Panduan Sikap Politik Yang Bersandar Pada Kecerdasan Intelektual, Moral & Spiritual.

“Kemajuan perkembangan kualitas dan fungsi komputer menjadi sangat cepat setelah menggunakan simbolisasi 0-1 bagi karakter berbagai fungsi material yang telah ada. Sebagai akibat penggunaan fasilitasi digital pada berbagai instrumen bantu dalam interaksi berbagai fungsi material, maupun fungsi sosial saat ini, sangat mejutkan semua orang di semua negara.

Menyikapi dinamika sosial pada era “Satu Dunia” saat ini, dimana interaksi sosial difasilitasi oleh bahasa ilmu pengetahuan, simbulisasi atas karakter sesuatu material berdasarkan angka “0-1”. Digitalisasi dalam memfasilitasi keterhubungan berbagai fungsi material tersebut, mampu menjembatani hambatan keterhubungan berbagai kelebihan fungsi masing-masing temuan ilmiah yang selama ini telah ada.

Secara sederhana, saat ini kita semua sepakat bahwa kemajuan perkembangan produk ilmu pengetahuan yang mengabdi pada kenyamanan hidup manusia luar bisa sangat cepat dan dampaknya secara sosial sangat mencengangkan. Penyatuan dunia berbasis digital saat ini, akibat limitasi fungsi ruang dan waktu dalam kesadaran orientasi kita pada tiga dimensi kehidupan yang selama ini kita yakini. Kecepatan perubahan dinamika sosial yang berbasis digital saat ini, mampu menimbulkan kesadaran yang sama kepada kita semua bahwa terlalu banyak kemungkinan yang akan terjadi dimasa mendatang. Sehingga dengan terpaksa kita harus menyatakan bahwa kita hanya bisa meyakini tentang prediksi atas kemungkinan perkembangan dinamika sosial pada waktu kurang dari 15 tahun yang akan datang.

Ketidakmenentuan masa depan di era yang kita kenal sebagai era “Mellenial” saat ini, telah membuktikan keterkejutan dan kegamangan kita bersikap terhadap perkembangan kualitas sosial budaya masyarakat dalam mengeksfresikan pilihan politik bagi momen pemilu tanggal 17 April mendatang. Penyambutan pada agenda pesta demokrasi tersebut menampilkan karakter berkampanye dari masing-masing pihak yang berkompetisi diluar perkiraan kita senua. Kita merasa tidak lagi mengenal istri, anak, saudara, teman maupun lingkungan sosial kita lagi, sebagai akibat bergamnya “persepsi” terhadap beragamnya informasi yang sangat deras dari berbagai media sosial berbasis digital. Tuntutan eksistensi diri setiap individu, dalam memenuhi tuntutan yang cukup mendasar sebagai mahluk sosial, telah menafikan akal sehat kita dalam merespon informasi yang kita terima.

Permaslahannya adalah, sikap politik seseorang tentulah berdasarkan persepsi setiap individu terhadap informasi yang terkait dengan kandidat yang ada. Kita semua menyadari bahwa persepsi yang benar terhadap informasi yang juga benar, merupakan harapan kita semua dalam kedewasan politik berdemokrasi. Fakta sosial saat ini, ditengah budaya masayarakat yang mengabaikan integritas kenegarawan, rendahnya kualitas penegakkan hukum, dan rendahnya kualitas kecerdasan bangsa, telah memunculkan begitu banyak para pemburu kekuasaan semata. Pemburu kekuasaan bagi kepentingan diri sendiri dan segelintir orang sebagai bagian dari komunitasnya. Kondisi sosial budaya tersebut , dalam rangka memenangkan persaingan maka akan membenarkan cara apa saja asalkan menang. Sehingga pada gilirannya menimbulkan begitu banyak produksi informasi kampanye yang tidak benar atau bohong yang dikenal sebagai Hoaks, untuk menyesatkan persepsi kita, pada masing-masing kandidat pejabat politik yang tersedia oleh sistem politik yang ada.

Belajar dari banyaknya penyesalan masyarakat di negara Amerika dan Brazil, akibat pilihan presiden yang salah akibat begitu banyaknya hoaks yang menjadi sumber informasi, sehingga menyebabkan tersesatnya peresepsi yang menuntun kita dalam kesalahan pilihan politik saat pemilu. Maka agar kita tidak menjadi lebih bodoh dari “kERBAU” yang tidak mau terjerembab pada lubang yang sama, maka Menyikapi dinamika sosial pada era “Satu Dunia” saat ini, Apakah kita akan membela mati2an pendapat subyektif kita berdasarkan informasi yang faktual ?

Maka yang paling bijak bagi kita adalah, Cerdaslah secara intelektual, secara Moral maupun secara Spiritual dalam memahami dan menilai semua informasi yang tersedia terkait semua kandidat politik yang ada.

Sehingga kita dapat melihat dunia dengan mata hati sejernih yang kita semua miliki dan bersandar kepada nilai-nilai kebenaran moral kemanusian yang universal, Serta meletakkan nilai-nilai moral spritual di ujungnya ???

Ataukah larut secara emosional bersama proses kehancuran yang pasti terjadi penyesalan di ujungnya ???” (HH)

#CerdasIntelektualMoralspiritual

#CerdasIMS

#HH

======================================HH=================================

*Artikel yang bagus.*

Subject : PERSEPSI – SALAH/BENAR

Kenapa susah mengubah persepsi seseorang terhadap objek yang dinilainya…..

*MENGAPA ORANG TETAP MERASA BENAR WALAUPUN SEJATINYA SALAH ?*

Pada tahun 1894, sebuah surat yang telah disobek- sobek ditemukan di keranjang sampah oleh staf dari seorang Jenderal Prancis. Maka dilakukanlah investegasi besar2an untuk mengetahui siapa yang lewat bukti surat itu telah menjual rahasia militer Perancis ke pihak Jerman. Dan kecurigaan kebanyakan orang mengarah pada *Letkol. Alfred Dreyfus*.

Dreyfus tidak punya track record yang tercela, tidak juga punya motif untuk melakukan pengkhianatan. Cuman ada dua hal yang dapat membuat kecurigaan terhadap Dreyfus. Pertama, tulisannya mirip dengan surat yang ditemukan, dan lebih parah lagi, dia satu2nya pejabat militer yang beragama Yahudi. Waktu itu, Militer Perancis dikenal anti Yahudi.

Lalu rumah Dreyfus digeledah, mereka tidak menemukan bukti apa pun. Tapi ini pun malah dianggap sebagai bukti betapa liciknya Dreyfus. Tidak hanya berkhianat, dia juga degan sengaja menghilangkan semua bukti. Lalu mereka memeriksa personal history-nya, bahkan menginterview guru sekolahnya. Ditemukan dia sangat cerdas, menguasai 4 bahasa, dan punya memori yg sangat tajam. Maka ini pun dianggap sebagai “bukti” bahwa Dreyfus punya motif dan skill untuk kerja pada agen intelijen asing. Bukankah memang agen intelijen harus punya 3 skill itu? Benarkan?

Maka Dreyfus diajukan ke pengadilan militer, dan dinyatakan bersalah. Di depan publik, lencananya dilucuti, kancing baju dicabut, pedang militernya dipatahkan. Peristiwa ini dikenang sebagai “Degradation of Dreyfus”. Saat diarak oleh massa yang menghujat dia, Dreyfus teriak, “Saya bersumpah saya tidak bersalah, saya masih layak untuk mengabdi pada negara, Hidup Perancis. Hidup Angkatan Darat”. Tapi semua orang sudah tidak peduli dengan teriakannya, dan Akhirnya dia divonis penjara seumur hidup di Devil’s Island, pada tanggal 5 Januari 1895.

Mengapa serombongan orang pintar dan berkuasa di Perancis waktu itu begitu yakin bahwa Dreyfus bersalah? Dugaan bahwa Dreyfus memang sengaja dijebak, ternyata keliru. Para sejarawan meyakini bahwa Dreyfus tidak dijebak, dia hanya menjadi korban dari sebuah fenomena yang disebut *”MOTIVATED REASONING”*. Yaitu sebuah penalaran yang nampak sangat logis dan rasional, padahal semua itu hanyalah upaya mencari PEMBENARAN atas suatu ide yang telah diyakini sebelumnya. Tujuannya? termotivasi untuk membela atau menyerang ide tertentu, bukan mencari KEBENARAN secara jernih, dari pihak mana pun kebenaran itu berasal.

Maka kalau *orang sudah mengeras sikapnya untuk sangat pro/anti partai politik tertentu*, atau sudah terlanjur gandrung/benci sama seseorang, maka orang akan cenderung mengalami “motivated reasoning” ini. *Apa pun pendapat orang lain yang dianggap musuh akan nampak salah di pikiran “rasional”.* Karena memang itulah hebatnya otak, selalu bisa menemukan alasan rasional kenapa mereka salah, dan saya benar. Orang akan bisa mencari 1000 bukti yang membenarkan sikap itu. Bahkan hal2 yang sifatnya netral tiba2 jadi nampak sebagai “bukti” dari kebenaran sikap ini.

Kalau hati sudah dikuasai oleh cinta atau benci, dan berketetapan, pokoknya saya pro ini, anti itu, kita akan cenderung meyakini kebenaran segala pendapat yang mendukung pendapat kita, dan mengabaiakan segala argumen yang berlawanan dengan keyakinan kita. Kita jadi kehilangan akal sehat yang adil dan proporsional dalam menyikapi segala hal. Para psikolog menyebut kesesatan pikir yang mewabah akhir2 ini: *CONFIRMATION BIAS*.

Fenomena confirmation bias dan motivated reasoning ini sudah sangat jamak ditemukan di sekitar kita, bahkan kadang kita pun ikut jadi pelaku utamanya. Karena hampir semua dari kita telah mengambil sikap untuk memilih partai tertentu, suka tokoh tertentu, punya agama/madzhab tertentu, bahkan mungkin menjadi anggota fanatik supporter klub sepak bola tertentu. Semua ini telah menjadikan kita secara otomatis mudah sekali terjebak dalam 2 kesesatan pikir di atas.

By the way, bagaimana dengan nasib Dreyfus? Adalah Colonel Georges Picquart, yang walaupun dia juga anti Yahudi, mulai berpikir, bagaimana jika memang Dreyfus tidak bersalah? bagaimana jika karena salah tangkap, penjahat sebenarnya masih berkeliaran dan terus membocorkan rahasia militer Perancis pada Jerman? Kebetulan dia menemukan ada pejabat militer lain yang tulisan tangannya lebih mirip dengan surat yang ditemukan, dibanding tulisan Dreyfus. Singkat cerita, atas perjuangan Colonel Picquard, Dreyfus baru dinyatakan tidak bersalah 11 TAHUN kemudian.

Yang paling menakutkan dari Motivated Reasoning & Confirmation Bias ini adalah, pelakunya seringkali tidak menyadari dan membela pendapatnya mati2an sambil menghujat pendapat lain yang berbeda, sehingga efeknya terjadi perang mulut, bahkan di beberapa negara, terjadi genocida, dan perang saudara.

Maka bagaimana caranya agar kita bisa berpikir lebih adil dan jernih?

Bagaimana agar kita selamat dari 2 sesat pikir di atas? agar kita bisa membuat prediksi yang akurat, membuat keputusan yang tepat, atau sekedar membuat good judgement?

Menariknya, ini tidak berkaitan dengan seberapa pintar atau seberapa tinggi IQ kita atau gelar akademis kita. Kata para ahli tentang “good judgment”, ini justru berkaitan erat dengan bagaimana anda “merasa” (how you feel). Berikut beberapa Tips untuk memiliki “penilaian yang jernih” :

1. Jangan Terlalu Emosional. Semakin kita emosional, semakin kita termotivasi untuk menyeleksi kebenaran. Semua argumen yang berlawanan akan cenderung kita abaikan. Sementara hoax-pun, asal cocok dengan selera kita akan buru2 kita yakini kebenarannya.

2. Pertahankan rasa Ingin tahu (Curiosity). Rasa penasaran ingin tahu ini akan membuat kita lebih ingin mengecek argumentasi dari dua kubu. Tidak cepat puas buru2 meyakini segala informasi yang masuk.

3. Milikilah hati dan pikiran yang terbuka (Open-Mind & Open-Heart). dengan begini kita akan cenderung mau mendengarkan dan berempati atas posisi masing2 dari dua kubu yang berseteru. Jangan menutup diri hanya mau menerima informasi dari pihak yang pro sama kita, dan langsung mencurigai, bahkan menolak berita dari semua yang kita anggap pro lawan kita.

4. Jadilah orang yang Independen (grounded). Jangan mudah anut grubyuk ikut2an pendapat seseorang atau satu kelompok. Jangan letakkan harga diri kita berdasarkan omongan orang lain tentang kita. Silahkan pro ini atau anti itu. Tapi jangan overdosis, sampai menganggap segala hal yang dari pihak kita pasti benar dan segala hal yang dari pihak lawan pasti salah.

5. Milikilah kerendahan hati (Humbleness) bahwa memang kita punya keyakinan tertentu tentang segala hal (politik, aliran pemikiran, dll) tapi dengarkan dengan empatik juga pendapat2 yang berlawanan dengan kita. Dan jika bukti2 menunjukkan kita memang salah, jangan sungkan2 untuk mengakui dan minta maaf.

Kesimpulannya, menurut Julia Galef, yg ceramahnya di TEDX mendasari tulisan ini:

*”Untuk memiliki good judgment (penilaian yang jernih), khususnya untuk hal2 yang kontroversial, kita tidak terlalu membutuhkan kepintaran atau analisa yang canggih, tapi kita lebih membutuhkan KEDEWASAAN PSIKOLOGIS dan PENGELOLAAN EMOSI YANG BAIK

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: