Donald Trump Menolak Mewariskan Dunia Yang Lebih Baik Bagi Generasi Mendatang (1/6/2017)

Jokowi Bagi Kedamaian Dunia Yang Berkelanjutan, disampaikan saat pidato pada rapat IMF, Oktober, 2018 di Bali; dalam konteks ekonomi global saat ini, sudah saatnya seluruh negara saling bekerja sama untuk mencegah terjadinya kehancuran dunia yang salah satunya disebabkan oleh perubahan iklim yang semakin ekstrem. “Untuk itu, kita harus bertanya, apakah sekarang saat yang tepat untuk rivalitas dan kompetisi? Sekali lagi, apakah sekarang ini merupakan saat yang tepat untuk rivalitas dan kompetisi? Ataukah saat ini waktu yang tepat untuk kerja sama dan kolaborasi?” ujar Jokowi.

Sangat Visioner …. Sangat Cerdas, Taktis dan Bijak juga Inovator (HH)

=========================================================================

Dan setahun kemudian, yaitu saat ini Masyarakat Amerika sedang menghadapi ancaman Badai Florence, sebagai akibat perubahan iklim dunia, yang telah diabaikan oleh Trump dengan menarik diri dari kesepakatan Paris 2015. pada tanggal 1/6/2017, inilah Resiko Pilpres yang penuh kontrovesial yang menghasilkan Presiden Trump pada tahun 2016.

Hasil pilpres akan sangat menentukan kesejahteraan Bangsa dan Negara negara tersebut, bagaimana dengan Pilpres RI pada 2019 ?

Semua tanggung jawab pada kehidupan yang lebih baik di masa mendatang 2019-seterusnya, ada di tangan kita saat ini yang telah ditetapkan sebagai pemilih siapakah Presiden mendatang, pada pemilu tahun 2019.

Apakah kita ingin “berjudi” dengan masa depan kita, anak dan cucu kita ?, maka menurut saya secara pribadi, Track Record atau jejak kerja calon presiden harus menjadi pertimbangan utama bagi pemilu 2019, …

Bahwa kekurangan dari Presiden Jokowi yang ada saat ini sebagai manusia yang tidak sempurna, akan menjadi fokus bagi kita dalam mendukung dan mengawalnya saat nanti melanjutkan kepemimpinanannya yang telah menunjukkan “keberanian, kecerdasan, dan tekat yang teruji, berjuang melakukan perubahan yang sangat mendasar, merubah gaya/budaya “aristrokatis/berjois/ekslusifisme/elitis” sehingga terjadi “penumpukan kekayaan bagi segelintir orang, ketimpangan kesejahteraan, ketidak adalian sosial bagi seluruh rakyat RI, sebagai warisan budaya “orde baru” menjadi “egaliter, terbuka, jujur, bijaksana, merakyat, berkeadilan sosial melalu pemerataan pembangunan, konsisten di tengah musuh-musuh yang sangat kuat dari sisi dukungan dana kampanye atas kesamaan kepentingan kelompok yang mapan yang berada dibalik layar. Kita harus bersama sama untuk memastikan pak Jokowi sebagai Presiden pada periode keduanya nanti, pada tahun 2019-2024, dapat meletakkan “Pondasi yang kokoh” bagi pembangunan Karakter Bangsa Juara, karakter bangsa nusantara yang agung …Melalu agenda “Revolusi Mental” sebagai karakter bangsa dan negara RI, Dengan berpedoman kepada Kompas Bagi siapapun yang menjadi “Nahkoda” Kapal Besar Negara Indonesia, Yaitu Kompas “Tri Sakti” …

Selamat merayakan pesta demokrasi, bergembiralah kita menyongsong bangsa dan negara yang maju dimasa mendatang .. semoga Tuhan, Allah SWT menyertai kita semua … Amin (HH)

Betapa karakter pemimpin Amerika saat ini yang tidak memiliki visi masa depan terkait iklim dunia yang cenderung berubah secara ekstrim menuju kehancuran dunia, telah diabaikan oleh seseorang manusia Amerika yang menduduki posisi sebagai presiden Amerika saat ini melalui proses pemilihan presiden Amerika pada tahun lalu (2016), yang penuh dengan “kontarversi”. Hal ini sangat mengejutkan dunia, mengingat Amerika adalah negara penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca dunia, yaitu 15 %, sekaligus negara yang berpotensi sebagai sumber anggaran, pengetahuan dan teknologi terbesar bagi penurunan suhu dunia. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya pemilihan presiden suatu negara dimanapun, yang akan mempengaruhi masa depan masyarakat (generasi mendatang) di negaranya dan berpengaruh pada masa depan generasi mendatang dunia.

Inilah tanggung jawab kita pada pemilu tahun 2019 mendatang, semoga Allah SWT melindungi kita semua sebagai kesalahan “generasi” dalam perkembangan kemajuan sejarah Indonesia menuju negara paling maju di Asia maupun negara maju di Dunia. Amin (HH).

Berita televisi menyiarkan tentang Badai “Florence”, sebagai salah satu dampak gangguan iklim, sebagai bagian akibat efek rumah kaca, yang menjadi fokus utama kesepakatan Iklim Paris yang ditandatangani hampir seluruh negara termasuk Amerika, pada tahun 2015 Oleh Obama sebagai Presiden Amerika pada saat itu, dan pada tgl 1 Juni 2016 dibatalkan oleh Presiden Trump yang sampai saat Badai Florence ini (September 2018) terjadi bersamaan goncangan politik di Amerika akibat adanya gerakan politik oposisi yang bertujuan menjatuhkannya dari kursi Presiden Amerika.

Alam telah menunjukkan kenaifan seorang Presiden yang dihasilkan melalui proses pemilu yang penuh kontoversi di Amerika.


— HH —-

AS Hengkang dari Kesepakatan Iklim Paris, Dunia Kecewa

Citra Dewi

02 Jun 2017, 10:00 WIB

Donald Trump saat mengumumkan hengkangnya AS dari Kesepakatan Paris di Gedung Putih (1/6/2017) (AP Photo/Andrew Harnik)

Liputan6.com, Washington DC – Presiden Donald Trump telah mengumumkan bahwa Amerika Serikat menarik diri dari Kesepakatan Paris 2015. Dia mengatakan, negosiasi untuk kesepakatan “adil” yang tak merugikan bisnis dan pekerja AS akan segera dimulai.

Pada kampanye pemilihan presiden tahun lalu, Trump menyebut bahwa ia akan mengambil langkah untuk membantu industri minyak dan batu bara negaranya.

Dalam Kesepakatan Paris 2015, AS dan 187 negara lainnya setuju untuk menjaga kenaikan suhu global di bawah 2 derajat Celcius dan berupaya menekan hingga 1,5 derajat Celcius. Hanya Suriah dan Nikaragua yang tidak menandatangani kesepakatan itu.

Trump menyebut bahwa Kesepakatan Paris bertujuan untuk memincangkan, merugikan, dan memiskinkan AS. Ia mengklaim bahwa kesepakatan itu menelan US$ 3 triliun GDP AS dan menghilangkan 6,5 juta pekerjaan.

“Untuk memenuhi kewajiban saya dalam melindungi Amerika dan warganya, Amerika Serikat akan menarik diri dari kesepakatan iklim Paris,” ujar Trump saat mengumumkan hal yang mengejutkan banyak negara di dunia itu.

“Kita tak ingin pemimpin dan negara lain menertawakan kita lagi — dan mereka tidak akan.”

“Saya terpilih untuk merepresentasikan warga Pittsburgh, bukan Paris. Saya berjanji akan keluar atau menegosiasikan kembali perjanjian apa pun yang gagal memenuhi kepentingan Amerika. Banyak kesepakatan perdagangan akan segera dinegosiasikan ulang,” kata Trump di Gedung Putih.

Sejumlah analis mengatakan, hengkangnya AS dari Kesepakatan Paris akan semakin membebani dunia untuk mencapai tujuan kesepakatan tersebut, pasalnya AS berkontribusi emisi karbon global sebanyak 15 persen. Di sisi lain, AS juga merupakan sumber keuangan dan teknologi yang signifikan bagi negara berkembang untuk menekan kenaikan suhu.

Trump tidak memberikan jangka waktu hengkangnya AS, namun sejumlah sumber Gedung Putih sebelumnya mengatakan diperlukan waktu hingga empat tahun untuk menyelesaikan keputusan itu.

1 dari 2 halaman

Kekecewaan Dunia atas Hengkangnya AS dari Kesepakatan Paris

Mantan Presiden AS Barack Obama yang menyetujui Kesepakatan Paris, dengan cepat mengkritik tindakan tersebut. Ia menuduh pemerintahan Trump “menolak masa depan”.

Sementara itu, para pemimpin Prancis, Jerman, dan Italia mengeluarkan sebuah pernyataan bersama yang menolak adanya renegosiasi kesepakatan.

“Kami menganggap momentum yang dihasilkan di Paris pada Desember 2015 tidak dapat diubah. Kami sangat yakin bahwa kesepakatan Paris tidak dapat dinegosiasi ulang, karena ini adalah instrumen vital bagi Bumi, masyarakat dan ekonomi kita,” ujar mereka.

Menteri Lingkungan Hidup Kanada Catherine McKenna mengaku sangat kecewa dengan keputusan Trump. Kekecewaan juga diungkapkan Perdana Menteri Inggris Theresa May, yang kemudian menelepon Trump bahwa kesepakatan itu untuk melindungi “kemakmuran dan keamanan generasi masa depan”.

Pemimpin negara-negara Nordik, yakni Swedia, Finlandia, Denmark, Norwegia, dan Islandia juga mengutuk langkah tersebut.

Ilustrasi perubahan iklim (AFP)

Seorang juru bicara PBB mengatakan, keputusan itu adalah “kekecewaan besar bagi upaya global untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan mempromosikan keamanan global”.

Sementara itu negara-negara kepulauan kecil yang keberadaannya paling terancam oleh kenaikan permukaan air laut, sangat khawatir akan langkah yang diambil Trump. Presiden Kepulauan Marshall, Hilda Heine, mengatakan bahwa keputusan itu sangat penting bagi mereka yang hidup di garis depan perubahan iklim.

Miliarder teknologi, Elon Musk, memastikan bahwa dia telah meninggalkan perannya sebagai penasihat administrasi Trump sebagai protes atas keputusan orang nomor satu AS itu.

Saya meninggalkan dewan kepresidenan. Perubahan iklim itu nyata. Hengkang dari (kesepakatan) Paris merupakan langkah yang tak baik untuk Amerika atau dunia,” ujar Musk dalam Twitter.

Satu respons untuk “Donald Trump Menolak Mewariskan Dunia Yang Lebih Baik Bagi Generasi Mendatang (1/6/2017)

Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: