Keluarga Sebagai Pondasi Karakter Bangsa

Nilai Nilai yang ada dan diacu oleh semua anggota keluaraga yang ditauladani oleh kedua orang tua adalah sangat strategis bagi pembangunan karakter bangsa. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa karakter suatu bangsalah yang akan menentukan keberlanjutan kemajuan suatu bangsa. Mengingat karakter entitas suatu bangsa adalah komulasi dari semua karakter individual/personal seluruh anggota komunitas suatu bangsa itu sendiri.

Pertanyaannya adalah nilai nilai apakah yang sebaiknya tertanam dan dipraktikkan oleh keluarga Indoenesia, sebagai refresentasi karakter keluarga sebagai inti dari kumpulan terkecil anak bangsa dan warga negara Indonesia ?

Seperti yang telah kita sepakati bersama yang termuat dalam konstusi negara Republik Indonesia, bahwa cara pandang hidup bangsa Indonesia yang sesungguhnya telah lama ada dalam kehidupan masyarakat Indonesia adalah semua nilai-nilai yang termuat dalam PANCASILA. Demikianlah kisah sejarah para tokoh bangsa dan negara Indonesia pada saat mempersiapkan kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, yang kita ketahui bersama bahwa salah seorang anggota BPUPK tersebut adalah SOEKARNO. Tercatat dalam sejarah Soekarno sebagai proklamator sekaligus presiden RI pertama dan pencetus pertama kali konsep Pancasila dalam forum rapat BPUPK pada tanggal 1 Juni 1945, menyatakan bahwa sesungguhnya “Pancasila bukanlah ciptaan Soekarno“. Pancasila adalah hasil penggalian dari kearifan lokal yang telah lama ada pada kehidupan masyarakat di Indonesia.

Hal ini dapat kita fahami, mengapa Pancasila dengan secara sederhana dapat diterima oleh seluruh tokoh perwakilan dalam panitia persiapan kemerdekaan RI, yang merupakan refresentasi semua komunitas sosial bangsa Indonesia. Karena memang difahami dan dirasakan oleh semua anggota BPUPK bukanlah sesuatu yang asing, karena nilai nilai semua sila dalam Pancasila adalah kearifan yang telah umum dilakukan masyarakat Indonesia. Demikian juga pada saat setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, tidak ada penolakan yang berarti dari berbagai komunitas masyarakat dari seluruh bangsa Indonesia. Bukti lainnya dapat kita lihat dari kata kata mutiara, pepatah, prosa dari para tokoh masyarakat dan budayawan budayawan dari berbagai wilayah nusantara, Jawa, Sumatera, Papua, Kalimantan, Sulawesi, maupun NTB dan NTB. Hal ini kita temui yang tersimpan dalam lontar atupun lisan yang diwariskan turun temurun melalui kisah kisah masa lalu, substansi dialog pewayangan. Juga masih kita dapat lihat sampai saat ini budaya silaturahmi, gotong royong, ramah tamah dan penuh keterbukaan pada semua tamu atau pendatang. Kebiasaan untuk saling mengunjungi pada saat salah satu kelauarga dalam lingkungan rumah mengalami musibah, dan banyak lagi lainnya.

Menjadi pertanyaan kita semua, mengapa sampai saat ini kondisi negara yang kita cintai ini, masih banyak terjadi kesenjangan antar wilayah, antar kelompok masyarakat serta masih banyak kemiskinan di Indonesia. Sejalan dengan hal tersebut, masih sangat banyak kita saksikan para tokoh penyelenggara negara yang korupsi dan menyalahgunakan kekuasaannya, serta masih banyak regulasi yang tidak tepat sehingga belum mampu mencapai tujuan regulasi tersebut.

Dari semua latar belakang berfikir tersebut di atas, maka di hari keluarga nasional ini, marilah kita wujudkan keluarga yang berkualitas. Keluarga yang merefresentasikan prilaku yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dalam berinter aksi secara sosial serta sikap sikap “KSATRIA” sesuai kearifan budaya kita, seperti; JUJUR, MENGEDEPANKAN KEPENTINGAN ORANG BANYAK DIBANDING KEPENTINGAN DIRI SENDIRI, RASA CINTA PRODUK BANGSA SENDIRI, KETEKUNAN DALAM BELAJAR, MALU BILA MELAKUKAN KEBURUKAN DAN MENJADI BEBAN ORANG LAIN/KELUARGA, AMANAH, BERTANGGUNG JAWAB, BERPIHAK PADA YANG LEBIH LEMAH (anak, perempuan, difabel) dan lain sebagainya. Karakter pribadi yang “Ksatrian” tersebut akan sangat menentukan dalam mengimplementasikan niai nilai semua Sila dari Pancasila pada kehidupan sosial kita dalam praktek berbangsa dan bernegara.

Sehingga mampu menuntun bagaimana mempraktekkan Ketuhanan Yang Maha Esa, sehingga dapat menghargai setiap warga negara yang berbeda keyakinan keagamaanya, karena kita yakini bersama bahwa setiap orang dalam mempraktekkan keimanannya masing masing, pasti tidak akan memiliki sikap bermusuhan, merugikan sesama dan lainnya, sehingga perbedaan agama bukanlah ancaman bagi kita, bagi bangsa dan negara Indonesia. Demikian juga dalam kehidupan keluarga Indonesia, yang menempatkan keimanan pada ketuhanan merupakan keutamaan pada hampir seluruh kehidupan keluarga di Indonesia. Demikian juga pada praktik kemasyarakatan, dimana budaya berdoa selalu ada dalam setiap upacara dan atau musyawarah. Diyakini bila setiap orang beragama dan menjalankan keimanan pada moral keagamaannya masing-masing, maka bangsa dan negara Indonesia akan sangat kokoh, mengingat tidak ada satupun agama yang mengajarkan tentang permusuhan dengan penganut agama yang berbeda dengan dirinya. Bahkan keberlanjutan keharmonisan atas keseimbangan dengan alam dapat terjaga, karena semua agama mengajarkan untuk menjaga keseimbangan semua ciptaanNya.

Demikian pula dengan nilai dari Kemanusiaan yang adil dan beradab, yang merupakan nilai kebaikan dari pada semua manusia secara universal, khususnya masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi nilai nilai kemanusiaan dan keadilan sesuai dengan sifat sifat luhur manusia yang beradab. Sejak dahulu kala, bangsa Indonesia tidak mengenal budaya perbudakan, menjajah negara lain. Kesetaraan gender, dengan sejarah kepahlawanan Cut Mutia, Cut Nyak Dien, Kartini. Utamanya, negara Indonesia bukanlah negara dengan latar belakang sejarah yang berdiri atas pemusnahan penduduk yang telah lebih dulu ada sebelumnya, layak bangs Amborigin di Australia, atau Bangsa Indian di Amerika. Demikian juga sampai saat ini semangat dan cara pandang dalam sila ini, dapat dibuktikan pada saat adanya isue terjadinya penganiayaan seorang pembantu oleh majikannya, memicu kemarahan masyarakat. Termasuk banyaknya kepekaan sosial kita terhadap berbagai permasalahan sosial yang dialami oleh masyarakat yang kurang beruntung. Kepekaan sosial ini umumnya sangat baik untuk menjadi nilai yang ditanamkan pada keluarga.

Apalagi makna pada sila Persatuan Indonesia, dapat kita lihat dimana semua elemen bangsa di Indonesia sangat menghargai perbedaan dengan memberi pengakuan dan penghormatan bagi perbedaaan kearifan lokal bagi masing-masing, karena secara sadar bahwa hal tersebut adalah kekuatan bagi persatuan. Demikian juga nilai kerukunan antar anggota yang menjadi semangat persatuan keluarga akan sangat dirasakan manfaatnya bagi kemajuan semua anggota keluarga, sehingga tidak ada kesenjangan yang begitu lebar bagi sesama saudara.

Demikian pula dengan nilai sila ke empat yang mengajarkan pentingnya musyawah dalam permusyawaratan dan perwakilan, telah menjadi budaya masyarakat Indonesia. Disadari bersama, bahwa keputusan hasil musyawarah adalah suatu keputusan yang terbaik, akan menjadi keputusan bersama. Bukan keputusan atas dominasi persetujuan yang lebih banyak atas pendapat atau gagasan terhadap minoritas jumlah perwakilan kepentingan yang berbeda, yang harus ternegasikan sama sekali sumua usulan atau pendapatnya terhadap suatu isue penting. Sehingga dukungan pelaksanaannya pun tidak mendapat dukungan dari semua pihak. Impelemntasi undang undang Desa, yang menempatkan musyawarah Desa sebagai forum tertinggi dalam pengambil keputusan tertinggi bagi penggunaan dana desa yang rata-rata 1,5 milyar bagi setiap desa dalam setiap tahun adalah suatu regulasi yang sangat baik untuk bersama-sama dijadikan instrumen penting bagi implementasi Pancasila. Juga dalam kehidupan keluarga Indonesai, telah menjadi budaya, dapat kita lihat dalam setiap rencana pernikahan, sunatan dan peristiwa normatif lainnya dalam kehidupan keluarga di Indonesia, semua agenda acara ditetapkan melalui musyawarah para perwakilan kelompok masyarakat terkait untuk kemufakatan bersama, dan hasilnya adalah kebaikan.

Sedangkan sila Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, adalah nilai yang terus dijaga dan dikembangkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bila sila ke lima ini telah tertanam pada setiap keluarga Indonesia, maka dapat dipastikan akan terlahit regulasi yang berkeadilan dari para penyelenggara negara yang berintegritas.

Nilai-nilai KESATRIA secara personal, serta nilai-nilai Pancasila dalam interaksi dalam setiap keluarga, komunitas lingkungan pada setiap Desa/Kelurahan, maka dengan sendirinya akan terwujud karakter bangsa atau karakter negara yang menjamin keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan yang membahgiakan dan berkelanjutan. Demikian juga dampaknya bagai kedamaian dunia yang sejalan dengan perwujudan dunia yang menyatu berbasis Digital dimasa mellenia saat ini.

Bukan isue bagaimana sebaiknya keluarga seting berkumpul dan lainnya, yang perlu dikedepankan dalam keluarga, mengingat saat ini melalui alat bantu dalam berinteraksi saat ini, yang kita kenal dengan teknologi “Digital”, maka faktor “ruang” telah dinihilkan perannya. Sehingga “jarak” (Ruang) keberadaan antar individu anggota keluaraga untuk berinteraksi bersama dalam suatu waktu secara bersama-sama, tidak memiliki makna lagi.

SELAMAT HARI KELUARGA YANG BERKARAKTER INDONESAI…

SELAMAT BAGI WUJUD KOKOH PONDASI KARAKTER BANGSA …

#HanibalHamidi #PerdesaanSehat #Pancasila

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑