Trial OHOT (One House One Toilet) di Kampung Dungusbiuk – Perdesaansehat.com

"Melengkapi persiapan bagi pelaksanaan pemberdayaan 1.000.000 (satu Juta) Jamban bagi 1.000.000 Juta Rumah Tangga di desa yang tidak memeiliki Jamban Keluarga dalam kerangka mendukung pencapaian sasaran strategis Agenda Nawa Cita 3, Membangun Indonesia dari Pinhgiran, bidang Desa; Pengentasan paling sedikit 5000 Desa Tertinggal dan mewujudkan 2000 Desa Mandiri Pada tahun 2019." – perdesaansehat.com

HanibalHamidi
#HibahDiriTukDesa

Trial OHOT (One House One Toilet) di Kampung Dungusbiuk

March 2, 2017

Warga mendapat bantuan 20 unit jamban untuk program Trial OHOT (One House One Toilet)

Oleh: Ahmad Bahruddin

SHNet – Bogor, Program jambanisasi atau Trial OHOT (One House One Toilet) diselenggarakan di Kampung Dungusbiuk, Desa Babakan, Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor, Jawa Barat pada tanggal 27-28 Februari 2017.

Kegiatan ini diinisiasi oleh Jeng Dewi Huta dengan sumber pendanaannya dari para dermawan jaringan Sinergi Indonesia. Dari dana yang terkumpul kemudian dibelikan material berupa sumbangan 20 unit closet, pasir, koral, semen, besi beton, dan ember cor untuk 20 rumah. Adapun total bantuan untuk masing-masing unit bernilai sekitar 350 ribu.

“Harapannya, 20 unit ini dapat merangsang pembangunan secara mandiri oleh masyarakat di kampung “miskin” yang nyaris semuanya kalau buang hajat masih di blumbangan yang sekaligus sebagai pakan lele itu, “ jelas Jeng Huta.

Kondisi jamban warga sebelum program dilaksanakanKondisi jamban warga sebelum program dilaksanakan

Sebelum pelaksanaan program jambanisasi ini, pada hari pertama, tanggal 27 Februari 2017 warga berkumpul di rumah salah seorang warga. Pada kesempatan tersebut warga diberi penjelasan panjang lebar tentang pentingnya mengisolasi tinja melalui jamban oleh Dr. dr. Budi “Jamban” Laksono. Warga sangat antusias mendapatkan informasi tersebut, karena terbukti di pagi hari berikutnya, dua puluh lobang sudah siap siap dibuat oleh warga masyarakat secara bergotong-royong.

Setelah pembagian kloset dan material, warga diajak diskusi kembali dengan melibatkan perangkat desa. Dari diskusi tersebut, akhirnya warga bisa menyadari sepenuhnya betapa pentingnya mengisolasi tinja dari serangga (khususnya lalat) dan agar tidak menyemari air. Di samping itu, karena program jambanisasi ini ternyata selain mudah, biayanya juga cukup murah.

“Hanya setara dengan biaya rokok setengah bulan, apalagi warga (aki-laki kampung Dungusbiuk ini adalah perokok semua.” Tegas Budi “Jamban”.

Pertemuan warga masyarakatPertemuan warga masyarakat

Kesimpulan sementara dari warga masyarakat dan partisipan yang terlibat adalah ternyata sedemikian sederhana mewujudkan Indonesia ODF (Open Defecation Free). Kuncinya adalah di pengorganisasian. Begitu disadari oleh seorang pendamping, lebih-lebih kepala desanya, hanya butuh hitungan hari kampung ODF itu dapat diwujudkan.

Nah, nggak ada yang harus ditunggu lagi. Kini semua warga bersama-sama bahu-membahu membuat jamban karena mengisolasi tinja itu sangat-sangat penting jika dibandingkan dengan 57 T per tahun yang harus dianggarkan Negara untuk biaya pengobatan penyakit disentri, tipus sampai hepatitis akibat puluhan ribu bakteri dari tinja manusia di kaki lalat yang hinggap di makanan.
Satu orang saja yang tidak mengisolasi tinjanya, akan menyakiti orang se-kampung. Karena lalat tidak akan pernah pilih kasih.

Potensi Desa

Dan …. Amat, amat, amat sangat salah kalau Dungusbiuk, Babakan, Tenjo ini dianggap sebagai desa miskin. Yang benar, desa ini tidak diperhatikan dengan baik.”

Blumbangan lele tempat buang hajat yang penuh dengan trilliunan kuman patogen salmonella thypi penyebab disentri, tipus, sampai hepatitis ini ternyata sangat mungkin disulap dengan intensifikasi budidaya lele dengan cata bioflok. Plus, pengelolaan air hujan yang selama ini hanya membanjiri Tangerang saja, kalau dikelola untuk budidaya ikan darat, kebutuhan gizi berbasis white meat BSD Tangerang, amat sangat mungkin dipenuhi dari Babakan dan desa-desa “miskin” lainnya di Kecamatan Tenjo Bogor ini.

Demikian juga dengan buah-buahan. Kalau dimaksimalkan intensifikasi budidaya buah, pasti, Thailand, Tiongkok, Vietnam dll. akan super bingung mengekspor buah ke Indonesia karena tanah dan iklim kita jauh lebih unggul dari mereka.

Kalau lihat hutan bambu tali (pring apus) sampai bambu betung yang sedemikian melimpah, insdustri kreatif berbasis bambu juga sangat mungkin dikembangkan di desa yang subur ini.

Warga kampung bergotong-royong membuat jambanWarga kampung bergotong-royong membuat jamban

“Fabiayyi ‘alaa irobbikuma tukadzzibaan – maka, nikmat Tuhan mana lagi yg hendak kamu dustakan ..?”

Nah, apa kabar para Pendamping Desa dan Pendamping Lokal Desa… ? Ayuk, kalian bukan asisten Sekretaris Desa!. Kembangkan gagasan-gagasan cerdas kreatif kalian mengelola sumberdaya desa. Dampingi para pemudi/a (angkatan kerja) desa untuk berjamaah berembug bareng merancang business plan yang layak berproduksi mengelola sumberdaya desa. Dampingi para pemudi/a (angkatan kerja) desa untuk berjamaah berembug mengembangkan tradisi kritis atas ketidak-adilan dan kesewenang-wenangan kekuasaan.(*)

Penulis adalah pendamping masyarakat desa Kalibening, Salatiga dan Pendiri Serikat Paguyuban Petani Qoryah Thayyibah (SPPQT) dan Sekolah Alternatif Qoryah Thayyibah Kalibening, Salatiga.

http://sinarharapan.net/2017/03/trial-ohot-one-house-one-toilet-di-kampung-dungusbiuk/

Salam Kejuangan Nusantara
Desa Membangun Indonesia

Hanibal H
#HibahDiriTukDesa

Comments are closed.

Blog at WordPress.com.

Up ↑