Tata Cara Sholat GERHANA – persesaansehat.com

Semoga ada manfaatnya

ASY SYAMS
Demi Matahari dan sinarnya di pagi hari.

Demi Bulan apabila mengiringi.

Demi siang apabila menampakkan diri.

Demi malam apabila ia menutupi.

Demi langit dan seluruh binaannya. 

Demi Bumi dan semua yg ada di permukannya.

Demi jiwa dan penyempurnaannya.

Allah mengilhamkan sukma kebaikan dan keburukan. 

Beruntunglah siapa yg mensucikannya.

Merugilah siapa yg mengotorinya…..

( Surat Asy Syams 91: 1-10)
FIKIH GERHANA MATAHARI LENGKAP DEGAN CONTOH KHOTBAHNYA SERTA BACAAN MUROQI ALIAS BILAL

Insyaallah tanggal 09 Maret 2016 bertepatan 29 Jumadil Ula 1437 H akan terjadi Gerhana Matahari Total (GMT). GMT ini akan melewati wilayah di Indonesia antara lain Palembang, Bangka, Belitung, Sampit, Palangkaraya, Balikpapan, Palu, Poso, Luwuk, Ternate, dan Halmahera. Sedangkan wilayah Indonesia lainnya akan mengalami Gerhana Matahari Sebagian. 

Gerhana bukan hanya gejala alam biasa bagian daripada tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Allah SWT berfirman :

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya” (QS. Fushshilat 41: 37)

Ayat ini setidaknya mengandung pengertian, pertama, perintah untuk sujud kepada Allah SWT dan larangan sujud kepada matahari dan bulan; kedua, perintah untuk sujud kepada Allah SWT ketika terjadi peristiwa yang berkaitan dengan matahari dan bulan. Pengertian kedua ini lebih jelas karena Nabi SAW melaksanakan shalat ketika ada peristiwa yang berkaitan dengan keduanya.  
Banyak riwayat yang menerangkan tentang Rasulullah Saw melaksanakan shalat saat terjadi gerhana, diantaranya :

عَنِ المُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ، قَالَ: كَسَفَتِ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ مَاتَ إِبْرَاهِيمُ، فَقَالَ النَّاسُ: كَسَفَتِ الشَّمْسُ لِمَوْتِ إِبْرَاهِيمَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ الشَّمْسَ وَالقَمَرَ لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ فَصَلُّوا، وَادْعُوا اللَّهَ

 “Dari al-Mughirah bin Syu’bah, ia berkata: di masa Rasulullah Saw pernah terjadi gerhana matahari ketika hari kematian Ibrahim (putra Nabi). Kemudian orang-orang mengatakan bahwa munculnya gerhana ini karena kematian Ibrahim. Maka Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya gerhana matahari dan bulan tidak terjadi karena kematian atau lahirnya seseorang. Jika kalian melihat gerhana tersebut, maka shalat dan berdo’alah kepada Allah.”. (HR. Al-Bukhari)

Didalam riwayat lain, Rasulullah Saw bersabda: 

إِنَّ الشَّمْسَ وَالقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ، فَادْعُوا اللَّهَ، وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda-tanda kekuasaan Allah SWT, tidak terjadi karena kematian atau kelahiran seserang. Apabila kalian melihat gerhana, maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, shalatlah dan bershadaqahlah”. (HR. Al-Bukhari, Muslim, dan lainnya).

Shalat gerhana dalam bahasa arab sering disebut dengan istilah kusuf (الكسوف) dan khusuf (الخسوف) karena memiliki makna yang sama dan boleh digunakan pada keduanya (matahari dan bulan). Namun fuqaha (ulama ahli fiqh) lebih populer mengkhususkan / memultakkan penggunaan istilah kusuf untuk gerhana matahari dan khusuf untuk gerhana bulan. 

Shalat gerhana matahari disyariatkan pada tahun ke 2 hijriyah, sedangkan shalat gerhana bulan disyariatkan pada tahun ke-5 hijriyah.  

Shalat gerhana matahari dan bulan termasuk jenis shalat yang disyariatkan karena adanya sebab. Oleh karena itu, bila gerhana telah lewat (berlalu) maka tidak perlu diqadla’ dikarenakan “sebab”-nya sudah tidak ada. Hukum shalat gerhana matahari dan bulan adalah sunnah muakkadah (sunnah yang sangat ditekankan) berdasarkan ijma’ ulama.

Disunnahkan mandi sebelum melaksanakan shalat gerhana sebagaimana mandi untuk shalat Jum’at, karena shalat gerhana disyariatkan adanya perkumpulan (orang-orang), disunnahkan berjama’ah dan adanya khutbah. 

Sebelum melaksanakan shalat gerhana, disunnahkan pula adanya nida’ (seruan/panggilan) untuk melaksanakan shalat secara berjama’ah sebagaimana diterangkan didalam hadits, sebagai berikut:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: «لَمَّا كَسَفَتِ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نُودِيَ إِنَّ الصَّلاَةَ جَامِعَةٌ»

“Dari Abdullah bin Umar radliyallahu ‘anhuma: ketika matahari mengalami gerhana di zaman Rasulullah Saw, orang-orang dipanggil shalat dengan lafadh: ash-shalatu jami’ah (mari kumpul shalat berjama’ah)”. (HR. Bukhari).

Shalat gerhana disunnahkan baik laki-laki maupun perempuan, orang yang dalam perjalanan (safar), maupun secara sendirian. Shalat gerhana terdiri dari 2 raka’at sebagaimana shalat sunnah lainnya, namun ada sedikit perbedaan yaitu pada setiap raka’at terdapat 2 kali berdiri, 2 qira’ah (membaca suratul Fatihah dan surah/ayat al-Qur’an), 2 ruku’ dan 2 kali sujud. Artinya dalam satu kali shalat gerhana terdiri dari 2 raka’at, 4 kali berdiri, 4 kali membaca surah al-Fatihah, 4 kali membaca ayat/surah, 4 kali ruku’ dan 4 kali sujud. 

BERIKUT TATACARANYA :

1. Berniat shalat gerhana

Niat letaknya didalam hati, namun ulama ada yang menganjurkan melafadhkan (mengucapkan) niat melalui lisan agar niat dapat mudah tertanam didalam hati. 

أُصَلِّيْ سُنَّةً لِكُسُوْفِ الشَّمْسِ اِمَامًا / مَأْمُوْمًا لِلّهِ تَعَالَى

“Sengaja aku shalat sunnah gerhana matahari sebagai imam/makmum karena Allah SWT” 

Untuk gerhana bulan, bisa diganti dengan “لِخُسُوْفِ الْقَمَرِ”. 
2. Takbiratul Ihram bersamaan dengan niat didalam hati, sebagaimana shalat seperti biasa.  

3. Membaca do’a istiftah dan berta’awudz pada umumnya sebagai bagian daripada sunnah shalat, kemudian membaca surat Al-Fatihah, kemudian membaca ayat/surah yang panjang. Disunnahkan membaca surah Al-Baqarah atau semisalnya (surah-surah yang panjang). Atau sekedarnya saja apabila tidak hafal surah/ayat al-Qur’an.

4. Ruku’ sambil membaca tasbih. Lama ruku’ kira-kira kadarnya 100 ayat surah al-Baqarah. Artinya perbanyak membaca tasbih (diulang-ulang). 

سُبْحَانِ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ

5. Bangkit dari ruku’, berdiri seperti semula, sambil bc سمع الله لمن حمد kemudian membaca suratul Fatihah (lagi), kemudian membaca ayat/surah kira-kira yang panjangnya 200 ayat atau lebih.

6. Ruku’ (lagi) sambil membaca tasbih seperti semula. Lamanya kira-kira kadar membaca 70 ayat. Kemudian bangun dari ruku’ (posisi i’tidal). 

7. Sujud sebagaimana sujud seperti shalat biasanya. Sebagian ulama mengatakan, perlama sujudnya sebagaimana lamanya ruku’. Lalu duduk diantara 2 sujud, dan sujud kembali (sujud kedua). 

8. Kemudian bangkit dari sujud untuk mengerjakan raka’at ke-dua. Raka’at kedua dikerjakan sebagaimana raka’at pertama, yaitu  

– setelah membaca suratul Fatihah, kemudian membaca ayat/surah, kira-kira 150 ayat. .  

– kemudian ruku’. Lamanya kira-kira kadar 70 ayat atau mendekati 100 ayat.

– kemudian berdiri dari ruku’, posisi berdiri seperti semula. Selanjutnya membaca membaca suratul Fatihah (lagi), kemudian baca ayat, kira-kira 100 ayat dari surah al-Baqarah. 

– kemudian ruku’ (lagi), lamanya kira-kira kadarnya membaca 50 ayat, selanjtnya i’tidal. 

9. Kemudian sujud seperti biasa, duduk diantara dua sujud, membaca tasyahhud, shalalat kepada Nabi dalam tasyahhud, dan salam, seperti shalat biasanya. 

Shalat sunnah gerhana matahari disunnahkan sir (lirih/tidak dinyaringkan) dalam bacaannya, sedangkan shalat sunhah gerhana bulan disunnahkan jahar (menampakkan suara/suarnya dinyaringkan).

Shalat gerhana memang termasuk jenis shalat sunnah yang panjang/lama durasinya. Dan raka’at pertama lebih lama daripada raka’at kedua. Didalam hadits disebutkan :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّهُ قَالَ: خَسَفَتِ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالنَّاسُ مَعَهُ، فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلًا نَحْوًا مِنْ سُورَةِ البَقَرَةِ، ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا، ثُمَّ رَفَعَ، فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلًا، وَهُوَ دُونَ القِيَامِ الأَوَّلِ، ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا، وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الأَوَّلِ، ثُمَّ سَجَدَ، ثُمَّ قَامَ، فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلًا، وَهُوَ دُونَ القِيَامِ الأَوَّلِ، ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا، وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الأَوَّلِ، ثُمَّ رَفَعَ، فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلًا، وَهُوَ دُونَ القِيَامِ الأَوَّلِ، ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا، وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الأَوَّلِ، ثُمَّ رَفَعَ، ثُمَّ سَجَدَ، ثُمَّ انْصَرَفَ، وَقَدْ تَجَلَّتِ الشَّمْسُ، فَقَالَ: «إِنَّ الشَّمْسَ وَالقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ»

‬شرح صحيح مسلم ٦/ ٢٠٢:

ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ وَقَالَ فِي الرَّفْعِ مِنَ الرُّكُوعِ الثَّانِي مِثْله

: شرح المحلي، ١/ ٣٦٢:

وَرَوَيَا أَيْضًا عَنْ عَائِشَةَ «أَنَّهُ قَرَأَ فِي الْقِيَامِ الثَّانِي قِرَاءَةً طَوِيلَةً، وَهِيَ أَدْنَى مِنْ الْقِرَاءَةِ الْأُولَى، وَأَنَّهُ قَالَ فِي الرَّفْعِ مِنْ الرُّكُوعَيْنِ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَك الْحَمْدُ :

 حاشية عميرة، ١/ ٣٦٠:

قَوْلُ الْمَتْنِ: (ثُمَّ يَرْفَعُ ثُمَّ يَعْتَدِلُ) فِيهِ مَيْلٌ إلَى أَنَّهُ يُكَبِّرُ فِي الرَّفْعِ الْأَوَّلِ. وَيَقُولُ فِي الثَّانِي: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، وَالْمَسْأَلَةُ ذَاتُ خِلَافٍ، صَرَّحَ بِهَذَا الْمَاوَرْدِيُّ، وَنَقَلَهُ عَنْ النَّصِّ وَكَذَا ذَهَبَ إلَيْهِ ابْنُ كَجٍّ، وَلَكِنْ نَصَّ الْأُمُّ، وَمُخْتَصَرُ الْمُزَنِيّ وَالْبُوَيْطِيِّ عَلَى أَنَّهُ يَقُولُ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فِيهِمَا، وَاعْتَمَدَهُ الشَّارِحُ كَمَا سَيَأْتِي، وَهُوَ كَالصَّرِيحِ فِي عِبَارَةِ الرَّوْضَةِ، وَالرَّافِعِيِّ وَلَكِنْ بَعْضُهُمْ أَوَّلَهَا.

“Dari Ibnu Abbas radhiyallahuanhu, dia berkata bahwa telah terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah Saw.. Maka Rasulullah Saw. melakukan shalat bersama-sama dengan orang banyak. Beliau berdiri cukup lama sekira panjang surah Al-Baqarah, kemudian beliau Saw ruku’ yang cukup lama, kemudian bangun dari ruku’, berdiri cukup lama, namun tidak selama berdirinya yang pertama. Kemudian beliau ruku’ lagi dengan cukup lama namun tidak selama ruku’ yang pertama, kemudian sujud (seperti shalat biasanya), kemudian berdiri lagi, berdiri yang cukup lama namun tidak selama berdiri yang pertama, kemudian ruku’ namun tidak sepanjang (lama) ruku’ yang pertama, kemudian bangun dari ruku’, berdiri cukup lama namun tidak selamanya yang pertama, kemudian ruku’ yang cukup lama namun tidak selama yang pertama, kemudian bangun dari ruku’, lalu sujud (seperti shalat biasanya), kemudian pindah tempat dan sungguh matahari sudah nampak kembali, maka Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya gerhana matahari dan bulan tidak terjadi karena kematian atau lahirnya seseorang. Jika kalian melihat gerhana tersebut, maka berdzikirlah kepada Allah”. (HR. Al-Bukhari)

Tatacara shalat gerhana seperti diatas merupakan tatacara shalat gerhana yang sempurna. Namun sah saja melaksanakan shalat gerhana hanya 2 raka’at dengan 2 kali berdiri, 2 kali membaca surah al-Fatihah, dan 2 kali ruku’ seperti halnya shalat Jum’at, tetapi tata pelaksanaan yang demikian berarti meninggalkan hal yang utama (fadlilah) karena menyelisihi apa yang telah dipraktekkan oleh Nabi Saw. 

Khutbah Shalat Gerhana 

Setelah melaksanakan shalat gerhana, maka disunnahkan melakukan khutbah. Syarat dan rukun khutbah dalam shalat gerhana sama halnya seperti khutbah dalam shalat Jum’at. Materi khutbah dianjurkan berkenanaan dengan taubat kepada Allah SWT dari dosa-dosa, beramal-amal kebaikan (seperti shadaqah, dan lainnya) serta memberikan peringatan kepada masyarakat daripada perilaku lalai dalam menjalankan perintah agama. 

PANDUAN SHOLAT GERHANA MATAHARI (KHUSUF)

Ketika jamaah sudah berkumpul dan gerhana mulai terjadi maka Bilal menyerukan sholat dengan membaca seruan

الصلاة جامعة ..
Lalu imam memulai sholat gerhana dg Tata cara sholat gerhana sebagai berikut..

IMAM

1. Takbirotul ihrom bersama niat solat kusuf lillahi ta’ala

2. Doa iftitah, taawudz

3. Membaca surat al fatihah dan surat lain (sunnahnya baca QS Al-Baqarah atau boleh juga baca surat pendek ) secara SIRRY (tanpa dikeraskan)

4. Ruku’

5. Bangun dari ruku’ bc سمع الله لمن حمد

6. Membaca surat fatihah ke 2 dan surat lain (sunnahnya baca QS Ali Imran atau boleh juga baca surat pendek ) secara SIRRY

7. Ruku’ yg ke 2 

8. bangun dari ruku’ (itidal).

9. Sujud dua kali.

10. Melanjutkan rekaat yang ke dua

 Berdiri utk Membaca surat al-Fatihah dan dan surat lain (sunnahnya baca QS an-Nisa atau boleh juga baca surat pendek ) secara SIRRY

11. Ruku’

12. Bangun dari ruku’

13. Membaca surat fatihah lagi dan surat lain (sunnahnya baca QS Al-Ma’idah atau boleh juga baca surat pendek ) secara SIRRY

14. Ruku’ lagi

15. bangun dari ruku’ (i’tidal).

16. Sujud dua kali.

17. Tasyahhud akhir

18. Salam

Jadi intinya sholaf khusuf maupun kusuf (gerhana bulan) itu sama dg sholat sunnah yg lain tp rukuknya dua kali.
BILAL

Setelah selesai sholat maka Bilal berdiri di depan mimbar menghadap jama’ah kemudian mengucapkan :
يَامَعَاشِرَالْمُسْلِمِيْنَ وَزُمْرَةَالْمُؤْمِنِيْنَ رَحِمَكُمُ اللهِ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : 
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ ، وَكَبِّرُوا ، وَصَلُّوا ، وَتَصَدَّقُوا… حَتَّى يُكْشَفَ مَا بِكُمْ

اَنْصِتُوْا وَاسْمَعُوْا وَاَطِيْعُوْا رَحِمَكُمُ اللهُ, اَنْصِتُوْا وَاسْمَعُوْا وَاَطِيْعُوْا رَحِمَكُمُ اللهُ, اَنْصِتُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

Setelah Khatib naik ke mimbar, Bilal mengucapkan doa sebagai berikut :

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلىٰ مُحَمَّدٍ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلىٰ سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ،وَاْلحَمْدُ لِلهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ قَوِّاْلاِسْلاَمَ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْاَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، وَيَسِّرْهُمْ عَلىٰ اِقَامَةِ الدِّيْنِ. رَبِّ اخْتِمْ لَنَا مِنْكَ بِالْخَيْرِ وَيَاخَيْرَالنَّاصِرِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

KHOTIB memulai berkhutbah

Dengan ketentuan:

Khutbah 2 kali (seperti khutbah jumat, baik syarat maupun rukunnya) 

Tema khutbah Isi dianjurkan motifasi melakukan taubat nashuha, memperbayak istighfar, sedekah dll dan menjelaskan bahwa gerhana adalah bagian dari fenomena alam dan tanda kekuasaan Allah. Tidak benar jika gerhana dimitoskan dg berbagai tahayul, seperti matahari dimakan “bethorokolo”, dll.

BACAAN BILAL

ketika Khatib duduk diantara dua khutbah.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىٰ اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

KHOTIB melanjutkan khutbah ke 2 sampai SELESAI…

ALHAMDULILLAAH..

Contoh khotbah sederhana:
KHUTBAH

KUSUF DAN KHUSUF

اَلْحَمْدُ ِللهِ مُظْهِرِ اْلآيَاتِ عِبْرَةً لِمَنِ اعْتَبَرَ جَاعِلِ الْجَنَّةِ لِمَنْ أَطَاعَ وَالنَّارِ لِمَنْ عَصَى وَكَفَرَ، تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِنَّهُ كَانَ بِالْمُؤْمِنِيْنَ لَطِيْفًا.

أَحْمَدُهُ عَلَى كَمَالِ قُدْرَتِهِ الْبَاهِرَةِ، وَأَشْكُرُهُ عَلَى نِعْمَتِهِ الْمَتَتَابَعَةِ الْوَافِرَةِ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ وَأَسْأَلُهُ الْعَفْوَ إِنَّهُ لاَ يَزَالُ بِالْعَفْوِ مَوْصُوْفًا. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ اَجْرَى الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ بِحُسْبَانٍ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ خَيْرُ دَاعٍ لِتَوْحِيْدِ الرَّحْمَنِ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيْمَ حَنِيْفًا.

قَالَ اللهُ تَعَالَى: قُلْ أَرَأَيْتُمْ اِنْ جَعَلَ اللهُ عَلَيْكُمُ اللَّيْلَ سَرْمَدًا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ إِلَهٌ غَيْرُ اللهِ يَأْتِيْكُمْ بِضِيَاءٍ اَفَلاَ تَسْمَعُوْنَ؟ قُلْ أَرَأَيْتُمْ اِنْ جَعَلَ اللهُ عَلَيْكُمُ النَّهَارَ سَرْمَدًا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ إِلَهٌ غَيْرُ اللهِ يَأْتِيْكُمْ بِلَيْلٍ تَسْكُنُوْنَ فِيْهِ اَفَلاَ تُبْصِرُوْنَ. أَمَّا بَعْدُ:

فَيَا عِبَادَ اللهِ إِنَّ آيَاتِ رَبِّنَا مُتَرَادِفَةٌ فَهَلْ اَحْدَثَتْ فِى الْقُلُوْبِ وَجِلاً؟ وَاَهْوَالَ السَّاعَةِ مُتَقَارِبَةٌ فَهَلْ اَصْلَحَ عَامِلٌ عَمَلاً؟ وَالدَّهْرُ اَبُو الْعُجْبِ يُرِيْنَا مِنَ الْغَرِيْبِ صُنُوْفًا وَإِنَّ الْقَادِرَ عَلَى إِعْدَامِ ضَوْءِ الشَّمْسِ نَهَارًا قَادِرٌ عَلَى اَنْ يُرْسِلَ الْعَذَابَ عَلَى مَنْ عَصَى جِهَارًا، فَمَا ِلاهْتِمَامِنَا بِمَا يَرْضَى اْلإِلَهُ صَارَ ضَعِيْفًا؟ فَلاَ تَحْسَبُوْا عِبَادَ اللهِ إِظْهَارَهُ لَكُمُ اْلآيَاتِ لَعِبًا بَلْ لِتَجْعَلُوْا التَّوْبَةَ إِلَى رِضَاهُ سَبَبًا قَبْلَ اَنْ يَأْخُذَكُمْ بَغْتَةً اِلَيْهِ اَخْذًا عَنِيْفًا. وَاَنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ خَلْقٌ ِللهِ وَآيَتَانِ مِنْ آيَاتِهِ لاَيَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ فَرَحِمَ اللهُ إِمْرَأً اِعْتَبَرَ بِاْلآيَاتِ وَكَانَ لِلْخَيْرِ الْوَفَاءُ. اَلاَ وَإِنَّ ظُلُمَاتِ ذُنُوْبِنَا لَتُوْجِبُ اِظْلاَمَ النَّهَارِ وَتَعْجِيْلَ انْتِقَامِ الْمَلِكِ الْجَبَّارِ فَاَصْلِحُوا الْقُلُوْبَ تَنَالُوْا فِى الْقِيَامَةِ مَعْرُوْفًا وَتُوْبُوْا اِلَى اللهِ وَبَابُ التَّوْبَةِ مَفْتُوْحٌ قَبْلَ اَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا وَلاَ يُفِيْدُ نَصْحُ نَصُوْحٍ وَاعْتَبِرُوْا بِاْلآيَاتِ فَمَا يُرْسِلُ بِاْلآيَاتِ اِلاَّ تَخْوِيْفًا.

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ اَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ وَلَكِنَّهُمَا آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ يُخَوِّفُ اللهُ بِهِمَا عِبَادَهُ فَاِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَصَلُّوْا وَادْعُوْا حَتىَّ يَنْكَشِفَ مَا بِكُمْ.

وَإِذَا قُرِأَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوْا لَهُ وَاَنْصِتُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لاَ تَسْجُدُوْا لِلشّمْسِ وَلاَ لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوْا ِللهِ الَّذِيْ خَلَقَهُنَّ اِنْ كُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ. (فصلت. 38)

جَعَلَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْفَائِزِيْنَ اْلآمِنِيْنَ. وَاَدْخَلَنَا وَإِيَّاكُمْ فِى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.

KHUTBAH KEDUA
KUSUF DAN KHUSUF

اَلْحَمْدُ ِللهِ اَلْحَمْدُ ِللهِ اَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ اِيَّاهُ نَعْبُدُ وَاِيَّاهُ نَسْتَعِيْنُ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ. اَمَّا بَعْدُ:

فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوْا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا اِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى اَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلاَئِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ فَقَالَ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الْعَظِيْمِ.

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَقَرَابَتِهِ وَاَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّاتِهِ اَجْمَعِيْنَ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَلَى اَرْبَعَةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ سَيِّدِنَا اَبِىْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَعَلَى بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَعَلَيْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ جَمِيْعَ وُلاَةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَانْصُرِ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُبْتَدِعَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وْالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ وَيَا كَافِيَ الْمُهِمَّاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Catatan, sabda Rasulullah ..

من دل إلى خير فله مثل أجر فاعله

 “Barang siapa menunjukkan suatu jalan kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti pahala

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: