Aplikasi Foodo Gagasan Gadis Desa Indonesia, Bikin Tercengang Dunia – perdesaansehat.com


"Gerakan Sosial Pada Isue Hak Dasar Jaminan Keterjangkauan Bahan Pangan Berkualitas Seluruh Manusia Di Dunia, mendapat "energi" kuat dalam mewujudkannya saat ini dan di masa mendatang melalui Aplikasi Foodo, yang merupakan instrumen berbagi informasi tentang kebutuhan dan kelebihan bahan makanan secara on line yang real time. Aplikasi yang dibuat oleh warga Desa di Kabipaten Pati Indonesia ini telah diakui secara internasional.
SELAMAT dan TERUSLAH BERKREASI BAGI PUTRA PUTRI BANGSA NUSANTARAIperdesaansehat.com

HanibalHamidi
Pekerja merDesa Institute

Gadis Desa dari Sukolilo Pati Ini Bikin Dunia Internasional

Nur Sitha Afrilia menunjukkan hadiah yang diterimanya setelah meraih predikat Best Inovation dalam Asia Pasific Future Leader 2016 di Kuala Lumpur.

Koran Muria, Pati – Imej orang desa sebagai orang bodoh dan tak tahu apa-apa, ditepis habis-habisan oleh gadis dari Dukuh Lebakwetan, Desa Sukolilo, Kecamatan Sukolilo, Pati Ini. Nur Sitha Afrilia, gadis berusia 20 tahun ini mampu membuktikan diri, bahwa meski berasal dari desa ia bisa berkiprah di dunia internasional.

Mahasiswi semester 5 Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini, bahkan mampu membuat dunia internasional tercengang melalui karyanya. Sitha begitu ia akrab dipanggil, menunjukkan kapabilitasnya yang cemerlang saat menjadi duta dari Indonesia di ajang internasional.

Yang terbaru, ia mampu meraih predikat Best Inovation dalam Asia Pasific Future Leader yang diselenggarakan di Kuala Lumpur, 23-27 November 2016 lalu. Ia berhasil mengungguli wakil dari Negara-negara lain, melalui konsepnya yang dinilai sangat inovatif.

Dalam ajang Asia Pasific Future Leader itu Sitha berpartner dengan Ardian dari Universitas Jember, mengusung konsep aplikasi Android bernama Foodo. Nama Foodo ini merupakan singkatan dari food donation (berbagi makanan). Konsep aplikasi Foodo inilah yang membuat para juri tercengang.

Bahkan konsep aplikasi ini membuat dua perusahaan internet raksasa yakni Google dan Facebook kepincut untuk membeli konsepnya. “Dalam even itu kan jurinya ada perwakilan dari Google dan Facebook. Dan baru dua hari dua perusahaan ini menawari untuk membeli konsep aplikasi Foodo,” katanya kepada Koran Muria, Selasa (6/12/2016).

Meski dilirik oleh Google dan Facebook, Sitha mengaku belum rela melepas konsepnya. Ia bersama rekannya Ardian menginginkan jika aplikasi itu menjadi milik Indonesia, dan dikembangkan untuk kemaslahatan masyarakat. Karena menurut dia, aplikasi Foodo itu merupakan aplikasi saling berbagi.

“Konsep dari aplikasi Foodo itu untuk berbagi makanan kepada sesama yang membutuhkan. Konsepnya adalah kerja sama dengan toko modern untuk menyumbangkan bahan makanan yang mendekati masa kedaluwarsa untuk dibagikan ke yang membutuhkan. Daripada makanan itu terbuang sia-sia,” ujarnya.

Dalam aplikasi itu menurut dia, masyarakat umum juga bisa mendonasikan makananya melalui aplikasi Android. Yakni ketika masyarakat masuk ke dalam aplikasi dan mendonasikan, nanti sistem akan langsung memberitahu ke relawan untuk mengambil makanan yang didonasikan.

“Jadi konsepnya hampir sama dengan ojek online. Ini yang membuat juri memutuskan kelompok kami yang terbaik. Jurinya itu ada perwakilan dari Google dan Facebook,” terangnya.
Nur Sitha Afrilia berpose di depan Taj Mahal saat mengikuti pertukaran pelajar di India. (dok. Pribadi)

Juga Raih Best Speaker Amity Youth Festival India
Tak hanya ini saja prestasi internasional yang diraih putri Musyafak dan Miftakhul Jannah ini. Sebelumnya ia juga berhasil meraih juara 2 di Amity Youth Festival yang diselenggarakan di India pada Februari 2016 lalu, sekaligus meraih predikat best speaker dalam ajang tersebut.

Dalam ajang ini, Sitha menjadi satu-satunya duta Indonesia dari 38 mahasiswa dari berbagai Negara di dunia. Selama 2,5 bulan ia mengikuti pertukaran pelajar di New Delhi dan magang di NGO Humans For Humanity yang bergerak di bidang sosial dan berada di bawah pengawasan Parlemen New Delhi.

Dari 38 mahasiswa asing itu diminta untuk membuat laporan hasil observasi di Kathputtli, sebuah perkampungan kumuh di India, yang kemudian dipresentasikan di hadapan anggota parlemen Delhi. Hasil laporan Sitha berhasil menjadi yang terbaik dan dijadikan team leader untuk kompetisi di Amity Youth Festival 2016.

“Saya memimpin 4 orang, 2 orang dari Bahrain, satu orang dari Jepang dan satu orang dari Mesir. Kami berhasil merebut posisi juara kedua. Dari sini poinnya adalah anak Pati juga berpotensi untuk menjadi pemimpin bagi mahasiswa dari negara maju,” terangnya.

Alumni SMAN 1 Kayen itu menyebut tidak ada yang tidak mungkin selama mau dan berani mengambil peluang yang ada. Ia juga berharap, ke depannya putra-putri dari Kabupaten Pati bisa semakin unggul baik di tingkat daerah, nasional maupun internasional.

Salam Kejuangan Nusantara
Desa Membangun Indonesia

Hanibal H
#HibahDiriTukDesa

Comments are closed.

Blog at WordPress.com.

Up ↑