Desa yang Tidak Permai Lagi! – perdesaansehat.com

Desa yang Tidak Permai Lagi! 28 Februari 2016 09:26:46 Diperbarui: 28 Februari 2016 11:07:35

image2.jpeg

Desaku yang kucinta, pujaan hatiku. Tempat ayah dan bunda, dan handai taulanku. Tak mudah kulupakan. Tak mudah bercerai. Selalu ku rindukan. Desaku yang permai.

Demikian lirik lagu yang indah karya manis dari L. Manik yang menggambarkan betapa indahnya susasana didesa yang sulit terupakan dan demikian indahnya suasana pedesaan, mengundang siapapun untuk menyukainya. Susasana desa yang harmoni seperti itu yang disebut desa yang permai. Desaku yang permai adalah sebuah suasana yang penuh persaudaraan dan persahabatan yang elok, sehingga setiap insan yang teringat desanya akan rindu kembali kedesanya.

Alam desa yang hijau, air yang bening yang jernih, udara segar, tercipta harmoni kehidupan yang sejati. Malam hari sebelum tidur, terdengar sayup nyanyian sang kodok di persawahan yang hijau dan suara jangkrik, belalang. Pagi hari kita dibangunkan oleh suara ayam jantan berkokok dan udara yang menyegarkan penuh dengan oksigen.

Saat ini, program dana pembangunan satu miliar rupiah per desa mulai dikumandangkan dan mulai mengalir ke pedesaan. Pertanyaan ialah apakah program pembangunan desa tersebut bertujuan untuk mewujudkan sebuah desa yang permai? Atau, sebaliknya, program pembangunan desa yang sedang dikobarkan saat ini justru menghancurkan suasana desa yang permai, bahkan merubah arwah desa menjadi sama dan sebangun seperi arwah kota yang tidak permai lagi.

Sedih sekali kalau desa diubah menjadi kota, dan akhirnya hilanglah desaku yang permai seperti yang dikisahkan dalam syair lagu “Desaku yang Kucinta”. Desa yang tidak permai Kalau memang terpaksa, biarkanlah sistem ekonomi Kapitalis memporak-porandakan kehidupan kota, tetapi jangan sampai terbawa ke pedesaan sehingga tidak ada bedanya lagi antara desa dan kota. Biarlan kota berkembang hanya sekitar kota saja, tetapi janganlah meluas wilayah kota sehingga desa menjadi tidak kelihatan bentuknya lagi, tidak kelihatan sifat-sifat desanya.

Janganlah biarkan suasana desa permai itu menjadi tak nampak lagi. Harmoni pudar, aset penduduk desa berupa tanah, sawah dan kebon jumlahnya makin sedikit karena dieksploitasi habis oleh kapitalisme kota. Hidup orang desa yang sederhana dieksploitsi habis oleh ekonomi uang yang tak kenal apa itu harmoni. Di tempat ayah dan bunda serta handai tolan itu sudah membuat hidup di desa menjadi susah dan rentan. Bercocok tanam sudah nggak mungkin, pindah ke kota tak bisa berbuat banyak dan akhirnya menjadi beban kehidupan kota. Karena suasarna desa yang tidak harmoni lagi, pada gilirannya, rakyatku di desa tidak betah lagi tinggal desa karena alam tidak mampu memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari karena telah dieksploitasi dari kota. Mereka memilih pergi merantau ke negeri orang sekalipun tanpa jaminan berhasil atau tidak, hanya untuk memenuhi kebutuhan perut sekalipun. Undang-undang tentang desa yang telah dibuat DPR, akan sulit berharap banyak akan bisa mengembalikan desaku yang permai. UU desa semangatnya lebih berorientasi pada upaya membangun sistem kelembagaan. Desa sekarang adalah menjadi bantalan politik dan bukan lagi menjadi sumber pencipta kekayaan desa. Harmoni secara sadar dicabik-cabik sampai terjadi fragmentasi kehidupan yang bantalannya adalah politik. Desa telah terkotak-kota karena politik, ada desa biru, desa hijau, desa kuning dan desa merah. Masyarakatnya menjadi dieksploiasi oleh mesin politik si biru, si kuning dansi hijau untuk kekuasaan, bukan membangun kesejahteraan dan kemakmuran. Seyogianya, suasana Indonesia hanya dibedakan kota dan desa, dengan kemajuan yang sama pada ekonomi, dan hanya membedakan lokasi, yaitu, kota adalah daerah yang tingkat kesibukan ekonominya cukup tinggi, dan desa adalah tempat yang teduh untuk di masa tua. Pada masa kerja tinggal di kota, dan ketika masa pensiun akan tinggal di desa yang permai dalam mewujudkan kehidupan yang harmoni. Hal seperti ini tidak lahi terlukis dalam rencana pembangunan desa yang ada saat ini. Yang ada saat ini adalah pembaginan uang yang tidak jelas apa manfaatnya dan apa kegunaannya, dan apa tujuan akhir dari pembangunan desa itu sendiri. Konsep pembangunan pedesaan telah dipersiapkan pemerintah cukup banyak, tapi desa hanya menjadi “obyek”, bungkusnya saja pemberdayaan, tapi faktanya tidak sepenuhnya seperti itu karena pendekatannya adalah pendekatan politik untung rugi, bahkan bisa memunculkan model perbecahan baru sesama mashyarakat desa. Buka menciptakan harmoni, tetapi cenderung melebur harmoni. Muncul pertengkaran, siapa yang menjadi itu dan ini, siapa yang memegang proyek, orientasi adalah proyek. Angus Deaton dan Desa Permai Angus Deaton, penerima hadiah Nobel Dalam Ilmu Ekonomi tahun 2015, agar rakyat desa segera bebas dari perangkap kemiskinan, ada tiga langkah besar, yaitu, (1) perbaiki kualitas pelayanan kesehatan yang terjangkau rakyat miskin, (2) sediakan sarana air bersih, dan (3) memiliki sarana sanitasi yang sehat. Biarkan karaketerik desa hidup melembaga dalam emuwjudkan kehidupan yang harmoni. Dengan tersedianya tiga indikator mendasar ini, maka rakyat miskin akan dapat melepaskan diri dari kemiskinan (great escape). Hasil dari pertumbuhan ekonomi yang biasanya dikelola dalam keuangan negara, diarahkan untuk tiga pelayanan kepada rakyat miskin tersebut. Deaton menegaskan bahwa faktor kualitas institusi (kelembagaan) yang berkaitan dengan penyediaan sarana dan prasarana kesehatan adalah sangat penting bagi pengentasan kemiskinan. Tiga hal penting yang berkaitan dengan sarana dan prasarana kesehatan yang dipandang sangat penting memperhatikan kualitas pelayanannya, yaitu, (1) pengetahuan tentang hidup sehat, sarana dan prasarana kesehatan yang murah (biaya dokter dan obat), dan (2) sarana air bersih yang terjangkau kelompok miskin, dan (3) sarana sanitasi. Melalui program pemerintah dengan biaya yang diperoleh dari dampak pertumbuhan ekonomi, menyediakan tiga sarana dan prasarana kesehatan tersebut dengan tingkat kualitas pelayanan yang baik, dan ternyata faktor inilah yang disebut “the great poverty escape” dari hasil studi Deaton di beberapa negara, baik di negara maju maupun di negara miskin. Untuk kasus Indonesia, hasil studi Dealton sangat relevan, khususnya di daerah pedesaan dalam memperbaiki kualitas tiga sarana dan prasarana kesehatan tersebut yang terjangkau bagi kelompok miskin, yaitu, (1) dokter dan obat yang terjangkau dengan kualitas baik, (2) air bersih yang terjangkau kelompok miskin, dan (3) sanitasi yang bersih. Penutup Dalam mewujudkan desa permai di Indonesia, dianjurkan agar program pembangunan desa fokus pada yang disampaikan Angus Deaton, karena bila hal tersebut telah dilakukan dan tercapai akan mudah bagi rakyat desa untuk melepaskan dirinya sendiri dari kemiskinan, dan pada gilirannya akan berdampak positif terhadap pembangunan lingkungannya, sehingga secara gradual akan terwujud sebuah desa yang permai. Perhatian diharapkan dari pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah sampai pada tingkat desa kalau menghendaki terwjudnya desa pemai di Indonesia yang terlepas dari belengggu kemiskinan. ****** Edison Hulu /yahowu TERVERIFIKASI Dosen tidak tetap pada Pascasarjana, Universitas Pelita Harapan (UPH) untuk matakuliah Derivative and Risk Management. Memiliki kebiasaan menulis tulisan pendek dan singkat dalam bidang ekonomi. Selengkapnya… IKUTI Share 0 0 0

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/yahowu/desa-yang-tidak-permai-lagi_56d25ae6577b6148644b341d

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: