Ketulusan hati Petruk yang merupakan lakon sang Raja yang Bijak, Jumawa dan Pembawa Kemakmuran Rakyat

Kepada Yth. Seniorku

Untuk sampaikan Pendapat saya tentang isue dalam sepanduk tersebut, ijinkan saya menjelaskan pemikiran saya.

Sesungguhnya saya adalah orang yang senang mempelajari keunikan masing masing manusia, yg sangat sadar bahwa setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, dan juga dihadirkan sesuai momen dan waktunya untuk berperan sebagai apa, yang tidak pernah kita ketatahui pasti tujuan dan maknanya. Hal tersebut diketahui saat kita telah melaluinya, pada saat beberapa waktu kemudian. Saya juga cukup rasional dalam bersikap. Salah satu sikap saya pada 2014 memilih capres yang “nampak” performancenya paling siap. Selaku rakyat biasa yang memiliki kewajiban dan hak konstitusional untuk mengeksfresikan “Daulat Rakyat” dalam menentukan pilihan presiden, pimpinan daerah maupun perwakilan DPR atau DPD setiap lima tahunan, maka berdasarkan info yang tersedia oleh berbagai media dan sumber informasi (yang juga tidak saya ketahui apakah ada keberpihakan pada salah satu pasangan capres atau tidak) yang dapat saya akses, akan mengarah kepada calon yang “mengesankan” lebih siap untuk kita pilih. Tentunya pertimbangan saat memilih saat itu, selaku rakyat biasa yang relatif lebih muda dari hari ini, dan merasa tidak ada kepentingan secara langsung, maka dasar pemilihan hanya “normatif” sesuai penilaian umum tentang “pemimpin” selama ini dianggap baik oleh masyarakat umumnya (Hegomoni budaya Jawa), yaitu “bibit, bobot maupun bebet”. Tentunya kita ketahui bersama siapakah yang akan kita pilih bila dasar pemilihan kita adalah falsafah tsb.

Seperti kita ketahui dan kita yakini bersama, keterpilihan seseorang untuk memikul tugas sebagai Presiden yang sangat berat, tentunya sangat ditentukan oleh takdir yang telah ditetapkan oleh kehendak Allah SWT, dan Jokowi yang ditakdirkan sebagai Presiden ke 7 Indonesia. Banyak pertanyaan mengapa seorang Jokowi yang Allah takdirkan untuk memimpin Indonesia ?

Saya termasuk rakyat yang meyakini bahwa Allah sayang pada negra dan semua rakyat Indonesia, melalui takdir Pak Jokowi sebagai Presiden ke 7 RI. Sehingga untuk mempelajari dan mengetahui siapakah sesungguhnya Jokowi (keunikan), yang bagi sebagian banyak orang layaknya “petruk jadi raja”, saya terus mengamati tindak tanduk sang “raja” pada berbagai kegiatan dalam berbagai dimensi kehidupan sebagai manusia, selama menjadi presiden.

Kepentingan saya yang saat ini, yang memiliki 3 anak yg mulai dewasa, sadar bahwa mereka akan menghadapi persaingan yang sangat berat di dunia yang menyatu akibat digitalisasi. Perkembangan “digitalisasi” sebagai instrumen bantu interaksi sosial masyarakat, yang fungsinya dapat “menihilkan jarak dan ruang” dalam interaksi sosial, sangat progresif kemajuannya, sehingga sangat sulit diprediksi “dampak perubahan sosial yang terjadi pada lebih dari 10 tahun mendatang (berdasarkan berbagai kajian di berbagai negara, keyakinan prediksi perubahan sosial yang mungkin terjadi hanya pada maksimal 10 tahun mendatang). Sehingga menimbulkan kesulitan dalam menentukan rencana antisifasinya. Sehingga menurut pemikiran saya sangat terbatas, tidak boleh ada kesalahan dalam merencanakan langkah terbaik, karena tidak ada ruang dan waktu lagi bagi “perbaikan kesalahan” di masa mendatang, masa bagi generasi anak anak kita semua. Maka pilihannya kita adalah “memperkuat daya tahan” dari berbagai dimensi dengan cara memastikan warisan berupa “sistem pemerintahan negara RI” yg sangat baik, terjaga (rigid) dan akomodatif/responsif terhadap dinamika sosial masa mendatang, selain mempersiapkan manusia yg cerdas, bijak dan berkarakter sesuai ideologi negara dan bangsa Indonesia, “Pancasila” yg sangat manusiawi. Bagi kita sasarn strtegisnya adalah memastikan dokumen strategis RPJMN ke 4 fase RPJPN I (2020-2025) dan RPJPN II (2025-2045), sesuai dengan pemikiran apa warisan yang akan kita berikan sebagai “bekal” pertarungan yang akan dilalui anak anak kita pada masa digital saat ini dan masa mendatang.

Untuk semua pertimbangan tersebut di atas, maka kesimpulan saya adalah sebagai berikut; “Kelemahan sang raja adalah layaknya orang kampung yang ingin bersihkan kota, dia punya niat yang baik (Goodwil) dan mengetahui dan berani menghadapi resikonya. Tetapi tidak banyak mengetahui informasi tentang kota secara baik (tokohnya dll). Dia hanya tahu info jenis kejahatan besarnya, modus “mafioso” dll, itupun tidaklah cukup update dan tidak detail. Yang dia tahu, adalah secara prinsif, bahwa semua “budaya buruk” yang selama puluhan tahun terbentuk, menyisakan banyak “budaya tidak produktif”, manja dan masih banyak para antek “budaya” korup dan lainnya. Dia hanya mengetahui ciri-ciri “karakter” para elit komunitas penganut “budaya warisan aristokrat/budaya panggung” tsb.

Tapi karena hanya punya teman “seperjuangan” dalam menjadikan dirinya “walikota”, dan karena dia juga harus jadi orang jawa yang menghargai dukungan orang orang tsb saat menjadikannya walikota, walau akhirnya dia tahu bahwa teman seperjuangannya tsb adalah “tipikal dg para antek budaya korup tsb, dengan “pilihan modus yang berbeda”. Diapun menyelesaikan kendala itu secara “apik”, dengan pentahapan, mengingatkan melalui lembaga lembaga formal atau “gestur tubuhnya atau komunikasi politiknya” yang bisa memberikan “signal” mengingatkan. Dan bila “signal” tersebut tidak terespon baik, maka diapun sudah merasa sudah tidak bersalah lagi untuk secara tegas menindak.

Inilah menurut kami, penyebab utama “tidak terpenuhinya janji janji tsb, karena sibuk mempelajari dan menyikapi hal, yang selayaknya tidak diperlukan bagi seorang raja. Tetapi takdir Allah telah memimilihnya menjadi raja, Siapa yg kita harus persalahkan dalam keterpilihan saat 2014 ? … apakah kita persalahkan yg menetapkan “takdir” ? Bisa kualat kita.

Untuk beberapa maslah yg sangat dekat dg makna “integritas” dirinya selaku “kesatria”, disertai informasi dari sekitarnya yg tidak utuh atas kebutuhan pilihan kebijakannya, maka kondisi tersebut masih cukup potensial membelenggunya. Yang saat ini, masa tahun politik, hambatan tersebut dikuatkan dengan “konsolidasi” para antek budaya korup tsb yang menetapkan sang raja sebagai musuh bersama, pada momen pilpres mendatang, Konsolidasi “komunitas mapan terdahulu, yang saat ini menjadi para pemilik “kapital” yang sangat besar”, karena sadar kalau “sang rojo” saat ini tidak sama dengan masa pencalonan pada tahun 2014, karena sudah lebih memahami siapa “para elit kota” dan apa tujuannya serta di mana posisinya dalam perjuangan menjadikan kota yang sesungguhnya kaya raya ini, untuk menjadi kota maju dan sejahtera, tapi saat ini hanya sebagai kota menengah yg cenderung akan menjadi kota miskin bila tidak ada perubahan secara radikal, akibat warisan “sistem/budaya korup, elit”, yang melebarkan “jurang kesenjangan, ketidakadilan” antar wilayah maupun antar sesama masyarakat.

Bagi saya saat ini, dan saya yakin (berdasarkan pengamatan 3 tahun jd rojo), paling tidak sang rojo punya niat, untuk menjadi “Bapak” serta “suami” dari anak anak dan istrinya yg dinilai oleh masyarakat sekitarnya sebagai pengabdi/pejuang yang gigigih dan cerdas bagi kemajuan rakyat dan kerajaannya. Dia juga punya harga diri dan rasa malu pada para keluarganya bila melakukan kejahatan pada rakyat dan kerajaannya. Dia sadar bahwa dia harus banyak belajar dan memiliki kepercayaan diri untuk dapat tercatat dalam sejarah sebagai “raja yang membawa kebaikan bagi rakyat dan kerajaannya. Tetapi Dia juga tidak merasa malu untuk mengkoreksi langkahnya setelah dia semakin banyak pengetahuan tentang “isue” terkait kemajuan maupun hambatan bagi rakyat dan kerajaannya, selama hal tersebut menjadikan lebih baik bagi kepentingan rakyat dan kerajaannya. Bukti telah cukup untk meyakini siapakah sang Petruk ?

Saat ini kita harus kembalikan pada diri kita, apa yg kita harus pilih;

  1. Orang baik yg punya niat baik, walau kurang tepat untuk jadi “walikota”, tapi bernasib baik terpilih jadi “raja” th 2014. Sehingga selama 3 tahun ini, telah banyak belajar sekaligus membuktikan niat baik, keberanian dan konsistensi dan semakin meningkatkan percaya dirinya untuk mampu mewujudkan niatnya (termasuk janji yg terlambat dipenuhinya), sehingga saat ini pantas kita beri kesempatan kedua, dengan “mengawal” di lingkaran dekatnya sbg penyedia informasi apapun yg Valid dan terkini, yg dibutuhkannya bagi keputusan kebijakan yang diambil berdasarkan kepekaan “intuisi“ kepemimpinannya yg datang entah dari mana (takdirnya) tp kita harus yakini (Konskwensi pilihan ini adalah dibutuhkan sikap “loyalitas mutlak” atas keputusannya), tidak mempertanyakannya, hanya boleh menyempurnakan “caranya” atau pilihan ke
  2. Siapapun yg sangat luar biasa (yang nampak nyata), tapi kita tidak pernah punya catatan kisahnya tentang “niat” sesungguhnya didalam hati dan fikirannya atas semua keberhasilan tsb, bahkan info perjalanan hidupnya yg tersedia cenderung mengarah pd ambisi penaklukan belaka atau ambisi tunggal untuk meraih jabatan puncak kekuasaan tanpa ada yg bisa menyainginya … EGO AMBISIUS semata … yang kita ketahui akan jatuh kepada karakter pemimpin otoriter (bak dewa/tuhan), atau pilihan ke
  3. Menyerahkan diri pada keputusan “pertemanan/persaudaraan/trendy/kepentingan “group yang sama” atau bersama sama tidak memilih, hanya merecord semua dinamika para pemain tanpa ikut dalam permainan

Saatnya kita memilih, tanpa adanya kemungkinan salah, karena sudah tidak ada lagi ruang dan waktu untuk memperbaiki nantinya (resiko “bubar” ?)

Merdesa dalam memilih …
Hanibal Hamidi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑