SANTRI SEBAGAI PENJAGA NKRI ???

Sebagai komunitas belajar secara cultural, sejak dahulu kala santri telah menjadi bagian dari kearifan lokal suku-suku bangsa yang ada di Nusantara.

Pranata sosial dalam pesantren sebagai proses belajar santri pada kyai/gurunya, sang begawan di pedepokannya ini terjadi sejak sebelum Islam masuk ke nusantara. Sehingga pada umumnya dalam pesantren tidak dikembangkan adanya perbedaaan keagamaan, sebaliknya tumbuh subur tentang cara pandang bahwa perbedaan tersebut adalah suatu keindahan.

Atau dalam masa sekarang dinyatakan … asik asik aja dan keren …

Pada umumnya pedepokan sang begawan/kyai berada di tempat yang sunyi, ditujukan agar lebih mendapatkan kemudahan dalam belajar dan sekaligus menjalin ikatan yang kuat antara guru dan murid dalam menjaga pemanfaatan ilmu yang didapatnya di pedepokan bagi kebaikan seluruh manusia.

Kelebihan pesantren saat ini dimana dalam Islam yang memberikan ruang lebar bagi budaya diskusi sesama santri dibawah bimbingan kyainya, mendorong tumbuhnya pondasi yang kokoh dalam menghargai perbedaan pendapat dalam berdemokrasi bagi kepentingan musyawarah dalam kemufakatan.

Santri sebagai kaum pelajar berbasis kultural bangsa Indonesia, sangat memahami dan meyakini keberagaman adalah suatu yang harus diterima oleh semua elemen bangsa & negara, mengingat Kesepakatan Seluruh Suku bangsa di wilayah nusantara pada tahun 1928, yang kita kenal sebagai hari sumpah pemuda, yang kemudian kesepakatan tersebut dideklarasikan pada 17 agustus 1945, dengan konstitusi UUD 1945 yang menetapkan ideologi negara RI adalah Panca Sila yang telah disepkati oleh seluruh elemen bangsa Indonesia.

Tantangan atas kesepakatan bangsa yang telah diproklamirkan oleh Soekarn selaku Bapak bangsa sekaligus presiden pertama Indinesia tersebut adalah adanya rencana Belanda yang akan datang ke Indonesia melalui Surabaya, membonceng pasukan sekutu dengan alasan mengamankan penyerahan pasukan Jepang yang telah disetujui pemerintah Indonesia pusat dan direncanakan datang pada tgl 24 Oktober.

Melalui utusan Soekarno pada minggu ke 2 Oktober 1945, untuk permintaan petunjuk dari Rais Akbar NU, Kyai Hasyim Ashari, yang kemudian bersama sama seluruh utusan NU berbagai wilayah (rapat tgl 21 Oktober 1945 di surabaya), mengeluarkan surat keputusan (bertanggal 22 Oktober 1945) ditujukan kepada seluruh rakyat beragama Islam untuk melakukan jihad mempertahankan negara Indonesia yang ditetapkan sebagai bentuk keimanan dalam Islam.

Semangat, gelora para “SANTRI” dalam eksoresi mencintai bangsanya melalui tanggung jawab dalam menjaga dan memoertahankan NKRI adalah keniscayaan, tanpa atau dengan adanya hari Santri sekalipun.

Selamat Hari Santri dan terima kasih kepada para Santri.

Hanibal Hamidi

( http://www.nu.or.id/post/read/72250/resolusi-jihad-nu-dan-perang-empat-hari-di-surabaya- )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: