Jamban – Harkat dan Martabat Manusia NKRI – perdesaansehat.com

Jamban dan kemiskinan.

Masih ada sekitar 25 juta rumah tangga di Indonesia, atau sekitar 125 juta orang yang tidak punya akses pada jamban sehat. Makna jamban sehat sebetulnya sederhana: mampu mengisolasi kotoran manusia dari permukaan tanah dan air.

Perlunya kotoran manusia diisolasi adalah agar milyaran kuman patogen yg ada di tiap secuil kotoran manusia tidak lalu tersebar ke seluruh penjuru makanan minuman dan pori2 manusia lainnya. Dengan kata lain, cukup 1 orang saja yg kotoran nya tergeletak sembarangan, sudah dapat mencemari seantero warga kampung.

Oleh karena itulah, mewujudkan mantra kesehatan berupa ODF (Open Defecation Free) harus diterjemahkan menjadi setidak2nya OHOT, one house one toilet. Satu rumah satu jamban. Bukan jamban komunal misal 4 jamban untuk ratusan warga, yang pasti belum bisa membuat sekampung bebas dari kotoran manusia di sembarang tempat.

Adalah dr. Budi Laksono yang sudah beberapa tahun terakhir ini fokus pada upaya memasyarakatkan KATAJAGA (Kampung Total Jamban Keluarga) yang dimaknai sebagai satu kampung semua rumahnya setidaknya punya satu jamban. Ratusan ribu jamban di ribuan kampung sudah ia motori pewujudannya bekerjasama dengan berbagai pihak. Keistimewaan dari metoda yang dikembangkan oleh dr. Budi "Jamban" Laksono adalah justru pada kesederhanaan dan low-budget nya, yaitu dengan hypnolatrine (ajakan menyadari bahaya Buang Air Sembarangan) dan teknik bangun jamban yang tidak mensyaratkan biaya tinggi tapi justru fokus pada efektifitas mengisolasi kotoran.

Forum Desa Mandiri Tanpa Korupsi (DMTK) dimana dr. Budi juga ada di dalamnya, mendiskusikan upaya mewujudkan "Indonesia ODF" pada 2019. Artinya, bermimpi mewujudkan 25juta rumah yang belum berjamban-sehat agar semuanya total berjamban-sehat pada 2019.

Pemerintahan Jokowi sendiri sudah mencanangkan total sanitasi pada 2019, tapi sepertinya sulit sekali diwujudkan karena berbagai faktor. Salah satunya adalah karena metoda yang dipakai bertumpu pada pembangunan fisik toilet komunal, yang mengisyaratkan pembiayaan yang sangat besar. Belum lagi minimnya upaya mengikutsertakan partisipasi masyarakat sehingga perubahan perilaku untuk memanfaatkan jamban sehat menjadi pe-er tersendiri, dan lagi-lagi berkonsekuensi proses yang intens dan biaya yang tinggi.

Lalu apakah mimpi Forum DMTK untuk mewujudkan Indonesia ODF dengan cara OHOT realistis untuk diwujudkan pada 2019? Setelah melalui rangkaian diskusi demi diskusi, kami yakini BISA.

Caranya adalah dengan menggabungkan metoda hypnolatrine dan teknik bangun sederhana jamban-sehat "ala Budi Jamban" dengan metoda pengorganisasian masyarakat yang mendorong agar masyarakat dapat diorganisir untuk mengupayakan secara mandiri. Artinya, seberapapun "dana stimulus" yang mampu disediakan oleh pemerintah (atau donor atau sumber pendanaan yang lainnya) harus dapat berfungsi maksimal sebagai stimulus dan pembiayaan selebihnya diupayakan secara mandiri oleh masyarakat.

Forum DMTK kemudian mendiskusikan target Indonesia ODF – OHOT 2019 ini dengan beberapa elemen pemerintah. Kementrian Desa PDTT pada khususnya Direktorat Pelayanan Sosial Dasar (PSD) Ditjen PPMD menyambut dengan antusias. Nahkoda Dit PSD Bapak Ha Nibal kemudian berinisiatif mengadopsi program ini menjadi program Dit PSD dengan mentargetkan 1 juta jamban pada 2017 sebagai kick-off target sekaligus untuk menguji-cobakan metoda. Target kemudiannya adalah 7 juta pada 2018 dan 13 juta pada 2019.

Diskusi dilanjutkan ke Kantor Staf Presiden, bersama Deputy II Kang Yanuar Nugroho. Komunikasi dengan KSP mutlak diperlukan karena mewujudkan Indonesia ODF – OHOT perlu kerjasama lintas sektor dan wilayah. Kita perlu Presiden untuk menjadikannya sungguh-sungguh sebagai Program Nasional, yang keberhasilannya tidak boleh ditawar lagi. World Bank menghitung bahwa "kerugian nasional" yang diakibatkan urusan jamban ini mencapai 57 Triliun setiap tahunnya. Kerugian antara lain dalam bentuk "jebol"nya BPJS yang harus menanggung kasus penyakit yang paling banyak terjadi hingga sekarang sesungguhnya adalah penyakit-penyakit yang bisa dicegah dengan jamban-sehat. Belum lagi kerugian akibat hilangnya produktifitas ketika sakit. Bahkan sampai kehilangan nyawa dari mulai anak hingga dewasa.

Tentu saja KSP menyambut antusias pula. Terlebih dengan sudah adanya Dit PSD – Ditjen PPMD Kemendesa PDTT yang menjadi kementrian pelaksana, khususnya untuk pelaksanaan Indonesia ODF – OHOT di wilayah perdesaan. Nantinya tinggal dikoordinasikan dengan lintas sektor dan lintas wilayah untuk perwujudan di seluruh Indonesia.

Langkah kecil uji coba penggabungan metoda dilaksanakan di satu kampung Dungusbiuk, Desa Babakan, Kec Tenjo, Bogor. Di kampung ini rata warganya semua tidak punya jamban-sehat. Di kampung-kampung sekitarnya pun tidak jauh beda. Padahal Desa Babakan Tenjo ini hanya sejauh kuman bisa terbang ke wilayah BSD yang gemah-ripah cantik sejahtera bukan main.

Tiga hari lalu di Dungusbiuk telah dilaksanakan tahap hypnolatrine dan teknik bangun jamban-sehat sederhana oleh masyarakat sendiri. Tahap selanjutnya adalah pengorganisasian warga kampung untuk secara bertahap memastikan semua rumah di Kampung tersebut punya jamban-sehat, yang akan dimotori oleh para penggerak lokal.

Pelaksanaan uji coba ini dimungkinkan dengan adanya partisipasi beberapa donatur Pamela Hidajat, Indri Wilkey (mewakili donatur warga Indonesia di Canberra), donasi yang terkumpul dari pembelanjaan di Buyto Donate-Store, dan beberapa donatur lainnya.

Pelaksanaan di lapangan dilaksanakan bersama antara Forum DMTK sebagai "pool of network", Sinergi Indonesia Foundation yang membangun perencanaan program dimotori oleh Benito Lopulalan, Komunitas Relawan Bogor Barat yang dinahkodai oleh Bu Uun alias Dessy Suprihatini sebagai motor dari penggerak lokal dan Yayasan Wahana Bakti Sejahtera yang dipimpin dr. Budi Laksono. Tentu saja, Kemendesa PDTT pada khususnya Dit PSD Ditjen PPMD senantiasa mendukung pula dalam keseluruhan prosesnya.

Bagi sebagian dari kita mungkin tidak terbayang kok bisa orang tidak punya jamban, atau jamban-nya kok semacam itu seperti yang ada dalam foto-foto postingan Ahmad Bahruddin (penggagas Forum DMTK) dan postingan dr. Budi. Bagi sebagian dari kita tidak terbayang bahwa urusan jamban ini bagi ratusan juta warga bangsa kita masih merupakan pergulatan hidup dan mati, walau mereka sendiri mungkin tidak menyadari. Ini kondisi yang mengenaskan dan, mohon maaf, memalukan bagi kita sebagai sebuah bangsa dan negara dengan solidaritas kegotongroyongan yang – katanya – tinggi ini. Masak kita tega membiarkan sebagian tetangga kita hidupnya terancam gara-gara jamban. Kalau mau agak "egois" masak iya tega sama diri sendiri masih mau terpapar kuman dari tetangga kita yang belum berjamban-sehat. Karena kuman yang terbang kan gak pilih korban.

Mewujudkan Indonesia ODF – OHOT pada tahun 2019, mewujudkan KATAJAGA di seluruh kampung di desa dan kota Indonesia pada tahun 2019, harus menjadi target kita bersama. Jangan ditawar lagi. Masak 70 tahun lebih merdeka masih belum juga berhasil mewujudkan jamban-sehat dapat diakses oleh setiap orang?

Mari.

Comments are closed.

Blog at WordPress.com.

Up ↑