus berupa pesawat, kapal pesiar, mobil, sepeda motor, dsb.

Saya sudah ke Eropa, Amerika, Timur Tengah, Afrika, dsb., saya melihat bangsa Tionghoa ini memang aneh. Mereka lebih mendulukan bekerja daripada makan. Jumlah yang dimakan harus di bawah hasil kerja. Sebenarnya makannya orang Tionghoa itu banyak sama dengan makannya orang Arab; akan tetapi karena mereka berolah-raga terus, sehingga jarang yang gemuk. Lain halnya dengan orang Amerika, di sana ada wong gowo wetenge tok wis kabotan, mergo kakean badokan (orang bawa perutnya sendiri sudah keberatan, sebab kebanyakan makan berlebihan red.).

Lalu saya teringat pada Hadits Rasulullah SAW , Hadits itu ditujukan untuk urusan kehidupan duniawi.

Bangsa Tionghoa ini pekerja keras dan pekerja cerdas. Kalau orang Bugis, Madura dan Batak adalah pekerja keras, tapi tidak cerdas, sehingga kalau ayahnya jualan rokok di rombong, maka anaknya juga demikian. Beda dengan orang Tiinghia, kalau ayahnya jualan kacang buntelan, maka pada saat anaknya nanti, usahanya sudah menjadi pabrik kacang. Jadi, untuk faktor enterpreneurship, mungkin org Tionghoa itu nomer satu di dunia.

Orang Barat itu hebat dalam hal penelitian dan penemuan. Mereka meneliti sampai bisa menemukan listrik, kereta api, silinder, dsb.

Adapun masalah berdagang dan mencari rezeki, jagonya adalah org Tionghoa.

Sedangkan kalau makan tapi tidak kerja, jagonya adalah orang Indonesia. Jadi, orang Indonesia itu maunya, kalau kerja tidak berkeringat, tapi kalau makan, harus berkeringat …

Berarti di sini kita mengalami hambatan budaya untuk maju.

Ini semua membuat saya mikir-mikir: Seandainya ibadah, tauhid, dan akhlaq kita digandengkan dengan etos kerjanya orang Tionghoa , maka saya kira, itulah yang dimaksud oleh Hadits Rasulullah SAW:

“Bekerjalah untuk duniamu, seakan-akan engkau hidup selamanya; dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati esok hari”

Kesalahan orang Islam adalah menghindari kerja keras, seakan-akan tidak bekerja keras adalah bagian dari tasawuf, padahal pandangan seperti itu adalah bagian dari kebodohan.

Tasawuf itu ngeresii ati, bukan nganggur. Banyak orang Islam yang merasa mulya ketika ngganggur, tapi kok urip, padahal orang seperti ini pasti menjadi benalu atau seperti bunga teratai yang hidup terombang-ambing di atas air, sekalipun berbunga, ia tidak bisa lepas dari air. Oleh karena itu, saya ingin kamu semua mempunyai etos kerja dan enterpreneurship.

Saya melihat orang Tionghoa di sana jarang omong. Mereka ngomong seperlunya, karena pekerjaan lebih mereka dahulukan.

Sedangkan di sini, omong-omongan tok iso sampek 4 jam sambil ngentekno kopi 4 gelas (berbincang-bincang saja bisa sampai 4 jam sambil menghabiskan kopi 4 gelas. red), serta bercerita yang sama sekali tidak ada gunanya.

Ini disebut dengan wasting time (menyia-nyiakan waktu), padahal di dalam Hadits disebutkan bahwa orang yang menyia-nyiakan waktu atau hidupnya, berarti dia sedang disia-siakan oleh Allah SWT.

Sebenarnya Islam mengajarkan etos kerja ini ketika Rasulullah SAW ditanya:

“Rezeki apa yang paling baik?”

Beliau menjawab:

“Rezeki terbaik adalah rezeki hasil tangannya sendiri”.

Kadang-kadang, karena orang tua masih cukup, maka seseorang nebeng kepada orang tua, sementara dia sendiri tidak ada mempunyai kreativitas; sehingga begitu ditinggal mati oleh orang tuanya, dia akan kelabakan.

Saya melihat bahwa perusahaan-perusahaan besar milik orang Keturunan Tionghoa di Indonesia, rata-rata Grand Manager-nya berusia di bawah 40 tahun. Misalnya: Gudang Garam, Djarum, dsb. Perusahaan-perusahaan itu sudah tidak dipegang oleh ayahnya, karena ayahnya sudah menjadi konsultan, sedangkan yang menjadi eksekutif commite-nya adalah anak-anaknya.

Saya sebenarnya ingin kamu berlatih dua hal, yaitu:

🔸 Jangan memubadzirkan waktumu, demi menegakkan etos kerja dan …

🔸 Berusahalah berprestasi lebih tinggi dari pada apa yang kamu butuhkan.

Hal-hal seperti di atas, kalau digandengkan dengan akhlak dan tauhid, maka itulah bentuk nyata dari fiddunya hasanah wa fil-akhirati hasanah.

Negara-negara Islam, mulai dari Saudi Arabia sampai Maroko, adalah Negara-negara yang kaya, namun bukan Negara yang maju. Negara-negara di Timur Tengah menjadi Negara kaya, karena mempunyai minyak yg melimpah. Namun karena yang menyedot minyak adalah Amerika, maka Negara-negara Timur Tengah hanya dikasih 15 % dari hasil sedotan. Itu sudah membuat mereka menjadi Negara kaya, akan tetapi tidak bisa menjadikan mereka sebagai Negara maju, karena nyedot minyak saja tidak bisa.

Sementara Negara-negara di Timur Tengah yang tidak punya minyak, semuanya menjadi Negara miskin, contoh: Mesir, Tunisia, Al-Jazair, Moroko, apalagi Sudan.

Sudan itu ibukotanya bernama Kartoum, namun bandara Kartoum saja tidak ada WC-nya, sehingga kalau mau kencing harus melayu adoh ke tempat sing gerumbul-gerumbul (yang rimbun. red), sehabis kencing, diobati (maksudnya; diobat-abit).

Sebenarnya, perintah melihat bangsa Tionghoa adalah bagian dari Hadits yang menyatakan bahwa hikmah itu adalah milik orang mukmin. Kalau hikmah itu kececer pada orang lain, maka hikmah itu adalah milikmu.

Jangan karena tidak Islam, lalu kamu memusuhi mereka.

Karena mutiara itu kececer dan dipegang oleh orang lain, maka ambil kembali hikmah itu.

Contoh: Penelitian itu kan perintah Islam, lalu kenapa kita tidak memakai hasil penelitian orang Eropa …?

Dulu, sebelum orang Eropa maju, yang bisa meneliti dalam bidang kedokteran, matematika, gizi, dsb. diteliti oleh ulama-ulama Islam.

Oleh karena itu, ambillah hikmah dari mana saja, asal hikmah itu benar menurut syariat Islam.

Jadi, tidak bagus kalau ada orang yang membeda-bedakan antara daerah Islam dengan daerah yang tidak Islam. Karena di daerah Islam itu ada tauhid, namun ada kelemahan; sedangkan di daerah yang tidak Islam, ada kekufuran, namun ada kelebihannya.

Hanya saja, sampai hari ini, orang-orang Timur Tengah, masih juga membagi peta antara Negara Islam dengan Negara tidak Islam, padahal mutiara-mutiara Islam sebagai agama, telah tercecer di sana-sini, karena tidak dipegang oleh orang muslim di negara Islam itu sendiri.

Ketika saya masuk Somalia, penduduknya begitu miskin … Kalau di sana ada orang bisa makan cukup setiap hari, itu sudah Alhamdulillah …

Padahal Negara ini mempunyai tambang-tambang yang banyak.

Ini semua mengingatkan kita, kenapa Negeri Islam, penduduknya miskin-miskin, sedangkan penduduk di daerah non-muslim kok tidak demikian. Ilmu memang ada di sini, namun yang melakukan adalah orang di luar Islam … Jadi, ilmu etos kerja, ilmu penelitian dan kerja keras adalah Islami.

Mereka yang melakukan ilmu itu, meskipun ndak pakai syahadat; sedangkan di Negara-negara Islam pakai syahadat, tapi ilmunya tidak diamalkan.

Jadi, kalau syahadat itu ibarat lokomitif, sedangkan gerbongnya adalah ilmu. Baik lokomotif maupun gerbong, itu sama-sama diperlukan.

Kalau ada lokomotif ndak pakai gerbong, itu kan lucu … Akhirnya di Negara-negara Islam, penduduknya bertentangan karena selisih paham, saling bunuh-membunuh karena selisih aliran, dsb.

Jadi, Islam yang kaffah itu bukan Negara harus di-stempel Islam, namun unsur-unsur ke-Islam-an yang harus diterapkan di Negara itu.

Nah, sekarang itu, golongan seperti Hizbut Tahrir, FPI, dsb. mengatakan bahwa Islam Kaffah adalah kalau Indonesia yang dihuni oleh banyak orang Islam ini, distempel Islam; ndak peduli apakah masyarakat di dalamnya itu menjadi maling atau tidak …

Padahal yang akan dihisab nanti adalah orang-perorang, bukan institusi … Jadi yang harus bertanggung jawab adalah individu, bukan nation state-nya.

Baru pemahamannya saja, mereka sudah menceng dan tidak karu-karuan … Mereka itu sebenarnya tidak kaffah, tapi merasa paling kaffah.

Kemarin saya didatangi oleh Redaktur Majalah Sabili; saya dikritik karena saya kok masih mempertahankan Pancasila, kenapa kok tidak setuju dengan Khilafah, berarti tidak kaffah … Lalu saya jawab:

“Lho, yang dimaksud kaffah bukan simbolistik-simbolistik, melainkan hikmah-hikmah Islam yang berserakan, kemudian dijadikan satu, itulah Islam kaffah.”

Untuk mengerti bahwa shadaqah itu penting, kita cukup membaca Hadits … Akan tetapi untuk menciptakan masyarakat yang mampu bersedekah, maka tidak cukup hanya dengan menghafalkan Hadits-hadits, karena itu adalah proses perjuangan ekonomi kerakyatan.

Sementara sekolah-sekolah Islam yang di Timur Tengah, isinya menghafal saja, sehingga berhenti sampai hafalan, tidak pada aktualisasinya …

Dino-dino omongane dalil (sehari-hari bicara dalil. red), tapi dalil iku gak tahu dilakoni (tidak pernah dilakukan. red).

Semua ini menjadikan saya termenung …

Sudah berapa Negara yang saya kelilingi, saya kira sudah lebih dari 40 Negara. Namun, untuk kunjungan ke RRT, rasanya lain bagi saya.

Bagaimana tidak …?

Mereka punya sesuatu, tapi tidak mau pakai; mempunyai etos kerja tinggi, tetapi hidup sederhana; barang yang terbaik untuk dijual, sedangkan yang asal jadi, dipakai sendiri. Mereka juga jarang yang mau pakai sepeda motor, karena mengakibatkan polusi dan tidak sehat. Maka dari itu, umure wong Tiongkok iku dowo-dowo, gak mate-mate sampek tuek tuyuk-tuyuk (umur orang Tiongkok itu panjang-panjang, tidak mati-mati sampai tua. red) , bahkan mencapai usia lebih dari 100 tahun.

Jadi, budaya kita ternyata tidak produktif. Bagaimana kita bisa mempunyai budaya yang produktif, tapi etis dan tauhidi dan Islami, ini baru menjadi bangunan dari fiddunya hasanah wa fil akhriati hasanah.

Saya masih akan ke Moskow. Rusia itu dedengkot komunis dunia. Mereka telah mendirikan komunisme yang bertahan selama 70 tahun, lalu ambruk.

Kenapa Rusia setelah direformasi, kok ambruk, sedangkan Tiongkok setelah reformasi kok malah melejit, padahal keduanya sama-sama komunis …?

Itu karena komunis di Tiongkok menggunakan budaya Tiongkok (filosofi Konghucu), yaitu makan kurang dari penghasilan; sementara orang Rusia, biaya makan melebihi kapasitas hasil kerjanya.

Sekarang ini orang Tiongkok pergi ke Moskow secara besar-besaran untuk menggarap pertanian-pertanian. Sehingga sekarang ini Rusia tampaknya berada di bawah kendali RRT.

Ketika saya di RRT(Republik Rakyat Tiongkok) , saya bertemu dengan pedagang Amerika yang berasal dari Wall Street di New york … Dia minta dengan hormat, supaya Tiongkok itu tidak mengekspor barang-barang seperti sekarang ini, karena kalau ini diteruskan, maka perekonomian akan ambruk dalam 5 tahun.

Jawabnya orang Tiongkok :

“Saya tidak ingin mengekspor barang saya, kalau rakyat Anda tidak ingin membeli barang saya”.

Hitungan kan begini: PendudukTiongkok itu berjumlah 1.3 Milyar jiwa, kalau setiap orang memperoleh bati 1$ saja, berarti untungnya sudah mencapai 1.3 Milyar dollar. Jadi, gimana mereka mau disaingi, itu kan tak mungkin.

sumber artikel :
http://mylazuardi.multiply.com/journal/item/7/belajarlah-gaya-hidup-kepada-bangsa-Tionghoa

Di Negeri Kita ini

orang suku Tionghoanya dijadikan “MUSUH”

Dijadikan Kambing Hitam

Bukan dijadikan “GURU”.

Issue Kesehatan Global Terbesar Tahun 2017

Issue Kesehatan Global Terbesar Tahun 2017 anatara lain :

  1. Pemilihan Ketua WHO
  2. Pengembalian kembali “Peraturan Global GAG”
  3. Proses Dana Global Kesehatan yang kontroversial
  4. Kontroversi mengenai kontrak kesehatan terbesar USAID
  5. Wabah kolera di Yaman
  6. Pergeseran kebijakan dan pemotongan anggaran AS
  7. Momentum kesetaraan jender
  8. Kematian pemimpin kesehatan global
  9. Vaksin
  10. Pertarungan melawan ancaman kesehatan masyarakat lama dan baru muncul Dll.

Dan lain-lain yang untuk lebih jelasnya dapat di baca pada website http://www.devex.com pada link Berikut Ini.

 

 

 

Siapa yang dapat menolong wanita jika wanita sendiri tidak memecahkannya? Tidak berusaha, tidak bertindak, tidak beraksi, tidak pula mencari jalan??

Surgaku Di Kaki Mu Ibu, Nasehat dan Semua hal yang engkau berikan atas cinta dan kasih sayangmu saat kami dalam kandunganmu, pelukan dan suapanmu, asuhan perwatanmu yang disertai selalu doa tulusmu, saat kami hanya bisa menangis, tertawa dan memekik sampai mulai bisa merangkak dan berlari, serta kami ingat saat selalu ada dalam pengawasanmu untuk melindungi kami saat mulai remaja sebagai buah hati dari perpaduan kasih dan cintamu pada ayah, dan saat kami menerima begitu banyak kehangatan pandangan “cemburu” sekaligus bangga dan bahagia disaat kami mulai meniti kesiapan untuk dewasa dan berbagi kasih, perhatian dan waktu untuk Mu dengan calon pasangan kami serta pilihan karir masa depan kami, dan kedekatan dengan kasih sayangmu perlahan kami lebih siap untuk mulai mandiri melalui hantaran tangis bahagiamu saat mengantarkan kami penghulu untuk melakukan hal yang sama yang enkau dan ayah lakukan dalam mempersiapkan diri untuk mampu memberikan semua curahan kasih, sayang dan cinta pada cucu cucu mu. semoga engkau diberikan tempat yang layak di sisi Allah SWT. Amin. Terima kasih kami pada Mu Ibu dan Ayah dari semua keluarga yang engkau harapkan melalui doamu selama ini. SELAMAT HARI IBU ….

HANIBAL HAMIDI

22 Desember selalu dirayakan sebagai Hari Ibu. Tak sedikit yang belum tahu, asal muasal penetapan Hari Ibu di Indonesia. Dari beberapa informasi yang dihimpun dari sejumlah sumber, 22 Desember 1928 merupakan pertama kalinya Kongres Perempuan di Indonesia diselenggarakan.

Dalam kongres yang digelar di kota perjuangan Yogyakarta, sejumlah perempuan bertemu membahas perjuangan perbaikan derajat kedudukan perempuan. Di antara yang hadir adalah Nyi Hajar Dewantara yang merupakan istri tokoh pendidikan Ki Hajar Dewantara.

Ada pula Suyatin, Putri Indonesia pertama yang menjadi ketua penyelenggara. Salah satu keputusannya adalah dibentuknya satu organisasi federasi yang mandiri dengan nama Perikatan Perkoempoelan Perempoean Indonesia (PPPI).

Tetapi di dalam permusyawaratan-permusyawaratan yang demikian itu, saya selalu hanya memberi petunjuk garis–garis besar saja, dan selalu saya peringatkan bahwa soal wanita hanyalah dapat diselesaikan oleh wanita sendiri. Terutama sekali di dalam prakteknya pemecahan soal-soal cabang, soal-soal ranting, – siapa yang dapat menolong wanita jika wanita sendiri tidak memecahkannya? Tidak berusaha, tidak bertindak, tidak beraksi, tidak pula mencari jalan?

Saya sepaham dengan Vivekananda yang selalu, jikalau ditanya oleh orang laki-laki tentang soal-soal kecil urusan wanita (soal-soal yang tidak prinsipiil) lantas menjawab:
”Apakah aku ini seorang wanita, maka engkau selalu menanyakan hal-hal yang semacam itu kepadaku? …Engkau itu apa, maka engkau mengira dapat memecahkan soal-soal wanita? Apa engkau itu Tuhan Allah, maka engkau mau menguasai tiap-tiap janda dan tiap-tiap perempuan? Hands off! Mereka akan mampu menyelesaikan soal-soalnya sendiri!”

Ya, wanita sendiri harus bertindak, wanita sendiri harus berjoang! Tetapi ini tidak berarti, bahwa wanita harus berusaha terpisah sama sekali dari pihak laki-laki. Tidak, untuk kepentingan wanita pula, wanita harus menjadi roda hebat dalam Revolusi Nasional; wanita di dalam Revolusi kita ini harus bersatu aksi dengan laki-laki, dan wanitapun harus bersatu aksi dengan wanita pula.
Jangan terpecah belah, jangan bersaing-saingan! Jangan ada yg memeluk tangan!

Tulisan Presiden Soekarno di Buku SARINAH, Kewajiba Wanita dalam Perjuangan Republik Indonesia, Yogyakarta, 3 November 1947.

Sesi Hari Ibu (Wanita), tgl 22 Desember

PP No 45 Tahun 2017 tentang Partisipasi Masyarakat dalam Penyelenggaraan Pemerintah Daerah

Berikut kami berikan link untuk mengunduh PP No 45 Tahun 2017 tentang Partisipasi Masyarakat dalam Penyelenggaraan Pemerintah Daerah

PP No 45 Tahun 2017 tentang Partisifasi Masyarakat Dalam Penyelenggaraan Pemda adalah sebuah Regulasi yang sangat setrategis dalam kerangka agenda Konsolidasi Demokrasi melalui adanya komitmen politik pemerintah dalam untuk memfasilitasi dan mengakomodasi Peran Partisifasi Masyarakat yang berkualitas dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan pembangunan Daerah Provinsi, Kabupaten dan Kota.

Semoga demikian juga untuk Pemerintah Pusat dan Desa diberikan regulasi yang tipikal dengan hal ini.

Selamat Bagi Kita Semua.

Hanibal Hamidi, #merDesaInstitute #PemerataanPembangunan #PersepatanPembangunan

PP Nomor 45 Tahun 2017 (PP Nomor 45 Tahun 2017)

Surat Rekomendasi dari SATGAS IMUNISASI DEWASA 

Berikut surat rekomendasi dari SATGAS IMUNISASI DEWASA

Sehubungan dengan Kejadian Luar Biasa (KLB) Difteri di 23 provinsi di Indonesia maka bersama ini Satgas lmunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Perhimpunan Alergi lmunologi Indonesia (PERALMUNI) dan Perhimpunan Kedokteran Tropis dan lnfeksi Indonesia (PETRI):
1.Mendukung kebijakan Kementerian Kesehatan RI untuk melakukan Outbreak
Response Immunization(ORI) pada daerah KLB. Diharapkan anggota PAPDI dapat memberikan informasi yang benar kepada masyarakat mengenai KLB difteri ini dan sebagai pegangan dapat merujuk kepada informasi Kemenkes dan IDAI.
2. Mengingatkan kembali perlunya imunisasi ulangan pada orang dewasa untuk mencegah tetanus, difteri, dan pertusis. Sesuai dengan jadwal imunisasi dewasa PAPDI,pada orang dewasa yang telah mendapatkan imunisasi tetanus-difteri-pertusis dasar yang lengkap, imunisasi ulangan dilakukan 10 tahun sekali. Adapun vaksin yang dapat digunakan adalah kombinasi Tetanus-difteri-aseluler pertussis / Tdap (Boostrix atau Adacel) atau Tetanus-difteri / Td (Biofarma).
3.Orang dewasa kelompok risiko tinggi untuk kontak dengan anak yang terinfeksi difteri
seperti petugas poliklinik dan perawatan inap anak, petugas poliklinik dan perawatan inap THT, petugas gawat darurat, guru atau pendamping anak, dan anggota keluarga anak yang terinfeksi difteri dianjurkan untuk menjalani imunisasi Tdap atau Td.
4. lmunisasi Tdap pada ibu ham ii dilakukan pada usia kehamilan trimester 2 dan 3.
5. Pemerintah telah melaksanakan imunisasi tanggap KLB (ORI) untuk anak usia 1 – <19 tahun secara cuma-cuma. Untuk ulangan imunisasi Tdap atau Td pada orang dewasa dilaksanakan dengan biaya mandiri.
6. Mengingatkan seluruh anggota PAPDI untuk mengajak masyarakat melaksanakan
gaya hidup sehat serta menjalani imunisasi agar tercapai cakupan yang tinggi untuk mencegah penularan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.

 

Berikut kami kirimkan pula copy surat  aslinya yang dapat di unduh pada link : Rekomendasi Imunisasi Difteri

beserta kami kirimkan pula jadwal imunisasi dewasa tahun 2017 pada link berikut : jadwal imunisasi dewasa 2017

dan bahan bacaan dari website WHO terkait imunisasi pada link berikut :Vaccines-and-trust

Mari kita samakan dulu pemahaman: apa definisi imunisasi difteri lengkap? Yaitu ketika:

  • Usianya satu tahun, sudah dapat vaksin DPT atau DPaT 3x (tiga kali). Karena imunisasi DPT/DPaT kombo dengan Hib dan/atau Hepatitis B dan polio diberikan pada usia 2, 3, dan 4 bulan (atau 2, 4, dan 6 bulan).
  • Usianya 18-24 bulan, sudah dapat vaksin DPT/DPaT kombo 4x (empat kali)! Ya, vaksinasi dosis ke-4 diberikan pada usia 18 bulan.
  • Mendapatkan dosis DPT atau DT ke-5 di usia 5 tahun (4 – 6 tahun). Atau bila tidak mendapatkannya di praktik dokter mandiri/RS, maka dapat imunisasi DT ke-5 ini saat BIAS (bulan imunisasi anak sekolah) di kelas 1-2 SD.
  • Mendapatkan dosis Td (tetanus dan difteri) ke-6 di usia 10-12 tahun.

Jadi ketika orangtua membawa anaknya dengan kecurigaan sakit difteri di usia 2 tahun, tetapi ketika ditanyakan apakah sudah lengkap imunisasinya ia menjawab sudah, padahal kenyataannya baru dapat 3 dosis sebelum berusia 1 tahun, maka artinya tidak lengkap status imunisasinya! Karena belum dapat dosis ke-4.

Begitu juga contoh lain ketika anak berusia 8 tahun dengan kecurigaan sakit difteri mengaku lengkap status imunisasinya, padahal belum dapat dosis ke-5 saat berusia 5 tahun atau saat BIAS, maka artinya belum lengkap imunisasi difterinya. Imunisasi yang tidak lengkap ini berisiko membuat anak tetap sakit, seiring menurunnya kekebalan tubuh yang diciptakan oleh vaksin. Itulah mengapa ada yang namanya dosis pengulangan atau booster pada imunisasi.

Maka petugas kesehatan HARUS memastikan kelengkapan status imunisasi dengan melihat buku catatan kesehatan atau buku KIA/KMS anak, bukan semata berdasarkan keterangan lisan orangtua.

Dan orangtua harus memastikan lagi status kelengkapan imunisasi anak-anaknya lewat buku catatan, serta menyimpannya dengan baik, jangan sampai hilang.

( Dr. dr. Soedjatmiko, Sp.A(K) dari Satgas Imunisasi IDAI )

Deklarasi Djuanda Pada Hari Nusantara

Hari Nusantara yang diperingati setiap tanggal 13 Desember secara resmi ditetapkan oleh Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri lewat Keputusan Presiden (Keppres) No.126/tahun 2001. Tanggal itu dipilih bertepatan dengan Deklarasi Juanda 13 Desember 1957.

Sebenarnya, pada 1999 Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur sudah mencanangkan tanggal 13 Desember sebagai Hari Nusantara. Namun pengukuhan secara resmi baru terlaksana saat Gus Dir digantikan oleh Megawati. Sejak itu tanggal 13 Desember sebagai hari perayaan nasional tidak libur.

Untuk Lebih Lanjut dapat di baca pada Link Berikut

OUTBREAK RESPONSE IMUNIZATION DIFTERI (ORI DIFTERI)

Apa Itu Outbreak Response Imunization Difteri atau ORI Difteri ?

Outbreak Response Imunization Difteri (ORI Difteri) adalah suatu kegiatan imunisasi secara massal sebagai upaya untuk memutuskan transmisi penularan penyakit difteri pada anak usia 1 tahun sampai dengan <19 tahun yang tinggal di daerah KLB tanpa mempertimbangkan status imunisasi sebelumnya

Penyakit Difteri berbahayakah ?

Penyakit Difteri disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium Diptheriae dapat menyebabkan komplikasi yang serius, seperti sumbatan saluran nafas serta peradangan pada otot jantung bahkan kematian.

Penyakit Difteri dengan gejala demam 38℃, sakit menelan, selaput putih keabu-abuan di tenggorokan, leher membengkak dan sesak nafas disertai suara mengorok.

Selain itu bakteri Corynebacterium diptheriae akan mengeluarkan racun difteri yang bisa membuat peradangan otot jantung dan akhirnya akan menyebabkan kematian

Pengobatan untuk penyakit Difteri rawat inap di ruangan isolasi, pemberian antibiotik dan jika perlu diberikan anti racun difteri atau Anti Difteri Serum (ADS)

penyakit Difteri dapat dicegah. Imunisasi dengan vaksin DPT-Hib-HB/DT/Td adalah pencegahan terbaik untuk penyakit Difteri.

Siapa aja yang mendapatkan Outbreak Response Imunization Difteri atau ORI Difteri ?

Outbreak Response Imunization Difteri atau ORI Difteri diberikan untuk semua anak usia 1 tahun sampai dengan usia kurang dari 19 tahun

ORI akan dilaksanakan sebanyak 3 putaran, dengan interval 0-1-6 bulan
Dimulai pada minggu ke 2 bulan Desember 2017

ORI akan memberikan vaksin dengan ketentuan sbb :

  • DPT-HB-Hib : usia 1 thn – <5 thn
  • DT : usia 5 thn – <7 thn
  • Td : usia 7 tahun <19 thn

Dimanakah bisa mendapatkan Outbreak Response Imunization Difteri atau ORI Pelaksanaan di sekolah masing – masing

  • TK, PAUD
  • SD/ MI/ Sederajat
  • SMP/MTS/ Sederajat
  • SMA /MA/ Sederajat
  • Perguruan Tinggi / Universitas
  • RS
  • Puskesmas
  • Faskes lain
  • Posyandu,
  • Day care
  • Apartemen
  • Rusun
  • Pos Vaksinasi lain yg ditetapkan oleh Puskesmas

Lindungi putra, putri, kerabat, orang- orang yang kita sayangi dari ancaman penyakit difteri

Dapatkan imunisasi Difteri

GRATIIIIISSSSS

analisa molukuler Difteri terkait terjadinya “outbreak” Difteri Indonesia

Senior dan Sahabat kami, Prof. Tjandra Yoga, mengirimkan literatur terkait analisa molukuler Difteri serta keterangan yang cukup strategis terkait terjadinya “outbreak” Difteri Indonesia saat ini. Terima kasih Prof, jaga kesehatan dan penuh semangat dalam melaksanakan tugas negara di WHO.

Sejalan dengan berbagai tindakan penanggulangan difteri yang saat ini sdg giat dilakukan di lapangan (ORI dll), maka tentunya akan dilakukan juga analisa molekuler tentang difteri yang sedang terjadi. Kita ketahui bahwa -sebagaimana pada outbreak pada umumnya- informasi ttg pola mikroorganisme penyebab outbreak (dalam hal ini Corynebacterium diphteriae) mungkin saja akan dapat membantu analisa epidemiologik dan mungkin juga public health approach yang akan dilakukan.

Sehubungan hal itu maka saya sampaikan 3 kepustakaan analisa molekuler difteri pada outbreak di negara lain dengan berbagai temuan menariknya, dalam hal ini di Afrika Selatan, India (ke dua nya kepustakaan Agustus 2017) dan di Brazil (kepustakaan 2014), sbb:

  1. Molecular Characterization of Corynebacterium diphtheriae Outbreak Isolates, South Africa, (https://wwwnc.cdc.gov/eid/article/23/8/16-2039) – Augustus 2017, yg menemukan strain baru “Two novel lineages were identified, namely, toxigenic sequence type (ST) ST-378 (n = 17) and nontoxigenic ST-395 (n = 3). “
  2. Resurgence of Diphtheria in North Kerala, India, 2016: Laboratory Supported Case-Based Surveillance Outcomes (https://www.frontiersin.org/articles/10.3389/fpubh.2017.00218/full) – 30 August 2017, dengan temuan a.l : “Two of the predicted STs (ST-405 and ST-50) associated with the outbreak in Kerala was related to clonal complexes circulating in the world, whereas the other STs are unique to the region.”
  3. Diphtheria outbreak in Maranhão, Brazil: microbiological, clinical and epidemiological aspects ( https://www.cambridge.org/core/journals/epidemiology-and-infection/article/div-classtitlediphtheria-outbreak-in-maranhao-brazil-microbiological-clinical-and-epidemiological-aspectsdiv/45AB87C85CCAEF47803E62620F05C814) , May 2014, yg a.l menyebutkan “analysis identified the isolates as Corynebacterium diphtheriae biovar intermedius with a predominant PFGE type”

semoga situasi Difteri ini akan segera tertanggulangi dengan baik.

Berikut data lengkap kasus dan kematian difteri per Januari-November 2017 Indonesia:

Aceh: 76 kasus, 3 kematian
Banten: 57 kasus, 3 kematian
Jawa Timur: 265 kasus, 11 kematian
Gorontalo: 1 kasus, 0 kematian
Babel: 3 kasus, 2 kematian
Kalimantan Barat: 3 kasus, 1 kematian
Kalimantan Tengah: 1 kasus, 0 kematian
Lampung: 1 kasus, 0 kematian
Sulawesi Selatan: 3 kasus, 0 kematian
Sulawesi Tenggara: 4 kasus, 0 kematian
Sulawesi Tengah: 1 kasus, 0 kematian
Riau: 8 kasus, 0 kematian
Sumatera Barat: 17 kasus, 0 kematian
Sumatera Selatan: 2 kasus, 0 kematian
Sumatera Utara: 2 kasus, 0 kematian
Jawa Tengah: 12 kasus, 0 kematian
DKI Jakarta: 13 kasus, 2 kematian
Jambi: 4 kasus, 0 kematian
Jawa Barat: 117 kasus, 10 kematian

 

Salam Hormat.. (HH)

Pesan Indah dari Ust. Arifin Ilham

Assalamu’alaikum Wr. Wb.. Cerdasnya orang yg beriman adalah, dia yg mampu mengolah hidupnya yg sesaat & yg sekejap untuk hidup yg panjang.. Hidup bukan untuk hidup, tetapi hidup untuk Yang Maha Hidup. Hidup bukan untuk mati, tapi mati itulah untuk hidup.
Kita jangan takut mati, jangan mencari mati, jangan lupakan mati, tapi rindukan mati. Karena, mati adalah pintu berjumpa dengan Allah SWT. Mati bukanlah akhir cerita dalam hidup, tapi mati adalah awal

cerita sebenarnya, maka sambutlah kematian dengan penuh ketakwaan.
Hendaknya kita selalu menjaga tujuh sunnah Nabi setiap hari. Ketujuh sunnah Nabi SAW itu adalah:

.

.

●Pertama, 

Tahajjud karena kemuliaan seorang mukmin terletak pada tahajjudnya.

.

●Kedua, 

Membaca Al-Qur’an sebelum terbit matahari. Alangkah baiknya sebelum mata melihat dunia, sebaiknya mata membaca Al-Qur’an terlebih dahulu dengan penuh pemahaman.

.

●Ketiga, 

Jangan tinggalkan masjid terutama di waktu subuh. Sebelum melangkah kemana pun langkahkan kaki ke masjid, karena masjid merupakan pusat keberkahan, bukan karena panggilan muadzin tetapi panggilan Allah yg memanggil orang beriman untuk memakmurkan masjid Allah.

.

●Keempat, 

Jaga Shalat Dhuha karena kunci rezeki terletak pada shalat dhuha

.

●Kelima, 

Jaga sedekah setiap hari. Allah menyukai orang yg suka bersedekah, dan malaikat Allah selalu mendoakan kepada orang yg bersedekah setiap hari.

.

●Keenam

Jaga wudhu terus menerus karena Allah menyayangi hamba yg berwudhu.

Khalifah Ali bin Abi Thalib berkata, “Orang yg selalu berwudhu senantiasa ia akan merasa selalu shalat walau ia sedang tidak shalat, dan dijaga oleh malaikat dengan dua doa, “ampuni dosa dan sayangi dia Ya Allah”.

.

●Ketujuh, 

Amalkan istighfar setiap saat.

Dengan istighfar masalah yg terjadi karena dosa kita akan dijauhkan oleh Allah.         
*Tiga doa yang janganlah kau lupakan dalam sujud*
*1. Mintalah diwafatkan dalam keadaan husnul khotimah :*

Allahumma inni as’aluka husnal khotimah

Artinya : ” Ya Allah aku meminta kepada-MU husnul khotimah ”
*2. Mintalah agar kita diberikan kesempatan Taubat sebelum wafat :*

Allahummarzuqni taubatan nasuha qoblal maut

Artinya: ” Ya Allah berilah aku rezeki taubat nasuha (atau sebenar-benarnya taubat) sebelum wafat ”
*3. Mintalah agar hati kita ditetapkan di atas Agamanya :*

Allahumma yaa muqollibal quluub tsabbit qolbi ‘ala diinika

Artinya: ” Ya Allah wahai sang pembolak balik hati, tetapkanlah hatiku pada agama-MU ”
Kemudian saya sampaikan,

jika kau sebarkan perkataan ini, & kau berniat baik maka kami doakan menjadikan kemudahan urusan urusanmu di dunia & akhirat.
Lakukanlah kebaikan walau sekecil apapun itu, karena tidaklah kau ketahui amal kebaikan apakah yang dapat menghantarkanmu ke syurga
Kirim ini semampumu dan seikhlasmu kepada sesama Muslim, sampaikanlah walau hanya pada 1 org..
*SYETAN TERUS BISIKIN >=)*

*”UDAAAAHLAAH,, GAK USAH DI SEBARIN*, gak penting kok, BUANG2 WAKTU aja, gak akan dibaca kok…
*SEKECIL* apapun amal ibadah, Allah SWT menghargainya PULUHAN kali lipat…

Smga kita semua termasuk dlm golongan org² yang bertaqwa,, aamiin… tolong baca sebentar aja Kita dzikir sebentar ingat اَللّهُ … 
*”Subhanallah, Walhamdulillah WalailaHa ilallah Allahu-Akbar wa la haula wala quwata illa billahil aliyil adzim”*
Sebarkanlah… Insha Allah kita akan membuat beribu-ribu manusia berzikir kepada Allah SWT
 آمِّيْنَ آمِّيْنَ آمِّيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِين

Sedekah Ilmu dari Saudaraku Anteng

Luar biasa pesan pesan pak Ahmat Anteng. Sangat pondamental selaku manusia yg diperintahkan Allah berperan sebagai “khalifah” di muka bumi ini. Untuk itu ahlakul kharimah haruslah menjadi dasar melaksnakan. 
Maka kita harus pastikan untuk dapat terjaga semua ritual hidup keaeharian kita, terutama kegiatan yang termuat dalam kedua kiriman wa pak Anteng.

Kapan kita bisa bertemu, untuk saya belajar pada pak Anteng. Terima kasih atas sedehanya.

(HH)

FAJAR, anak Indonesia termuda di Dunia yang hapal 30 Jus Surat Alquran.

“Fajar”, seorang anak Indonesia yang dilahirkan “prematur” sehingga menderita “Cerebral Palcy”, sehingga oleh orang tuanya diberikan “ASI” yang dibacakan satu jus surat Alquran dan diperdengarkqn rekaman pembacaan semua surat Alquran selama 1x 24 Jam setiap hari.

Dampaknya adalah, Allah rhido dan memberkahi ananda “Fajar”, Sejak Usia 4,5 tahun telah hapal Alquran, menjadi orang termuda di Dinia yang hapal Alquran.

Allah akbar, semoga membawa keberkahaan bagi Kitasemua.

Amin.

HH

Melalui RPP PUD, maka PAUD akan menjadi bagian Hak Dasar Bidang Pendidikan, dengan SPM sebagai instrumen pelaksanaannya.

WhatsApp Image 2017-12-04 at 21.43.01

Alhamdulillah telah disepakati bersama PAUD masuk dalam RPP SPM. Saya dapat kabar perkembangan isue strategis ini juga dari Bu Netty. Selamat. Luar biasa peran pak Haris dan tim kemendikbud dalam mewujudkan tonggak sejarah bagi kualitas kehidupan dan kemajuan bangsa di masa mendatang melalui “optimalisasi” kualitas manusia indonesia dalam fase “tumbuh kembang” (Janin-6 Tahun).

Semoga Allah meridhoi.

Amin.

Salam Hormat.

 

HH

Kiriman dari sahabat yang saat ini sedang bertugas di WHO, Prof. Tjandra Yoga

sehubungan hal vaksin Dengue di atas maka statement Kantor Presiden Filipina: ” “We will leave no stone unturned in making those responsible for this shameless public health scam which puts hundreds of thousands of young lives at risk accountable,” Presidential spokesman Harry Roque said in a statement.” Departemen Kesehatan (DOH) menghentikan penggunaan vaksin dengue buatan Sanofi setelah perusahaan tersebut mengatakan penggunaannya harus dibatasi secara ketat karena bukti tersebut dapat memperburuk penyakit pada orang-orang yang sebelumnya tidak pernah terpapar infeksi. . Untuk lebih lengkap dapat di baca pada Link Berikut

Perjuangan Para Kepala Kampung Yahukimo Mendapatkan Hasil Yang Baik.

SMS “Terima Kasih” Dari saudaraku “Set Matuan” koordinator penyelesaian masalah 517 Kepala Kampung di Yahukimo, Papua

“SAYA SET.MATUAN.SEBAGAI KOORTINATOR PERWAKILAN 517.KEPALA KAMPUNG SE YAHUKIMO UCAPAN TERIMA KASIH ATAS DUNGAN MASALAH NASIB 517.KEPALA KAMPUNG.AKHIRNYA TADI SORE WAKTU INDONESIA TIMUR MENYERAH KAN SURAT DARI LSM.DAN DARI MEN KO POLHUKAM. DAN LAIN2 SEJAHRA RESMI DISERAHKAN KEPADA BAPAK BUPATI .WAKIL BUPATI.DAN JUGA KAPOLRES YAHUKIMO.DAN PEJABAT LAIN NYA.AKHIRNYA BAPAK BUPATI DI TETAPKAN KEPALA KAMPUNG LALA LANJUT KERJA.OLEH SBB ITU SY KOORDINATOR UCAPAN TERIMAKASIH KEPADA .1.KETUA LMS.BUSAT.2.MENKO POLHUKAM.DI JKRT 3.HANIBAL HAMIDI DAN BAPA IBU YG MENDUKUNG KAMI MELALUI DOA.SHALOM.”

Wa. Dari Ketua Saudaraku Stevanus S Wetipo, Ketua LSM Perintis Kemerdekaan Trikora;

Wa wa wa wa puji tuhan allah luar biasa perjuangan pak wetipo dgn org papua perada di busat.selamatkan untuk seripu org ku sususnya untuk org papua tuhan yesus memperkati.st mlm ini dpr yahukimo sidang palim purna sskalian surat kebutusan dr busat untuk 517 kmpg dpr pahabol paca dan ssjara simpolis serakan ke ketua dpr dan bupati bp halawok nopase anak minta maaf 1000 kali ke bp halnak nopase”

Alhamdulillah, Dukungan bagi Perjuangan Saudara ku Para Kepala Kampung Yahukimo melalaui Fasilitasi Penyelesaian Permasalahan 517 Kepala Kampung Yang Terancam Pergantian Tidak Sesuai Peraturan Di Kabupaten Yahukimo, Papua, akhirnya mendapatkan hasil yang baik. Semoga membawa kedamaian dan kesejahteraan bagi masyarakat Papua.

Amin.

HH

Merengkuh Kebahagiaan

Pukul dua dini hari. Dalam perjalanan menuju Kupang. Setiba di bandara Cengkareng yang masih lengang, sekelebat terlintas pertanyaan yang muncul dari kabut pikiran. “Apakah kau bahagia dengan hidupmu? ” 
Pertanyaan subversif yang menohok ulu hati. Gerak hidupku memang seperti roda mesin. Berputar beredar di lingkaran rutinitas, tanpa jeda refleksi diri.
Tak yakin benar manfaat segala kesibukanku bagi kehidupan. Yang pasti, dimana pun kupijak titik bumi negeri ini, berjumpa dengan keragaman manusia yang menanti pengharapan, segala kerisauanku tentang negara memudar.
Melihat Indonesia dari pinggir seperti melihat pendaran cahaya yang lebih terlihat indah dari lingkar terluar. Apa yang terlihat muram di ibukota, tampak lebih cerah di tepian. 
Bukan karena kehidupan di tepian lebih makmur, tapi justru karena kesederhanaan, yang membuat harapan hidup lebih mudah didekati dengan kebersahajaan.
Di kesuburan tanah pinggiran, masih tertanam kesuburan jiwa. Kepolosan wajah pedesaan bak cermin bening yang bisa memantulkan ketulusan pengabdian secara setimpal. 
Sinar cinta yang dipancarkan pusat ke pinggir berbalas kesetimbangan pijar cahaya yang dipantulkan ke pusat, seperti tepukan yang tak berbunyi sebelah tangan. 
Ada dua sisi waktu yang tak bisa kuperbuat: masa lalu dan masa depan. Satu-satunya yang bisa kulakukan hanyalah berbuat di masa kini.
Aku ingin merebut hari ini dengan menanam benih kebaikan, meski tampak sebagai misi ketidakmungkinan. 
Tugas hidup bukanlah meraih keberhasilan, tapi memperjuangkan keberhasilan. Dengan ketulusan pengabdian,  setiap amal tidaklah sia-sia. 
Seperti samudra bermula dari tetes air. Setiap senyuman memberi keriangan bagi semesta. Setiap sapa memberi gairah bagi sesama. Setiap darma membangun harapan bagi kehidupan. 
Bila dengan segala yang kuperbuat hidupku terasa lebih bermakna, tak perlu ragu memberi jawaban, bahwa hidup yang kujalani adalah hidup yang membahagiakan. Bukankah kebahagiaan tertinggi terengkuh dalam kebermaknaan hidup?
Di tulis oleh : Yudi Latif

FAEDAH KITA BERADA DALAM PERSAHABATAN INI

ALLAH mempertemukan kita untuk beribu alasan

Entah untuk memberi atau untuk menerima

Entah untuk belajar atau untuk menyampaikan

Entah untuk bercerita atau untuk mendengarkan
Entah untuk sesaat atau untuk selamanya

Entah akan menjadi bahagian terpenting atau hanya untuk sekadarnya

Semua tidak akan ada yang sia-sia, kerana Allah yang mempertemukan

Hidup kita saling mengisi
Jadi jika ada perbedaan, itu adalah hal yang sangat biasa
Tidak perlu diperbesar dan jangan jadikan ia puncak perpecahan sehingga memutuskan tali silaturrahmi yang sudah terjalin

Mungkin kehadiran kita adalah jawaban atas doa-doa saudara kita, sebagaimana mereka pun adalah jawaban atas doa-doa kita.

Jika sudah menjadi takdir Allah, meski dengan jarak beribu-ribu kilometer jauhnya, kita tetap akan dipertemukan, dalam satu ikatan “Ukhuwah”

Semoga kita ini semakin kuat & mantap seiring dengan doa-doa kita bersama.

Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wassalam bersabda

“Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah terdapat orang-orang yang bukan Nabi, dan bukan pula Syuhada.
Tetapi para Nabi dan Syuhada cemburu pada mereka di hari kiamat nanti, disebabkan kedudukan yang diberikan Allah kepada mereka”

Seorang Sahabat bertanya

“Ya Rasulullah, beritahukanlah kepada kami, siapa mereka yang dimaksudkan itu?
Agar kami dapat turut mencintai mereka” ujar para sahabat.

Lalu Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wassalam menjawab

“Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai, mengasihi dan menyayangi kerana Allah SWTTanpa adanya hubungan darah, keluarga dan Nasab di antara mereka.

Demi Allah, wajah-wajah mereka pada hari itu BERSINAR bagaikan CAHAYA di atas mimbar-mimbar dari cahaya.

Mereka tidak takut di saat manusia takut, dan mereka tidak sedih di saat manusia sedih
(HR. Abu Dawud)

Sedikit pencerahan tentang persatuan, persahabatan dan persaudaraan.
Semoga tali Silaturrahmi persahabatan dan persaudaraan kita termasuk ke dalam golongan yang diRidhoi serta diberkahi oleh Allah SWT.
Aamiin Ya Rabbal A’lamiin.

Apapun status sosialmu, betapa tinggi pun kedudukanmu dalam karier dan kehidupanmu. Namun, kau tetaplah manusia biasa yang tak luput dari khilaf, salah dan dosa di hadapan Tuhanmu dan juga manusia-manusia lain… yang kelak akan dimandikan, dikafankan, disolatkan dan dikuburkan oleh orang lain.
Jagalah selalu tali silaturrahmi dan hubungan baik pada sesamamu
Semoga bermanfaat.

 

Penulis : Anonim

Kelahiran KPK

Ketika Bakpao Masuk Rutan KPK
Aku Teringat Saat Kelahiran KPK
—————————————————–
Negeri ini harus angkat topi kepada Ikatan Dokter Indonesia dan KPK .
Masih ada lembaga yang memiliki nurani dan tak kalah oleh uang dan kekuasaan.
Berbeda dengan DPR dan organisasi Advokat. Mereka yang selalu kisruh dan banyak bicara. Meski anggotanya, bahkan ketuanya yang sudah jelas pembohong dan sudah naik pangkat menjadi tersangka korupsi masih saja asbun jika bicara.
Mungkin saja rakyat Indonesia bukan hanya dianggap bodoh oleh SetNov, namun dianggap kera.

Terimakasih IDI, sebagai organisasi profesi yang masih punya integritas dan sungguh sungguh membantu KPK dengan profesional.
IDI mengatakan Setya Novanto tak perlu dirawat di rumah sakit dan cukup sehat untuk ditahan.
Jika ada dokter yang berbohong dan melakukan malpraktek biasanya dijatuhkan sanksi bukan?

Entahlah apa sanksi yang akan diberikan oleh organisasi Advokat, kepada Fredrich Yunadi, pengacara Setya Novanto yang mengumbar kebohongan atas keadaan kliennya ..
Mobilnya hancur, wah jika orang lain pasti mati, kecelakaan berat, gegar otak , kepala benjol segede bakpao, masih ditambahi lagi dengan tangan berdarah darah, dan dirawat dalam keadaan kritis.

Semua jelas bohong, bohong dan bohong.
Rekomendasi dari IDI mematahkan ocehan pengacara dan dalih malingering yang terus menerus dilakukan Setnov . Berpura pura sakit, mangkir dan endingnya pura pura kecelakaan . Semua jelas rekayasa, dan sungguh menghina nalar seluruh rakyat Indonesia.

Sekarang kita akan memasuki babak baru.
Sudah bertahun kita menanti urusan mega korupsi E-KTP ini.
Apa yang dilakukan KPK kepada Setya Novanto
Persis seperti kata pepatah Cina.
Like throwing the shit into the fan
And the shit has hit the fan.
Seperti melempar tai ke kipas angin
Karena tainya sudah kena kipas angin
Maka satu Senayan akan kena tainya.

Sudah waktunya
Ratusan wakil rakyat dan para petinggi negara akan kena batu dan tainya sekarang.
Satu hal yang lucu, selama ini banyak yang sudah mengembalikan uang E-KTP kepada KPK.
Ada Gubernur, ada menteri, ada petinggi negara, namun mereka lupa, mengembalikan uang tidak berarti bisa menegasikan tindak pidana korupsi.
..
Aku lantas teringat kisah pendirian KPK.
Saat aku menjadi ketua tim konsultan dan pakar Indonesia, tahun 2000-2001
..
Pendirian KPK didanai oleh ADB sebagai grant kepada Pemerintah Indonesia. Karena Pemerintah tak kunjung jadi membentuk KPK.
Meski itu menjadi mandat Tap MPR no 1.
Banyak tekanan internasional saat itu, agar Indonesia mendirikan KPK.
Maka ADB memberikan danasebesar sejuta dollar untuk pembentukan KPK.
Tugas kami adalah menyiapkan KPK .
Project of Establishment of Indonesian Independent Commisision against Corruption.
Kami bekerja selama setahun penuh di kantor Menkumham di Rasuna Said, lantai lima.

Dari pihak pemerintah, Menteri Yusril Ihza Mahendra menunjuk dirjen Kumdang (Hukum dan Perundang undangan) sebagai ketua steering committe. Yaitu Prof Romli Atmasasmita, anggotanya ada Erry Riyana Hardjapamekas dan Sudirman Said dari Ikatan Akuntan Indonesia pada tim itu.
Dua duanya adalah temanku
Lalu ada Taufikurahman Ruki, anggota DPR dari Polri. Ada juga Prof Amir Hamzah dari Unhas. Dan beberapa anggota lainnya.

Romli mulai dengan memarahi kami di Working Commitee, karena tim persiapan berkunjung ke Parleman berkoordinasi dengan DPR komisi ll yang dipimpin oleh Amin Aryoso dengan wakilnya Ferry Mursidan Baldan.
Bagaimana mungkin membentuk KPK tanpa melibatkan DPR?
Ia ingin semua RUU berasal dari pemerintah saja, tanpa melibatkan DPR.
Ia tak suka kami ke TGPK yang dibentuk untuk membantu Kejaksaan Agung.
Jaksa Agungnya Marzuki Darusman.
Romli merasa bahwa TGPK adalah ciptaannya, yang harus tunduk padanya.
Ia lupa kami bukan TGPK dan kami bekerja independen.

Akhir dari arogansi dan power play yang kontra produktif terhadap pembentukan awal KPK, adalah ketika ia ingin mengusir dan mempersona non grata kan tim ICAC HongKong.

Selama setahun Bertrand de Speville yang mantan komisaris Scotland Yard itu tak paham dengan sikap dan rancangan yang sangat banyak loopholenya, yang diajukan oleh pemerintah yang diwakili oleh Romli saat itu.

Ia akhirnya menyusun ulang semua UU anti korupsi, bersama dengan Prof Boy Mardjono,
ahli hukum pidana dari UI yang dipilih karena opini dan integritasnya.
Karena ia mempertanyakan integritas serta pemahaman Romli tentang hukum pidana korupsi dan bagaimana KPK seharusnya dijalankan. Sementara banyak usulan dan keputusan Romli yang dinilai sebagai melemahkan KPK.

Working Committe terdiri dari tim Internasinal : Ketuanya Bertrand De Speville dan Tim Nasional Irma Hutabarat (ketua), dengan para pakar yaitu Bambang Harymurti, Ignas Kleden dan Mohammad Ichsan, ketua LPEM UI yang menggantikan Sri Mulyani saat itu.

Kami bekerja selama setahun sampai selesai seluruh proyek pembentukan KPK yang kuserahkan kepada Presiden GusDur bersama dengan Bertrand de Speville dan Menkumham saat itu Marsilam Simanjuntak (Awal pembentukan Yusril, akhir persiapan Marsilam)
Ditengah proyek kami sempat bekerja dengan menteri Kumham Baharuddin Lopa yang meninggal dunia dan digantikan oleh Marsilam.

Malam ini aku merasa seperti melihat anak perempuanku dilecehkan oleh ketua DPR dan Pengacara yang tak tahu etika dan tak paham sejarah itu .
Aku tergerak ingin mengungkap sejarah KPK , menegakkan kebenaran , mendukung KPK dan menuliskan sepenggal kisah hidupku.

Sebagian saja dari kisah dan sejarah awal KPK .
Mungkin anak anakku sendiri tak paham apa yang kulakukan tahun 2000-2001 itu.
Sebagai koordinator kampanye ICW aku sering bicara di banyak forum diluar negeri saat itu.
Diundang ke Vienna, Seoul, Durban, HongKong dan seluruh dunia untuk konferensi anti korupsi.
Sehingga OECD dan ADB dan Bertrand yang mantan Komisaris Scotland Yard itu memilihku untuk mengerjakan persiapan pembentukan KPK.

Malam ini, kukisahkan sebagian dari pekerjaanku yang luar biasa intens dan dibawah banyak tekanan, namun sungguh membanggakan.
Membidani kelahiran KPK .
Tak terkejut lagi ketika melihat Romli berada pada sisi Novanto pada saat praperadilan.
Tak pun heran melihatnya kerap berseberangan dan berlawanan dengan KPK.
Karena selama ini ia mengaku sebagai Bidan KPK, sebetulnya ia adalah bidan yang ingin mengaborsi embrio itu atau setidaknya ia telah berhasil dengan kuasanya membuat cacat bayinya.

Terlalu banyak kebohongan tersaji di negeri ini.
Seorang Profesor dan mantan Dirjen Kumdang mengaku membidani KPK namun ia korup.
Seorang ketua DPR yang hedon mengaku tak bersalah, ia lolos dari berbagai kasus korupsi
Seorang Pengacara tak malu menebar kebohongan demi membela klien dan memberikan pernyataan medis yang melampaui profesinya dan mendahului diagnosa dokter.

Ia melaporkan semua penyidik KPK dan banyak orang dengan pasal pencemaran nama baik.
Hal ini sudah dibahas 16 tahun lampau, dan tuntutan itu gugur dengan sendirinya jika yang menuntut adalah tersangka korupsi.
Semoga saja tak semua hakim senaif Hakim Cheppy.

Bayangkan jika semua tersangka korupsi mempraperadilkan KPK dan melaporkan penyidik, bagaimana mereka bekerja? Sementara korupsi adalah organized crime, yang levelnya sangat jauh diatas pencemaran nama baik.
Bagaimana memberantas korupsi? Jika DPR sebagai pembuat UU meminta judicial review? Sungguh absurd.
Jadi sebetulnya itu sudah diantisipasi jauh 16tahun yang lalu. Modus tersangka korupsi yang tak boleh dibiarkan. Karena akan menjadi preseden buruk dalam pemberantasan korupsi.

Malam ini, pada saat Setya Novanto ditahan KPK.
Aku menuliskan sebagian dari kebenaran yang selama ini kusimpan hanya sebagai kenangan masa lampau.

Malam ini aku bak melihat anak perempuanku yang sudah 16 tahun usianya, jika dihitung dari saat GusDur menerima rancangan pendirian KPK yang kuserahkan tahun 2001 itu, bersama Marsilam Simanjuntak dan Bertrand de Speville.
Beberapa bulan kemudian Beliau lengser.

Aku teringat pesan sahabatku Prof Setiawan Sabana , yang bersamaku di Museum Care dan Citarum Care, membenahi Cisanti dan Citarum.
Ia selalu mengingatkan, speak up Irma.
Keep speaking about your passion.
About Vetiver, about Citarum.

Barangkali malam ini saatnya tiba.
Karena adalah malam yang bersejarah bagiku, bagi DPR, karena ketuanya masuk rutan,
bagi KPK , bagi IDI dan bagi bangsa ini

Masih banyak orang baik di negeri ini.
Masih banyak orang jujur dan tulus dan sangat mencintai negeri ini tanpa pamrih.
Namun tidak banyak yang angkat bicara.
Alasannya sederhana, banyak yang patah hati dan patah arang, melihat badut badut rakus di parlemen, di pemerintahan dan dijudicial sistem dan orang yang korup namun masih berkuasa.
Mungkin aku termasuk yang selama ini diam.

Sampai ada Jokowi, sosok jujur nan pemberani dan sederhana . Ditengah pejabat hedonis dan korup, sungguh ia pribadi yang langka, yang memberi secercah harapan bahwa bangsa ini masih diberikan cahaya diujung terowongan gelap.
..
Masih ada KPK, bayiku yang sudah besar dan bertambah kuat dan pandai, meski diganggu terus oleh DPR, ketahuilah, bahkan dari embrio kelahiranmu sudah begitu banyak yang menentang dan ingin menggugurkan atau membuatmu cacat.

Maka jika sampai sekarang kalian masih bertahan, artinya kau dilahirkan untuk menjadi kuat dan memberi harapan pada banyak orang di negeri ini.
Begitu banyak doa dan energi baik yang masih mendukungmu.
Aku percaya hal itu jauh lebih baik dan lebih kuat ketimbang uang yang bergelimang.

KPK, kau akan menjadi seperti Harry Potter.
Ia sakti karena dilindungi oleh cinta seorang ibu.
Ibu yang rela mati demi menyelamatkan anaknya. Cinta sejati itulah yang akan melindungi seseorang dari segala yang jahat.
Selama masih ada penyidik yang jujur dan berani, Selama KPK bekerja karena cinta kepada Ibu Pertiwi, selama itulah KPK akan tetap berdiri.
Serupa dengan Harry Potter melawan Voldemort.
KPK melawan DPR dan persekongkolan orang jahat dan korup di negeri ini.
Kelompok Genderuwo yang ingin kau mati.
Tak akan semudah itu, percayalah
Kau akan tetap menang dan berdiri tegar.

Banyak doa dan cinta yang mendukungmu.
Banyak uang tak akan mengalahkan kekuatan cinta dan segenap doa baik untukmu.
Cinta dan spiritku selalu bersamamu KPK.
Cinta dan harapan para ibu se negeri ini, cinta para orangtua dan generasi muda, generasi jamannow, milenial yang muak dengan korupsi, kepalsuan dan kebohongan.

Cinta dan dukungan tulus selalu bersamamu.
Kami yang tak ingin anak kami menjadi koruptor atau menjadi korban dari parlemen, penegak hukum atau pemerintahan yang korup.
Sudah lewat masa kelam itu pada 1998.
Jangan beri kesempatan kepada jiwa jiwa yang rakus dan jahat untuk kembali dan melanggengkan korupsi.
Kami tahu mereka sungguh ingin membunuhmu dan melihatmu mati dengan persengkokolan paripurna itu.

Wahai KPK, anakku tercinta
Kau dilahirkan dengan penuh perjuangan.
Karena itu tetaplah tegak demi negeri ini.

Ditulis oleh Irma Hutabarat.

Ilustrasi oleh widjana.

400 juta orang masih kekurangan akses terhadap layanan kesehatan esensial secara Global

400 juta orang masih kekurangan akses terhadap layanan kesehatan esensial. Di antara keluarga berpenghasilan rendah dan menengah, 6 persen orang terdesak ke dalam kemiskinan ekstrim atau berada di sana dengan pengeluaran layanan kesehatan.

Konsensus politik internasional yang berkembang muncul seputar jangkauan kesehatan universal. Sejak dia mengambil alih sebagai direktur jenderal Organisasi Kesehatan Dunia pada bulan Juli, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus telah menempatkan UHC di puncak agendanya. Para pemimpin G20 Memuji UHC dalam pidato akhir mereka dari pertemuan tahun ini di Hamburg, Jerman. Dan tujuan pembangunan keberlanjutan menyerukan akses terhadap layanan kesehatan tanpa kesulitan keuangan. 

Namun saat isu tersebut mendapat perhatian di tingkat tertinggi, 400 juta orang masih kekurangan akses terhadap layanan kesehatan esensial. Di antara keluarga berpenghasilan rendah dan menengah, 6 persen orang terdesak ke dalam kemiskinan ekstrim atau berada di sana dengan pengeluaran layanan kesehatan. 

Dr. Rüdiger Krech, direktur sistem dan inovasi kesehatan WHO, mengatakan bahwa mengatasi hambatan untuk memberikan perawatan medis dasar tidak hanya memerlukan komitmen politik tapi juga kolaborasi global, implementasi kebijakan, dan tindak lanjut yang berkelanjutan. Dia berbicara kepada Devex tentang kedua tantangan tersebut dan bagaimana hal itu harus ditangan.

Untuk selengkapnya dapat dibuka pada Link Berikut

Kiriman sahabat Prof. Chandra Yoga.

Tokoh Kesehatan Nasional yang sedang bertugas di WHO

Desa kumuh disulap menjadi tempat wisata populer di Semarang

Kampung Gunung Brintik beberapa bulan yang lalu adalah kampung kumuh yang tak tertata dengan rimbunan tanaman liar dan tembok-tembok merah tak berplester. Letaknya persis di pinggir Kali Semarang dengan kurang lebih 325 rumah. Namun sekarang, kampung ini berubah rupa, dan juga berganti nama: menjadi Kampung Pelangi yang penuhi warna-warni.

Dari perumahan reyot menjadi kampung pelangi, Desa kumuh disulap menjadi tempat wisata populer berkat polesan cat. Dengan polesan seni mengubah sebuah wilayah yang terlihat kumuh dan sebagian warganya hidup di bawah garis kemiskinan tersebut bisa menjadi perkampungan yang nyaman ditinggali dihuni dan kesejahteraan mereka menjadi lebih baik.

MERDESA

Merdesa berasal dari kata “desa” dalam bahasa Jawa kuno. Artinya: “tempat hidup yang layak, sejahtera dan patut”. Dalam pengertian ini juga tersirat makna desa — suatu kawasan yang merdeka dan berdaulat. Dalam rumus otak-atik gathuk, ada persamaan antara Paradise (sorga) dengan Paradesa — Para (tertinggi) maka kedudukan desa diletakkan dalam maqam, derajad dan martabat di puncak paling atas. Desa merupakan visi, cita-cita tertinggi, pencapaian membangun sorga di dunia nyata, yakni; “tempat hidup yang layak, sejahtera dan patut”.

Layak secara ekonomi, layak secara sosial budaya, layak secara politik — itulah sejahtera, dan patut (kepatutan) memiliki dimensi yang holistik; adanya pola hidup yang bersahaja, rukun, penuh kesederhanaan, tak ada individualisme — karena sistem kehidupan dilandasi oleh pertimbangan kebersamaan, komunalitas, berjamaah tidak mudah untuk mengumbar keserakahan — eksploitasi, tak ada yang dominan pada kepentingan diri pribadi, karena orang yang mementingkan diri pribadi justru diyakini sedang membangun neraka dan dianggap durhaka, dur-angkara — semua ada takarannya. Gandhi pun pernah berkata: “Bumi ini cukup untuk kesejahteraan seluruh umat manusia, namun tidak cukup untuk keserakahan satu manusia”.

Namun di dunia ini ada pandangan lain yang menganggap bahwa kehidupan seperti kaum yang mencita-citakan terwujudnya kehadiran “sorga” di dunia yang digambarkan dalam merdesa tadi, itu terbelakang, tidak maju—tidak ada tantangan, dinamika hidup adalah proses persaingan. Persaingan dimaknai sebagai kerja keras, profesionalisme, siapa yang kuat adalah pemenang yang berhak mendapatkan ranking dan berhak mengumpulkan hasil yang setimpal. Maka sesungguhnya kalau dengan menggunakan kalimat yang berkesan positif, kira-kira bunyinya adalah: “Hidup adalah pertempuran untuk memaknai dunia, siapa atau paham apa yang menang, dialah yang kelak akan dianggap benar”.

“Kemajuan” oleh kaum modernis pada kurun waktu puluhan tahun yang lalu dibanggakan, justru kini kita menyaksikan album foto “kerusakan” kemanusiaan yang luar biasa, dehumanisasi yang akut serta keruntuhan nilai-nilai ketuhanan. Boleh dikata ini adalah kembalinya jaman jahiliyah, subur menjamur jamaah penyembah “berhala” materialisme sambil bernyanyi mengagungkan nama-Mu.

Membicarakan persoalan perubahan-perubahan kultur desa dengan berbagai dinamikanya, yakni tergerusnya budaya desa yang disebut tradisional dirambah oleh modernisasi. Memang selama ini antara tradisional dan modern dianggap sebuah tahapan atau tangga untuk naik tingkat. Tradisional itu posisinya di belakang atau di bawah — modern posisinya sudah di depan atau di atas, kaum tradisional harus lari mengejarnya atau naik tangga untuk mencapai modernitas. Maka tradisi dipaksa untuk kawin dengan modernisasi — tentu saja mempertemukan tradisi dengan modernisasi itu sama halnya suatu upaya menuju perkawinan yang tidak akan menemukan kebahagiaan, karena tradisi dan modernisasi dari asal-muasal, cara pandang dan ideologi yang sangat berbeda, bahkan cenderung saling bertentangan. Maka tidak disadari, dalam pertaliannya, penganut tradisionalisme dan modernisme perlahan-lahan menabur benih-benih konflik yang kita rasakan getaran ledakannya disepanjang jalan peradaban manusia.

Modernisasi diyakini merupakan pilihan arah yang dapat membangkitkan keyakinan menuju perubahan. Dalam riwayatnya, teori modernisasi juga mempengaruhi interdisiplin ilmu pengetahuan. Pikiran tentang modernisasi dapat ditemukan dalam karya ilmiah di bidang psikologi Prof. David McClelland tentang The Achieving Society (1961). McClelland menafsirkan Max Weber: bahwa jika etika Protestan menjadi pendorong pertumbuhan di Barat, analogi yang sama juga dapat digunakan untuk melihat pertumbuhan ekonomi. Rahasia pikiran Weber tentang etika Protestan terletak pada the need for achievement. Maka kaum intelektual ini memandang masyarakat di Timur pada umumnya adalah masyarakat terbelakang, dengan label Rakyat Dunia Ketiga yang hukumnya wajib memandang ke Barat, dan harus didorong need for achievement-nya. Dalam kajian yang sama profesor emiritus dalam Ilmu Sosial dari Standford University, AS, Alex Inkeles mengembangkan instrumen untuk mengukur skala modernitas dengan cara menentukan tingkat kemodern-an suatu masyarakat, piranti tersebut sangat penting digunakan untuk melakukan perubahan sikap di masyarakat. Karena tradisionalisme dianggap sebagai momok, penyakit yang harus disingkirkan — diberantas. Upaya penyingkiran penyakit tradisionalisme untuk mendorong lahirnya sikap moderen yang akan membawa pertumbuhan ekonomi, yakni jalan menuju masyarakat high mass consumption — model masyarakat yang diimpikan ekonom termashur pencetus konsep pembangunan ekonomi WW Rostow melalui teori pertumbuhan sosialnya.

Pembangunan (development) dengan mengendarai modernisasi merupakan pengembangan gagasan dalam rangka membendung semangat anti kapitalisme bagi berjuta-juta masyarakat yang diberi nama “Dunia Ketiga”. Pada tanggal 20 Januari 1949 Harry S. Truman (Presiden Amerika Serikat) mengumumkan kebijakan pemerintahnya bahwa konsep “pembangunan” resmi menjadi bahasa dan doktrin luar negeri pemerintahnya. Kebijaka tersebut juga merupakan jawaban atas kecenderungan, ketertarikan masyarakat Dunia Ketiga terhadap Uni Soviet. Sangat jelas bahwa gagasan awal “pembangunan” dalam rangka “perang dingin” demi membangun sosialisme di masyarakat Dunia Ketiga. Maka doktrin “pembangunan” gencar disebarluaskan oleh para ilmuwan sosial. Pada tahun 1961 melalui konverensi The Implementation of Title IX of Foreign Assistance Act, dan akhirnya pada tahun 1966 konsep “pembangunan” dan modernisasi disepakati menjadi pilar utama kebijaksanaan program politik luar negeri Amerika.

Cerita kata, dalam perkembangannya “pembangunan” dan modernisasi dengan serta merta diterima oleh mayoritas negara-negara Dunia Ketiga. “Pembangunan” identik dengan gerakan langkah demi langkah menuju “modernitas”. Modernisasi merefleksikan perkembangan teknologi dan ekonomi seperti yang dialami negara-negara industri. Konsep tersebut berakar dari sejarah perubahan sosial yang diasosiasiakan dengan Revolusi Industri Eropa, namun implementasi di negara-negara Dunia Ketiga konsep tersebut diinterpretasikan dan dipahami melulu sebagai “perbaikan standar hidup secara umum”. Dengan waktu yang cepat gagasan “pembangunan” dan “modernisasi” menjadi program yang massif. Pemerintah di Dunia Ketiga dan Non Government Organisation (NGO) yang lebih dikenal dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), serta semua Universitas di Barat secara serempak membuka suatu kajian baru bernama “Studi Pembangunan” (development studies). Melalui studi pembangunan itulah proses penyebaran dan penyerapan kapitalisme ke seluruh dunia dipercepat, melalui para teknokrat, kaum intelektual dan bahkan para aktivis lembaga swadaya masyarakat dari Dunia Ketiga yang menjadi pasar utama program studi tersebut. Padahal pengetahuan tidaklah netral, melainkan sarat dengan ideologi dan kontrol. Melalui “wacana pembangunan” (development discourse), negara Dunia Pertama menerapkan kontrol terhadap Dunia Ketiga. Awalnya masyarakat di Timur diberi label Dunia Ketiga, “terbelakang”, “kekurangan” tentang hal-hal yang terkait dengan teknologi dan keahlian profesional.

Para penganut developmentalisme mendasarkan keyakinan bahwa negara-negara maju yang menganut sistem kapitalisme adalah bentuk ideal dari sistem dan struktur masyarakat yang demokratis. Mereka mengupayakan agar pengalaman-pengalaman negara-negara maju tersebut dijadikan model proses politik, ekonomi, sosial, budaya bagi masyarakat Dunia Ketiga. Menurut mereka, demokrasi dan pembangunan akan saling mendukung. Pembangunan ekonomi menjadi syarat bagi demokrasi, sedangkan industrialisasi melahirkan kekayaan. Kekayaan melahirkan kesenangan. Kesenangan memberi kemungkinan orang secara bebas belajar berpartisipasi dalam politik. Kebebasan itulah yang akan menjamin demokrasi.

Karya Eko Prawoto

Dalam proses berikutnya “pembangunan” menjadi alat invasi kultural, politik dan ekonomi. Dengan dukungan lembaga-lembaga keuangan internasional, seperti Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional, mereka mengikat negara Dunia Ketiga pada ekonomi negara-negara Dunia Pertama, melalui bantuan yang sesungguhnya adalah hutang terhadap Bank Dunia. Bentuk-bentuk “bantuan” lainnya juga dimaksudkan untuk proses melicinkan eksport serta dalam rangka kepentingan bisnis negara-negara donor itu sendiri. Cara penyebaran pembangunanisme lainnya yakni melalui pengaruh negara-negara donor pada regulasi dan perencanaan pembangunan serta bantuan-bantuan teknis lainnya antara lain “kunjungan wawasan” para tokoh masyarakat, tokoh-tokoh agama Dunia Ketiga ke Amerika Serikat. Cara lain adalah dengan mendayagunakan tenaga pendidik dan riset berbagai universitas Amerika yang bekerja di Dunia Ketiga.

“Wacana pembangunan” laju berkembang di Indonesia secara murni dan konsekuen serta mendalam dilakukan sampai ke tingkat pedesaan. Untuk melindunginya dikembangkan sistem kontrol ideologi, sosial dan politik secara canggih — antara lain dikembangkan berbagai kebijakan, misalnya “the floating mass policy”, kebijakan yang melarang organisasi massa pada tingkat desa dan menggeser serta mengganti kepemimpinan tradisi dengan birokrasi pemerintah. Menggunakan penyelenggaraan pendidikan formal maupun non formal sebagai media penanaman ideologi “pembangunanisme”. Pada akhirnya “pembangunan” (development) diterima dengan tangan dan hati tanpa reserve, tidak ada pertanyaan. Kalau toh ada perdebatan, umumnya hanya seputar cara (metode), teknik pelaksanaan belaka. Karenanya dapat disimpulkan bahwa pembangunanisme telah diyakini oleh sebagian besar birokrat pemerintahan, politisi, akademisi, jurnalis, agamawan, budayawan, bahkan para aktivis gerakan sebagai satu-satunya jalan menuju masyarakat yang demokratis dan sejahtera.

Uraian singkat di atas upaya untuk menggambarkan, bahwa berbagai hal yang terjadi bukanlah sesuatu yang lahir secara alamiah (bukan wis sakmesthine), namun banjir yang melibas peradaban jagad pedesaan memang secara sadar telah dirancang dan direkayasa oleh para aparatus pembangunan-modernisasi.

Pembangunan-modernisasi ternyata bukan hanya urusan ekonomi semata — karena proses industrialisasi juga sangat tergantung pada proses kultural serta dominasi pengetahuan dan teknologi. Proses-proses tersebut didukung oleh kekuasaan dengan memobilisasi berbagai kekuatan negara (DPR, militer, peradilan, agama, pendidikan), yang paling jelas bahwa seluruh proses pembangunanisme didukung oleh universitas, lembaga riset, kebijakan politik pemerintah serta lembaga keuangan internasional, maka wacana pembangunan dan modernisasi mampu berlari cepat untuk memangsa banyak korban yakni masyarakat tradisional.

Sangat jelas, bahwa hubungan antara modernisasi dan tradisi merupakan hubungan yang menempatkan masyarakat tradisi sebagai objek untuk dimodernisir. Hubungan semacam itu adalah hubungan dominatif  karena yang memiliki kekuatan, kekuasaan sudah melekat pada modernisasi. Dominasi juga tidak hanya berlangsung secara politik dan kebudayaan, karena juga berlangsung dalam bentuk subjection — secara sadar menempatkan posisi masyarakat tradisi menjadi objek pengetahuan dan kebijakan. Bahkan para aparatus modernisasi merasa memiliki hak dan kewenangan untuk meregulasi masyarakat tradisional setelah mereka memberikan cap atau label masyarakat primitif, masyarakat terbelakang. Dengan label tersebut para aparatus modernisasi seolah-olah memiliki kewajiban moral untuk mengangkat atau mengentaskan masyarakat tradisional dari kesengsaraan. Dalam hal ini, cara-cara yang digunakan merupakan proses penjinakan dan mendominasi. Akibatnya terjadi kekalahan ekonomi, politik, budaya bagi masyarakat tradisional melalui tindakan perampasan yang dilakukan aparatus modernisasi. Adapun strategi perampasan bersifat discursive dan hegemonik, maka tidak ada perlawanan yang berarti dari masyarakat tradisional, karena masyarakat tradisional sendiri telah masuk dalam perangkap — terhegemonik.

Satu-persatu penguasaan pengetahuan, teknologi dan budaya masyarakat tradisional dilucuti oleh modernisasi. Misalnya dalam dunia pertanian, masyarakat dipaksa untuk melaksanakan program revolusi hijau. Revolusi hijau merupakan salah satu bentuk program industrialisasi yang sepenuhnya menganut logika pertumbuhan. Program yang berasal dari Amerika Serikat itu diperkenalkan ke Indonesia sebagai tindak lanjut teknis pelaksanaan pembangunan. Maka revolusi hijau tidaklah sekadar program pertanian semata-mata. Program tersebut merupakan bagian dari strategi perubahan melawan paradigma tradisionalisme. Dengan dilaksanakannya revolusi hijau, pengetahuan pertanian masyarakat tradisional mengalami penggusuran total. Untuk pertama kalinya dalam sejarah keragaman pengetahuan petani terjadi homogenisasi dan reduksionalisasi menjadi satu pola pertanian saja.

Revolusi hijau telah berhasil merampas kontrol atas sumber daya tanaman dari masyarakat tradisional. Revolusi hijau telah menggusur keakhlian para petani yang selama 5.000 tahun memproduksinya, menyeleksi, menyimpan dan menanam benih/bibit tanaman pertanian. Sedangkan bibit unggul yang diperkenalkan perusahaan bibit multinasional ternyata menjadi salah satu sumber keuntungan. Bibit-bibit unggul itu menjadi keajaiban komersial bagi perusahaan multinasional, karena petani harus membeli bibit pada setiap musim tanam, akibatnya para petani tidak lagi memiliki pengetahuan tentang benih yang tidak mereka pahami sejarah, silsilahnya dan akibatnya menjadi sangat tergantung — karena para petani tidak bisa lagi mereproduksi benih/bibit sendiri. Revolusi hijau juga telah berhasil menggusur ribuan jenis tanaman dan varietas tradisional serta merampas keseluruhan tanaman padi yang berasal dari petani di Indonesia. Revolusi hijau jelas menguntungkan perusahaan multinasional karena satu paket petani menjadi tergantung dengan perusahaan bibit, perusahaan pupuk kimia dan perusahaan pestisida.

Revolusi hijau bukan hanya urusan ekonomi belaka, namun juga proses dominasi kebudayaan. Revolusi hijau memiliki kekuasaan kultural dan politik melalui penciptaan sistem dan struktur ideologi melalui propaganda dalam rangka mengusir ideologi, kultur dan politik kaum tani, bahkan institusi agama, pendidikan dan media massa dipergunakan oleh aparatus revolusi hijau untuk mempengaruhi kaum tani bahwa revolusi hijau adalah cara terbaik untuk memecahkan kemiskinan mereka. Lambat laun revolusi hijau diyakini oleh masyarakat sehingga berubahlah — tata kuasa, tata kelola, tata guna, bahkan pengaruhnya sampai pada urusan selera, gaya hidup, kebiasaan, sikap, moralitas dan nilai-nilai serta prinsip yang selama ini diyakini oleh kaum tani, masyarakat tradisional.

Apa yang terjadi pada saat sekarang? Kita tahu bahwa ternyata revolusi hijau tidak bisa menjawab apa yang mereka gembar-gemborkan saat itu: petani tetap semakin miskin. Sistem yang diciptakan sejak dari benih, pestisida, pupuk kimia, mekanisasi, irigasi serta penggunaan kredit bank sama saja dengan melakukan pemaksaan perubahan proses pertanian tradisional pedesaan menjadi capital intensive. Jelas petani semakin miskin ditambah tersingkir dari lahan pertaniannya. Akhirnya kita juga tahu bahwa bibit yang mereka ciptakan itu ternyata juga sangat rentan terhadap hama — maka bibit-bibit itu memerlukan penggunaan pertisida untuk mengontrol hama sekaligus melindungi tanaman. Tetapi kenyataannya, bahwa pestisida yang digunakan tidak mampu mengontrol hama, bahkan sebaliknya pestisida tersebut malah justru memanjakan hama — karena tidak sengaja penggunaan pestisida itu menciptakan kekebalan pada hama tersebut. Dampak lanjutannya yakni petani terpaksa tergantung dengan pupuk kimia dan pestisida. Padahal dari segi lingkungan pedesaan penggunaan kedua input itu justru menghancurkan ekosistem lingkungan pedesaan. Bahkan saat ini kita menyaksikan Departemen Pertanian menyarankan petani untuk kembali dengan pertanian organik, lalu di mana tanggung jawab perusahaan yang telah mengeksploitasi petani dan lingkungannya, apa tanggung jawab para akademisi yang dulu berbicara secara ilmiah tentang kehebatan revolusi hijau — jadi petani harus menuntut keadilan ke mana?

Dari pengalaman revolusi hijau, tentu dapat ditarik pelajaran berharga, karena hampir semua sektor yang ada (pangan, kesehatan, energi, kehutanan, pertambangan dan sektor-sektor lainnya) dirambah modernisasi. Seluruh prinsip penyebaran dan penguasaannya melalui strategi yang sama yakni menaklukkan kaum tradisional hingga melupakan pengetahuan, nilai/prinsip, teknologi, polititik dan sosial budaya tradisi yang selama ini dikuasai dan diyakini. Hampir semua sektor pada akhirnya juga diwarisi berbagai kerusakan dan juga melahirkan berbagai persoalan bahkan konflik berkepanjangan.

Dari program-program pembangunan — modernisasi sejak awal nyaris tidak pernah ada pertanyaan: “Siapa yang diuntungkan dari hasil pertumbuhannya?”. Dalam revolusi hijau misalnya, tidak disadari justru melambungkan ketidakadilan klas dalam masyarakat pedesaan sekaligus melestarikan ketergantungan ekonomi pedesaan. Kelestarian tersebut didukung adanya pengetahuan yang dominan dan hegemoni budaya — yakni wacana modernisasi pertanian ilmiah yang otomatis menghancurkan pengetahuan pertanian di masyarakat. Modernisasi berhasil meminggirkan petani dari dunianya seiring dengan tergusurnya pengetahuan dan pengalaman bertani ribuan tahun — dalam revolusi hijau petani adalah objek yang dikuasai oleh pengontrol pengetahuan, hal serupa juga dialami di sektor kesehatan, pangan, sandang, energi, hutan, tambang dll.

Di akhir masa rejim Orde Baru bagaikan aliran air yang lepas sumbatannya, muncrat tak dapat dibendung; berbagai konflik baik yang jenis vertikal maupun horizontal, juga berbagai sengketa, antara lain sengketa agraria yang selama ini teredam karena kekuatan para aparatus pembangunan mencuat ke permukaan, seperti benang kusut — saling memilin satu sama lain hingga sulit diurai.

Masalah dasar yang dihadapi oleh kapitalisme yang pada masa sekarang dihaluskan dengan istilah globalisasi, sesungguhnya tidak berubah, yakni bagaimana menciptakan situasi dan kondisi yang mendukung dirinya. Perusahaan-perusahaan transnasional bersama dengan lembaga-lembaga keuangan internasional (IFIs) seperti Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) sejak awal memiliki andil yang besar dalam mendukung politik dan program-program pembangunan rejim Orde Baru. Sementara diakhir kekuasaan Orde Baru mesin-mesin globalisasi berbalik arah meninggalkan, bahkan memusuhi rejim otoriter itu. Dengan bendera globalisasi (baca:pasar bebas) mulai mengeluarkan lagi jurus-jurus baru seperti “good governance”, “civil society” dan lainnya, aparatus lanjutan pembangunan-modernisasi berusaha mengempeskan peran pemerintah birokrasi nasional dalam dunia ekonomi. Ketika negara (baca: proses penyelenggaraan pemerintahan) tidak lagi mendukung, maka aparatus globalisasi melaksanakan dua strategi: yang pertama melucuti kekuasaan negara, dan kedua memperkecil otoritas kekuasaan pusat, dan sebaliknya memberikan suatu bentuk di mana daerah dikembangkan dan difasilitasi agar memiliki otoritas. Maka reformasi dalam rangka seperti ini tidak serta merta merupakan proses pembaharuan yang mendasar, melainkan lebih menitikberatkan pada kondisi agar tata kerja dan tata kelola pemerintahan kembali market friendly, yakni ramah terhadap modal besar untuk menguasai pasar.

Umur kita lebih muda dibandingkan usia modernisasi-pembangunan yang akhirnya bernama globalisasi. Tetapi toh masih terekam dan tidaklah lupa janji-janji yang pernah digembar-gemborkan dan disombongkan sejak awal tentang “kemajuan” tak pernah hilang sampai sekarang, yang semakin samar justru gambaran seperti apa tentang “kemajuan” itu? Sementara banjir kemajuan yang datang belakangan justru semakin susah dipahami; korupsi semakin merajalela, menghamburkan uang banyak-banyak untuk pemilihan umum yang hasilnya juga tidak dirasakan oleh masyarakat. Kemajuan telah melahirkan banyak akhli pertanian, namun tidak korelatif dengan meningkatnya kesejahteraan petani, malah semakin banyak produksi pangan yang diimport. Kemajuan teknologi kedokteran telah sampai di puncak tertinggi, tetapi masih banyak penderita TBC, malaria, ISPA dan penyakit menular lainnya yang sejak dahulu kala menjadi ukuran keberhasilan suatu negara. Apakah kemajuan berarti sama dengan masyarakat harus memiliki uang banyak apabila ingin dilayani kesehatannya? Hutan telah dibabad habis, perut bumi dikeruk isinya, namun masyarakat disekitarnya hidupnya justru lebih sengsara dari sebelumnya — apakah kemajuan identik dengan kerusakan dan kesengsaraan?

“Kemajuan” oleh kaum modernis pada kurun waktu puluhan tahun yang lalu dibanggakan, justru kini kita menyaksikan album foto “kerusakan” kemanusiaan yang luar biasa, dehumanisasi yang akut serta keruntuhan nilai-nilai ketuhanan. Boleh dikata ini adalah kembalinya jaman jahiliyah, subur menjamur jamaah penyembah “berhala” materialisme sambil bernyanyi mengagungkan nama-Mu.

Merdesa berasal dari kata “desa” dalam bahasa Jawa kuno. Artinya: “tempat hidup yang layak, sejahtera dan patut”. Dalam pengertian ini juga tersirat makna desa — suatu kawasan yang merdeka dan berdaulat. Dalam rumus otak-atik gathuk, ada persamaan antara Paradise (sorga) dengan Paradesa — Para (tertinggi) maka kedudukan desa diletakkan dalam maqam, derajad dan martabat di puncak paling atas. Desa merupakan visi, cita-cita tertinggi, pencapaian membangun sorga di dunia nyata, yakni; “tempat hidup yang layak, sejahtera dan patut”.

Layak secara ekonomi, layak secara sosial budaya, layak secara politik — itulah sejahtera, dan patut (kepatutan) memiliki dimensi yang holistik; adanya pola hidup yang bersahaja, rukun, penuh kesederhanaan, tak ada individualisme — karena sistem kehidupan dilandasi oleh pertimbangan kebersamaan, komunalitas, berjamaah tidak mudah untuk mengumbar keserakahan — eksploitasi, tak ada yang dominan pada kepentingan diri pribadi, karena orang yang mementingkan diri pribadi justru diyakini sedang membangun neraka dan dianggap durhaka, dur-angkara — semua ada takarannya. Gandhi pun pernah berkata: “Bumi ini cukup untuk kesejahteraan seluruh umat manusia, namun tidak cukup untuk keserakahan satu manusia”.

Namun di dunia ini ada pandangan lain yang menganggap bahwa kehidupan seperti kaum yang mencita-citakan terwujudnya kehadiran “sorga” di dunia yang digambarkan dalam merdesa tadi, itu terbelakang, tidak maju—tidak ada tantangan, dinamika hidup adalah proses persaingan. Persaingan dimaknai sebagai kerja keras, profesionalisme, siapa yang kuat adalah pemenang yang berhak mendapatkan ranking dan berhak mengumpulkan hasil yang setimpal. Maka sesungguhnya kalau dengan menggunakan kalimat yang berkesan positif, kira-kira bunyinya adalah: “Hidup adalah pertempuran untuk memaknai dunia, siapa atau paham apa yang menang, dialah yang kelak akan dianggap benar”.

“Kemajuan” oleh kaum modernis pada kurun waktu puluhan tahun yang lalu dibanggakan, justru kini kita menyaksikan album foto “kerusakan” kemanusiaan yang luar biasa, dehumanisasi yang akut serta keruntuhan nilai-nilai ketuhanan. Boleh dikata ini adalah kembalinya jaman jahiliyah, subur menjamur jamaah penyembah “berhala” materialisme sambil bernyanyi mengagungkan nama-Mu.

Membicarakan persoalan perubahan-perubahan kultur desa dengan berbagai dinamikanya, yakni tergerusnya budaya desa yang disebut tradisional dirambah oleh modernisasi. Memang selama ini antara tradisional dan modern dianggap sebuah tahapan atau tangga untuk naik tingkat. Tradisional itu posisinya di belakang atau di bawah — modern posisinya sudah di depan atau di atas, kaum tradisional harus lari mengejarnya atau naik tangga untuk mencapai modernitas. Maka tradisi dipaksa untuk kawin dengan modernisasi — tentu saja mempertemukan tradisi dengan modernisasi itu sama halnya suatu upaya menuju perkawinan yang tidak akan menemukan kebahagiaan, karena tradisi dan modernisasi dari asal-muasal, cara pandang dan ideologi yang sangat berbeda, bahkan cenderung saling bertentangan. Maka tidak disadari, dalam pertaliannya, penganut tradisionalisme dan modernisme perlahan-lahan menabur benih-benih konflik yang kita rasakan getaran ledakannya disepanjang jalan peradaban manusia.

Modernisasi diyakini merupakan pilihan arah yang dapat membangkitkan keyakinan menuju perubahan. Dalam riwayatnya, teori modernisasi juga mempengaruhi interdisiplin ilmu pengetahuan. Pikiran tentang modernisasi dapat ditemukan dalam karya ilmiah di bidang psikologi Prof. David McClelland tentang The Achieving Society (1961). McClelland menafsirkan Max Weber: bahwa jika etika Protestan menjadi pendorong pertumbuhan di Barat, analogi yang sama juga dapat digunakan untuk melihat pertumbuhan ekonomi. Rahasia pikiran Weber tentang etika Protestan terletak pada the need for achievement. Maka kaum intelektual ini memandang masyarakat di Timur pada umumnya adalah masyarakat terbelakang, dengan label Rakyat Dunia Ketiga yang hukumnya wajib memandang ke Barat, dan harus didorong need for achievement-nya. Dalam kajian yang sama profesor emiritus dalam Ilmu Sosial dari Standford University, AS, Alex Inkeles mengembangkan instrumen untuk mengukur skala modernitas dengan cara menentukan tingkat kemodern-an suatu masyarakat, piranti tersebut sangat penting digunakan untuk melakukan perubahan sikap di masyarakat. Karena tradisionalisme dianggap sebagai momok, penyakit yang harus disingkirkan — diberantas. Upaya penyingkiran penyakit tradisionalisme untuk mendorong lahirnya sikap moderen yang akan membawa pertumbuhan ekonomi, yakni jalan menuju masyarakat high mass consumption — model masyarakat yang diimpikan ekonom termashur pencetus konsep pembangunan ekonomi WW Rostow melalui teori pertumbuhan sosialnya.

Pembangunan (development) dengan mengendarai modernisasi merupakan pengembangan gagasan dalam rangka membendung semangat anti kapitalisme bagi berjuta-juta masyarakat yang diberi nama “Dunia Ketiga”. Pada tanggal 20 Januari 1949 Harry S. Truman (Presiden Amerika Serikat) mengumumkan kebijakan pemerintahnya bahwa konsep “pembangunan” resmi menjadi bahasa dan doktrin luar negeri pemerintahnya. Kebijaka tersebut juga merupakan jawaban atas kecenderungan, ketertarikan masyarakat Dunia Ketiga terhadap Uni Soviet. Sangat jelas bahwa gagasan awal “pembangunan” dalam rangka “perang dingin” demi membangun sosialisme di masyarakat Dunia Ketiga. Maka doktrin “pembangunan” gencar disebarluaskan oleh para ilmuwan sosial. Pada tahun 1961 melalui konverensi The Implementation of Title IX of Foreign Assistance Act, dan akhirnya pada tahun 1966 konsep “pembangunan” dan modernisasi disepakati menjadi pilar utama kebijaksanaan program politik luar negeri Amerika.

Cerita kata, dalam perkembangannya “pembangunan” dan modernisasi dengan serta merta diterima oleh mayoritas negara-negara Dunia Ketiga. “Pembangunan” identik dengan gerakan langkah demi langkah menuju “modernitas”. Modernisasi merefleksikan perkembangan teknologi dan ekonomi seperti yang dialami negara-negara industri. Konsep tersebut berakar dari sejarah perubahan sosial yang diasosiasiakan dengan Revolusi Industri Eropa, namun implementasi di negara-negara Dunia Ketiga konsep tersebut diinterpretasikan dan dipahami melulu sebagai “perbaikan standar hidup secara umum”. Dengan waktu yang cepat gagasan “pembangunan” dan “modernisasi” menjadi program yang massif. Pemerintah di Dunia Ketiga dan Non Government Organisation (NGO) yang lebih dikenal dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), serta semua Universitas di Barat secara serempak membuka suatu kajian baru bernama “Studi Pembangunan” (development studies). Melalui studi pembangunan itulah proses penyebaran dan penyerapan kapitalisme ke seluruh dunia dipercepat, melalui para teknokrat, kaum intelektual dan bahkan para aktivis lembaga swadaya masyarakat dari Dunia Ketiga yang menjadi pasar utama program studi tersebut. Padahal pengetahuan tidaklah netral, melainkan sarat dengan ideologi dan kontrol. Melalui “wacana pembangunan” (development discourse), negara Dunia Pertama menerapkan kontrol terhadap Dunia Ketiga. Awalnya masyarakat di Timur diberi label Dunia Ketiga, “terbelakang”, “kekurangan” tentang hal-hal yang terkait dengan teknologi dan keahlian profesional.

Para penganut developmentalisme mendasarkan keyakinan bahwa negara-negara maju yang menganut sistem kapitalisme adalah bentuk ideal dari sistem dan struktur masyarakat yang demokratis. Mereka mengupayakan agar pengalaman-pengalaman negara-negara maju tersebut dijadikan model proses politik, ekonomi, sosial, budaya bagi masyarakat Dunia Ketiga. Menurut mereka, demokrasi dan pembangunan akan saling mendukung. Pembangunan ekonomi menjadi syarat bagi demokrasi, sedangkan industrialisasi melahirkan kekayaan. Kekayaan melahirkan kesenangan. Kesenangan memberi kemungkinan orang secara bebas belajar berpartisipasi dalam politik. Kebebasan itulah yang akan menjamin demokrasi.

Karya Eko Prawoto

Dalam proses berikutnya “pembangunan” menjadi alat invasi kultural, politik dan ekonomi. Dengan dukungan lembaga-lembaga keuangan internasional, seperti Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional, mereka mengikat negara Dunia Ketiga pada ekonomi negara-negara Dunia Pertama, melalui bantuan yang sesungguhnya adalah hutang terhadap Bank Dunia. Bentuk-bentuk “bantuan” lainnya juga dimaksudkan untuk proses melicinkan eksport serta dalam rangka kepentingan bisnis negara-negara donor itu sendiri. Cara penyebaran pembangunanisme lainnya yakni melalui pengaruh negara-negara donor pada regulasi dan perencanaan pembangunan serta bantuan-bantuan teknis lainnya antara lain “kunjungan wawasan” para tokoh masyarakat, tokoh-tokoh agama Dunia Ketiga ke Amerika Serikat. Cara lain adalah dengan mendayagunakan tenaga pendidik dan riset berbagai universitas Amerika yang bekerja di Dunia Ketiga.

“Wacana pembangunan” laju berkembang di Indonesia secara murni dan konsekuen serta mendalam dilakukan sampai ke tingkat pedesaan. Untuk melindunginya dikembangkan sistem kontrol ideologi, sosial dan politik secara canggih — antara lain dikembangkan berbagai kebijakan, misalnya “the floating mass policy”, kebijakan yang melarang organisasi massa pada tingkat desa dan menggeser serta mengganti kepemimpinan tradisi dengan birokrasi pemerintah. Menggunakan penyelenggaraan pendidikan formal maupun non formal sebagai media penanaman ideologi “pembangunanisme”. Pada akhirnya “pembangunan” (development) diterima dengan tangan dan hati tanpa reserve, tidak ada pertanyaan. Kalau toh ada perdebatan, umumnya hanya seputar cara (metode), teknik pelaksanaan belaka. Karenanya dapat disimpulkan bahwa pembangunanisme telah diyakini oleh sebagian besar birokrat pemerintahan, politisi, akademisi, jurnalis, agamawan, budayawan, bahkan para aktivis gerakan sebagai satu-satunya jalan menuju masyarakat yang demokratis dan sejahtera.

Uraian singkat di atas upaya untuk menggambarkan, bahwa berbagai hal yang terjadi bukanlah sesuatu yang lahir secara alamiah (bukan wis sakmesthine), namun banjir yang melibas peradaban jagad pedesaan memang secara sadar telah dirancang dan direkayasa oleh para aparatus pembangunan-modernisasi.

Pembangunan-modernisasi ternyata bukan hanya urusan ekonomi semata — karena proses industrialisasi juga sangat tergantung pada proses kultural serta dominasi pengetahuan dan teknologi. Proses-proses tersebut didukung oleh kekuasaan dengan memobilisasi berbagai kekuatan negara (DPR, militer, peradilan, agama, pendidikan), yang paling jelas bahwa seluruh proses pembangunanisme didukung oleh universitas, lembaga riset, kebijakan politik pemerintah serta lembaga keuangan internasional, maka wacana pembangunan dan modernisasi mampu berlari cepat untuk memangsa banyak korban yakni masyarakat tradisional.

Sangat jelas, bahwa hubungan antara modernisasi dan tradisi merupakan hubungan yang menempatkan masyarakat tradisi sebagai objek untuk dimodernisir. Hubungan semacam itu adalah hubungan dominatif  karena yang memiliki kekuatan, kekuasaan sudah melekat pada modernisasi. Dominasi juga tidak hanya berlangsung secara politik dan kebudayaan, karena juga berlangsung dalam bentuk subjection — secara sadar menempatkan posisi masyarakat tradisi menjadi objek pengetahuan dan kebijakan. Bahkan para aparatus modernisasi merasa memiliki hak dan kewenangan untuk meregulasi masyarakat tradisional setelah mereka memberikan cap atau label masyarakat primitif, masyarakat terbelakang. Dengan label tersebut para aparatus modernisasi seolah-olah memiliki kewajiban moral untuk mengangkat atau mengentaskan masyarakat tradisional dari kesengsaraan. Dalam hal ini, cara-cara yang digunakan merupakan proses penjinakan dan mendominasi. Akibatnya terjadi kekalahan ekonomi, politik, budaya bagi masyarakat tradisional melalui tindakan perampasan yang dilakukan aparatus modernisasi. Adapun strategi perampasan bersifat discursive dan hegemonik, maka tidak ada perlawanan yang berarti dari masyarakat tradisional, karena masyarakat tradisional sendiri telah masuk dalam perangkap — terhegemonik.

Satu-persatu penguasaan pengetahuan, teknologi dan budaya masyarakat tradisional dilucuti oleh modernisasi. Misalnya dalam dunia pertanian, masyarakat dipaksa untuk melaksanakan program revolusi hijau. Revolusi hijau merupakan salah satu bentuk program industrialisasi yang sepenuhnya menganut logika pertumbuhan. Program yang berasal dari Amerika Serikat itu diperkenalkan ke Indonesia sebagai tindak lanjut teknis pelaksanaan pembangunan. Maka revolusi hijau tidaklah sekadar program pertanian semata-mata. Program tersebut merupakan bagian dari strategi perubahan melawan paradigma tradisionalisme. Dengan dilaksanakannya revolusi hijau, pengetahuan pertanian masyarakat tradisional mengalami penggusuran total. Untuk pertama kalinya dalam sejarah keragaman pengetahuan petani terjadi homogenisasi dan reduksionalisasi menjadi satu pola pertanian saja.

Revolusi hijau telah berhasil merampas kontrol atas sumber daya tanaman dari masyarakat tradisional. Revolusi hijau telah menggusur keakhlian para petani yang selama 5.000 tahun memproduksinya, menyeleksi, menyimpan dan menanam benih/bibit tanaman pertanian. Sedangkan bibit unggul yang diperkenalkan perusahaan bibit multinasional ternyata menjadi salah satu sumber keuntungan. Bibit-bibit unggul itu menjadi keajaiban komersial bagi perusahaan multinasional, karena petani harus membeli bibit pada setiap musim tanam, akibatnya para petani tidak lagi memiliki pengetahuan tentang benih yang tidak mereka pahami sejarah, silsilahnya dan akibatnya menjadi sangat tergantung — karena para petani tidak bisa lagi mereproduksi benih/bibit sendiri. Revolusi hijau juga telah berhasil menggusur ribuan jenis tanaman dan varietas tradisional serta merampas keseluruhan tanaman padi yang berasal dari petani di Indonesia. Revolusi hijau jelas menguntungkan perusahaan multinasional karena satu paket petani menjadi tergantung dengan perusahaan bibit, perusahaan pupuk kimia dan perusahaan pestisida.

Revolusi hijau bukan hanya urusan ekonomi belaka, namun juga proses dominasi kebudayaan. Revolusi hijau memiliki kekuasaan kultural dan politik melalui penciptaan sistem dan struktur ideologi melalui propaganda dalam rangka mengusir ideologi, kultur dan politik kaum tani, bahkan institusi agama, pendidikan dan media massa dipergunakan oleh aparatus revolusi hijau untuk mempengaruhi kaum tani bahwa revolusi hijau adalah cara terbaik untuk memecahkan kemiskinan mereka. Lambat laun revolusi hijau diyakini oleh masyarakat sehingga berubahlah — tata kuasa, tata kelola, tata guna, bahkan pengaruhnya sampai pada urusan selera, gaya hidup, kebiasaan, sikap, moralitas dan nilai-nilai serta prinsip yang selama ini diyakini oleh kaum tani, masyarakat tradisional.

Apa yang terjadi pada saat sekarang? Kita tahu bahwa ternyata revolusi hijau tidak bisa menjawab apa yang mereka gembar-gemborkan saat itu: petani tetap semakin miskin. Sistem yang diciptakan sejak dari benih, pestisida, pupuk kimia, mekanisasi, irigasi serta penggunaan kredit bank sama saja dengan melakukan pemaksaan perubahan proses pertanian tradisional pedesaan menjadi capital intensive. Jelas petani semakin miskin ditambah tersingkir dari lahan pertaniannya. Akhirnya kita juga tahu bahwa bibit yang mereka ciptakan itu ternyata juga sangat rentan terhadap hama — maka bibit-bibit itu memerlukan penggunaan pertisida untuk mengontrol hama sekaligus melindungi tanaman. Tetapi kenyataannya, bahwa pestisida yang digunakan tidak mampu mengontrol hama, bahkan sebaliknya pestisida tersebut malah justru memanjakan hama — karena tidak sengaja penggunaan pestisida itu menciptakan kekebalan pada hama tersebut. Dampak lanjutannya yakni petani terpaksa tergantung dengan pupuk kimia dan pestisida. Padahal dari segi lingkungan pedesaan penggunaan kedua input itu justru menghancurkan ekosistem lingkungan pedesaan. Bahkan saat ini kita menyaksikan Departemen Pertanian menyarankan petani untuk kembali dengan pertanian organik, lalu di mana tanggung jawab perusahaan yang telah mengeksploitasi petani dan lingkungannya, apa tanggung jawab para akademisi yang dulu berbicara secara ilmiah tentang kehebatan revolusi hijau — jadi petani harus menuntut keadilan ke mana?

Dari pengalaman revolusi hijau, tentu dapat ditarik pelajaran berharga, karena hampir semua sektor yang ada (pangan, kesehatan, energi, kehutanan, pertambangan dan sektor-sektor lainnya) dirambah modernisasi. Seluruh prinsip penyebaran dan penguasaannya melalui strategi yang sama yakni menaklukkan kaum tradisional hingga melupakan pengetahuan, nilai/prinsip, teknologi, polititik dan sosial budaya tradisi yang selama ini dikuasai dan diyakini. Hampir semua sektor pada akhirnya juga diwarisi berbagai kerusakan dan juga melahirkan berbagai persoalan bahkan konflik berkepanjangan.

Dari program-program pembangunan — modernisasi sejak awal nyaris tidak pernah ada pertanyaan: “Siapa yang diuntungkan dari hasil pertumbuhannya?”. Dalam revolusi hijau misalnya, tidak disadari justru melambungkan ketidakadilan klas dalam masyarakat pedesaan sekaligus melestarikan ketergantungan ekonomi pedesaan. Kelestarian tersebut didukung adanya pengetahuan yang dominan dan hegemoni budaya — yakni wacana modernisasi pertanian ilmiah yang otomatis menghancurkan pengetahuan pertanian di masyarakat. Modernisasi berhasil meminggirkan petani dari dunianya seiring dengan tergusurnya pengetahuan dan pengalaman bertani ribuan tahun — dalam revolusi hijau petani adalah objek yang dikuasai oleh pengontrol pengetahuan, hal serupa juga dialami di sektor kesehatan, pangan, sandang, energi, hutan, tambang dll.

Di akhir masa rejim Orde Baru bagaikan aliran air yang lepas sumbatannya, muncrat tak dapat dibendung; berbagai konflik baik yang jenis vertikal maupun horizontal, juga berbagai sengketa, antara lain sengketa agraria yang selama ini teredam karena kekuatan para aparatus pembangunan mencuat ke permukaan, seperti benang kusut — saling memilin satu sama lain hingga sulit diurai.

Masalah dasar yang dihadapi oleh kapitalisme yang pada masa sekarang dihaluskan dengan istilah globalisasi, sesungguhnya tidak berubah, yakni bagaimana menciptakan situasi dan kondisi yang mendukung dirinya. Perusahaan-perusahaan transnasional bersama dengan lembaga-lembaga keuangan internasional (IFIs) seperti Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) sejak awal memiliki andil yang besar dalam mendukung politik dan program-program pembangunan rejim Orde Baru. Sementara diakhir kekuasaan Orde Baru mesin-mesin globalisasi berbalik arah meninggalkan, bahkan memusuhi rejim otoriter itu. Dengan bendera globalisasi (baca:pasar bebas) mulai mengeluarkan lagi jurus-jurus baru seperti “good governance”, “civil society” dan lainnya, aparatus lanjutan pembangunan-modernisasi berusaha mengempeskan peran pemerintah birokrasi nasional dalam dunia ekonomi. Ketika negara (baca: proses penyelenggaraan pemerintahan) tidak lagi mendukung, maka aparatus globalisasi melaksanakan dua strategi: yang pertama melucuti kekuasaan negara, dan kedua memperkecil otoritas kekuasaan pusat, dan sebaliknya memberikan suatu bentuk di mana daerah dikembangkan dan difasilitasi agar memiliki otoritas. Maka reformasi dalam rangka seperti ini tidak serta merta merupakan proses pembaharuan yang mendasar, melainkan lebih menitikberatkan pada kondisi agar tata kerja dan tata kelola pemerintahan kembali market friendly, yakni ramah terhadap modal besar untuk menguasai pasar.

Umur kita lebih muda dibandingkan usia modernisasi-pembangunan yang akhirnya bernama globalisasi. Tetapi toh masih terekam dan tidaklah lupa janji-janji yang pernah digembar-gemborkan dan disombongkan sejak awal tentang “kemajuan” tak pernah hilang sampai sekarang, yang semakin samar justru gambaran seperti apa tentang “kemajuan” itu? Sementara banjir kemajuan yang datang belakangan justru semakin susah dipahami; korupsi semakin merajalela, menghamburkan uang banyak-banyak untuk pemilihan umum yang hasilnya juga tidak dirasakan oleh masyarakat. Kemajuan telah melahirkan banyak akhli pertanian, namun tidak korelatif dengan meningkatnya kesejahteraan petani, malah semakin banyak produksi pangan yang diimport. Kemajuan teknologi kedokteran telah sampai di puncak tertinggi, tetapi masih banyak penderita TBC, malaria, ISPA dan penyakit menular lainnya yang sejak dahulu kala menjadi ukuran keberhasilan suatu negara. Apakah kemajuan berarti sama dengan masyarakat harus memiliki uang banyak apabila ingin dilayani kesehatannya? Hutan telah dibabad habis, perut bumi dikeruk isinya, namun masyarakat disekitarnya hidupnya justru lebih sengsara dari sebelumnya — apakah kemajuan identik dengan kerusakan dan kesengsaraan?

“Kemajuan” oleh kaum modernis pada kurun waktu puluhan tahun yang lalu dibanggakan, justru kini kita menyaksikan album foto “kerusakan” kemanusiaan yang luar biasa, dehumanisasi yang akut serta keruntuhan nilai-nilai ketuhanan. Boleh dikata ini adalah kembalinya jaman jahiliyah, subur menjamur jamaah penyembah “berhala” materialisme sambil bernyanyi mengagungkan nama-Mu.

Tulisan oleh : Toto Raharjo

Sumber : https://www.salamyogyakarta.com/merdesa/

Daya Ungkit Kolaborasi BUMDes dan Koperasi FIRDAUS PUTRA, HC Kompas.com – perdesaansehat.com

Ekonomiq bukanlah tidak penting, atau sebaliknya dengan Sosial dan Ekologi. Tetapi kebijaksanaan kita dituntut untuk memilih disaat sumber daya terbatas, manakah yang tepat untuk didahulukan. Semoga cara berfikir kita tidaklah berbeda, bahwa dengan kesehatan dan kecerdasan yang baik, maka persoalan keterbatasan sumber daya termSuk ekonomi akan teratasi (banyak negara maju yang dapat menjadi contoh dalam hal ini)

Sedangkan kita semua mengetahui bahwa persoalan mendasar di Desa, secara umum adalah rendahnya kualitas manusia, kecuali para elit Desa saat ini.

Yang Utama atas amanah UU Desa, adalah peran Bumdes (Ke Dalam desa) dalam mengoptimalkan sumber Daya Desa (Manusia, SDA dan Modal Sosial) dalam rangka mencapai 9 Tujuan UU Desa.

Pembangunan Kemandirian Desa membutuhkan pentahapan agar bukan saja sejahtera secara instan, tetapi harus dipastikan dapat berkelanjutan. Hal ini dapat dilakukan melalui instrumen BEDAH DESA.

Untuk itu DD sebagai stimulan bagi Optimalnya “Kemerdekaan Warga Desa” sebagai subyek pembangunan Desanya Sendiri dalam mencapai kemandirian Desanya.

Perlu dipastikan lebih dahulu dalam implementasi UU Desa adalah adanya upaya percepatan keberdayaan warga desa sehingga dapat terlibat aktif membangun Desanya.

Untuk itu DD Terutama bagi Pemenuhan Hak Kesehatan, Hak Pendidikan serta Hak Sosial Lainnya. Bumdes dapat berperan dalam kerangka kerja ini, yang berorientas ke dalam sambil masyarakat Desa berproses untuk belajar mengelola secara manjerial semua aset Desa. Bumdes cukup dtetapkan berdasrkan Perdes saja. (Esensi Bumdes dalam UU Desa). Hal ini sejalan dengan pemahaman bersama tentang penangan kemiskinan dan rendah produksi yang berkaitan erat dengan Kualitas Manusia (kesehatan dan pendidikan).

Pada saatnya nanti, ketika telah lebih siap, maka tahap berikutnya dengan sendirinya tuntutan pengembangan peran Bumdes dibutuhkan warga Desa, sehingga dibutuhkan pula kelembagaan ekonomi Desa (PT atau Koperasi atau lainnya) sebagai lembaga ekonomi desa yg dapat mefasilitasi Kelompok Warga Desa dalam berinteraksi ke luar Desanya. Dengan produk desa yang juga telah disepakati bersama warga desa sebagi produk unggulan Desa masing masing sebagai bagian tahap awal pembangunan kemandirian Desa (Bumdes selaku Pemicu Perekonomian Desa)

Pada tahap kondisi kemajuan Desa lebih mandiri, maka peran Bumdes meningkat dalam menjaga goncangan ekonomi Desa, tetapi harus menurun dalam aktifitas langsung usaha Desa. (Peran Perbankan Desa/Penjaminan Usaha Warga dll).

Demikian pemikiran kami, Semoga Bermanfaat.”
Selamat Berdiskusi. #HibahDiriTukDesa #Desa #Kemiskinan #Disparitas

HanibalHamidi
HH

Daya Ungkit Kolaborasi BUMDes dan Koperasi

FIRDAUS PUTRA, HC

Kompas.com – 13/11/2017, 08:55 WIB

BADAN Usaha Milik Desa kaprahnya disebut BUMDes mulai beroperasi di berbagai wilayah Tanah Air. BUMDes lahir dari amanat Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa dengan dukungan kuat berupa dana desa. Tujuannya seperti Nawa Cita Ketiga Jokowi, “Membangun Indonesia dari pinggiran”.

Selepas kebijakan politik (policy) diketok, kemudian birokrasi bekerja untuk mewujudkannya. Dalam praktiknya, tak sedikit pemerintah desa (pemdes) yang gagap mengoperasionalkan BUMDes.

Salah satu sebabnya adalah kebiasaan mereka bekerja di koridor birokrasi pemerintahan, sekarang dituntut bekerja laiknya wirausahawan. Di situ tentu butuh waktu penyesuaian yang tidak sebentar.

Di sisi lain, keberadaan BUMDes dilihat sebagai ancaman potensial oleh gerakan koperasi Tanah Air. Hulunya, negara dianggap meninggalkan koperasi yang dulu sempat favorit, paling tidak di zaman Orde Baru. Hilirnya, sebagian koperasi beroperasi di wilayah pedesaan. Kegelisahan itu mengemuka saat Kongres Koperasi di Makassar, Juli 2017.

Padahal, model keduanya menjejak di ruang yang sama: ekonomi sosial. Ini merupakan sebuah mazhab ekonomi yang bertujuan mencapai kesejahteraan sosial.

BUMDes dan koperasi bisa saja kita sebut sebagai saudara laiknya kakak dan adik. Koperasi sebagai kakak dan BUMDes, yang lahir belakangan sebagai adik.

Tak elok bila kakak-adik bertengkar saat tujuannya sama, yakni membangun dan mengupayakan kesejahteraan desa sebagai rumah bersama.

Perlu upaya kreatif-sintetik untuk mencari ruang dan titik temu keduanya. Syarat pertamanya, perbesar daftar persamaan dibanding perbedaan.

Sutoro versa Suroto

Ada dua ikon yang selalu muncul dalam perdebatan hubungan BUMDes dan koperasi. Sutoro merupakan aktivis desa, melihat keterbatasan daya dukung koperasi karena berorientasi pada anggotanya semata.

Tentu saja pandangan terbatas itu bisa kita pahami karena yang bersangkutan berada di ruang lain. Boleh jadi Sutoro tidak mengetahui adanya model social co-operative, misalnya.

Di sisi lain adalah Suroto, aktivis koperasi, melihat BUMDes bisa terjebak pada korporatisasi di level desa. Penyebabnya Peraturan Menteri Desa Nomor 4 Tahun 2015 mengatur badan hukum usaha BUMDes hanya boleh perseroan terbatas (PT) dan nafikan koperasi.

Pandangan itu juga bisa dipahami karena yang bersangkutan berada di ruang lain. Yang tidak melihat adanya peluang skema private-public partnership, misalnya.

Tegangan kreatif dua tokoh itu sering mengemuka di berbagai diskusi, offline dan online.

Sebenarnya antara keduanya memiliki titik temu. Sutoro, misalnya, sudah mulai mengelaborasi ruang irisan antara BUMDes dan koperasi. Katanya, BUMDes dapat lakukan penyertaan modal pada koperasi.

Suroto tidak berbeda jauh. Ia mengusulkan agar pemdes dirikan apa yang disebutnya sebagai “koperasi publik”, yaitu koperasi yang permodalannya sebagian disokong dari pemdes.

Titik temu pandangan dua tokoh itu telah mengerucut dan sudah dapat dioperasionalkan. Kolaborasi antara BUMDes dan koperasi adalah mungkin, bahkan niscaya. Lantas, bagaimana pola atau skemanya?

Ideal ekonomi sosial

BUMDes dan koperasi sama mazhabnya, yakni ekonomi sosial (social economy). Bila kita gunakan istilah lain yakni demokrasi ekonomi, yakni sebuah model tata milik, kelola, serta distribusi yang diselenggarakan oleh, dari, dan untuk komunitas. Medan gravitasinya adalah demokrasi dengan komunitas sebagai pusat gravitasinya.

Ideal type itu harus menjadi pijakan kakak dan adik sebagai common ground. Praktik-praktik yang tidak mencerminkan tipe ideal merupakan penyimpangan.

Misalnya saja, Sutoro melihat banyak koperasi yang dimanfaatkan segelintir elite organisasi (elite capture) untuk memperkaya diri.

Di sisi lain, Suroto melihat kemungkinan terjadinya pencaplokan sumber daya saat BUMDes terintegrasi dengan perseroan holding nasionalnya. Ia mencontohkan pengalaman Bank Umum Koperasi Indonesia (Bukopin) yang mengalami demutualisasi menjadi bank swasta.

Dengan memijak pada ideal type mazhab ekonomi sosial itu, baik BUMDes dan koperasi dapat saling benchmark satu sama lain.

Di sisi lain, keduanya dapat saling koreksi bahwa tujuan adanya (raison d’etre) adalah bagi kesejahteraan sosial. Dalam kesamaan tujuan itu, waktu yang akan membuktikan model mana yang lebih tangkas dan produktif.

Atau, boleh jadi perkawinan silang keduanya menghasilkan ketangkasan (agility) dengan tingkat produktivitas lebih tinggi.

Penyertaan modal (bergulir)

Ambillah contoh di Banyumas, untuk meningkatkan kesejahteraan, para perajin gula merah (penderes) dapat mendirikan koperasi produksi.

Setelah berbadan hukum, seperti maklumat Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 1998 dan Peraturan Menteri Koperasi Nomor 11/Per/M.KUKM/IX/2015, BUMDes dapat melakukan penyertaan modal kepadanya. Akselerasi modal terjadi sehingga kapasitas pembelian gula penderes oleh koperasi naik. Hasilnya, penderes dapat lepaskan diri dari skema pertengkulakan.

Contoh lain, misalnya, BUMDes melakukan penyertaan modal pada Koperasi Unit Desa (KUD) yang memiliki usaha ritel. BUMDes tak perlu bersusah payah membangun dan memulainya dari awal. Cukup meminta KUD membuka cabang layanan di desa tersebut.

Dengan pengelolaan yang terintegrasi, keberlanjutan usaha lebih mungkin tercipta. Berbagai klausul, seperti harga dan layanan lain, dapat mereka rembuk bersama.

Cara yang lain, pemdes dapat memfasilitasi masyarakat untuk mendirikan koperasi. Model bisnisnya dapat disesuaikan sedari awal agar sesuai kebutuhan masyarakat.

Setelah berbadan hukum, BUMDes melakukan penyertaan modal. Seluruh masyarakat juga memiliki kesempatan menjadi anggota dan tentu saja partisipasi modal. Idealnya tak perlu melakukan mobilisasi, cukup promosi aktif koperasi kepada masyarakat.

Skema penyertaan itu bisa seperti tawaran Sutoro, 60 persen dari BUMDes dan sisanya adalah masyarakat atau anggota koperasi.

Peraturan Pemerintah dan Peraturan Menteri Koperasi mengatur bahwa pemodal, sebutan bagi pihak yang menyertakan modal di koperasi, tidak punya hak suara di rapat anggota. Namun, pemodal bisa terlibat dalam mengelola, bila mampu.

Yang pasti, pemodal terlibat dalam pengawasan operasional usaha. Koperasi juga wajib untuk melaporkan perkembangan usaha kepada pemodal link berikut ini.

Selamat Hari Kesehatan Nasional 12 November 2017

Indonesia Sehat Berbasis Perdesaan Sehat.

Konstanta Independent : Pusat Kesehatan Masyarakat Yang Melaksanakan Secara Utuh Kegiatan 1)Promosi, 2)Pencegahan, 3)Pengobata dan 4)Rehabilitasi, Dengan penekananan sesuai urutan angka secara konsisten.

Untuk hal tersebut dalam kerangka pemenuhan Hak Dasar Kesehatan, maka dibutuhkan Kebijakan strtgis:

1) Rekonstruksi Total Sitem Kesehatan Nasional Berbasi Determinan Faktor Kesehatan.

2) Proses Rekruitmen, Penugasan dan Pembinaan serta sistem karir “tenaga kesehatan strategis” berbasis Determinan faktor kesehatan dikendalikan oleh Negara.

3) Farmasi Yang Ramah bagi “Topical Desease” menjadi salah satu basis perekonomian nasional.

Dengan demikian paradigma Pembangunan Berwawasan akesehatan, Keterjangkauanan dan Kualitas Pelayanan Kesehatan dan Jaminan Kesehatan Nasional Dapat dijalankan secara terintegrasi mampu mencapai Indonseia Sehat.

#HanibalHamidi

#HibahDiriTukDesa

#PenagananKemiskinan

Indeks Desa Membangun, Instrumen Manajerial Kendali Percepatan Pembangunan Kemandirian Desa Yang Berkelanjutan.

Indeks Desa Membangun adalah Adalah alat bantu “Teknokrasi” pengukuran perkembangan Status Kemandirian Desa melalui analisa dan nilai komposit seluruh nilai skoring masing-masing indikator terpilih berdasarkan konsep kebijakan pembangunan yang ditetapkan serta otoritas kewenangan, tugas dan fungsi Kementerian Desa, PDTT. Dengan demikian hasil analisa IDM dalam penetapan status Kemandirian Desa akan dapat menjadi alat bantu pengintegrasian perencanaan

Menyadari Desa secara esensial merupakan Pemerintahan Otonomi Tingkat 4, tingkatan paling dasar (Pondasi) dari 4 lapis Struktur NKRI (Pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota, Desa), sekaligus masyarakat Desa adalah Entitas Komunitas Bangsa Nusantara yang terkecil (Inti). Maka harus dapat dipastikan penyusunan IDM berdasarkan substansi berbagai regulasi dalam kerangka pelaksnaan kebijakan konsep pembangunan nasional yang paripurna dalam semua aspek yang telah ditetapkan secara nasional. Selain hal tersebut, juga harus dapat dipastikan IDM telah sejalan dengan strtegi pencapaian sasaran strategis jangka pendek, jangka menegah dan jangka panjang secara berkelanjutan.

IDM secara teknokrasi disusun sesuai dengan Konsep kebijakan pembangunan Desa untuk mencapai 9 Tujuan UU Desa sebagai amanah UU Desa, melaksnakan amanah Peraturan Presiden No 2 tahun 2015 Tentang RPJMN 2015-2019, serta sejalan otoritas mandat Perpres no 12, 2015 Tentang Kementerian Desa, PDTT dan memegang teguh amanah dan mandat Konstitusi UUD 1945 beserta peraturan perundang undangan yang ada dalam NKRI, mewujudkan palsafah negara Pancasila sebagai acuan pembangunan, sekaligus menghormati keberagaman Desa dengan paradigma Bhineka Tunggal Ika.

Indikator yang tersedia dalam Podes dipilih yang dapat mewakili Faktor-Faktor penentu keberhasilan pembangunan wilayah; a) Ketepatan Peran Pemerintah dalam memilih intervensi pembangunan, b)Partisifasi Masayarakat terhadap intervensi pembangunan (perencanaan, pembangunan, pemanfaatan dan pemerliharaan) serta c)Karakteristik Wilayah (Tipologi dan Modal Sosial) masing-masing Desa, yang akan mengoptimalkan point a dan b. Secara konspsional, apabila point a,b dan c masing-masing saling berkorelasi positif, maka dapat dipastikan dampaknya akan tercapai sesuai teori dan konsep kebijakan Tata Kelola program pembangunan sektoral dan atau bidang yang strategis terpilih yang secara teori pembanguan merupakan determinan faktor pada kemajuan Pembangunan pada; dimensi Sosial, Dimensi Ekonomi dan Dimensi Lingkungan. – perdesaansehat.com

HanibalHamidi #HibahDiriTukDesa
https://www.youtube.com/watch?v=ZWS_x05-LAg&sns=em

Salam Kejuangan Nusantara
Desa Membangun Indonesia

Hanibal H
#HibahDiriTukDesa

indeks-desa-membangun-kementerian-desa-pdtt-hh.pdf

Salam Kejuangan Nusantara Pembangunan Yang Inklusif dan Berkelanjutan Berbasis Desa

Hanibal H

Direktorat Pelayanan Sosial Dasar
Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi

Hanibal2464
#HibahDiriTukDesa
Blog; perdesaansehat.com

Indeks Desa Membangun

Indeks Desa Membangun adalah Adalah alat bantu “Teknokrasi” pengukuran perkembangan Status Kemandirian Desa melalui analisa dan nilai komposit seluruh nilai skoring masing-masing indikator terpilih berdasarkan konsep kebijakan pembangunan yang ditetapkan serta otoritas kewenangan, tugas dan fungsi Kementerian Desa, PDTT. Dengan demikian hasil analisa IDM dalam penetapan status Kemandirian Desa akan dapat menjadi alat bantu pengintegrasian perencanaan 

Menyadari Desa secara esensial merupakan Pemerintahan Otonomi Tingkat 4, tingkatan paling dasar (Pondasi) dari 4 lapis Struktur NKRI (Pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota, Desa), sekaligus masyarakat Desa adalah Entitas Komunitas Bangsa Nusantara yang terkecil (Inti). Maka harus dapat dipastikan penyusunan IDM berdasarkan substansi berbagai regulasi dalam kerangka pelaksnaan kebijakan konsep pembangunan nasional yang paripurna dalam semua aspek yang telah ditetapkan secara nasional. Selain hal tersebut, juga harus dapat dipastikan IDM telah sejalan dengan strtegi pencapaian sasaran strategis jangka pendek, jangka menegah dan jangka panjang secara berkelanjutan. 

 IDM secara teknokrasi disusun sesuai dengan Konsep kebijakan pembangunan Desa untuk mencapai 9 Tujuan UU Desa sebagai amanah UU Desa, melaksnakan amanah Peraturan Presiden No 2 tahun 2015 Tentang RPJMN 2015-2019, serta sejalan otoritas mandat Perpres no 12, 2015 Tentang Kementerian Desa, PDTT dan memegang teguh amanah dan mandat Konstitusi UUD 1945 beserta peraturan perundang undangan yang ada dalam NKRI, mewujudkan palsafah negara Pancasila sebagai acuan pembangunan, sekaligus menghormati keberagaman Desa dengan paradigma Bhineka Tunggal Ika. 

Indikator yang tersedia dalam Podes dipilih yang dapat mewakili Faktor-Faktor penentu keberhasilan pembangunan wilayah; a) Ketepatan Peran Pemerintah dalam memilih intervensi pembangunan, b)Partisifasi Masayarakat terhadap intervensi pembangunan (perencanaan, pembangunan, pemanfaatan dan pemerliharaan) serta c)Karakteristik Wilayah (Tipologi dan Modal Sosial) masing-masing Desa, yang akan mengoptimalkan point a dan b. Secara konspsional, apabila point a,b dan c masing-masing saling berkorelasi positif, maka dapat dipastikan dampaknya akan tercapai sesuai teori dan konsep kebijakan Tata Kelola program pembangunan sektoral dan atau bidang yang strategis terpilih yang secara teori pembanguan merupakan determinan faktor pada kemajuan Pembangunan pada; dimensi Sosial, Dimensi Ekonomi dan Dimensi Lingkungan. – perdesaansehat.com

Buku Indeks Desa Membangun

HanibalHamidi #HibahDiriTukDesa

 

Indonesia Semakin Eksis di Mata Dunia

Kursus Bahasa Indonesia yg diselenggarakan KBRI New Delhi sudah dimasukkan dalam general announcement WHO SEARO, untuk Staf WHO yg berminat ikut belajar. Sejauh ini belum pernah ada kursus bahasa (di luar bahasa resmi WHO dan bahasa India) yang pernah ditawarkan ke Staf WHO. Ini hanya sekedar partisipasi mengangkat nama (kali ini Bahasa) Indonesia. Indonesia semakin eksis dimata dunia.

Rembuk Nasional Kesehatan

PARADIGMA “TATA KELOLA PEMERINTAH YANG BERSIH” Dalam Kerangka “TATA KELOLA PEMERINTAHAN YANG BAIK”

Pelaksanaan Rembuk Nasional (RN) berbagai bidang yang diinisiasi oleh Kantor Staf Presiden ini, yang ditujukan bagi “penyaluran” gagasan dari berbagai kelompok masyarakat bagi berbagai persoalan strategis pembangunan nasional yang sedang dilaksanakan oleh rezim berkuasa bersama-sama seluruh komponen bangsa. 

RN bila dapat diAgendakan secara periodik bersamaan sekaligus melengkapi agenda musrenbangnas dan “mit term review” yang yang telah ada di bawah tanggung jawab Bappenas, sangat baik untuk diagendakan bagi setiap rezim berkuasa dibawah kendali kantor sekretariat President atau KSP secara langsung. RN dapat difungsikan sebagai instrumen kendali perkembangan dinamika isue strategis dalam berbagai dimensi pembangunan nasional yang ditetapkan menjadi “fokus Prioritas” Kabinet,  sekaligus “sensitif” terhadap bagi kemajuan bangsa dan negara Indonesia. RN ditujukan bagi evaluasi dan atau  perumusan “terobosan” kebijakan yang tepat dalam kerangka pemenuhan janji-janji Presiden yang disampaikan pada waktu kampanye pemilihan pasangan Presiden dan Wakil Presiden sebelumnya. RN sebaiknya difungsikan sebagai instrumen politik Presiden bagi percepatan konsolidasi demokrasi melalui optimalisasi integrasi peran berbagai komponen bangsa dalam pencapaian visi dan misi capres terplh yang telah dijabarkan dalam dokumen RPJMN Setiap Kabinet rezim berkuasa.

Rembuk Nasinal Pembangunan (RNP) Tahun 2017, yang diinisiasi Kabinet Kerja, Sebagai instrumen optimalisasi partisifasi seluruh warga bangsa dalam pembangunan nasioanal, sejalan bagi agenda konsolidasi demokrasi Indonesia. melengkapi proses yang telah ada (musrenbangnas, mit term review Bappenas, analisis data BPS, Kajian Bacground paper kontekstual) dalam pemetaan permaslahan dan hambatan bagi penyusunan dan review pencapaian rencana pembangunan yang telah ditetapkan oleh pemerintahan yang termuat dalam dokumen RPJMN 2015-2019, sebagai jabaran dokumen visi dan misi capres terpilih (Jokowi-JK). Tanpa menafikan keberhasilan pelaksanaannya, sebaikanya kesiapan pelaksanaanannya harus dapat ditingkatkan sehingga semua indikator keluaran, hasil dan dampaknya dapat dipastikan sangat berarti bagi pencapaian tujuan pembangunan yang ingin dicapai oleh pemerintah. RN 2017, sangat terasa persiapannya sangat kurang, sehingga sangat ditentukan oleh personal ketokohan kepanitian masing masing bidang RN. (HH)….

REMBUK NASIONAL BIDANG KESEHATAN

Rembuk Nasional 2017 yang berlangsung di Jakarta Internasional Expo , Kawasan PRJ Kemayoran  , dalam rangka 3 Tahun Pemerintahan Joko Widodo – Jusuf Kalla yang bertagline “Membangun untuk Kesejahteraan Rakyat ” mulai bergulir, kami mendapat kesempatan hadir Kegiatan tersebut ,dalam rangkaian kegiatan tersebut pada sesi 1 yaitu diskusi “Mengelola Kesehatan Masyarakat dan Kesejahteraan Sosial yang diselenggarakan pada tanggal 23 Oktober 2017.

Dalam gagasan kami, dalam kerangka percepatan Indonesia Sehat, sebagai refresentasi terpenuhi tanggung jawab negara (sesuai mandat Konstitusi pada negara), dalam pemenuhan hak dasr kesehatan bagi seluruh masyarakat Indonesia dimanapun berada.  Maka cukup sejalan dengan target “universal health covered” pada tahun 2019, melalui Program JKN yang menjadi tanggung jawab BPJS, yang harus dapat juga dipastikan adalah adanya “jaminan keterjangkauan semua determinan faktor (air bersih, sanitasi dan gizi yang seimbang” bagi kebutuhan normatif tumbuh kembang mausia, selaian keterjangkauan pelayanan kesehatan yang berkualitas serta sisitem rujukan yang ramah terhadap semua ketentuan untuk mengutamakqn upaya “Live safing”. 

Mengigat dinamika kesehatqn manusia  sanagat ditentukan oleh berbagai macam aspek kehidupan, lingkungan, serta perkembangan kualitas pelayanan kesehatan, dan perkembanga jenis penyakit itu sendiri, maka begitu komplek permaslahan dan tantangan pencapaain  wujud Indonesia Sehat tersebut, yang saat ini Angka Harapan Hidup Indonesia di bawah rata AHH Asia. Maka kebijwkqn “Tata Ulang atau Restrukturis Tata Kelola Pembangunan Kesehatan harus menjadi pilihan satu satunya cara untuk memiliki kepastian kapankah Indonesia SEHAT. Gagasan yang kami namakan “REVOLUI KESEHATA” adalah terdiri dari 3 Agenda:

1) Restrutkturisa total sistem kesehatan nasioonal  (termasuk kelembagaan ditata ulang) 

2) Reformasi pola; Rekruitmen, pembinaan, dan kesejahteraan tenaga kesehatan strategis.

3) Pengembangan Tophical  Farmasi  sebagai salah satu basis ekonomi nasional.

4) Pembangunan nasional berwawasan Kependudukan

5) Percepatan Capaian Indonesia Sehat Bertumpu pada  5 Pilar Perdesaan Sehat 

Dan untuk mengetahui apa dan bagaimana Rembuk Nasional 2017 tersebut berlangsung , dapat di unduh dokumen Panduan Rembuk Nasional 2017 pada Link Berikut

Mengeliminasi Campak dan Pengendalian Rubela

Telah di bentuk kelompok kerja nasional oleh kementrian Kesehatan terkait pengeliminasian Campak dan pengendalian Rubela yang bertugas menyelenggarakan secara menyeluruh kegiatan catch up campaign vaksin MR, introduksi vaksin MR dan tahapan pemeliharaan menuju dan mempertahankan status eliminasi campak.

yang telah di sahkan dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/191/2017 yang dapat di unduh pada link Link berikut.

Negative List Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi

Pengadaan alat kesehatan di Puskesmas dan pembangunan sarana dan prasarana pendidikan anak usia dini ternyata menjadi negative list Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi hingga tahun politik yaitu tahun 2019. Padahal pada banyak desa-desa sangat membutuhkan hal tersebut yang menyangkut pada hak-hak dasar masyarakat desa.

Berikut kami lampirkan daftar negative list resmi dari Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi yang dapat di unduh pada link berikut.

Aktifitas bulan Januari 2017

Aktifitas bulan Januari 2017, menyambut wakil world bank LauraTak, dalam peninjauan di desa Kuripan Selatan, kabupaten Lombok Barat, provinsi Nusa Tenggara Barat, tentang pengembangan program GSC dalam implementasi UU Desa, bersama Bupati Lombok Barat pada bulan Januari 2017

JURNAL ETIKA KEDOKTERAN

Alhamdulillah telah terbit perdana:
Jurnal Etika Kedokteran Indonesia (JEKI) Volume 1 No 1 Oktober 2017.
Jurnal ini dikelola oleh Majelis Kehormatan Etik Kedokteran Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (MKEK PB IDI) sebagai upaya mengulas permasalahan etika di Indonesia. Ulasan dan tanggapan akademis kelak akan menjadi Fatwa Etik Kedokteran Indonesia yang dikeluarkan oleh MKEK PB IDI. Jurnal ini bersifat open access, jadi silahkan dapat mengakses PDF nya secara online. MKEK PB IDI juga menyediakan edisi cetaknya yang akan dilaunching saat Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PB IDI di Bandar Lampung, 24-27 Oktober 2017. Terbitan perdana ini memuat 6 artikel yaitu:

1. Tinjauan Etis Rangkap Profesi Dokter-Pengacara. Tautan di: http://ilmiah.id/index.php/jeki/article/view/2

2. Sebuah Kajian Etik: Bolehkah Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Melakukan Tindakan Sesar Berdasarkan Permintaan Pasien Tanpa Indikasi Obstetrik yang Nyata? Tautan di: http://ilmiah.id/index.php/jeki/article/view/3

3. Dokter Beriklan: Sebuah Tinjauan Menurut Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI) Tahun 2012. Tautan di: http://ilmiah.id/index.php/jeki/article/view/4

4. Tinjauan Etika: Dokter sebagai Eksekutor Hukuman Pidana yang Menyebabkan Kematian, Kecacatan, atau Gangguan Kesehatan. Tautan di: http://ilmiah.id/index.php/jeki/article/view/5

5. Tinjauan Etik Regulasi Jam Kerja Dokter di Indonesia. Tautan di: http://ilmiah.id/index.php/jeki/article/view/6

6. Tinjauan Etika Penggunaan Media Sosial oleh Dokter. Tautan di: http://ilmiah.id/index.php/jeki/article/view/7

Di masing-masing tautan, terdapat abstrak dan silahkan mengakses di tautan full text nya masing-masing.
Untuk membaca versi penuh, dapat mengunduh pada Tautan di: http://ilmiah.id/index.php/jeki/issue/view/1 , klik gambar covernya dan jika ingin mengunduh, silahkan ke tautan yang disediakan di Full Issue.

Sejawat yang ingin menulis mengenai etika kedokteran baik di pendidikan, pelayanan, dan penelitian ke JEKI dipersilahkan, dan dapat mengirim ke email: jeki@ilmiah.id

Terimakasih banyak, salam kesejawatan. Hidup Etika Kedokteran Indonesia.

Hormat kami,
DR. Dr. Prijo Sidipratomo, Sp.Rad(K) (Ketua MKEK PB IDI) dan seluruh pengurus

Prof. DR.med. Dr. Frans Santosa, Sp.JP (Editor Kepala JEKI)

Dr. Pukovisa Prawiroharjo, Sp.S (Manajer JEKI)
Dan seluruh Editor, reviewer, penulis, serta semua yang berkontribusi.

Negeri Haha Hihi Gus Mus

Bukan karena banyaknya grup-grup lawak yang membuat negeriku kocak

Justru grup-gurp lawak hanya mengganggu dan banyak yang bikin muak

Negeriku lucu dan para pemimpinnya sering mengocok perut

Banyak yang terus pamer kebodohan dengan keangkuhan yang menggelikan

Banyak yang terus pamer keberanian dengan kebodohan yang mengharukan

Banyak yang terus pamer kekerdilan dengan teriakan yang memilukan

Banyak yang terus pamer kepengecutan dengan lagak yang memuakkan

Ha . . . ha . . ha.

Penegak keadilan jalannya miring

Penuntut keadilan kepalanya pusing

Hakim main mata dengan maling

Wakil rakyat baunya pesing

Hi . . . Hi . . Hi.

Kalian jual janji-janji untuk menebus kepentingan sendiri

Kalian hapal pepatah petitih untuk mengelabui mereka yang tertindih

Pepatah – petitih ha hah

Anjing menggonggong kafilah berlalu

Sambil mengonggong kalian terus berlalu

Ha . . . ha . . hah.

Ada udang dibalik batu

Udang kepalanya batu

Ha . . . ha . . hah.

Sekali dayung dua pulau terlampaui

Sekali untung dua pulau terbeli

Ha . . . ha . . hah.

Gajah mati meninggalkan gading

Harimau mati meninggalkan belang

Kalian mati meninggalkan hutang

Ha . . . ha . . hah.

Hujan emas di negeri orang

Hujan batu di negeri sendiri

lebih baik yuk hujan-hujanan caci maki

Terjebak dalam panggung formalistis/aristokrat sebagai ciri Budaya Nusantara.

Pada Pagi ini saya membaca salah satu berita di salah satu website. Dalam beritanya menyatakan bahwa Menteri Keuangan Srimulyani mengatakan:
“Pak Ahok rela di sembelih dan berkorban demi bangsa ini .
kini orang orang yang tidak pilih ahok sekarang menyesal , Pak Ahok walau tidak jadi gubernur tapi pantasnya jadi Presiden , karena bukti jelasnya ada di pendapatan APBD DKI yang hasilnya di luar dugaan ,hasil tersebut melebihi pencapaian seorang Gubernur. Ahok semasa kepemimpinannya. Yang pertama adalah dana CSR yang dulu sepertinya kurang disorot, namun Ahok memanfaatkan hal itu dengan sangat maksimal sehingga hasilnya dapat dilihat dari banyaknya RPTRA yang dibangun tanpa APBD DKI Jakarta sama sekali. Ini merupakan penghematan yang sangat luar biasa untuk negara Indonesia. Dengan modal sekecil-kecilnya Ahok dapat membangun dengan maksimal.”

Untuk selengkapnya dapat di baca pada Link berikut.

Bagi saya adalah betapa budaya kita yang terkooptasi dengan “budaya panggung/Formalitas/aristokrat”, sehingga para “pemain cerdas Politik” selalu memainkan “gaya panggung” terutama dalam acara yang di liput “pers” dengan maksimal, sedangkan disisi lain tentang pengungkapan fakta “kebenaran” yang banyak dilakukan para tokoh yang tidak pandai “bersilat lidah” dalam menjelaskannya sesuatu informasi yang terkait isue faktual (komunikasi politik kurang baik), sedangkan masyarakat umum yang telah terkooptasi dengan “gaya sinetron” (panggung/formalitas) dalam menilai suatu peristiwa…. akibatnya “fakta kebenaran” harus terkalahkan .,,,
dan inilah “harga” bagi proses kematangan dan konsolidasi DEMOKRASI Indonesia yg masih terjebak dengan “kepuasan masyarakat” dengan rata rata pendidikan rendah, terutama lemahnya vokasi literasi pendidikan politik secara esensial dan akan menjadi penentu dalam keputusan “SUARA TERBANYAK” salam Demokrasi ala negara liberal, bukan DEMOKRASI NUSANTARA yg dilakukan dg cara “musyawarah mufakat”, suara terbanyak adalah “pintu darurat” bagi gagalnya musyawarh mufakat.

Contoh Dalam kasus diatas , Masyakat terkooptasi dengan “fatsun normatif” dengan “bagusnya” gubernur yang bisa belanjakan dananya secepat cepatnya dan sebanyak banyaknya apa bedanya untuk membangun daerahnya gubernur yang pinter membangun daerahnya (dengan perencaan yg bagus dan tidak pelit untuk kepentingan rakyat).

Kita terjebak dalam “panggung formalistis/aristokrat” sebagai ciri Budaya Nusantara. Peluang “berfikir” kontekstual dan “out of the box” sangat kecil, walaupun hal tersebut merukan fakta “kebenaran”.

Dalam diskusi dengan banyak tokoh budaya nasional, saya pernah bertanya, mungkinkah budaya “panggung” tersebut diganti dengan budaya sebaliknya.

Jawabnya rata-rata, “tidak bisa” karena sudah “terbentuk oleh alam” dan saya setuju, terbukti dapat memastikan “keagungan” budaya Nusantara, contohnya Pancasila (Oleh bung Karno sebagai kristalisasi butiran kearifan masyarakat Desa, sebagai refrentasi “indigionus people” Indonesia, yang menjadi cara pandang NKRI).

Tetapi menurut saya masih ada yang diupayakan adalah, melakukan perubahan “Mekanisme dan tata cara pementasan”Sesuai dengan tuntutan “penonton”/rakyat”. contoh; Jokowi menjadi Presiden Dengan penguatan tema “Jokowi adalah Kita”. Cara fikir masyarakt di “cerdaskan” .

Tantangan budaya ini harus kita jawab bersama .

Hanibal Hamidi

 

Menengok kasus Stunting di Maluku dalam kacamata konsultan Generasi Sehat dan Cerdas

Indonesia menduduki peringkat kelima dunia untuk jumlah anak dengan kondisi stunting. Lebih dari sepertiga anak berusia di bawah lima tahun di Indonesia tingginya berada di bawah rata-rata. Pada umumnya kekurangan gizi kronis ini biasanya berhubungan dengan tingkat ekonomi masyarakat yang rendah.

Di Provinsi Maluku, Meskipun terjadi penurunan prevalensi balita stunting dari  32,3 (2015) menjadi 29,0 (2016), namun masih terdapat 4 KAB/KOTA yang mengalami Peningkatan Prevalensi Balita Stunting yakni kabupaten Maluku Tengah 21,1 (2015) mengalami peningkatan 23,2 (2016), Kota Ambon 30,0 (2015) mengalami peningkatan 32,6 (2016), Kabupaten Maluku Barat Daya 28.9 (2015) berubah 35,7 (2016) dan Kepulaun Aru 36,7 (2017) mengalami peningkatan 40,2 (2016).

Menurut Koordinator Konsultan GSC Maluku, Dwijo Darmono, Bahwa pelaksanaan Rakor POKJA AMPL itu sebagai bentuk komitmen sekaligus dukungan Pemerintah Provinsi untuk persiapan penyusunan Rencana Aksi Daerah Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (RAD AMPL) di Kabupaten, kegiatan itu juga merupakan penerjemahan dari RPJMN 2005-2025 yang fokusnya pada tahun 2019 untuk penyehatan lingkungan, menyediakan air minum yang aman dan sanitasi yang  layak bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Untuk selengkapnya dapat di baca pada Link berikut

 

TERBUNUHNYA KEBENARAN

Tentara musuh memasuki sebuah desa. Mereka menodai kehormatan seluruh wanita di desa itu, kecuali seorang wanita yang selamat dari penodaan. Ia melawan, membunuh dan kemudian memenggal kepala tentara yang akan menodainya.

Ketika seluruh tentara sudah pergi meninggalkan desa itu, para wanita malang semuanya keluar dengan busana compang-camping, meraung, menangis dan meratap, kecuali satu orang wanita tadi. Ia keluar dari rumahnya dengan busana rapat dan bersimbah darah sambil menenteng kepala tentara itu dengan tangan kirinya. Para wanita bertanya: “Bagaimana engkau bisa melakukan hal itu dan selamat dari bencana ini?”

Ia menjawab: “Bagiku hanya ada satu jalan keluar. Berjuang membela diri atau mati dalam menjaga kehormatan.”

Para wanita mengaguminya, namun kemudian rasa was-was merambat dalam benak mereka, bagaimana nanti jika para suami menyalahkan mereka gara-gara tahu ada contoh wanita pemberani ini. Mereka kawatir sang suami akan bertanya ” Mengapa kalian tidak membela diri seperti wanita itu, bukankah lebih baik mati dari pada ternoda ?”

Kekaguman pun berubah menjadi ketakutan yang memuncak. Bawah sadar ketakutan para wanita itu seperti mendapat komando….mereka beramai ramai menyerang wanita pemberani itu dan akhirnya membunuhnya. Ya…membunuh kebenaran agar mereka dapat bertahan hidup dalam aib, dalam kelemahan, dalam fatamorgana bersama.

Beginilah keadaan kita saat ini, orang-orang yang terlanjur rusak…..mereka mencela, mengucilkan,menyerang dan bahkan membunuh eksistensi orang-orang yang masih konsisten menegakkan kebenaran, agar kehidupan mereka tetap terlihat berjalan baik walau sesungguhnya penuh aib, dosa, kepalsuan, pengkhianatan, ketidak berdayaan, dan menuju pada kehancuran yang nyata.

Sebelum terlambat, pastikan berani berpihak kepada KEBENARAN…!!!

penetapan prioritas dana desa tahun 2018

Alhamdulillah semua kebutuhan Kesehatan termasuk bagi permaslahan “stunting” (air bersih, sanitasi dan Gizi) dan Pendidikan (PAUD dan Taman Bacaan) serta Lingkungan pemukiman (sampah dll) yang kita perjuangkan bersama telah terakomodasi dalam “Prioritas Penggunaan Dana Desa Tahun 2018”. Semoga kearifan warga Desa melalui Musyawarah Desa memiliki cara pandang dan keinginan yang sama sehingga menjadikan kegiatan tersebut termasuk dalam RKP dan APB Desa. Amin.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Peraturan Menteri Desa PDTT No 19 Tahun 2017 tentang penetapan prioritas dana desa tahun 2018 yang dapat di download pada  ⁠⁠⁠⁠Link berikut

Hanibal Hamidi

Rapat Integrasi Rumah Desa Sehat dan Puskesmas

Mendampingi Paparan dr. Mukti Eka Rahadian, Mars, MPH, Kabid Analisis Lingkungan Strategis Kemenkes, dalam gagasan perubahan Di BBPK Kemenkes, Implementasi Permemdesa PDTT Tentang Dana Desa Bidang Kesehatan, sebagai landasan instrumen Integrasi Rumah Desa Sehat dan Puskesmas, berasama Ibu Trisa (Kepwla Pusat Determinan Faktor Kesehatan) dan Bpk Zainal (Promotor), di Cilandak pada jumat 6 Oktober 2017.

Hanibal Hamidi, Diskusi Bersama 6 Kepala Kampung, 1 Camat (Distrik), Ketua Pemuda Indonesia Hebat (Rugby), Ketua Forum Perintis Kemerdekaan Trikora (Stevanus Watifo), Wkl. Ketua DPRD Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua dan Pengurus LSM Papua di Sekeretariat merDesa Institute; Tentang Penyimpangan Implementasi UU Desa di Kabupaten Yahukimo. Jakarta 4 Oktober 2017.

Deklarasi Hak Asasi Petani dan Masyarakat Yang Bekerja di Pedesaan disetujui Dewan HAM PBB

Dewan HAM PBB menutup sesi ke-36 di Jenewa, Swiss dengan merilis resolusi bernomor (A/HRC/36/58) tentang “kelompok kerja terbuka antar pemerintah mengenai draf deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai hak-hak petani dan masyarakat yang bekerja di daerah pedesaan

Dalam momen tersebut, Henry Saragih berpidato mewakili Serikat Petani Indonesia (SPI) dan La Via Campesina (Gerakan Petani Internasional). Ia menyampaikan SPI, La Via Campesina, serta gerakan masyarakat sipil dunia lainnya telah berjuang bertahun-tahun menginisiatifi agar tercipta sebuah deklarasi dari PBB yang mengakui hak asasi petani.deklarasi PBB atas hak asasi petani dan masyarakat yang bekerja di pedesaan akan menjadi sebuah pencapaian yang luar biasa, bukan hanya demi petani kecil, namun juga demi dunia yang lebih baik untuk generasi kita mendatang.

Untuk selengkapnya dapat di baca pada laman Web SPI berikut

MATEMATIKA ITU RUMIT TAPI AJAIB

Penyebutan : Angka 1 sampai 9 dgn huruf bahasa Indonesia (satu s/d sembilan) mengandung decak kagum.

Jika kita menjumlahkan dua angka yg huruf awalnya sama, maka hasilnya selalu 10.

Angka Berawalan S —►
Satu + Sembilan = 10
Angka yg hurufnya Berawalan D —►
Dua + Delapan = 10
Berawalan T —►
Tiga + Tujuh = 10
Berawalan E —►
Empat + Enam = 10
Bahkan —► Lima + Lima = 10

Hari ini adalah Hari Matematika Nasional

Lihatlah yang menakjubkan dalam Matematika berikut ini !

1 x 8 + 1 = 9
12 x 8 + 2 = 98
123 x 8 + 3 = 987
1234 x 8 + 4 = 9876
12345 x 8 + 5 = 98765
123456 x 8 + 6 = 987654
1234567 x 8 + 7 = 9876543
12345678 x 8 + 8 = 98765432
123456789 x 8 + 9 = 987654321

1 x 9 + 2 = 11
12 x 9 + 3 = 111
123 x 9 + 4 = 1111
1234 x 9 + 5 = 11111
12345 x 9 + 6 = 111111
123456 x 9 + 7 = 1111111
1234567 x 9 + 8 = 11111111
12345678 x 9 + 9 = 111111111
123456789 x 9 +10= 1111111111

9 x 9 + 7 = 88
98 x 9 + 6 = 888
987 x 9 + 5 = 8888
9876 x 9 + 4 = 88888
98765 x 9 + 3 = 888888
987654 x 9 + 2 = 8888888
9876543 x 9 + 1 = 88888888
98765432 x 9 + 0 = 888888888

Brilian sekali ya?
Dan lihat simetrinya yang berikut ini :
1 x 1 = 1
11 x 11 = 121
111 x 111 = 12321
1111 x 1111 = 1234321
11111 x 11111 = 123454321
111111 x 111111 = 12345654321
1111111 x 1111111 = 1234567654321
11111111 x 11111111 = 123456787654321
111111111 x 111111111 = 12345678987654321

 

Entah siapa yg membuat rumus seperti ini, tapi ini emang keren banget

MATEMATIK VERSI BARU…

Jika:
A = 1
B = 2
C = 3
D = 4
E = 5
F = 6
G = 7
H = 8
I = 9
J = 10
K = 11
L = 12
M = 13
N = 14
O = 15
P = 16
Q = 17
R = 18
S = 19
T = 20
U = 21
V = 22
W = 23
X = 24
Y = 25
Z = 26

apakah yg membuat kesuksesan/ keberhasilan hidup menjadi 100% ?

H+A+R+D+W+O+R+K (Kerja Keras) : 8+1+18+4+23+15+18+11 = 98%

K+N+O+W+L+E+D+G+E (Pengetahuan) :
11+14+15+23+12+5+4+7+5 = 96%

L+O+V+E (Cinta) :
12+15+22+5 = 54%

L+U+C+K (Nasib) :
12+21+3+11 = 47%

Tidak ada yang jadi 100%.
Apa yang membuatnya jadi 100% ?

Adakah money ?

M+O+N+E+Y =
13+15+14+5+25 = 72% NO..!!!

Leadership..?
L+E+A+D+E+R+S+H+I+P =
12+5+1+4+5+18+19+8+9+16 = 97% NO…!!!

Ternyata apa yang membuat menjadi 100% adalah :

Coba lihat yang ini

S+E+D+E+K+A+H+J+A+R+I+A+H 19+5+4+5+11+1+8+10+1+18+9+1+8 = 100%

( nilai saham akhirat )

KEBETULAN atau TIDAK…? tapi itulah MATEMATIKA

Satu fakta angka angka yg menarik untuk kita fikirkan :

Adakah kita sadari ?

Aceh
Tsunami
26-12-2004

Bohemia
Gempa
26-11-1902

Jogja
Gempa
26-05-2006

Tasik – Jawa Barat
Gempa
26-06-2010

Gunung Merapi
Meletus
26-10-2010

Jambatan Tenggarong
Samarinda, Indonesia
Runtuh
26-09-2013

Tahun lalu pada tgl 26 Oktober Taufan Haiynan diutus Allah SWT, untuk menunjukkan kekuasaan Nya kepada seluruh rakyat Filipina yg telah merobohkan “Rumah Nya” di Manila untuk digantikan dgn shopping mall…

Mengapa semua ini
Terjadi pada Tanggal 26

Apakah ini suatu kebetulan?

Bukalah dan bacalah
Al-Quran Juz ke: 26

Allah SWT telah berfirman.

Bunyinya :

“Sedikit waktu lagi Aku akan menggoncang kan langit dan bumi, laut dan darat”.

Biar mereka semua tahu bahwa Mu’jizat Allah itu ada !!!

 

Ternyata Cuma 1.5 jam⌚ saja Umur Kita hidup di DUNIA 🌎 ini.

🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱

Mari kita lihat berdasarkan Al-Qur’an sebagai sumber kebenaran yang hakiki
🔎 1 hari akhirat = 1000 tahun dunia
🔎 24 jam akhirat = 1000 tahun dunia
🔎 3 jam akhirat = 125 tahun dunia
🔎 1.5 jam akhirat = 62.5 tahun dunia

Apabila umur manusia itu rata-rata 60-70 tahun, maka hidup manusia ini jika dilihat dari langit hanyalah 1.5 jam saja.

Pantaslah kita selalu diingatkan tentang masalah waktu.

Allah berfirman : “Kamu tidak tinggal (di dunia) melainkan sedikit masa saja, kalau kamu dahulu mengetahui hal ini (tentulah kamu bersiap sedia)”

Semoga bermanfaat bagi kita semua untuk meniti perjalan hidup kita ini.

Kuatkan berfikir untuk akhirat.
Karena dunia ini akan kita tinggalkan.

Fokus akhirat
Itulah tempat kita akan hidup seterusnya.

Ingatlah ini :
untuk diri saya sendiri.
Mayat orang Islam yang tidak sembahyang pada 1000 tahun dulu masih disiksa hingga kini.

Allahuakbar! 1 waktu kita tinggalkan sholat sama dengan 8000 tahun siksaan neraka. Jika kita sehari 5 waktu x sholat?

5 x 8000 = 40.000
tahun.

Subhanallah…

La illaha illa Allah,Muhammadu Rasulullah

LAPORAN SURVEY KENAIKAN ELEKTORAL DAN KEPUASAN PUBLIK SELAMA 3 TAHUN PRESIDEN JOKOWI

Lembaga survey Center for Strategic and International Studies (CSIS)pada tanggal 9 september 2017 menerbitkan Laporan survey yang berjudul ‘tiga tahun jokowi : Kenaikan Elektoral & Kepuasan Publik’ yang berisikan kepuasan publik di beberapa bidang utama, tingkat optimism terhadap kemampuan dan kebijakan pemerintah serta peluang partai-partai dalam pemilu 2019 dan kinerja DPR. Untuk selengkapnya dapat di baca pada link berikut laporan survey nasional

Taufik ‘Gembul’ Azmar Menikah juga!

Taufik Azmar atau yang akrab kami sapa “gembul” akhirnya menikah kemarin pada tanggal 10 September 2017 dengan Nurul Handani di Masjid Al-Azhar Summarecon Bekasi  minggu Pagi itu. Gembul telah bersama kami sejak 5 tahun yang lalu, dia bukan lagi staf biasa tapi seperti keluarga bagi kami terutama Saya , kemana Saya pergi dia selalu ikut baik acara dalam kota ataupun luar kota, baik acara internal maupun eksternal Institusi , bukan hanya sebagai fotograper untuk mendokumentasikan kegiatan-kegiatan yang saya hadiri tetapi  ia juga membantu semua kebutuhan-kebutuhan pribadi saya, sakit, susah, senang  dia selalu ada di samping Saya. Sekarang dia menikah dan Saya di tunjuk  sebagai saksi pernikahannya. Saya menyempatkan diri untuk hadir dan menjadi saksi pernikahanya. Saya mendoakan semoga  gembul dapat mempimpin keluarganya dengan baik, membangun keluarganya menjadi sakinah mawaddah warrahmah.

– HANIBAL HAMIDI

 

Indonesia menjadi Negara dengan kekuatan ekonomi terkuat ke-5 di dunia pada 2030

Kabar mengejutkan dari  laporan PricewaterhouseCoopers yang di kutip dari businessinsider singapore yang mengatakan bahwa Indonesia pada 2030  di prediksi akan menjadi negara peringkat ke-5 purchasing power parity (PPP) yang mengalahkan negara-negara besar seperti Rusia, Inggris , Prancis dan negara negara maju lainnya yang berarti Indonesia masuk sebagai 5 besar kekuatan ekonomi dunia pada tahun 2030 mendatang. Inilah daftar negara-negara 10 besar dunia berdasarkan purchasing power parity (PPP) oleh PricewaterhouseCoopers :

1. China $ 38.008 Triliun

2. USA $ 23.275 Triliun

3. India $ 19.512 Triliun

4. Japan $ 5.606 Triliun

5. Indonesia $ 5.424 Triliun

6. Rusia $ 4.736 Triliu

7. Jerman  $ 4,707 triliun

8. Brasil  $ 4,439 triliun

9. Meksiko  $ 3,661 triliun

10. Inggris  $ 3.638 triliun

untuk selengkapnya dapat di baca di website businessinsider Singapore pada link berikut

 

Indeks Desa Membangun penentu tunjangan khusus guru

Gelaran Rekonsiliasi Data dan Anggaran Tunjangan Profesi Guru PNSD, dan Tunjangan Khusus Guru PNSD dan Tambahan Penghasilan Guru PNSD melalui DAK non fisik  yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada hari Senin 28 Agustus 2017 di hotel Golden Boutique Angkasa Jakarta yang di hadiri oleh perwakilan guru-guru dari kabupaten-kabupaten dan perwakilan Dinas Pendidikan Kabupaten terkait , PLT Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan Bapak Hamid Muhammad dalam sambutannya mempertegas mengenai tunjangan khusus yang berhubungan erat dengan penghitungan Indeks Desa Membangun.

Pada acara tersebut juga , Direktur Pelayanan Sosial Dasar Dirjen PPMD Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Bapak Hanibal Hamidi di minta memberikan paparan tentang indeks desa membangun dalam hal penentuan kriteria tunjangan khusus.”Guru-guru yang dulu mendapat tunjangan sebelumnya, pada tahun 2017 tidak lagi mendapatkan karena desa terkait tidak lagi termasuk desa sangat tertinggal dilihat dari masalah tersebut KEMEDESA PDTT dan KEMENDIKBUD harus berkoordinasi dengan baik terkait indeks desa membangun, untuk dapat mengupdate data indeks desa membangun desa masing – masing tenaga pendidik,  agar dalam penentuan kebijakan dalam hal tunjangan khusus guru tepat sasaran” ungkap Pak Hanibal dalam paparan beliau.

Kunjungan Kepala BAKAMLA RI ke KEMENTERIAN DESA PDTT

Setelah sukses melakukan serangkaian kegiatan dalam rangka memeriahkan HUT Ke-72 RI, Kepala Bakamla RI Laksamana Madya TNI Ari Soedewo, S.E., M.H. kembali melakukan pertemuan dengan Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia (Mendesa PDTT RI) Eko Putro Sandjojo di Ruang Kerja Mendesa PDTT RI, Kemendesa PDTT RI, Jl. TMP Kalibata No. 17, Jakarta Selatan pada hari Senin tanggal 28 agustus 2017 yang di fasilitasi oleh Direktur Pelayanan Sosial Dasar Bapak Dr.Hanibal Hamidi,M.Kes.

Pertemuan yang berlangsung dengan suasana keakraban ini dimaksudkan untuk membahas lebih lanjut peluang kerja sama antara Kemendesa PDTT RI dengan Bakamla RI. Terlebih dalam halnya mendukung program Nawa Cita Presiden Joko Widodo, sudah sepatutnya Bakamla RI bersama kementerian dan lembaga lainnya, khususnya dalam hal ini Kemendesa PDTT RI, saling bergandengan tangan agar target capaian dapat segera diraih.

Acara diwarnai dengan penandatanganan bersama cindera mata berupa dokumentasi foto Jabat Komando saat Mendesa PDDT RI diangkat sebagai warga kehormatan Bakamla RI oleh Kepala Bakamla RI dalam suatu upacara yang berlangsung di dermaga Tunontaka, Nunukan, Kalimantan Utara pada tanggal 16 agustus 2017 yang lalu.Pertemuan diakhiri dengan kesepakatan kedua belah pihak untuk fokus pada beberapa kegiatan yang akan datang.

Menjawab permasalahan stunting melalui Desa Daulat Sehat dan Sejuta Jamban Keluarga

stunting.pngIndonesia dihadapkan pada masalah stunting yang prevalensinya tidak menunjukkan perubahan signifikan. Prevalensi stunting pada balita menunjukkan angka 36,8% menurut Riskesdas 2007, yang kemudian turun ke angka 35,6% menurut Riskesdas 2010, dan kembali naik ke angka 37,2% menurut Riskesdas 2013. Continue reading “Menjawab permasalahan stunting melalui Desa Daulat Sehat dan Sejuta Jamban Keluarga”

Konsolidasi Percepatan PPMD bidang Kesehatan dan Pendidikan Desa Terutama Tata Kelola Issue Stunting

Konsolidasi Percepatan PPMD bidang Kesehatan dan Pendidikan Desa Terutama Tata Kelola Issue Stunting pada kegiatan Rapat Koordinasi Nasional Generasi Sehat dan Cerdas yang dilaksanakan di Hotel Falatehan sejak tanggal 25 Agustus hingga 30 Agustus 2017 , yang dimana pada hari minggupun Bapak Hanibal Hamidi melakukan konsolidasi  demi tercapainya tata kelola yang baik akan issue stunting tersebut.

 

100 Desa Adat , Komitmen Bersama KEMENDESA PDTT , KEMENDAGRI , KSP dan Beberapa NGO

Focus Group Discussion Pembentukan Desa Adat antara Kementerian Desa PDTT yang diwakili oleh Direktur Pelayanan Sosial Dasar Dirjen Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Bapak Dr.Hanibal Hamidi,M.Kes , Kementerian Dalam Negeri yang di wakili oleh Ditjen Bina Pemerintahan Desa Bapak Nata Irawan, SH, MSi serta Direktur Penataan dan Administrasi Pemerintahan Desa Bapak Drs. Aferi Syamsidar, M.Si dan Perwakilan Dari Kantor Staf Presiden Bapak  Noer rachman fauzi dan Praktisi Yando Zakaria serta Organisasi-organisasi MerDesa Institute, AMAN, EFISTEMA, dan HUMA.

Forum Group Discussion tersebut telah dilaksanakan sebanyak dua kali pertemuan yang berlangsung di ruang rapat Dirjen Bina Pemerintahan Desa KEMENDAGRI Pada Tanggal 4 dan 24 Agustus 2017 atas undangan KEMENDESA PDTT.

Hasil FGD tersebut mengukuhkan target terbentuknya 100 Desa Adat yang tersebar di lebih 10 Provinsi dan dalam waktu dekat akan di adakan Rapat Teknis yang mengundang pihak Pemerintah Provinsi dan Kabupaten untuk mensukseskan target 100 Desa Adat Tersebut serta memfasilitasi Pemerintah Provinsi dan Kabupaten dalam menyusun Perda Tata Kelola Desa Adat di bawah koordinasi Bapak Andik Hardiayanto (MerDesa Insitute).

Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Gizi Berbasis Masyarakat Untuk Mengurangi “Stunting”

Direktur PSD-Kementerian Desa PDTT, “Hanibal Hamidi” bersama Asdep Pelayanan Kesehatan Kemenko Bidang PMK, “Andi”, Direktur Kesehatan-Gizi Masyarakat Bappenas, “Pungkas ” dan Direktur Desa dan Perdesaan, Kemenko PMK, Herbert, pada Rakornas-4 GSC T.A. 2017 (Pkl. 19.00, Hari Jumat, 25/08/2017 dg Materi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Gizi Berbasis Masyarakat Untuk Mengurangi “Stunting”.

Arthur Share : bagaimana bisa saya menanyakan kepada Tuhan, Kenapa (harus) saya?

Arthur Ashe, pemain Wimbledon legendaris sekarat karena AIDS yang berasal dari darah yang terinfeksi ketika operasi jantung pada 1983.

Dia menerima surat dari para penggemarnya, salah satu dari mereka ada yang menyampaikan:

“Mengapa Tuhan memilih Anda untuk mendapatkan penyakit yang buruk seperti ini???”

Terhadapnya, Arthur Ashe menjawab:

Lima puluh juta anak mulai bermain tenis,
Lima juta dari mereka belajar serius bagaimana bermain tenis,
Lima ratus ribu belajar tenis secara profesional,
Lima puluh ribu bertanding dalam turnamen,
Lima ribu mencapai Grand Slam,
Lima puluh mencapai Wimbledon,
Empat mencapai semifinal, tapi hanya
Dua mencapai final.
Dan ketika saya menggenggam pialanya, saya tak pernah bertanya pada Tuhan, “Kenapa (harus) saya?”

Jadi ketika sekarang saya sakit, bagaimana bisa saya menanyakan kepada Tuhan, “Kenapa (harus) saya?”

Kebahagiaan membuatmu tetap manis.
Cobaan membuatmu kuat.
Kesedihan membuatmu tetap menjadi manusia.
Kegagalan membuatmu tetap rendah hati.
Kesuksesan membuatmu tetap berpijar.
Namun, hanya IMAN yang membuatmu tetap melangkah.

Kadang engkau merasa tidak puas terhadap kehidupanmu sementara banyak orang di dunia ini memimpikan bisa hidup sepertimu.

Anak kecil di ladang memandang pesawat terbang di atasnya, dan memimpikan bisa terbang, tetapi sang pilot di pesawat itu memandang ladang di bawahnya dan memimpikan bisa pulang ke rumah dan bermain-main di tengah-tengah gandum yang menguning!

Begitulah hidup.
Jalani hidupmu dengan benar …..

Jika kekayaan adalah rahasia kebahagiaan, tentu orang-orang kaya akan menari-nari di jalanan.
Tapi? Hanya anak-anak miskinlah yang melakukannya 👍!

Jika kekuatan memang menjamin keamanan, tentu orang-orang penting akan berjalan tanpa pengawalan.
Tapi? Hanya mereka yang hidup sederhana yang bisa tidur nyenyak.

Jika kecantikan dan kepopuleran memang membawa kita pada hubungan yang ideal, tentu para selebriti pasti punya perkawinan yang terbaik, nyatanya banyak dari mereka kawin cerai berulang-ulang.

Hiduplah sederhana.
Berjalanlah dengan rendah hati.
Jangan lupakan kasih dan karunia-Nya.
Dan belajarlah mengasihi sesamamu dengan sungguh-sungguh!

Selamat pagi dan selamat berkarya

Berkat Intervensi GSC, Tania Rahkbauw Bisa Kembali Belajar Dengan Baik

Tania Rahakbauw, siswa SMP 1 ATAP Yamtel- Waurtahait berusia 14 Tahun yang menderita rabun senja.Kondisi ini telah berlangsung kurang lebih 2 tahun, sejak Tania berada di kelas VI Sekolah Dasar. Tentunya sangat menghambat dirinya untuk belajar pada saat malam hari, seperti yang dilakukan oleh teman-temannya.
Berkat intervensi Program Generasi Sehat dan Cerdas Kecamatan Kei Besar Kabupaten Maluku Tenggara yang ikut membantu sasaran Non User agar tidak terputus masa depannya. Membantu anak usia sekolah agar terus bersekolah, menjadi harapan semua pihak, terutama keluarga untuk terus memotivasi, memantau dan menjaga kesehatan anak-anaknya serta mendorong agar tetap sekolah.Akhirnya Tania kembali ceria dan dapat melihat dengan normal berkat bantuan pengobatan dan kacamata dari Generasi Sehat Cerdas.untuk lebih lengkapnya dapat di baca pada LINK BERIKUT

PROFIL DESA KARANG BUNGUR, SUMEDANG, JAWA BARAT

Berawal pada masa pemerintahan Sumedang dipimpin oleh Pangeran Aria Soeriatmaja atau dikenal dengan nama Pangeran Mekah, Beliau adalah seorang pemimpin yang arif dan bijaksana, yang sangat memperhatikan kesejahteraan rakyatnya terutama sektor pertanian. Itu dibuktikan dengan memerintahkan seorang abdi dalem untuk memimpin masyarakat dalam hal bertani ke Wilayah Sumedang bagian utara, untuk lebih jelasnya silahkan di download pada link berikut ini Unduh Profil Desa Karang Bungur

A. DWIJO DARMONO S.B.S., PRIA ASAL GARUT YANG MENDAPAT GELAR ADAT DI MALUKU

3Z1A2762

” Kehadiran Pak Dwi di Maluku membawa perubahan, membuka cara berfikir kami yang selama ini tidak kami pikirkan, menambah semangat untuk berkreasi”, Ungkap Marlen salah satu fasilitator GSC yang mendeskripsikan Dwijo  Darmono atau yang akrab di sapa Pak Dwi. Selama kurung waktu 5 tahun, sejak program GSC masuk di Provinsi Maluku (2012-2017), baru kali ini ada konsultan GSC yang mendapat Penghargaan Anak Adat dari masyarakat. Bukan sekedar simbolis atau penghargaan biasa, melainkan mendapat kepercayaan untuk mengabdi pada masyarakat.untuk selengkapnya dapat di baca pada link berikut http://www.kompasiana.com/rusda/dwijo-pria-asal-garut-mendapat-gelar-adat_597de99f7885f64d582d07a2

PENOBATAN CHAMPIONS ICON GSC 2017 OLEH DIREKTUR PELAYANAN SOSIAL DASAR

Penghargaan yang diberikan kepada Kepala Desa Sunsang III sebagai bentuk apresiasi pemerintah dalam hal ini melalui Direktorat Pelayanan Sosial Dasar Dirjen PPMD Kementrian Desa PDTT atas kepedulian beliau dalam mendukung Implementasi UU no.6 tahun 2014 dalam hal pencapaian hak dasar masyarakat dalam dalam Pelayanan Sosial Dasar di desa terutama bidang pendidikan dan kesehatan. Desa Sunsang III telah kepala desa sunsang IIImembuat Perdes tentang Integrasi program dalam mendukung Pelayanan Sosial Dasar di Desa, KIA dan memprioritaskan di RKPDes dan APBDes Pengalokasian Dana Desa nya untuk kegiatan pendidikan (PAUD) dan kesehatan.

Dan telah disebar luaskan melalui portal resmi Pemerintahan Sumatera Selatan pada link http://www.sumselprov.go.id/index.php?module=newsdetail&id=3050

Menyemai Nilai Pancasila di Momen Lebaran ala Yudi Latif

“Bung Karno”, menyatakan Bahwa Panca Sila Bukanlah Diciptakan Olehnya, tetapi dikonsolidasikan dari Budaya Sosial yang telah lama ada di Desa.

5 (lima) Sila dari Panca Sila merupakan Muara Dari Nilai Nilai Sosial Budaya yang dalam interaksi sosial warga setiap Desa yang “merepresentasikan Nilai Budaya Nusantara Yang Agung Yang Tertanam Dalam “Entitas Sosial” setiap warga DESA.

Mengingat saat ini, bersamaan Dengan momentum pelaksanaan UU No 6 Tahun 2015 Tentang Desa, Dimana Pemerintahan Otonomi Desa (yang tidak terpisah dengan warganya sendiri), yang berperan Sebagai Subyek Pembangunan Desanya sendiri Dalam melaksnakan kewenangan 1) lokal skala Desa dan 2) Berdasrkan Asal Usul yang telah ada sebelum NKRI di deklarasikan pada 17 Agustus 1945. Pelaksanaan amanah dan mandat UU Desa pada Negara Untuk mengakui kedaulatan Desa pada Dua kewenangannya (Otonomi Yang Diakui) dengan menekankan pada azas Subsidieritas, Rekognisi dan Paradigma “Desentralisasi Asymetris”.

Menyadari peran strategis Pemerintahan Otonomi Desa Sebagai “Subyek Pembangunan Desa” dalam mewujudkan Desa-Desa mandiri yang “kokoh” sebagai Pondasi Struktur NKRI”, sekaligus Sebagai “Inti” Bangsa Nusantara yang Agung dan produktif dalam Bingkai Satu kesatuan Negara Bangsa RI.

#Desa #SDGs #Kemiskinan #Kesenjangan

Waw
https://youtu.be/E2fdnkx_-KU

Salam Kejuangan Nusantara
Desa Membangun Indonesia

Hanibal H
#HibahDiriTukDesa

Blog di WordPress.com.

Atas ↑