Kapitalisme Pancasila Vs Kapitalisme “Serigala” (Bag 2) – perdesaansehat.com

Bumdes

Kapitalisme Pancasila Vs Kapitalisme “Serigala” (Bag 2)

Parni Hadi November 15, 2016 08:50 Oase

Kapitalisme tidak usah dilawan, karena kapitalisme memicu inovasi, tapi kapitalisme yang berwatak rakus seperti serigala (homo homini lupus) dan memandang manusia sebagai alat produksi (homo economicus) harus diganti dengan kapitalisme Pancasila yang bertujuan menciptakan kesejahteraan manusia melalui kehadiran rakyat dan karyawan sebagai pemegang saham aktif (PSA).

BUMDES

Pembangunan, menurut Lumy, adalah perubahan yang direncanakan atau direkayasa. Untuk Indonesia pembangunan bertujuan untuk membangun masyarakat yang adil dan makmur. Perubahan dari masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern.

Ia mengusulkan pembangunan koperasi desa paripurna dengan status Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) yang menerapkan sistem PSA. Koperasi paripurna ini dibangun dengan modal awal uang pajak (APBN), yang kemudian diharapkan menjadi sumber pajak untuk APBN.

Koperasi yang dikembangkan pemerintah berdasar UU Perkoperasian sampai saat gagasan kapitalisme Pancasila diluncurkan, pertengahan 1990an, menurut Lumy, adalah koperasi parsial dan sektoral yang berasaskan keuangan. Itu , katanya, tidak sesuai dengan pasal 33 UUD 1945, yang menyatakan: Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.

Pasal 33 Uud 1945 menuntut suatu bentuk koperasi yang paripurna, bukan koperasi yang parsial dan sektoral. Alasannya, satu keluarga adalah suatu bentuk koperasi yang paripurna. Artinya, seluruh kehidupan dan penghidupan harus dikoperasilkan, ungkap Lumy yang menerima “Hatta Nugraha”, sebuah penghargaan yang mengabadikan nama Bung Hatta sebagai Bapak Koperasi Indonesia.

Ia mendambakan hadirnya Desa Koperasi Paripurna dengan status BUMDES, yang menghimpun 1.000 keluarga untuk menguasai, mengolah serta mengelola 1.000 hektar dengan modal kredit ventura secara bertahap.
Implementasi gagasan Kapitalisme Pancasila ala Lumy ini tidaklah mudah (baca tulisan berikutnya: Jalan Panjang Menuju SEIMAN – Sistem Ekonomi Indonesia Maju Nyata).

Presiden Soeharto tahun 1990 pernah mengimbau perusahaan-perusahaan besar untuk memberikan sebagian sahamnya kepada koperasi karyawan atau koperasi rakyat yang menyadi mitra usahanya, antara lain sebagai penyuplai bahan yang akan diproduksi. Tak terdengar kabar tentang perkembangan koperasi penerima saham itu.

Para wartawan pada jaman Orde Baru sesuai persyaratan untuk mengajukan SIUPP (Surat Ijin Usaha Penerbitan Pers) mendapat saham kosong sebesar 20 persen dari nilai saham total. Tapi, karena wartawan bukan ahli menjalanakan usaha dan sibuk berkarya jurnalistik, koperasi karyawan/wartawan, penerima saham , itu tidak tumbuh berkembang, bahkan ada yang menjual sahamnya kepada pemodal (pemilik media).

Sejumlah pengamat melihat kapitalisme “BOB ASU” telah melahirkan minoritas orang kaya, yang jumlahnya sekitar 1 persen, kebanyakan pengusaha keturunan Cina, tapi menguasai sekitar 50 persen kekayaan nasional. Data itu juga diungkapkan Prof. Dr. Subroto, ekonom Orba, dalam pidatonya menyambut tahun baru 2016.

Para pengamat berpendapat, nafsu kapitalisme rakus tidak kenal henti. Setelah menguasai bidang ekonomi, juga ingin menguasai bidang-bidang kehidupan lainnya, termasuk, politik, karena itu perlu kehadiran Kapitalisme Pancasila.

http://www.kbknews.id/2016/11/15/kapitalisme-pancasila-vs-kapitalisme-serigala-bag-2/?utm_source=WhatsApp&utm_medium=IM&utm_campaign=share

Salam Kejuangan Nusantara
Desa Membangun Indonesia

Hanibal H
#HibahDiriTukDesa

Comments are closed.

Blog at WordPress.com.

Up ↑