Kapitalisme Pancasila Vs Kapitalisme “Serigala” (pertama) – perdesaansehat.com

http://www.kbknews.id/2016/11/15/kapitalisme-pancasila-vs-kapitalisme-serigala/?utm_source=WhatsApp&utm_medium=IM&utm_campaign=share

Kapitalisme Pancasila Vs Kapitalisme “Serigala”

Parni Hadi November 15, 2016 08:45 Oase

Kapitalisme tidak usah dilawan, karena kapitalisme memicu inovasi, tapi kapitalisme yang berwatak rakus seperti serigala (homo homini lupus) dan memandang manusia sebagai alat produksi (homo economicus) harus diganti dengan kapitalisme Pancasila yang bertujuan menciptakan kesejahteraan manusia melalui kehadiran rakyat dan karyawan sebagai pemegang saham aktif (PSA).

Kapitalisme jenis serigala itu disebut oleh penggagas Kapitalisme Pancasila sebagai Kapitalisme “BOB ASU” (Biar Orang lain Buntung, Asal Saya Untung) ” , ungkap seorang pembicara dalam diskusi untuk mengenang Pendeta Solagratia Setiawibawa Lumy (1934-2002), pencetus Kapitalisme Pancasila, di Jakarta pertengahan November 2016.

Bentuk usaha yang menjamin kehadiran PSA adalah koperasi, sesuai pasal 33 UUD 1945, kata Lumy, yang terlahir sebagai etnis Cina dengan nama Liem Tiong Sien di Yoyakarta 11 November 1934. Ia berasal dari keluarga yang dikenal sebagai “raja” tembakau dan dibaptis sebagai nasrani (Kristen) pada waktu berusia satu bulan.
Bagaimana rakyat punya modal untuk dapat memiliki saham? Lumy dalam Jurnal PSA menjawab: “Setiap orang diberi kapital untuk hidup di dunia ciptaan Tuhan ini dalam dirinya, harkat” (harga diri dan bakat-bakat)” dan harta, yang di luar dirinya.

Untuk “kapitalisasi” harkat dan harta, menurut Lumy, diperlukan “sahamisasi” melalui kapitalisme Pancasila dengan dua kunci, yakni “kreatifikasi” setiap warga negara dan “produktifikasi” setiap jengkal lahan.
Dalam pandangan Lumy, kapitalisme “BOB ASU” berprinsip “surival of the fittest”, memberlakukan ajaran “homo homini lupus”, berpedoman pada asas keuangan. Ini melahirkan persaingan antar keluarga dengan prinsip “private ownership” dan “free market” dengan memberlakukan manusia sebagai “homo economicus”, faktor produksi, belaka.

Pemegang Saham Aktif.
Lumy memperkenalkan istilah PSA (Pemegang Saham Aktif) yang bertujuan agar setiap pemegang saham dapat menikmati surplus dalam bentuk dividen setiap tahun dan aktif bekerja untuk menikmati jaminan hidup setiap bulan yang diperhitungkan sebagai biaya produksi. Biaya produksi perlu serendah mungkin agar dapat menikmati surplus sebesar mungkin.

Pandangan Lumy berpangkal tolak pada iman (keyakinan), yang harus dikembangkan dari sifatnya yang partikular menjadi universal, yakni bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan, yang masing-masing diberi harkat.
Pandangan pendeta itu senafas dengan fatwa ulama Islam agar setiap Muslim mengembangkan dua jenis kesalehan sekaligus: kesalehan ritual formal, yang bersifat personal, menyangkut hubungan dengan Allah (hablun minallah), dan kesalehan sosial (hablun minanas) yang berdampak manfaat bagi orang lain.

Lumy melihat Indonesia yang berdasar Pancasila adalah negara “pistokrasi”, yakni bertolak dari iman yang partikular yang harus dikembangkan menjadi iman yang universal. Negara Pancasila tidak memandang manusia sebagai “homo economicus”, tetapi sebagai “homo iamgo dei”, manusia sebagai gambar (tajali) Allah.
Pada saat proklamasi Republik Indonesia 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia berada dalam pusaran pertarungan ideologi besar, yaitu kapitalisme (invidual dan sempit) dan komunisme (kapitalisme negara). Keduanya, memandang manusia sebagai “homo economicus”.

Lumy, yang menempuh pendidikan khusus etnis Cina, SMP sampai SMA, sebentar di Akademi PTT (Pos, Telegagraf dan Telepon) di Bandung sebagai mahasiswa penerima beasiswa dan STT (Sekolah Tinggi Teologia), Jakarta, anti kedua kapitalisme sempit dan komunisme.

Menurut biografinya, Lumy ingin melanjutkan sekolah di Taiwan, setelah lulus SMA Cina di Jakarta, untuk melawan komunis. Pada waktu itu Taiwan dilanda pertentangan antara Partai Nasionalis Cina, Kuo Min Tang, dengan Partai Komunis Cina, Kung Cing Tang.

Ternyata setelah lulus STT, ia memilih jalan pelayanan di antara para tunawisma, tunakarya dan pelaku tindak kriminal (penjahat) di luar struktur GKI (Gereja Kristen Indonesia) Jawa Barat. Ia sambangi orang-orang miskin, tanpa melihat unsur SARA, dan menawari mereka untuk mengambil beras dan kebutuhan hidup lainnya di rumahya, yang nampak sederhana di kawasan sekitar Cibubur, Jakarta Timur.

Mengetahui saya Muslim dan penggagas Dompet Dhuafa (DD), ia mengajak saya melihat kehidupan anak-anak miskin, pengamen jalanan yang bergabung dalam grup musik “Warunk Udiek”, di kawasan Pulo Gadung, Jakarta Timur, yang kemudian menjadi mitra-binaan DD.

Ketua grup itu, Budi (alm) adalah santri yang taat dan pemusik yang sangat berbakat . Budi selalu mengingatkan anak buahnya untuk tetap rajin bersekolah, belajar dan beribadah setelah mengamen dengan hasil yang dianggap cukup.

Bersambung……

Salam Kejuangan Nusantara
Desa Membangun Indonesia

Hanibal H
#HibahDiriTukDesa

Comments are closed.

Blog at WordPress.com.

Up ↑