KEBUN GIZI GSC KADUDAMPIT MERAMBAH KE DESA – perdesaansehat.com

Mengacu Konsep Perdesaan Sehat, memastikan ketersediaan Bahan bangan berkualitas dan terjangkau, adalah mutlak bagi kulitas kesahatan
Hanibal H

KEBUN GIZI GSC KADUDAMPIT MERAMBAH KE DESA

1

INOVATIF : FK GSC Kecamatan Kaudampit bersama ibu-ibu posyandu se-Kecamatan Kadudampit memasukan beras ke dalam plastik yang akan dijadikan imunisasi tanaman pisang dan labu siam pada kebun gizi di tiap desa.

INOVATIF : FK GSC Kecamatan Kaudampit bersama ibu-ibu posyandu se-Kecamatan Kadudampit memasukan beras ke dalam plastik yang akan dijadikan imunisasi tanaman pisang dan labu siam pada kebun gizi di tiap desa.

SUKABUMI – Puluhan kader posyandu se-Kecamatan Kadudampit kembali mendapatkan pelatihan dan pendidikan (diklat). Kali ini, Fasilitator Kecamatan (FK) Generasi Sehat dan Cerdas (GSC) Kecamatan Kadudampit menggelar pelatihan pembuatan kebun gizi di sepuluh desa, Kecamatan Kadudampit di Aula UPK eks Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Kecamatan kadudampit, Jum’at (2/9/2016). Ada dua varian tanaman yang dipilih, yakni tanaman pisang dan labu siam.

Dalam pelatihan tersebut, ada tiga pemateri, yakni FK GSC Kecamatan Kadudampit Vini Meridianti, Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman pada Petugas Teknis Cabang Dinas Pertanian (POPT Distan) Kecamatan Kadudampit, Ai Lilah dan Penyuluh Kehutanan pada Balai Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan, Muflih.
Ada yang unik, beras yang biasa dikonsumsi masyarakat miskin (raskin) yang harganya Rp1.600 per kilogram, kini dimanfaatkan sebagai vaksin kebun gizi. Lantaran, raskin terbukti bisa membunuh jamur-jamur membahayakan pada tanaman.

“Untuk satu kantong berisikan sekitar 150 gram ini bisa dicampur dengan pupuk kandang satu karung 50 kilogram. Raskin ini harus dimasak dulu setengah matang (gigih, red),” kata Ai Lilah kepada Radar Sukabumi.

Vini Merdianti menyebutkan, pembuatan kebun gizi kali ini dilaksanakan di setiap desa di Kecamatan Kadudampit. Hal ini diharapkan kader posyandu di tiap desa lebih mandiri dan merasa memiliki.

“Rata-rata yang dianggarkan untuk tiap desa, paling kecil Rp10 juta dan paling besar Rp27 juta,” sebutnya.

Dengan harapan, dari hasil kebun gizi ini bisa menanggulangi penyediaan gizi bagi ibu hamil, balita di bawah garis merah (rawan gizi buruk), balita lahir prematur atau berat bayi lahir rendah (BBLR) dan stunting (bayi lahir kerdil). Kelahiran bayi seperti ini rata-rata diakibatkan kekurangan gizi. Sehingga, sebagai antisipasinya, kebun gizi ini akan kader-kader posyandu untuk memenuhi balita dan ibu hamil yang dimaksud. Kader posyandu juga diajarkan menginokulasi (proses pencampuran antara media trikiderma dengan tanah) yang menjadi medianya raskin.
Ia juga menyebutkan, biasanya, yang menjadi media tidak hanya raskin, tetapi juga jagung. Namun, yang lebih mudah dan murah adalah raskin.

“Dalam latihan ini, kader posyandu diajarkan bahkan praktik perbanyak agen hayati dan trikiderma (cendawa). Cendawa ini tentunya untuk mengantisipasi OPT layu pusarium alias layu cendwa dan layu bakteri. “Perlakuannya di lubang tanam. Jamur ini bertugas sebagai imunisasi yang mengantisipasi jamur yang akan merusak tanaman pisang dan labu siam,” tukasnya. (cr6/d)

Salam Kejuangan Nusantara Pembangunan Yang Inklusif dan Berkelanjutan Berbasis Desa

Hanibal H

Direktorat Pelayanan Sosial Dasar
Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi

Hanibal2464
#HibahDiriTukDesa
Blog; perdesaansehat.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: