Selamat Hari Dokter Nasional Indonesia

KEPADA SELURUH SEJAWATKU, SELAMAT MENGABDI BAGI NILAI-NILAI KEMANUSIAN …

Menyimak reportase The International Society For Quality In Heath Care (ISQu) yang dilaksanakan pada 23-26 Seotember 2018 di Kuala Lumpur dengan thema Heads, Hearts and Hands: Weaving The Fabric of Quality and Safety, serta mengingat kondisi dan permaslahan pelayanan kesehatan Indonesia saat ini, terutama pada isue penyelenggaraan Sistim Jaminan Sosial Nasional bidang kesehatan sesuai amanah UU No 40 tahun 2004 tentang SJSN, Oleh BPJS berdasarkan UU No 24 tahun 2011 Tentang BPJS, nampak adanya benang merah dengan Hari Dokter Nasional saat ini, yang sangat strategis untuk menjadi perhatian kita semua yaitu KASIH SAYANG kepada siapapun yang kita layani dalam pelayanan kesehatan. Hal ini sesuai dengan komitmen kita semua terhadap “hak dasar sehat” bagi semua orang yang harus menjadi utama bagi kemanusian. Dokter adalah profesi yang terikat dengan sumpah dokter yang diucapkannya saat diakui sebagai Dokter oleh sistem pendikan dokter.

Jadikanlah hal ini sebagai titik sentral bagi pemebangunan kesehatan untuk semua ….

KEPADA SELURUH SEJAWATKU, SELAMAT MENGABDI BAGI NILAI-NILAI KEMANUSIAN …

HanibalHamid

==========================================================================

http://www.mutupelayanankesehatan.net/2886-reportase-the-international-society-for-quality-in-health-care-isqua

Reportase The International Society For Quality In Health Care (ISQua) 

The International Society for Quality in Health Care (ISQua) kembali mengadakan pertemuan internasional tentang mutu pelayanan kesehatan, yang merupakan konferensi ke-35. Lokasi pertemuan tahun 2018 ini di Kuala Lumpur Convention Center, Malaysia. Acara berlangsung selama empat hari sejak tanggal 23-26 September, dimana hari pertama merupakan acara Pre-conference.

Tahun ini tema yang diangkat adalah “Heads, Hearts and Hands: Weaving The Fabric of Quality and Safety” dengan 11 topik didalamnya (lihat gambar dibawah). Topik yang diangkat dalam konferensi ini adalah topik-topik yang sangat relevan untuk peningkatan mutu pelayanan kesehatan. Lebih dari 100 pembicara yang merupakan ahli dalam mutu dan keselamatan pasien akan mengisi acara sesi plenary dan presentasi. Tahun ini terdapat lebih dari 250 presentasi dan lebih dari 700 poster yang akan ditampilkan.

poster isqua

Pada kesempatan ini, jumlah delegasi dari Indonesia yang berpartisipasi memecahkan rekor dalam sejarah konferensi ISQua, yaitu 81 peserta. Peserta merupakan perwakilan dari Kementerian Kesehatan, PKMK FKKMK UGM, RSCM, FK Universitas Brawijaya, Universitas Indonesia, RS Jiwa Aceh, Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS), RS Pelni, RSPAD Gatot Subroto, Sansekerta, RS Pertamina, RSUP Dr.Sardjito, RSUD Dr.Soetomo, RSUD Syaiful Anwar, dan RS Awal Bros Group. Para peserta hadir untuk mengikuti konferensi dan menyajikan berbagai hasil penelitian masing-masing dalam bidang mutu dan keselamatan pasien, baik dalam bentuk presentasi oral maupun poster.

Reportase disusun secara harian selama empat hari yaitu mulai hari Minggu-Rabu, tanggal 23-26 September 2018 yang akan memuat ringkasan materi yang disajikan oleh pembicara dalam berbagai sesi serta take home messages yang tim penulis anggap berguna untuk memberikan ide untuk peningkatan mutu pelayanan kesehatan di Indonesia. Selain itu, reportase juga akan dilengkapi dengan dokumentasi kegiatan para delegasi Indonesia dan pandangan tim penulis terkait konteks di Indonesia serta usulan tindak lanjut. Para pembaca diundang untuk memberikan tanggapan ataupun komentar secara online.

http://www.mutupelayanankesehatan.net/2901-Reportase-ISQua-Hari-Pertama

Reportase ISQua Hari Pertama 

Patient Reported Outcome Measures… Bring The Patient To The Center Of Care

Viera Wardhani,
S2 Manajemen Rumah Sakit, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya.

Mengembangkan ukuran dalam proses pelayanan kesehatan berdasarkan perspektif pasien merupakan satu strategi penting dalam pelayanan yang berpusat pada pasien. Ukuran outcome (PROM=patient reported outcome measurement) misalnya rasa sakit, pengalaman (PREM=patient reported experience measurement) misalnya waktu tunggu, perhatian dokter, dan PCOM (patient change outcome management) akan melengkapi data kondisi dan perkembangan pasien. Esensinya adalah mengetahui “service value” atau sederhananya adalah “good buy” layak dibeli atau apa yang diperoleh dari yang dibelanjakan yang merupakan kombinasi antara outcome, service experience dan biaya.

1okt 1

Secara grafis, pengukuran yang perlu ada dalam sistem catatan medis harus bersifat komprehensif dan balance yang meliputi aspek klinis, fungsi, pengalaman (kepuasan), dan biaya (langsung maupun tak langsung). Keempat komponen tersebut akan menjadi semacam dashboard bagi dokter maupun pasien. Dalam keempat komponen tersebut selalu ada sudut pandang pasien, misal gejala yang dirasakan dalam ukuran klinis, dampak kondisi sakit terhadap fungsi sehari-hari, pengalaman dalam pelayanan, serta biaya tidak langsung.

1okt 2

Agar berhasil terdapat 6 kunci sukses sebuah PRO

  1. Gabungan antara generik dan spesifik sesuai penyakit
  2. Response rate harus 60-70
  3. Menggunakan multi mode agar menjangkau semua (app, komputer, paper)
  4. Diintegrasikan dengan medical record
  5. Akses real time
  6. Population health dashboard

Dalam mengembangan ukuran harus diawali dengan inquiry yaitu mengapa harus, apa tujuan kita, dan apa incentives yang diharapkan, siapa saja yang harus dilibatkan, kapan harus diukur, apa yang harus diukur, berapa banyak (rule 20-8, setiap 20 item perlu 8 menit).

Teknik workshop menggunakan studi kasus, dengan vignette kemudian peserta diminta memberikan skor PRO dalam hal ini PHQ untuk mengukur depresi, dengan mengumpamakan diri adalah pasien, selanjutnya peserta juga menempatkan diri sebagai dokter dan menetapkan kebutuhan pasien berdasarkan data informasi pasien ukuran tersebut. Peserta diminta mengevaluasi mudahkah mengisi PHQ?

Tugas berikutnya adalah mengidentifikasi sumber daya yang ada di RS/Praktek serta apa perannya dalam menerapkan PROM. Misal siapa yang mendistribusikan, mengisi, merekap, menganalisis dan menggunakan data tersebut? Menarik untuk dikaji meluasnya keterlibatan volunter untuk mengatasi kekurangan sumber daya. Mereka adalah pensiun yang membutuhkan aktifitas dan eksistensi diri, yang mendampingi dalam proses pengisian PROM.

Kasus juga menyajikan riwayat pengobatan, data klinis kadar glukosa darah, dan HgBA1c. Ketiga data tersebut (skor PHQ, gula darah puasa dan HgBA1C), di plotting dalam satu halaman. Peserta diminta melihat apa yang bisa diamati dengan masing-masing data dan gabungan ketiganya. Gainnya adalah dengan melihat dari berbagai sudut pandang lebih memberikan gambaran yang menyeluruh dari kondisi pasien, bagaimana kendali stres memberikan perbaikan pada gambaran klinis.

Langkah berikutnya adalah mengidentifikasi infomasi lain apa yang perlu disajikan dalam dashboard selain ketiga hal itu? Misal medication history, diet, aktifitas fisik, kecemasan, apa yang dirasakan pasien, beban permasalahan, biaya.

Tantangannya adalah menemukan dashboard yang seimbang, akan sangat bagus bila bisa disajikan dalam satu lembar summary, dicetak untuk dokter dan pasien sebagai laporan dan bahan diskusi.

Manusia merupakan makhluk dengan sistem yang kompleks, pendekatan kesehatan pun bersifat komprehensif bio-psiko-social-spiritual, dengan manusia sendiri sebagai intinya, maka pengukuran kesehatan pun harus melibatkan sudut pandang pasien untuk memberikan gambaran yang lebih lengkap.

Reportase Hari Kedua 

Morning Plenary
Patient-Reported Outcome Measurement (PROM): Past, Present, and Future – A Personal Account

Patient-Reported Outcome Measurement (PROM) adalah alat pengukuran yang digunakan untuk menilai patient-reported outcome (PRO). PROM memungkinkan baik pasien dan dokter untuk berkomunikasi dan menelusuri pencapaian tujuan dan hasil dari pelayanan kesehatan. Menggunakan PROM melalui instrumen survei, wawancara dan atau pengukuran indikator output kesehatan tidak hanya memungkinkan penyedia layanan kesehatan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang pelayanan mereka, tetapi juga memungkinkan pasien untuk lebih memperhatikan kebutuhan khusus mereka dan mengkomunikasikan hal tersebut kepada penyedia layanan mereka sebelum mereka melakukan kunjungan ke fasyankes (Baca lebih lanjut di https://www.hal-health.org)

1okt2 1

Penggunaan PROM untuk apa?

  1. Health system : Performance assessment, value for money
  2. Healthcare provider organization: benchmarking, quality improvement
  3. Clinical trials: screening, treatment outcomes
  4. Clinical practice: diagnosis, monitoring progress
  5. Information for patients or clinicians: choice of provider, choice of treatment

1okt2 4

Royal Address

Dalam pidato yang disampaikan oleh His Royal Highness Sultan Nazrin Muizzuddin Shah Ibni Almarhum Sultan Azlan Muhibbuddin Shah Al-Maghfur-Lah, dibahas mengenai Artificial Intelligent (AI). Artificial Intelligent membawa keuntungan dan kemudahan dalam pelayanan tetapi tetap diutamakan hubungan interpersonal antara tenaga medis dan pasien.

Penulis: Hanevi Djasri dan Novika Handayani

Reportase ISQua Hari Ketiga 

WHO: Compassion – The Heart Of Quality People-Centred Health Services

isq 3 1

Compassion (perasaan belas kasih/kasih sayang) merupakan bagian sentral dalam dari pelayanan kesehatan yang berkualitas di negara-negara berpenghasilan rendah, menengah dan tinggi. Compassion memiliki keterkaitan dengan seluruh tingkat sistem kesehatan dan semua tahapan kesinambungan pelayanan (continuum of care). Compassion memiliki peran penting dalam meningkatkan kinerja sistem kesehatan dalam meraih Universal Health Coverage (UHC). Tidak adanya compassion dapat menyebabkan kesalahan klinis, tingginya angka ketidakhadiran petugas medis dan kelelahan tenaga medis, serta pengalaman pasien yang buruk.

Apakah hubungan antara compassion dan arahan nasional untuk mutu pelayanan kesehatan (national direction on quality) menurut WHO?

  1. Menempatkan pasien sebagai yang utama
  2. Akuntabilitas kepada masyarakat terhadap prioritas kesehatan
  3. Berbagi dan belajar mengenai compassion dari berbagai upaya peningkatan mutu
  4. Compassion dilibatkan dalam seluruh kebijakan sektor kesehatan dan dalam national direction on quality

isq 3 2

Pengalaman dari Malawi:

  1. Kepuasan pasien adalah tujuan dari sistem kesehatan
  2. Kepuasan pasien dimulai dengan memuaskan diri sendiri
  3. Tidak akan tercipta kepuasan pasien tanpa mementingkan kebutuhan pasien
  4. Cintai orang lain (pasien) seperti mencintai dirimu sendiri
  5. Personal centred care adalah memanajemen pasien sebagai individu, bukan dilihat dari penyakitnya
  6. Utamakan equity (keadilan)
  7. Jangan jadikan sistem kesehatan untuk mencari keuntungan

Kesimpulan:

  • Kolaborasi dan belajar secara terus menerus mengenai compassion untuk menjadikan sistem kesehatan yang berfokus pada individu.
  • Hasil kesehatan (health outcomes) yang baik berawal dari compassion, saling menghargai dan pelayanan yang bermartabat
  • Jadikan organisasi menjadi organisasi pembelajar (learning organization)
  • Berikan pelayanan yang terintegrasi

Reportase ISQua Hari Keempat 

Laporan Pertemuan PKMK UGM, Dit. Mutu dan Akreditasi Kemenkes, dan WHO
(Rabu, 26 September 2018)

  1. Saran langkah penyusunan NQPS dari Dr.Shams (WHO): Menetapkan strategi untuk peningkatan mutu untuk jangka waktu tertentu (5 tahun), diikuti dengan membuat operational planning (cara untuk mencapai strategi) serta program teknisnya termasuk program costs dan financial planning.
    Tanggapan dari PKMK : Untuk kedua langkah tambahan (operational planning dan integration of technical programme dapat dibuat pada dokumen terpisah menjadi Rencana Aksi Program/RAP tahunan)
  2. isq 4okt 5
  3. WHO menyarankan untuk membuat task force untuk mutu pelayanan kesehatan di tingkat nasional, meliputi stakeholders inti dari institusi yang berperan dalam mutu pelayanan kesehatan, termasuk pemegang program prioritas kesehatan di Kementerian Kesehatan
  4. Paparan progress penyusunan NQPS Indonesia terhadap WHO masih minimal, walaupun WHO mengatakan sudah membaca hasil analisis situasi NQPS yang sudah ter-upload di GLL (Global Learning Laboratory)
  5. WHO menyarankan untuk mengundang stakeholders perwakilan dari daerah saat workshop.
  6. WHO menyarankan untuk strategi disusun berdasarkan prioritas kesehatan nasional. Tanggapan Kemenkes dan PKMK: perlu kejelasan dalam pemilihan prioritas. Program prioritas kesehatan mana yang dimaksud, apakah Renstra Kemenkes yang berkaitan dengan akses dan mutu pelayanan kesehatan, atau prioritas masalah kesehatan Kemenkes saat ini seperti TBC, stunting dan imunisasi.
    Dr.Shams menyinggung indikator seperti maternal mortality rates, yang menggambarkan mutu pelayanan kesehatan di suatu negara. MNCH menjadi prioritas di berbagai negara dan dimasukkan juga dalam strategi pada NQPS di negara-negara lain.
  7. WHO sangat mendukung proses penyusunan NQPS Indonesia dan Dr.Shams bersedia untuk me-review hasil akhir dokumen NQPS
  8. Kemenkes mengusulkan Dr.Shams jadi pembicara saat workshop. Tanggapan dari PKMK: mengusulkan Dr.Shams menjadi pembicara saat sesi sosialisasi NQPS.
  9. Dr.Shams mengusulkan ada mailist yang beranggotakan tim NQPS WHO Geneva, WHO Indonesia, Kemenkes dan PKMK untuk memudahkan komunikasi
  10. Dr. Shams memberi referensi untuk membaca buku ini http://apps.who.int/iris/bitstream/handle/10665/272465/9789241513906-eng.pdf?ua=1  yang memuat contoh quality interventions dan NQPS negara lain.

Penulis: Novika Handayani

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: