Surat Rekomendasi dari SATGAS IMUNISASI DEWASA 

Berikut surat rekomendasi dari SATGAS IMUNISASI DEWASA

Sehubungan dengan Kejadian Luar Biasa (KLB) Difteri di 23 provinsi di Indonesia maka bersama ini Satgas lmunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Perhimpunan Alergi lmunologi Indonesia (PERALMUNI) dan Perhimpunan Kedokteran Tropis dan lnfeksi Indonesia (PETRI):
1.Mendukung kebijakan Kementerian Kesehatan RI untuk melakukan Outbreak
Response Immunization(ORI) pada daerah KLB. Diharapkan anggota PAPDI dapat memberikan informasi yang benar kepada masyarakat mengenai KLB difteri ini dan sebagai pegangan dapat merujuk kepada informasi Kemenkes dan IDAI.
2. Mengingatkan kembali perlunya imunisasi ulangan pada orang dewasa untuk mencegah tetanus, difteri, dan pertusis. Sesuai dengan jadwal imunisasi dewasa PAPDI,pada orang dewasa yang telah mendapatkan imunisasi tetanus-difteri-pertusis dasar yang lengkap, imunisasi ulangan dilakukan 10 tahun sekali. Adapun vaksin yang dapat digunakan adalah kombinasi Tetanus-difteri-aseluler pertussis / Tdap (Boostrix atau Adacel) atau Tetanus-difteri / Td (Biofarma).
3.Orang dewasa kelompok risiko tinggi untuk kontak dengan anak yang terinfeksi difteri
seperti petugas poliklinik dan perawatan inap anak, petugas poliklinik dan perawatan inap THT, petugas gawat darurat, guru atau pendamping anak, dan anggota keluarga anak yang terinfeksi difteri dianjurkan untuk menjalani imunisasi Tdap atau Td.
4. lmunisasi Tdap pada ibu ham ii dilakukan pada usia kehamilan trimester 2 dan 3.
5. Pemerintah telah melaksanakan imunisasi tanggap KLB (ORI) untuk anak usia 1 – <19 tahun secara cuma-cuma. Untuk ulangan imunisasi Tdap atau Td pada orang dewasa dilaksanakan dengan biaya mandiri.
6. Mengingatkan seluruh anggota PAPDI untuk mengajak masyarakat melaksanakan
gaya hidup sehat serta menjalani imunisasi agar tercapai cakupan yang tinggi untuk mencegah penularan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.

 

Berikut kami kirimkan pula copy surat  aslinya yang dapat di unduh pada link : Rekomendasi Imunisasi Difteri

beserta kami kirimkan pula jadwal imunisasi dewasa tahun 2017 pada link berikut : jadwal imunisasi dewasa 2017

dan bahan bacaan dari website WHO terkait imunisasi pada link berikut :Vaccines-and-trust

Mari kita samakan dulu pemahaman: apa definisi imunisasi difteri lengkap? Yaitu ketika:

  • Usianya satu tahun, sudah dapat vaksin DPT atau DPaT 3x (tiga kali). Karena imunisasi DPT/DPaT kombo dengan Hib dan/atau Hepatitis B dan polio diberikan pada usia 2, 3, dan 4 bulan (atau 2, 4, dan 6 bulan).
  • Usianya 18-24 bulan, sudah dapat vaksin DPT/DPaT kombo 4x (empat kali)! Ya, vaksinasi dosis ke-4 diberikan pada usia 18 bulan.
  • Mendapatkan dosis DPT atau DT ke-5 di usia 5 tahun (4 – 6 tahun). Atau bila tidak mendapatkannya di praktik dokter mandiri/RS, maka dapat imunisasi DT ke-5 ini saat BIAS (bulan imunisasi anak sekolah) di kelas 1-2 SD.
  • Mendapatkan dosis Td (tetanus dan difteri) ke-6 di usia 10-12 tahun.

Jadi ketika orangtua membawa anaknya dengan kecurigaan sakit difteri di usia 2 tahun, tetapi ketika ditanyakan apakah sudah lengkap imunisasinya ia menjawab sudah, padahal kenyataannya baru dapat 3 dosis sebelum berusia 1 tahun, maka artinya tidak lengkap status imunisasinya! Karena belum dapat dosis ke-4.

Begitu juga contoh lain ketika anak berusia 8 tahun dengan kecurigaan sakit difteri mengaku lengkap status imunisasinya, padahal belum dapat dosis ke-5 saat berusia 5 tahun atau saat BIAS, maka artinya belum lengkap imunisasi difterinya. Imunisasi yang tidak lengkap ini berisiko membuat anak tetap sakit, seiring menurunnya kekebalan tubuh yang diciptakan oleh vaksin. Itulah mengapa ada yang namanya dosis pengulangan atau booster pada imunisasi.

Maka petugas kesehatan HARUS memastikan kelengkapan status imunisasi dengan melihat buku catatan kesehatan atau buku KIA/KMS anak, bukan semata berdasarkan keterangan lisan orangtua.

Dan orangtua harus memastikan lagi status kelengkapan imunisasi anak-anaknya lewat buku catatan, serta menyimpannya dengan baik, jangan sampai hilang.

( Dr. dr. Soedjatmiko, Sp.A(K) dari Satgas Imunisasi IDAI )

Comments are closed.

Blog at WordPress.com.

Up ↑