ISUE GIZI BURUK TAMBERAUW PAPUA BARAT PENOMENA GUNUNG ES KUALITAS KESEHATAN

BERITA TERKAIT GIZI BURUK
20130331-165158.jpgDI KABUPATEN TAMBRAUW
PROPINSI PAPUA BARAT
(Berdasarkan info kompilasi media)

VIDEO: Kekurangan Tenaga Medis, 5 Ibu di Papua Meninggal
http://news.liputan6.com/read/549436/video-kekurangan-tenaga-medis-5-ibu-di-papua-meninggal

oleh Nico Pattipawae
Posted: 01/04/2013 05:41
Liputan6.com, Papua : Sedikitnya 9 anak dan 5 ibu hamil meninggal akibat kekurangan gizi di 5 kampung, Distrik Kafou, Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat. Daerah itu memang kesulitan tenaga medis Lima kampung yang warganya mengalami kekurangan gizi, cacingan, serta wabah malaria, adalah Jokjoker, Kosefo, Badei, Sukuwes, dan Krisnos. Kejadian ini baru diketahui setelah pihak gereja membawa seorang ibu dan anak dari Kampung Jokjoker, 2 hari berjalan kaki untuk berobat ke Puskesmas Distrik Sausapor, Kabupaten Tambrauw.Si anak, hingga kini masih dirawat karena menderita komplikasi gizi buruk dengan Malaria Tropika. Kondisi buruk ini diduga akibat tenaga medis yang ditempatkan di kelima kampung tersebut meninggalkan tempat bertugas.Meski hingga kini Pemda setempat telah menyalurkan bantuan berupa makanan cepat saji dan tambahan, obat obatan, serta tenaga medis, menggunakan helikopter, namun pihak Dinas Kesehatan setempat belum menyatakan kejadian tersebut sebagai kejadian luar biasa. (Mut)

Kekurangan Gizi, 9 Anak dan 5 Ibu Hamil Meninggal
Minggu, 31 Maret 2013 | 13:37 WIB
http://www.metrotvnews.com/metronews/video/2013/03/31/6/174435/Kekurangan-Gizi-9-Anak-dan-5-Ibu-Hamil-Meninggal
Metrotvnews.com, Manokwari: Sembilan anak dan lima ibu hamil meninggal dunia di Manokwari, Papua Barat, akibat kekurangan gizi. Hingga Ahad (31/3), masih terdapat 175 warga yang menderita gizi buruk di Distrik Kafou.Kepala Dinas Sosial dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Tambraw, Maklon Mainolo, membenarkan kematian 14 warga tersebut. Ia mengaku layanan kesehatan di Kafou tak optimal sejak tenaga medis meninggalkan wilayah tersebut.Sementara itu, pemerintah setempat menyalurkan bantuan berupa makanan, obat-obatan, asupan tambahan, dan tenaga medis. Meski demikian, dinas kesehatan belum menyatakan kejadian luar biasa atas peristiwa itu

Youtube
http://www.youtube.com/watch?v=2slqu_uyQCk
http://www.youtube.com/watch?v=qmo8eCuMM7A

ANALISIS SITUASI KESEHATAN DI KABUPATEN TAMBRAUW
TERKAIT KEJADIAN GIZI BURUK DI KABUPATEN TAMBRAUW
PROPINSI PAPUA BARAT
(Berdasarkan info kompilasi media dan klarifikasi Bupati Tambrauw
Bpk. Gabriel Asem)

Diskusi dengan Bupati Tamberauw, Gabriel Asem (4/4-2013)
Ruang Kerja Asdep. Urusan Sumber Daya Kesehatan
dr. Hanibal Hamidi M.Kes

Demografi
Kabupaten Tambrauw dibentuk dari sebagian bekas wilayah Kabupaten Sorong dan Kabupaten Manokwari, pada tahun 2008 dengan Pusat pemerintahan berada di Fef. Kabupaten Tambrauw memiliki luas wilayah 5.179,65 km², sebagian besar (lebih dari 80 %) merupakan kawasan konserfasi hutan lindung dengan jumlah penduduk 29.119 jiwa (2007), sehingga kepadatan penduduk hanya 5,6 jiwa/km². Kabupaten Tambrauw meliputi 7 distrik dan 52 kampung, sedangkan 5 distrik lainnya yang terdiri dari 4 distrik Kabupaten Manokwari dan 1 distrik dari Kabupaten Sorong masih bermasalah karena belum ada kepastian hukum untuk bergabung dengan Kabupaten Tambrauw (Penjelasan dari Bupati Tambrauw Gabriel Asem pada Asdep urusan sumber daya kesehatan pada tanggal 4 April 2013 di kantor KPDT). Mayoritas penduduk beragama kristen protestan dan kristen katolik, kemudian Islam. Tempat peribadatan terdiri atas 69 gereja dan 1 masjid.

Berdasarkan informasi dari Bupati Gabriel Asem, Lokasi terjadinya kasus gizi buruk di daerah pegunungan Distrik Kafau, yang memiliki jumlah penduduk kurang lebih sebanyak 1000 penduduk. Rute dari Jakarta-Makasar-Sorong menggunakan pesawat udara, dilanjutkan dengan kendaraan laut atau kendaraan darat yang memerlukan waktu tempuh 2-3 jam menuju Distrik Sausafor sebagai ibu kota sementara kabupataen Tamberauw. Akses dari ibu kota sementara kabupaten Tambrauw, Distrik Sausafor menuju lokasi kasus gizi buruk tersebut hanya bisa dicapai menggunakan helikopter dengan waktu tempuh 30 menit, karena harus melintasi kawasan konservasi hutan lindung. Sarana jalan hanya jalan setapak, yang merlukan waktu tempuh 2-3 hari berjalan kaki dengan mendaki. Distrik Kafau sebagian besar masyarakatnya terdiri dari suku Aban, yang memiliki kebiasaan memilih jenis makanan dengan berbagai macam pantangan. Sumber makanan masyarakat adalah ubi yang cukup tersedia dan melimpahnya ikan air tawar. Selain hal tersebut, terdapat kebiasaan mandi masyarakat yang rendah dan sanitasi yang buruk.

Sumber Daya Kesehatan

Bupati Gabriel Asem menyampaikan bahwa APBD Kabupaten Tamberauw tahun 2013 sebesar RP. 586 milyar. Terdapat 6 PKM (terdiri atas 1 PKM perawatan dan 5 PKM non perawatan) di Kabupaten Tambrauw. Hanya 2 puskesmas ada dokter yang bertugas dan belum tersedia Rumah sakit. Ada 73 Bidan PTT yang tersebar di 7 ditrik. Ketersediaan infrastruktur dasar dan infrastruktur sosial dasar serta infrastuktur pendukung (rumah dinas dan lainnya) yang menyebabkan banyaknya petugas kesehatan tidak betah bertugas. Kegiatan Pelayanan Kesehatan keliling dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Tambrauw di Kampung Wau/Weyaf, Warmandi dan Saubeba. Saat ini sedang dilaksanakan pengiriman tugas belajar 7 siswa di Fakultas Kedokteran Universitas Cendrawasih.

Kasus kematian akibat gizi buruk dengan komplikasi penyakit infeksi lainnya, berdasarkan penjelasan Bupati Gabriel Asem adalah sebanyak 15 orang sejak tahun 2012. Telah dilakukan penanganan 2 kali pada tahun 2013 melalui pengiriman tim kesehatan selama 4 hari setiap kali penaganan. Pada saat ini tidak ada penderita gizi buruk yang dirawat di puskesmas rawat inap ibukota kabupaten. Perawatan penderita dilakukan di puskesmas distrik Kafau yang tidak ada petugas dokter puskesmas.

Berdasarkan informasi terkini yang tersedia; kajian WWF bagi MDGs pada tahun 2012, data pusdatin kemenkes, dan data kmendagri sebagai beriku;

Data Kesehatan di Kabupaten Tambrauw diwakili oleh data di kawasan konservasi laut Abun (kampung Wau, Warmandi dan Saubeba) di Kabupaten Tambrauw, Papua Barat, antara lain :
Mengenai kemiskinan dan kelaparan
Penduduk tidak bisa menjual produk mereka dengan harga yang bersaing, karena biaya transportasi, terutama bensin untuk perahu mahal dan sering tidak tersedia. Harga produk ditentukan oleh pembeli dan bukan oleh masyarakat sendiri, daya tawar mereka sangat lemah karena tidak ada banyak pedagang yang bepergian ke kampung untuk membeli produk mereka. Mereka miskin dalam hal akses informasi dan transportasi serta layanan pemerintah.

Tingkat kematian bayi (AKI)
Tingkat kematian bayi yang cukup tinggi, pada periode 2006-2008 dari 37 proses persalinan 8,1% bayi mengalami kematian pada saat proses persalinan. Menurut masyarakat hal ini disebabkan karena lambatnya penanganan proses persalinan dan kondisi bayi yang kurang sehat ketika masih berada dalam kandungan. Saat ini Dinas Kesehatan KabupatenTambrauw sudah mulai melakukan pelayanan kesehatan keliling, dalam pelayanan kesehatan keliling tersebut meliputi pemeriksaan dan pemberian obat bagi penderita penyakit, imunisasi dan posyandu bagi bayi, balita dan WUS (Wanita Usia Subur), dan pemeriksaan usaha kesehatan sekolah.

Tingkat kematian ibu (AKB)
Dalam kurun waktu tahun 2006 – 2008 ternyata tidak terjadi kematian ibu pada saat melahirkan di ke-3 kampung ini, hal ini sangat menarik bila dilihat bahwa dari 3 kampung target survey, hanya Kampung Warmandi yang tidak memiliki bidan atau perawat, namun hal ini berbanding terbalik dengan kematian bayi yang cukup tinggi.

Berdasarkan data dan informasi yang tersedia, maka dapat disimpulkan sebagai akibat terdapat permasalahan yang mempengaruhi timbulnya kasus di atas di Kabupaten Tambrauw;

Luas wilayah 5.179,65 km², sebagian besar (lebih dari 80 %) merupakan kawasan hutan lindung dan kondisi karakteristik pegunungan yang sulit dengan jumlah penduduk 29.119 jiwa (2007), sehingga kepadatan penduduk hanya 5,6 jiwa/km² dan terisolir.
Infrastruktur dasar dan insfrastrukrur sosial dasar sangat kurang memadai (jarak tempuh antara desa dengan Puskesmas setempat jauh dan tidak ada akses terhadap transportasi sehingga penduduk harus berjalan kaki selama 2-3 hari).
Kebiasaan masyarakat yang kurang baik bagi kesehatan.
Sumber daya kesehatan dasar sangat kurang baik rumah sakit, puskesmas, puskesmas pembantu, poskesdes, dokter puskesmas, bidan desa, petugas Gizi, Sanitarian dan Sarjana Kesehatan Masyarakat.
Kepala Dinas Kesehatan Seorang Analis Medis dan Staf Dinas Kesehatan kurang berkualitas sesuai kebutuhan.
Ketersediaan makanan yang berkualitas kurang akibat distribusi dan ketersediaan bahan makanan serta kebiasaan makan yang kurang baik serta perubahan pola makan dari ubi menjadi beras atau nasi.
Kapasitas lembaga pemerintah daerah yang kurang, dapat dilihat dari pemilihan prioritas kegiatan kesehatan yang kurang tepat dengan anggaran yang relatif cukup (APBD tahun 2012 dan 2013 lebih dari 500 M.

Kesimpulan:
Karakteristik daerah, baik wilayah maupun sosial budaya dan kesejahteraan masyarakat yang sangat tertinggal, menunjukkan fakta tentang besarnya beban kerja bagi pencapaian tujuan pembangunan nasional. Hal ini kurang mendapat respon yang baik dari komitmen dan manjemen pembangunan (perencanaan dan pengendalian pelaksanaan pembangunan), khususnya kesehatan sesuai amanah UU no. 36, tahun 2009 tentang Kesehatan. Sehingga hal ini mengakibatkan kasus gizi buruk, gizi kurang dan penyakit menular antara lain malaria, HIV/AIDS dan keterlambatan penanganan pelayanan kesehatan di Kabupaten Tamberauw secara khusus dan daerah lainnya yang tipikal dengan kondisi lokasi kejadian kasus tersebut yang berujung pada banyaknya kematian.

Pemerintah pusat melalui juru bicara Presiden, Julian Pasha menyatakan “seharusnya tidak perlu terjadi kasus tersebut dimanapun di negara kita ini”
(inilah.com 3 April 2013)

Referensi

Penjelasan Bupati Tamberauw pada saat berkunjung ke Kantor KPDT pada tanggal 4 April 2013, pukul 17.30 di ruang kerja Asisten Deputi Urusan Sumber Daya Kesehatan.

http://www.kemendagri.go.id/pages/profil-daerah/kabupaten/id/92/name/papua-barat/detail/9209/tambrauw
http://www.bankdata.depkes.go.id/puskesmas/public/report/
http://tambrauwkab.blogspot.com/p/sekilas-kab_03.html

WWF Indonesia. 2012. Laporan hasil Survey Kondisi Sosial Ekonomi dengan Pendekatan Tujuan Pembangunan Millenium/MDGs pada Kampung-Kampung di Kawasan Konservasi laut ABUN di Kabupaten Tambrauw Propinsi Papua Barat tahun 2011. BBKSDA Papua Barat.

Solusi Permasalahan Bagi Kasus Gizi Buruk Di Daerah Tertinggal secara umum (Penomena Gunung es) dan khususnya di Tamberauw Papua Barat.

“Janganlah berfikir dengan pola kerja pemadam kebakaran bagi persoalan Kesehatan, karena fatal akibatnya bagi kelangsungan hidup penderita”

Jangka Pendek
Penetapan segera status KLB (Kejadian Luar Biasa) karena sudah memenuhi syarat untuk hal tersebut sehingga segera dilaksanakan langkah langkah sesuai protap KLB Gizi Buruk bagi penderita, keluarga penderita maupun masyarakat disekitarnya antara laian; Pemberian makanan tambahan, perawatan intensif, pendampingan kelurga penderita (termasuk mengangkata pendapatan keluarga bila akibat kemiskinan) dan sistem pelaporan masyarakat.
Melaksanakan penanganan penderita kasus gizi buruk melalui pengiriman tim medis di lokasi kejadian (Tidak tersedianya sarana pengobatan dan perawatan serta dokter di distrik lokasi kejadian).
Melaksanakan bakti sosial bersama pihak terkait dan kemitraan CSR bagi pemenuhan bahan makanan masyarakat setempat di kabupaten terkait selama 3 bulan disertai Penyuluhan, pemantauan dan pelaporan.

Jangka Panjang
Melalui kebijakan percepatan pembangunan kualitas kesehatan berbasis perdesaan (Perdesaan Sehat) melalui Pogram Pembangunan Daerah Teringgal berbasis Perdesaan pada fokus aspek kesehatan, dibutuhkan ketersediaan dan berfungsinya secara berkualitas;
Dokter Puskesmas bagi setiap puskesmas yang ada di Daerah Tertinggal (PTT atau PNS)
Bidan Desa bagi Setiap Desa di daerah tertinggal (PTT dan PNS).
Air Bersih dan Sanitasi bagi setiap keluarga di perdesaan daerah tertinggal.
Gizi yang seimbang terutama bagi Ibu hamil, Ibu menyusui an balita.
Pengadaan tenaga kesehatan lainnya yang cukup penting adalah; Tenaga Gizi, Tenaga Sanitarian, Tenaga Penyuluh Kesehatan dan Sarjana Kesehatan Masyarakat bagi setiap puskesmas.
Pembangunan infrastruktur jalan dan transportasi
Revitalisai Puskesmas, Poskesdes dan Posyandu.
Penyuluhan kesehatan khususnya gizi bagi ibu secara berkala (sebagai pemberdayaan perempuan) hal ini terkait dengan kelompok rentan yaitu ibu hamil, bayi dan balita
Pemanfaatan sumber daya lokal dan tanaman pangan lokal untuk mencukupi gizi penduduk setempat (khususnya kelompok rentan yaitu ibu hamil, bayi dan balita)
Perlu adanya koordinasi dan kerjasama yang baik dengan SKPD terkait
Terkait dengan penyakit menular seperti malaria perlu dilakukan penyehatan lingkungan dan kondisi rumah tinggal serta perubahan perilaku di tingkat rumah tangga (seperti kebersihan lingkungan, perilaku penggunaan kelambu, dan sebagainya)

Langkah-langkah yang telah dan akan dilakukan;
Telah dilaksanakan koordinasi dengan pemerintah daerah, Bupati Gabriel Asem dan pejabat terkait untuk validasi dan clarifikasi tentang seluruh informasi yang terkait hal tersebut.
Koordinasi dengan Kemenkes untuk langkah terkait solusi jangka pendek dan jangka panjang permasalahan tersebut di atas, diagendakan rapat pada tanggal 10 April (sesuai arahan Sesmen).
Kunjungan ke Kabupaten Tambraw dan Propinsi Papua Barat untuk koordinasi solusi jangka pendek dan jangka panjang permasalahan tersebut di atas.
Menyususn rencana kerja bersama pemerintah daerah tentang solusi jangka pendek dan jangka panjang permasalahan tersebut di atas.
Mengkonsolidasikan kegiatan Kementerian dan Lembaga Terkait serta pemerintah daerah (propinsi dan kabupaten) bagi pelaksanaan solusi jangka pendek dan jangka panjang permasalahan tersebut di atas agar tidak terulang kembali.

Asisten Deputi Urusan Sumber Daya Kesehatan

dr. Hanibal Hamidi M.Kes

Komentar ditutup.

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: