Daulat Pangan

Kemendesa Bantu Wujudkan Desa Berdaulat Pangan

Tujuan desa berdaulat dalam hal pangan berkualitas merupakan suatu keniscayaan.

Demikian penegasan Hanibal Hamidi, Direktur Pelayanan Sosial Dasar, Kemendesa PDTT dalam acara “Pembangunan Kedaulatan Desa sebagai Lumbung Pangan Melalui Pengembangan Organik Integrated Farming System  dan Rantai Pasok Solidaritas” yang diselenggarakan di Universitas Islam Raden Rahmat (Unira) Malang, Jawa Timur pada akhir Juli 2016. Dalam upaya tersebut, salah satu peran yang dimainkan Kemendesa PDTT dalam kedaulatan pangan melalui kehadiran lumbung desa bisa dilakukan lewat jalan penguatan regulasi serta penugasan pendamping desa yang berjumlah 30.000 orang. “Mereka bisa menjadi garda depan dalam upaya mendorong kedaulatan pangan di desa,” ungkap Hanibal.

Terkait dengan kedaulatan pangan ini, Hanibal menyoroti pentingnya keterjangkauan dan ketersediaan pangan berkualitas bagi warga desa. Ketersediaan pangan berkualitas berkaitan adanya jaminan bagi setiap warga negara yang kemudian diimbuhi dengan keterjangkauan bagi warga negara untuk memperoleh bahan berkualitas. Harap mafhum kerapkali terjadi bahan pangan berkualitas kerap kali langka. Andaipun ada, perlu harga mahal untuk menebusnya sehingga tidak setiap warga negara mampu. Terkait hal tersebut perlu adanya regulasi yang menjamin peran pemerintah dalam menjamin akses setiap warga negara terhadap keterjangkaun dan ketersediaan bahan pangan berkualitas.

Hanibal berpendapat ketersediaan dan keterjangkaun pangan berkualitas penting dalam rangka menyiapkan generasi emas Indonesia yang berkualitas. Sebut saja dalam upaya memerangi stanting (kondisi tinggi balita lebih pendek dari tinggi badan seumurannya). Kekurangan asupan nutrisi dalam jangka panjang pada ibu hamil bisa berakibat timbulnya stanting pada bayi yang dilahirkan. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2013, prevalensi stanting di Indonesia mencapai 37,2%. Angka itu naik dibanding data Riset Kesehatan Dasar 2010 yang berada di kisaran 35,6%. “Saat ini ada 9 juta anak Indonesia yang mengidap stanting,” ungkap Hanibal.

Kerugian akibat munculnya stanting diantaranya turunnya tingkat intelejensia sebesar 5—11 poin. Di sisi lain stanting pun berpengaruh dalam membumbungnya pengeluaran pemerintah terutama jaminan kesehatan nasional terkait dengan penyakit tidak menular seperti diabetes, stroke, jantung ataupun gagal ginjal. Musababnya anak yang menderita stanting saat menginjak dewasa rentan mengalami kegemukan sehingga rentan terhadap penyakit degeneratif di atas.

Kehadiran desa berdaulat pangan berkualitas merupakan sebuah upaya strategis dalam rangka menyiapkan generasi emas Indonesia mendatang lewat ketersediaan dan keterjangkauan bahan pangan berkualitas bagi setiap warga negara Indonesia. Dalam acara tersebut turut pula hadir mantan Menteri Koperasi Adi Sasono, Rektor Unira Hasan Abadi, Bambang Ismawan dari Bina Swadaya serta Ahmad Baharuddin dari Serikat Paguyubban Petani Qoryah Thayyibah.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: