Penyusunan Kebijakan dan Profile GENDER DESA, KemenDesa, Muslimat, Fatayat dll – perdesaansehat.com

“Kementerian Desa melalui Direktorat PSD melaksnakan rapat bersama Organisasi Kemayarakatan Perempuan Muslimat dan Fatayat yang dipimpin secara langsung oleh Ibu Nyai Said Aqil Siradz, yang telah proaktif menggagas kegiatan menyusun Profile Gender Desa serta kebijakan kebijakan yang berpihak pada perempuan Desa.

Perempuan Desa merupakan komunitas terbesar yang menjadi korban akibat ketidakadilan dan tidak berpihaknya pemerintah selama ini terhadap Desa dan masyarakatnya. Cara pandang layaknya “kolonialisme” pada Desa dan masyarakatnya yang telah lebih dulu keberadaannya dari deklarasi NKRI tahun 1945, yang ditempatkan sebagai “Obyek” pembangunan semata oleh pemrintah selama ini, telah mengakibatkan begitu banyak kesengsaraan masyarakat desa, keterpurukan perkembangan kemajuan desa, merendahkan harkat dan martabat entitas bangsa Nusantara, sekaligus kerugian negara begitu besar dan dalam pada potensi sumber daya pembangunan dan kontribusi produksi dari luasnya Desa (90 % Luas NKRI).

Sebagai dampak dari hal tersebut di atas, maka di Desa secara umum saat ini memiliki status kesehatan (AKI, AKB, Morbiditas) dan Kwalitas Kesehatan (AHH) yang sangat rendah. Demikian juga kondisi Kualitas Pendidikan di masyarakat Desa, baik dari lama pendidikan maupun tingkat buta huruf serta keahlian masyarakat Desa sangat rendah. Kedua hal yang merupakan Hak Dasar yang merupakan amanah konstitusi dalam tujuan bernegara dimandatkan untuk ditunaikan oleh NKRI melalui Pemerintahan yang berkuasa telah terabaikan. Dampaknya pada kemiskinan masyarakat Desa menjadi serta merta dan apabila terus terjadi akan semakin sulit untuk mengentaskannya, karena keduanya saling mempengaruhi, baik akibat rendahnya kemampuan produksi ataupun hilangnya waktu produksi maupun tingginya pengeluaran akibat sakit.

Masyarakat Desa yang jumlahnya terus berkurang terutama para pemuda dan pemudi yang membutuhkan pekerjaan dan secara linier juga pilihan kerja selaku petani tidak menarik lagi akibat secara umum pendapatan petani sering sekali hanya mampu untuk bertahan hidup dengan kesederhanaanya, dan cukup banyak juga bahkan uang hasil panen tidak mencukupi bagi ongkos produksi dan biaya hidup sederhana akibat luas kepemilikan tanah setiap petani semakin sempit selain juga kualitas tanah yang buruk ataupun kebutuhan air pertanian tidak terpenuhi selain permainan harga oleh para oemodal menjadi suatu yang bias terjadi saat masa panen. Maka pilihan  masyarakat  Desa untuk meninggalkan Desa sangatlah dipahami. Akibat hal ini maka Kelurahan di Kota-kota (Luas kurang dari 10 % Luas NKRI) semakin padat penduduknya (45 % Jumlah Penduduk Nasional) , sedangkan penduduk di Desa yang luasnya 90 % luas NKRI pendudknya semakin sedikit (55 % Jumlah Penduduk Nasional). Ketimpangan kepadatan penduduk tersebut secara umum menimbulkan permaslahan baru pada masing-masing tempat yang tidak terselesaikan eksesnya sampai pada saat ini. 

Perempuan pada umumnya pada situasi tersebut di Kota ataupun Di Desa yang paling rentang mengalami permasalahan sosial. Terutama perempuan Desa yang lebih rentan untuk menjadi korban dalam berbagai macam isue sosial, baik terkait banyaknya perkawianan terlalu dini yang mengancam pada kesehatan anak dan ibunya, atau tingginya kematian ibu akibat ketersediaan sarana kesehatan yang sangat rendah akibat tidak menariknya Desa dari berbagai aspek kehidupan, sehingga maslah keterjangkauan pelayanan kesehatan menjadi semakin memberatkan. Pilihan sebagai pekerja wanita di kota di negara sendiri maupun di luar negeri, telah begitu banyak kita ketahui banyakanya kasus pelecehan sex maupun permaslahan sosial bagi keluarga yang ditinggalkan baik kenakalan anak maupun permaslahan keharmonisan keluarga. 

Disadari juga atas rendahnya kualitas perempuan Desa mengakibatkan permaslahan kesehatan secara umum, baik dari tingkat kematian bayi dan ibu, juga permaslahan kualitas tumbuh kembang bayi dan anak menjadi serta merta sebagai ikutannya, kondisi ini semakin diperberat oleh permaslahan ketidak pastian jaminan keterjangkauan air bersih, sanitasi dan intake gizi yang baik dan proporsional sesuai kebutuhan gizi dimasa yang berkebutuhanjanin dan  khusus dan prioritas bagi optimalnya fase tumbuh kembang anak; Ibu Hamil, Ibu Menyusui, Bayi dan Balita.  
Selain kebijakan untuk meningkatkan kesejahteraan perempuan Desa serta Perlindungan Anak, menjadi penting untuk banyaknya kebijakan yang berpihak pada kesetaraan peran laki-laki dan perempuan dalam semua aspek kehidupan sosial, mengingat jumlah penduduk berjenis kelamin perempuan lebih besar dibanding penduduk laki-laki, selain akan berkorelasi positif antara kualitas tumbuh kembang anak dengan tingkat pengetahuan sang Ibu yang terlibat dalam berbagai peran sosial kemasyarakatan atau pekerjaan.

Terima kasih pada Muslimat dan Fatayat atas komitmennya pada isue perempuan dan anak di Desa. Semoga kerja sama dengan Kementerian Desa, PDTT dapat terus dikembangkan bagi percepatan kemandirian Desa secara umum dan kesataraan Gender secara khusus. Amin” – perdesaansehat.com

Hanibal Hamidi, #HibahDiriTukDes

Salam Kejuangan Nusantara
Desa Membangun Indonesia

Hanibal H
#HibahDiriTukDesa

Comments are closed.

Blog at WordPress.com.

Up ↑