Siapa yang dapat menolong wanita jika wanita sendiri tidak memecahkannya? Tidak berusaha, tidak bertindak, tidak beraksi, tidak pula mencari jalan??

Surgaku Di Kaki Mu Ibu, Nasehat dan Semua hal yang engkau berikan atas cinta dan kasih sayangmu saat kami dalam kandunganmu, pelukan dan suapanmu, asuhan perwatanmu yang disertai selalu doa tulusmu, saat kami hanya bisa menangis, tertawa dan memekik sampai mulai bisa merangkak dan berlari, serta kami ingat saat selalu ada dalam pengawasanmu untuk melindungi kami saat mulai remaja sebagai buah hati dari perpaduan kasih dan cintamu pada ayah, dan saat kami menerima begitu banyak kehangatan pandangan “cemburu” sekaligus bangga dan bahagia disaat kami mulai meniti kesiapan untuk dewasa dan berbagi kasih, perhatian dan waktu untuk Mu dengan calon pasangan kami serta pilihan karir masa depan kami, dan kedekatan dengan kasih sayangmu perlahan kami lebih siap untuk mulai mandiri melalui hantaran tangis bahagiamu saat mengantarkan kami penghulu untuk melakukan hal yang sama yang enkau dan ayah lakukan dalam mempersiapkan diri untuk mampu memberikan semua curahan kasih, sayang dan cinta pada cucu cucu mu. semoga engkau diberikan tempat yang layak di sisi Allah SWT. Amin. Terima kasih kami pada Mu Ibu dan Ayah dari semua keluarga yang engkau harapkan melalui doamu selama ini. SELAMAT HARI IBU ….

HANIBAL HAMIDI

22 Desember selalu dirayakan sebagai Hari Ibu. Tak sedikit yang belum tahu, asal muasal penetapan Hari Ibu di Indonesia. Dari beberapa informasi yang dihimpun dari sejumlah sumber, 22 Desember 1928 merupakan pertama kalinya Kongres Perempuan di Indonesia diselenggarakan.

Dalam kongres yang digelar di kota perjuangan Yogyakarta, sejumlah perempuan bertemu membahas perjuangan perbaikan derajat kedudukan perempuan. Di antara yang hadir adalah Nyi Hajar Dewantara yang merupakan istri tokoh pendidikan Ki Hajar Dewantara.

Ada pula Suyatin, Putri Indonesia pertama yang menjadi ketua penyelenggara. Salah satu keputusannya adalah dibentuknya satu organisasi federasi yang mandiri dengan nama Perikatan Perkoempoelan Perempoean Indonesia (PPPI).

Tetapi di dalam permusyawaratan-permusyawaratan yang demikian itu, saya selalu hanya memberi petunjuk garis–garis besar saja, dan selalu saya peringatkan bahwa soal wanita hanyalah dapat diselesaikan oleh wanita sendiri. Terutama sekali di dalam prakteknya pemecahan soal-soal cabang, soal-soal ranting, – siapa yang dapat menolong wanita jika wanita sendiri tidak memecahkannya? Tidak berusaha, tidak bertindak, tidak beraksi, tidak pula mencari jalan?

Saya sepaham dengan Vivekananda yang selalu, jikalau ditanya oleh orang laki-laki tentang soal-soal kecil urusan wanita (soal-soal yang tidak prinsipiil) lantas menjawab:
”Apakah aku ini seorang wanita, maka engkau selalu menanyakan hal-hal yang semacam itu kepadaku? …Engkau itu apa, maka engkau mengira dapat memecahkan soal-soal wanita? Apa engkau itu Tuhan Allah, maka engkau mau menguasai tiap-tiap janda dan tiap-tiap perempuan? Hands off! Mereka akan mampu menyelesaikan soal-soalnya sendiri!”

Ya, wanita sendiri harus bertindak, wanita sendiri harus berjoang! Tetapi ini tidak berarti, bahwa wanita harus berusaha terpisah sama sekali dari pihak laki-laki. Tidak, untuk kepentingan wanita pula, wanita harus menjadi roda hebat dalam Revolusi Nasional; wanita di dalam Revolusi kita ini harus bersatu aksi dengan laki-laki, dan wanitapun harus bersatu aksi dengan wanita pula.
Jangan terpecah belah, jangan bersaing-saingan! Jangan ada yg memeluk tangan!

Tulisan Presiden Soekarno di Buku SARINAH, Kewajiba Wanita dalam Perjuangan Republik Indonesia, Yogyakarta, 3 November 1947.

Sesi Hari Ibu (Wanita), tgl 22 Desember

Comments are closed.

Blog at WordPress.com.

Up ↑