Menjawab permasalahan stunting melalui Desa Daulat Sehat dan Sejuta Jamban Keluarga

stunting.pngIndonesia dihadapkan pada masalah stunting yang prevalensinya tidak menunjukkan perubahan signifikan. Prevalensi stunting pada balita menunjukkan angka 36,8% menurut Riskesdas 2007, yang kemudian turun ke angka 35,6% menurut Riskesdas 2010, dan kembali naik ke angka 37,2% menurut Riskesdas 2013.

Stunting sendiri didefinisikan oleh Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1995/MENKES/SK/XII/2010 sebagai status gizi anak balita yang diukur berdasar panjang badan/tinggi badan menurut umur (PB/U atau TB/U) yang hasilnya menunjukkan Z-score <-2 SD (pendek / stunting) dan Z-score <-3 SD (sangat pendek / severely stunting) berdasarkan standar baku WHO-MGRS (Multicentre Growth Reference Study) tahun 2005. Status gizi yang diukur berdasar tinggi badan menurut umur menunjukkan adanya masalah gizi yang berlangsung lama. Secara sederhana, stunting yaitu pengerdilan akibat kekurangan gizi kronis selama 1000 hari pertama kehidupan yang dimulai dari masa konsepsi (pembuahan), yang artinya janin telah mengalami gangguan gizi sejak dalam kandungan. Kondisi stunting ini baru terlihat saat anak telah berusia 2 tahun, ditandai dengan tinggi anak lebih pendek dibanding anak-anak lain seusianya.

pada tahun 2015 dan 2016 Dit PSD Melalui Intrumen Fasilitasi Koordinasi Dan Intervensi PPMD bidang Kesehatan dan Pendidikan, Generasi Sehat, Cerdas, di 11 Provinsi, pada 66 Kabupaten, dengan Saaran jumlah Desa sebanyak 5 758 Desa yang kualitas kesehatan dan kualitas pendidikannya rendah, telah banyak melakukan terobosan, naik melalui Uji model mempercepat ketersediaan Guru PAUD di 25 Kab. Bersama sama Kemendikbud dan lembaga donor DFAT (Aus Aid), melalui Pelatihan berjenjang bagi kader/orang tua siswa PAUD yang dapat segera mempersiapkan Guru PAUD. Alhamdulilah telah menghasilkan 7689 guru PAUD tahun 2016, dan diharapakan pada tahun 2017 akan bertambah dengan jumlah yang sama pada tahun 2017 ini.
Seperti yang kita ketahui bersama pendidikan PAUD juga sangat oenting dalam mengelola kasus stunting.

Selain itu upaya memberikan penyuluhan dan intervensi makanan bergizi bagi ibu hamil, bayi dan balita telah dilakukan di lokasi GSC dengan kerja sama MCAI (Lembaga Donor MCC, USA Aid) bersama Kementerian Kesehatan dalam kerangka menurunkan Prevalensi Stunting maupun melaksanakan tata laksana penaganan kasus stunting. Alhamdulillah banyak capaian dalam hal ini, semisal di Kabupaten Ogan Komering Ilir yang telah mampu menurunkan kasus stunting secara signifikan.

Disadari bahwa tentang “Stunting” untuk mencegah terjadinya kekeurangan gizi secara keonik di masa konsepsi adalah sangat penting, mengingat bila terjadi maka akan ada ancaman yang rumit untuk di tangani bagi terancamnya ofgan organ vital yang akan terganggu di kemudian waktu sesuai unsur gizi apakah yang terjadi kekurangan secara kronik saat konsepsi tersebut.

Disadari pula pentingnya memastikan gizi berkualitas pada bayi dan balita pada masa tumbuh kembang (Bayi dan Balita pada usia 0-5 tahun), untuk memastikan gizi yang baik bagi masa tumbuh kembang sel otak.

Maka menjadi penting untuk menetapkan target prioritasa kasus stunting dalam kerangka menurunkan prevalensi stunting (Bayi Lahir Pendek), adalah ibu Hamil dan pasangan usaia subur.

Sedangkan untuk penaganan kasus stunting sekaligus optimalisasi “usia emas” tumbuh kembang adalah bayi dan balita yang tinggi badannnya relatif pendek dibandingkan normalnya.

Stunting pada anak balita dipengaruhi oleh berbagai faktor. Secara umum, stunting disebabkan karena kekurangan gizi kronis pada ibu dan bayi, adanya penyakit infeksi yang menyerap energi seperti diare, dan praktek pengasuhan yang kurang baik, termasuk praktek pemberian ASI/makanan pada anak. Namun di samping itu, terdapat faktor penting yakni masalah keterjangkauan akses terhadap pangan berkualitas dan akses terhadap sarana air bersih dan sanitasi.

Dampak stunting dalam jangka pendek akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan fisik anak, khususnya penurunan fungsi organ. Manifestasinya dapat berupa gangguan sistem kekebalan tubuh, sehingga anak lebih rentan terkena penyakit. Selain itu, perkembangan kognitif anak juga bisa terganggu, sehingga performa akademik cenderung kurang. Dalam jangka panjangnya, anak yang stunting berisiko mengalami peningkatan berat badan secara ekstrem sehingga menjadi obesitas, yang berarti juga meningkatkan risiko terkena penyakit degeneratif seperti diabetes dan penyakit jantung. Hal ini tentunya akan mempengaruhi produktivitas saat dewasa, bahkan dapat mempengaruhi tingkat ekonomi keluarga.

Dalam ruang lingkup yang lebih besar, stunting juga berkontribusi terhadap pembangunan suatu negara. Faktor yang mempengaruhi stunting sangat kompleks karena melibatkan lintas sektor di luar sektor kesehatan. Tingginya prevalensi stunting di suatu negara menunjukkan kesenjangan sosial & adanya masalah pembangunan yang berlangsung lama. Stunting juga sangat berkaitan erat dengan kemiskinan. Keluarga miskin cenderung tidak memiliki akses terhadap pelayanan dasar, yakni kesehatan dan pendidikan, sehingga mereka terancam untuk terjebak di lingkaran tersebut. Di samping itu, stunting juga berkontribusi terhadap kerugian negara, karena berpotensi menurunkan Produk Domestik Bruto (PDB) nasional hingga 11% menurut artikel yang diterbitkan wapresri.go.id.

Berbagai intervensi telah dilakukan sebagai upaya pencegahan dan penanganan stunting. Pada dasarnya, intervensi yang dikelola oleh sektor kesehatan hanya berkontribusi sebesar 30%, sementara 70% sisanya harus melibatkan lintas sektor. Yang perlu dipahami dari konsep stunting ini adalah pentingnya menjaga gizi ibu sebelum dan selama kehamilan. Sehingga sasaran pencegahan stunting adalah ibu hamil, pasangan usia subur (PUS), dan juga remaja perempuan. Ini bertujuan untuk menghindari ibu melahirkan bayi lahir pendek (<48cm) dan bayi berat badan lahir rendah (<2500gr) yang memiliki risiko stunting. Perlu dipahami juga bahwa anak yang lahir normal pun memiliki risiko stunting jika dalam pertumbuhan dan perkembangannya hingga usia 2 tahun mengalami gangguan, seperti asupan gizi yang tidak adekuat dan adanya penyakit infeksi seperti diare. Karena itu, untuk sasaran penanganan stunting difokuskan pada bayi, balita, dan ibu agar anak dapat mengejar ketertinggalan pertumbuhan.

Telah disebutkan bahwa keterjangkauan akses terhadap pangan berkualitas dan akses terhadap sarana sanitasi dan air bersih merupakan faktor penting dalam intervensi pencegahan dan penanganan stunting. Oleh karena itu, Direktorat Pelayanan Sosial Dasar berkomitmen untuk mengembangkan konsep Desa Daulat Sehat serta kegiatan Satu Juta Jamban Keluarga. Konsep Desa Daulat Sehat ingin memastikan kemandirian suatu Desa dalam menjaga gizi dan ketahanan pangan, yang ditujukan agar sumber pangan lokal yang berkualitas selalu tersedia dan terjangkau, khususnya bagi remaja perempuan, wanita usia subur, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Sementara itu, untuk kegiatan Satu Juta Jamban Keluarga diorientasikan untuk meningkatkan akses bagi keluarga terhadap sarana sanitasi yang dilengkapi oleh sarana air bersih. Untuk memastikan kedua program ini dapat terlaksana dengan baik dan berkelanjutan di tingkat Desa, tentunya memerlukan pendampingan dan peningkatan kapasitas masyarakat, termasuk para aparatur Pemerintahan Desa, di bidang kesehatan agar untuk ke depannya dapat dijadikan prioritas pembangunan bidang kesehatan melalui Dokumen Pembangunan Desa.

Hanibal Hamidi.

Comments are closed.

Blog at WordPress.com.

Up ↑