Kondisi Kehidupan Sosial Berbangsa & Bernegara Yang Diwariskan Oleh Orde Baru Terakhir Pada thn 1998, Yang Merupakan “Modal ???” Awal Bagi Generasi Penerus Di Era Reformasi …

Mengngat pepatah, “Bahkan Kerbau Tidak Ingin Jatuh Kedua kali pada lubang yang sama”, apakah kita cukup bertanggung jawab dan masih merasa “sayang” pada anak dan cucu kita yang akan menerukan tugas pembangunan pada era mellenia mendatang, dengan tidak bisa mewariskan negara dan bangsa yang sungguh-sungguh menjadi “modal” besar bagi pertarungan eksistensi negara dalam era dunia yang telah menyatu berbasi digital saat ini dan masa mendatang ??? (HH)

Kontrak kerjasama antar negara yang “pertamakali terjadi yang ditandatangani oleh Soeharto, sebagai Prisiden Indonesia kedua secara langsung adalah “Freport” pada tahun 1967. Dapat diyakini merupakan “kompensasi” /harga bagi terjadinya peristiwa politik “huru hara G30 S”, yang merupakan pemicu lengsernya kekuasaan Soekarno (Proklamator dan bapak bangsa Indonesia), ketika itu selaku presiden pertama RI yang “harus” meneyerahkan kekuasaan pada Soeharto, rezim orde baru yang dipaksa rakyat Indonesia menyerahkan kekuasaannya selama 32 tahun, pada th 1998 untuk dilakukan reformasi secara menyeluruh konsep penyelenggaraan negara “gaya” orde baru tersebut. Dimana pemerintahan yg berkuasa meninabobokkan bangsa dengan “kamuflase” adem, ayem dan tenterem, melaui berbagai “subsisdi” barang konsumsi rumah tangga (listrik, bensin dll) dan menjadikan APBN sbg “sumber kehidupan ekonomi sebagian besar rakyat, melalui program bantuan sosial dan atau sumber daya “proyek” pemerintah bagi pertumbuhan pengusaha Indonesia. Sedangkan sumber dana APBN dari sedikit prosentase bagian eksplorasi kekeyaan alam Indonesia (emas, minyak dll) oleh negara Amerika dan lainnya yang “ditengkulaki” oleh kaum “elit” Indonesia (pengsaha dan para pejabat negara), dengan mengadaikan kontrak puluhan tahun (contoh Freeport sudah lebih dari 50 tahun). Sehingga situasi bangsa Indonesia, menjadi “malas” berproduksi, karena merasa “adem, ayem, walau hanya bisa makan “seadanya” dan tanpa kejelasan harapan lebih baik bagi generasi anak anaknya. karena terlena dg subsidi, bantuan sosial dan pendapatan “seadanya” melalui “bancaan seadnya bersumber dana APBN. Sehingga Indonesia selama ini dikenal sbg negara berkembang yg tidak dapat menjadi negara “maju”, akibat tidak memiliki “produksi barang eksport” (kecuali “produksi primer sumber alam Indonesia” yang dieksflorasi perusahaan negara lain) dan kita mendapatkan fee 1 % saja ? untuk sumber devisa negara dengan ditambahkan hutang luar negeri sebagai sumber anggaran APBN. Selain karena malas akibat dininabobokan pemerintah, rendahnya produk bruto Indonesia diakibatkan oleh rendahnya kualitas manusia Indonesia.

Sehingga kondisi yg diwariskan oleh rezim orde baru, adalah Negara pertumbuhan ekonominya bukan adannya produksi barang eksport untuk menjadi sumber devisa negara, tetapi pertumbuhan ekonomi yg diakibatkan ratusan juta penduduk Indonesia sebagai “obyek” sasaran “pasar produk import” semata.

Sehinga Indonesiayg terjebak dalam “middle trap”, Kekayaan alam yg terus terkuras habis, dan laju pembangunan yg sangat lamban, sehingga harapan akan adannya peluang kemajuan nagara untuk menjadi lebih baik berdasarkan waktu berjalan, hanyalah “dongeng” dari rezim berkuasa. Bahkan kecenderungan akan datang, Indonesia akan terpuruk, bila tidak segera melakukkan perubahan. Itulah yang sesungguhnya pemicunya lengsernya Soeharta dan awal bagi era reformasi.

Setelah 20 tahun berjalannya reformasi ??? ….

(HH).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑