Is this public mental health issue?

Is this public mental health issue?

Please make comments.

Xxxxxxxcopastxxxxx
Copas dr group Fisip UI sptnya bagus utk menjadi wacana kita : Adriano Rusfi, Psikolog

LGBT : SEBUAH GERAKAN PENULARAN

26 JANUARI
Mungkin ada yang heran bertanya, kenapa saya begitu keras terhadap perilaku Lesbianism, gay, bisexual and transexualism (LGBT). Saya seakan penuh murka dan tak memberikan sedikitpun ruang toleransi bagi pengidapnya.
Mungkin saya perlu klarifikasi bahwa saya tidak sedang bicara tentang pelaku, orang dan oknum. Terhadap oknum, orang dan pelaku LGBT, kita harus tetap mengutamakan kasih-sayang, berempati, merangkul dan meluruskan mereka. Dan saya juga tidak sedang bicara tentang sebuah perilaku personal dan partikular. Saya juga tak sedang bicara tentang sebuah gaya hidup menyimpang yang menjangkiti sekelompok orang. Karena saya sedang bicara tentang sebuah GERAKAN !!!

Ya, saya sedang bicara tentang sebuah GERAKAN : ORGANIZED CRIME yang secara sistematis dan massif sedang menularkan sebuah PENYAKIT !!! Sekali lagi, bagi saya ini bukan semata perilaku partikular, sebuah kerumun, bahkan bukan lagi semata-mata sebuah gaya hidup, tapi sebuah harakah : MOVEMENT !!! Terlalu paranoidkah kesimpulan ini ???

Saya telah mengumpulkan begitu banyak kesaksian di kampus-kampus tentang mahasiswa-mahasiswa normal kita yang dipenetrasi secara massif agar terlibat dalam LGBT dan tak bisa keluar lagi darinya. Perilaku mereka sangat persis seperti sebuah sekte, kultus atau gerakan-gerakan eksklusif lainnya : fanatik, eksklusif, penetratif dan indoktrinatif. Ya, ini telah berkembang menjadi sebuah sekte seksual.

Kenapa mereka perlu menjadi sebuah gerakan ?

Karena target mereka tak main-main : mendorong pranata hukum agar eksistensi mereka sah secara legal. Dan untuk itu mereka membutuhkan beberapa prasyarat :

Pertama, jumlah mereka harus signifikan secara statistik, sehingga layak untuk mengubah asumsi, taksonomi dan kategorisasi

Kedua, keberadaan mereka telah memenuhi persyaratan populatif, sehingga layak disebut sebagai sebuah komunitas

Ketiga, perilaku mereka telah diterima secara normatif menurut persyaratan kesehatan mental dari WHO
Untuk memenuhi ketiga hal ini, maka organisasi ini harus mampu menularkan penyimpangannya secara eksponensial kepada lingkungannya. Mereka telah mempelajari hal itu dari keberhasilan “perjuangan” saudara-saudara mereka di Amerika Serikat. Mereka sadar, pertumbuhan jumlah mereka hanya bisa dilakukan lewat penularan, mengingat mereka tak mungkin tumbuh lewat keturunan. Mereka sadar, tanpa penularan mereka akan punah !!!

Kenapa harus menyasar mahasiswa ?

Sebenarnya yang ingin mereka sasar ada dua : Pertama, mahasiswa; dan yang kedua, institusi akademik. Mereka menyasar mahasiswa, karena mahasiswa adalah generasi galau identitas dengan kebebasan tinggi dan tinggal di banyak tempat kost. Sedangkan institusi akademik perguruan tinggi mereka butuhkan untuk menguatkan legitimasi ilmiah atas “kenormalan” mereka. Mereka bergerilya secara efektif, dengan dukungan payung HAM dan institusi internasional.

Bacaan dan renungan dari Tere lie:

*Sesama jenis

Per 1 Januari 2015, tercatat ada 17 negara yang undang-undangnya telah melegalkan perkawinan sesama jenis. Dan akan menyusul belasan negara lain. Trend dukungan atas perkawinan sesama jenis terus bertambah.

Silahkan tanya ke politisi negeri ini, apakah mereka akan melegalkan perkawinan sesama jenis di Indonesia? Sekarang sih saya yakin jawabannya: TIDAK. Tapi 20-30 tahun lagi, tergantung situasinya. Jika itu membuat mereka terpilih, akan banyak politisi yang bersedia menyetujuinya. Saya tidak berlebihan. Itu rasional sekali. Silahkan cek di negara2 lain. Tahun 1950, tidak ada satupun negara yang melegalkan perkawinan ini, tapi dunia berubah sangat cepat, kelompok pendukung kebebasan semakin besar, kelompok yang tidak peduli, i dont care semakin banyak, sistem demokrasi mempercepat legalisasi perkawinan sesama jenis. Sah. Atas nama kebebasan.

Semua agama melarang perkawinan sesama jenis. Tapi demokrasi tidak mengenal kitab suci. Kalian tahu, bahkan homo kelas berat, masih santai pergi ke gereja, ke tempat2 ibadah. Mereka hanya mengenal suara terbanyak. Saya kasih contoh, Brazil, Mei 2011 mereka melegalkan perkawinan sesama jenis. Apakah orang Brazil tidak beragama? 90% penduduk mereka beragama, lantas apakah tidak ada di sana yang keberatan dengan legalisasi ini? Jawabannya sederhana: mayoritas tutup mata. I dont care. Urus saja masing2. Saya tidak mau recok. kamu jangan rese. Yang sesama cowok mau ciuman di tempat umum pun, bodo amat. Toh, mereka tidak mengganggu saya.

Dulu, Brazil itu sangat religius. Lantas kenapa sekarang jadi berubah sekali? Bagaimana mungkin politisi mereka meloloskan UU itu? Apakah rakyatnya tidak keberatan. Itulah kemenangan besar paham kebebasan. Mereka masuk lewat tontonan, bacaan, menumpang lewat kehidupan glamor para pesohor. Masyarakat dibiasakan melihat sesuatu yang sebenarnya mengikis kehadiran agama. Awalnya jengah, lama-lama terbiasa, untuk kemudian apa salahnya? Di sisi lain, eksistensi agama dipertanyakan. Tuh lihat, toh yang beragama juga bejat, tuh lihat, mereka juga menjijikkan. Fobia agama dibentuk secara sistematis, dimulai dari pemeluknya sendiri, untuk kemudian, orang2 dalam posisi gamang, mulai mengangguk, benar juga. Orang2 jadi malas mendengarkan nasehat agama, buat apa? Urusa sajalah urusan masing2.

Rumus ini berlaku sama di seluruh dunia. Apapun agamanya. Bahkan termasuk dalam kasus, tidak ada agama di suatu tempat, hanya ada nilai-nilai luhur–yang pasti juga akan melarang pernikahan sesama jenis. Fasenya sama persis. Strateginya juga sama. Dekatkan mereka dengan materialisme dunia, jauhkan mereka dari nilai-nilai luhur. Gunakan teknologi untuk mempercepat prosesnya. Internet misalnya, itu efektif sekali menyebarkan berita, propaganda, dsbgnya.

Apakah Indonesia juga akan begitu?

Silahkan tunggu 20-30 tahun lagi. Jika tidak ada yang membangun benteng2 pemahaman bagi generasi berikutnya, tidak ada yang membangun pertahanan tangguh, malah sibuk saling sikut berkuasa, sibuk berebut urusan dunia, sibuk dengan urusan duniawinya, 20-30 tahun lagi, kita akan menyaksikan pasangan cowok bermesraan di tempat2 umum. Tetangga sebelah rumah kita adalah pasangan sesama jenis, dan mereka dilindungi oleh UU, karena sudah dilegalkan. Ketika masa itu tiba, kalian bisa kembali mengeduk catatan ini.

Pedulilah, hidup ini bukan cuma urusan pribadi masing-masing. Hidup ini tentang saling menjaga, saling menasehati, saling meluruskan. Pedulilah, Kawan, ikut menyebarkan pemahaman baik, lindungi keluarga, teman, remaja, dan semua orang yang bisa kita beritahu agar menjauhi prilaku melanggar aturan agama, nilai2 kesusilaan.

*Tere Liye

Salam bKejuangan Nusantara Pembangunan Yang Inklusif dan Berkelanjutan

hanibal Hamidi Diektur Pelayanan Sosial Dasar

Hanibal2464@gmail.com #HibahDiriTukDesa Blog; perdesaansehat.com

KPK Larang Dokter Terima Sponsor Farmasi – persesaansehat.com

DOKTER DILARANG TERIMA-SPONSOR LANGSUNG DARI FARMASI

Selasa, 2 Februari 2016 16:14 WIB – 1.877 Views

Pewarta: Desca Lidya Natalia

Gedung KPK. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)

Jakarta (ANTARA News) – KPK, Kementerian Kesehatan, organisasi dokter dan asosiasi perusahaan farmasi menyepakati aturan untuk mencegah gratifikasi kepada para dokter yang diberikan langsung oleh perusahaan farmasi saat menghadiri seminar kesehatan.

“Substansi pertemuan adalah tidak ada lagi pemberian sponsorship dari perusahaan farmasi ke individu dokter, jadi sponsorshipdiberikan kepada RS untuk dokter PNS sedangkan untuk dokter swasta diberikan kepada organisasi profesi. Mekanismenya akan diatur Kemenkes, begitu ada mekanismenya jadi maka akan langsung berlaku, sehingga harapannya tidak ada lagi gratifikasi kepada dokter dan conflict of interest dapat dihindarkan,” kata Deputi Pencegahan KPK Pahala Nainggolan pada konferensi pers di gedung KPK Jakarta, Selasa.

Konferensi pers ini juga dihadiri Inspektur Jenderal Kementerian Kesehatan Purwadi, Direktur Eksekutif Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia Dorodjatun Sanusi, Konsil Kedokteran Indonesia Bambang Supriyatno, Sekretaris Utama Badan Pengawas Obat dan Makanan Reri Indriani dan Sekjen IDI Adib Khumaidi.

“Intinya adalah di profesi kedokteran perusahaan farmasi itu biasa memberikansponsorship misalnya biaya perjalanan dan akomodasi hadir di seminar, pemberian ini biasanya ditujukan langsung ke individu dokter.”

“Namun saat ini khawatir kalau menurut UU pemberian itu masuk gratifikasi karena termasuk pemberian yang terkait dengan jabatan dan kewenangan khususnya bagi dokter-dokter PNS, jadi harus dilaporkan dan ditetapkan KPK selain itu juga dikhawtirkan dari sponsorship itu adaconflict of interest sehinga sulit dibedakan mana pemberian pamrih dan tanpa pamrih,” tambah Pahala.

Untuk mengatasi hal itu, KPK melakukan pertemuan dengan sejumlah pemangku kepentingan termasuk asosiasi perusahaan farmasi International Pharmaceutical Manufacturer Group (IPMG) dan Gabungan Perusahaan (GP) Farmasi Indonesia.

“Sehingga asosiasi besar perusahaan farmasi seperti GP Farmasi dan IPMG sepakat tidak memberikan sponsorshipkepada individu dokter sehinggasponsorship dokter PNS diberikan ke insitusi yaitu rumah sakit jadi bila ada penawaran maka RS yang menunjuk dokter yang bersangkutan,” jelas Pahala.

Menurut Pahala, sponsorship dari perusahaan farmasi tetap diperlukan oleh para dokter karena dokter harus menghadiri seminar-seminar dan pelatihan untuk menambah ilmu dan kredit profesinya.

Sedangkan Bambang Supriyatno dari Konsil Kedokteran Indonesia menekankan agar pendidikan yang berkelanjutan bagi dokter dilakukan dengan cara yang elegan.

Editor: Jafar M Sidik

COPYRIGHT © ANTARA 2016

Dari Mana Berasal Manusia Nusantara ?

JANUARI 31, 2016BY GLENNMARS

Kamu Orang Mana?

Maka dari kecil kita akan menjawab “orang Indonesia”.

Orang Indonesia dari mana?

Maka kita akan menjawab tempat kita dilahirkan. Kadang diikuti dengan suku.

Dari mana kah suku-suku orang Indonesia berasal?

Lebih dari 5 tahun, dr. Herawati Sudoyo, M.S., Ph.D. bersama rekan-rekannya dari Eijkman Institute, mengelilingi seluruh kepulauan Nusantara untuk bertemu dengan orang-orang suku asli. Dengan berbagai pendekatan sesuai dengan adat dan kebudayaan setempat Ibu Hera mengambil darah dari orang-orang asli untuk dicek DNA masing-masing. Buat apa?

“Jangan berani-berani lawan DNA” katanya saat menyampaikan hasil penemuannya. Karena DNA tak pernah berdusta. Dari DNA lah kita bisa mengetahui asal usul genetika kita. Campurannya dari mana saja. Pewarisan DNA kita ada tiga. Dari ayah dan ibu yang menikah, dari penurunan hanya ibu (ayah tidak ada kontribusi) dan hanya dari kromosom Y.

Gen campuran ternyata ditemukan pada hampir semua etnik di Indonesia. Yang dari ratusan ribu tahun yang lalu merupakan campuran dari Alatic, Sino-Tibet, Hmong-Mien, Tai Kadai, Austro Asiatik, Austronesia, Papua, Dravidia, Indo-Eropa, dan Niger-Kongo.
Manusia Jawa asli misalnya, ternyata membawa gen dari Austro-Asiatik dan Austronesia. Austronesia hampir ditemukan pada semua entik di Indonesia. Papua yang full gen Papua, saat bergeser ke kepulauan Alor ternyata ditemukan gen dari Formosa. Orang Mentawai 100% sama dengan Formosa.

“Tak ada gen murni. Manusia Indonesia ialah campuran beragam genetika dan semuanya pada dasarnya berasal dari Afrika” kata Hera menutup penjelasan yang menarik setelah menampilkan video perjalanan migrasi umat manusia 200.000 tahun yang lalu saat Homo Sapiens pertama.

Ada yang bertanya, apakah Pithecantropus Erectus (manusia purba yang juga disebut Java Man) ada hubungannya? “PUTUS” kata Hera, “dengan Bumi Nusantara. Tidak ada hubungan dengan turunan kita. Kemungkinan besar karena bencana alam.”

Pertanyaan mendasar, kalau sumbernya satu: AFRIKA kenapa kita bisa terlihat berbeda-beda? DNA kita bereaksi terhadap lingkungan kita. Lapangan mempengaruhi ketebalan kulit, tinggi badan, melanin dan pigmen. Makanya pelari Indonesia tak berlari secepat orang Kenya yang merupakan moyang orang Indonesia.

Penemuan yang membuka mata dan menjawab misteri asal mula orang Indonesia ini, menjawab satu misteri: lalu siapakah Pribumi dan Non-Pribumi?
Pribumi adalah sebutan untuk orang Indonesia ASLI. 100% orang Indonesia. Sekarang kita bisa menjawab dengan lantang: TIDAK ADA. Tidak ada orang Indonesia asli. Semua pendatang.
Kalaupun ingin dipecah, pribumi pertama datang dari Afrika 40-50 ribu tahun lalu di Timor yang terbukti dari bentuk tubuh berkaki panjang dan berambut keriting. Pribumi kedua, Deutro Malay dari daratan Asia Tenggara ke Sumatera melalui Sungai Siak. Pribumi ketiga, Proto Malay yang datang dari dan ke tempat yang sama. China pertama datang tahun 400-an bertemu dengan Cheng Ho di dekat Semarang. Pribumi India diketahui datang abad ke 4-5 dan seterusnya. Penjelasan ahli tata kota Marco Kusumawijaya ini digenapi oleh JJ. Rizal dengan perkataan “Pribumi itu sikap bukan darah”.

Orang Indonesia baru ada pada tahun 1945 sebagai kategori politik (warga) tak tergantung dari kategori genetiknya. Padahal dalam panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia ada 3 orang berdarah China dan 1 orang berdarah Arab. Lanjut Marco lagi. Yang berarti kalau kita saat ini masih menyebut Pribumi dan Non Pribumi artinya kita masih hidup di zaman kolonial.

Perspektif waktu menjadi penting karena 40-50 ribu tahun yang lalu kita semua pendatang. Maka soal rasa kebangsaan, nasionalisme dan kecintaan pada Nusantara, siapa yang dapat mendefinisikannya? Soe Hoek Gie, Hok Djin dan Ong Hok Ham yang saat itu disebut Non-Pribumi akan terasa lebih nasionalis ketimbang Pribumi yang membantai pasca 65.

Perbincangan ini akan semakin mengasyikkan saat kita bisa melepas atribut “pribumi dan non-pribumi” untuk kemudian menerima fakta bahwa kita semua adalah pendatang. Sehingga nasionalisme bukan lagi soal darah, tapi sikap. Tak lagi terbutakan oleh pemakai Batik setiap hari dan hafal Pancasila menyanyikan lagu Indonesia Raya sebagai wujud “Cinta Indonesia”. Tapi lebih kepada sikap, perilaku, perbuatan dan hasil yang memajukan peradaban orang Indonesia semakin beradab.

20160123_10455220160123_10460020160123_10461220160123_120044

Tentunya temuan ini melegakan bagi saya sebagai keturunan China yang lahir di Indonesia. Sejak kecil sulit bergaul dengan tetangga sekitar di kampung Betawi. Belum lagi tuduhan Komunis dan Atheis. Bertahun lamanya di awal kehidupan bermasyarakat, saya merasakan kelimbungan identitas. Kalau saya bukan orang Indonesia lalu siapa saya? Di negara mana kah saya diterima? Ke dataran China tentu bukan pilihan. Tak ada saudara dan kampung halaman di sana.

Untuk ini semua, saya merasa kehadiran bintang-bintang bulu tangkis di masa jayanya seperti Liem Swie King dan Susi Susanti mulai meleburkan kita. Semakin ke sini semakin banyak bintang-bintang dari dunia POP yang keturunan China dan digemari oleh masyarakat Indonesia. Tentunya para politisi, negarawan, ahli sejarah, seni dan budaya keturunan juga semakin menghilangkan jarak. Dan yang sekarang paling hits di beragam media, gubernur DKI Jakarta: Ahok.

Sebentar lagi Sincia, Gong Xi Gong Xi.

Pertanian Alami Memulihkan Kedaulatan Petani – perdesaansehat.com

perempuan-pertanian-resize-704x400

Pertanian Alami Memulihkan yang Telah Rusak

Sudah sejak dulu nenek moyang Kita mempraktekkan Pertanian Alami: bertani tanpa merusak tanah dan membunuh kehidupan lainnya

Revolusi Hijau yang dimulai dan digalakkan Pemerintahan Suharto pada 1976 telah banyak mengakibatkan efek negatif terhadap lingkungan pertanian. Alih-alih ingin meningkatkan produksi pertanian, Revolusi Hijau justru kian membuat lahan pertanian rusak dan petani tak berdaulat. Dimulai dari bibit, petani yang dulunya mampu menghasilkan benih-benih lokal berkualitas, mulai saat itu harus bergantung kepada bibit buatan perusahaan. Belum lagi hasil pertanian yang mulai teresidu oleh bahan-bahan kimia yang menyebabkan berbagai macam penyakit.

Bertani yang tidak hanya mementingkan hasil tapi lebih pada proses saat itu mulai tereduksi. Petani hanya diposisikan sebagai pasar potensial yang berfungsi menyerap produk pabrikan korporasi dan hanya bertugas menghasilkan pangan murah. Mulai bibit, pestisida dan pupuk yang tak ramah lingkungan. Saat itulah, petani tak lebih objek kepentingan pemerintah dan kalangan industri saja.

Menurut Buku Natural Farming, Rahasia Sukses Bertani di Masa Krisis, kondisi tersebut yang kemudian memunculkan apa yang dinamakan Pertanian Alami. Yakni pertanian yang ingin mengembalikan kedaulatan petani. “pertanian alami yang secara ekologis menjaga keseimbangan ekosistem, mengembangkan ekonomi rumah tangga dengan kegiatan produksi yang mampu memberikan keuntungan dan mencukupi kebutuhan rumah tangga.”

86Fonnong_Meskipun istilah Pertanian Alami sendiri berasal dari Dr. Chon Han Kyu dari Korea Selatan, namun sebenarnya sistem pertanian itu sudah dipraktekkan sejak lama oleh nenek moyang Indonesia. Dengan kata lain, bukan merupakan cara baru bagi petani Indonesia. Dengan falsafah yang sederhana tapi bermakna, yakni: “Semua makhluk punya hak hidup dan proses kehidupan sendiri-sendiri, persoalannya tinggal bagaimana kita mampu mengatur keselarasan hidup bersama tersebut.”

Ya, pertanian alami memang sangat mendukung kearifan lokal yang masyarakat punya sejak dulu. “…seperti pengetahuan masa tanam, kalender musim/pronoto mongso, kecocokan tanaman dengan karakteristik petani hingga topografi/geografi setiap daerah,” tulis buku yang dieditori oleh Lily N. Batara dan Ika N. Krishnayanti itu.

Dengan cara seperti ini, lewat pengetahuan yang holistik dan dukungan semua petani dapat berdaulat. Sehingga, dapat memainkan perannya menyediakan pangan yang sehat dan aman bagi keluarga dan kita semua.

Budaya bertani alami kemudian akan menghidupkan kembali peran-peran penting dari setiap individu yang terlibat dalam usaha tani, laki-laki dan perempuan petani, pedagang, dan konsumen, serta lingkungan hidup. (*)

– See more at: http://binadesa.co/pertanian-alami-memulihkan-yang-telah-rusak/#sthash.0LkQxQer.dpuf

Jumlah Penduduk Miskin Nasional Capai 28,51 Juta Jiwa – perdesaansehat.com

Jumlah Penduduk Miskin Nasional Capai 28,51 Juta Jiwa

KOPEL ONLINE, BOGOR – Berdasarkan DATA BPS yang dilansir per Januari 2016 di www.bps.go.id menunjukkan angka kemiskinan Indonesia per September 2015 mencapai hingga 28.51 juta jiwa.

Jumlah ini mengalami kenaikan dari jumlah orang miskin Indonesia tahun 2014 (27,73 juta jiwa). Sebagian besar orang miskin tersebut berada di Perdesaan dengan jumlah 17,89 juta jiwa, sementara di perkotaan terdapat sekitar 10.62 juta jiwa. Dari segi sebaran di pulau-pulau besar Indonesia, jumlah orang miskin paling tinggi berada di Pulau Jawa sebesar 15.31 juta jiwa dan terendah di Pulau Kalimantan sebesar 0,99 juta jiwa.

Sejak tahun 2009 jumlah penduduk miskin mengalami fluktuasi. Pada tahun 2009 jumlah penduduk miskin mencapai 32,53 juta jiwa. Jumlah ini terus mengalami penurunan tahun 2013 dan kembali mengalami kenaikan pada Maret 2014. Pada September 2014, jumlah penduduk miskin berada titik terendah yaitu 27,73 juta jiwa. Kemudian meningkat lagi pada Maret 2015 hingga mencapai 28,59 juta jiwa dan hanya turun sedikit pada September 2015 dengan jumlah 28,51 juta jiwa. (AR)

Jepang Paksa Warganya Beralih ke Transportasi Massal- perdesaansehat.com

http://m.detik.com/finance/read/2013/05/24/133049/2254990/4/kisah-jepang-paksa-warganya-beralih-dari-kendaraan-pribadi-ke-transportasi-massal

Kisah Jepang Paksa Warganya Beralih dari Kendaraan Pribadi ke Transportasi Massal

Suhendra – detikFinance

Kisah Jepang Paksa Warganya Beralih dari Kendaraan Pribadi ke Transportasi Massal
Jakarta – Pemerintah Jepang memiliki kebijakan yang efektif untuk mengalihkan pengguna kendaraan pribadi beralih ke transportasi massal. Pemerintah pusat maupun pemerintah daerah di Indonesia patut mencontoh Negeri Matahari Terbit tersebut.

Atase Perhubungan Indonesia di Tokyo Jepang Popik Montanasyah mengatakan, pemerintah Jepang secara prinsip tidak membatasi atau melarang secara langsung kepada masyarakat untuk memiliki kendaraan bermotor baik mobil maupun sepeda motor berapapun jumlahnya.

“Pembatasan jumlah kepemilikan kendaraan di Jepang dimulai dari sisi eksternal pendukung yaitu tempat parkir yang sangat terbatas, pengenaan biaya parkir, biaya tol dan harga BBM yang tinggi serta hukuman dan denda yang memberatkan bagi pengemudi kendaraan bermotor yang melakukan pelanggaran,” kata Popik dikutip dari situs Kementerian Perhubungan, Jumat (24/5/2013)

Ia menuturkan, kapasitas parkir untuk gedung kantor pemerintah di kota-kota besar seperti Tokyo berkisar untuk 20 sampai dengan 40 kendaraan setara mobil sedan. Untuk bangunan gedung perniagaan berkisar antara 50 sampai 100 kendaraan dengan biaya sebesar 600 yen/jam atau jika di kurs ke rupiah sekitar Rp 60.000/jam (1 yen= Rp 100).

“Bangunan ukuran ruko untuk perkantoran swasta atau pertokoan rata-rata hampir tidak memiliki tempat parkir tersendiri,” jelas Popik.

Popik menjelaskan untuk parkir di tepi jalan diperbolehkan secara longitudinal pada ruas jalan tertentu dengan batasan parkir maksimum bervariasi antara 15 menit sampai dengan 60 menit dengan biaya bervariasi mulai dari 300 yen (Rp 30.000) sekali parkir dan setelah waktu yang ditentukan mobil harus segera keluar dari tempat parkir tersebut.

Mengenai tempat parkir umum, lanjut Popik, kapasitas maksimumnya antara 10 sampai 30 kendaraan dan lokasi parkir ini untuk wilayah tertentu berjarak sekitar 700 meter antar tiap lokasi parkir, dengan biaya parkir mulai dari 800 yen per jam.

Sedangkan untuk biaya tol di Jepang berlaku sama baik di kota Tokyo maupun kota lainnya yaitu sekitar 600 yen untuk jarak terdekat dan 3.000 yen untuk jarak terjauh.

Apabila terjadi pelanggaran terhadap aturan dalam berkendaraan, pemerintah Jepang memberlakukan sanksi yang sangat ketat mulai dari sanknsi teringan yaitu berupa denda sampai yang terberat yaitu hukuman kurungan.

Ia mencontohkan pelanggaran terhadap aturan parkir akan dikenakan denda 6.000 yen (Rp 600.000). Menelepon pada saat mengemudikan kendaraan dikenakan denda 6.000 yen. Pelanggaran terhadap rambu maupun lampu lalu-lintas dikenakan denda 15.000 yen.

“Apabila terjadi pelanggaran berulang akan dikenakan pencabutan Surat Izin Mengemudi (SIM) dari pelanggar tersebut. Pencabutan Surat Izin ini sangat dihindari oleh pengemudi mengingat proses pembuatan SIM yang sangat ketat dan diperlukan waktu jeda yang cukup lama untuk dapat memperoleh kesempatan kembali mendapatkan SIM,” jelas Popik.

Salah satu faktor lain yang mendukung Jepang mengalihkan warga yang menggunakan kendaraan pribadi ke transportasi umum yaitu tingginya harga BBM yang diberlakukan pemerintah. Saat ini harga BBM di Jepang berkisar antara 140 sampai dengan 170 yen per liter (Rp 17.000) tergantung kualitas BBM-nya.

Selain itu, menurutnya masih ada satu langkah lagi yang dianggap paling berperan dalam membatasi jumlah kendaraan di Jepang. Popik menjelaskan, pemerintah Jepang sangat ketat dalam menerbitkan Buku Kepemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB) dan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK).

Pemilik kendaraan bermotor harus dapat menunjukkan bukti bahwa telah memiliki tempat parkir untuk kendaraan yang akan dibelinya, atau telah melakukan sewa kontrak untuk parkir kendaraan yang lokasinya maksimum sejauh 2 km dari kediaman pemilik dengan biaya sewa sekitar 30.000 sampai 40.000 yen perbulan. Terhadap tempat parkir baik yang dimiliki sendiri atau kontrak sewa dapat dilakukan pembuktian atas lokasi yang diajukan pemilik oleh pejabat yang berwenang.

“Dengan demikian apabila seseorang berniat membeli kendaraan bermotor baru maka mau tidak mau harus menjual kendaraan yang lama atau apabila kendaraan tersebut tidak laku untuk dijual akan dilakukan pemusnahan (scrapping) melalui jasa layanan scrappingdengan biaya resmi mulai dari 70.000 sampai 150.000 Yen tergantung ukuran kendaraannya,” jelas Popik.

Langkah-langkah tersebut, ungkap Popik, diimbangi oleh pemerintah Jepang yang mendelegasikan wewenangnya kepada pemerintah daerah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam bertransportasi, dan mendorong pihak swasta dalam menyediakan kendaraan angkutan umum yang memadai serta mudah ditemui dan relatif dapat menjangkau hampir seluruh arah dan tujuan.

Pemerintah Jepang sangat memprioritaskan penggunaan angkutan umum mempergunakan kereta api dan bus. Keberpihakan pemerintah Jepang terhadap angkutan umum terlihat dari pemberian kompensasi khusus kepada pengusaha angkutan umum melalui kemudahan dan keringanan pajak hingga pemberian subsidi agar harga tiketnya terjangkau oleh masyarakat.

Untuk menjaga agar kualitas sarana serta prasarana angkutan umum seperti bus dan kereta api selalu memenuhi standar pelayanan yang telah ditetapkan, pemerintah selain menetapkan peraturan terhadap pengoperasian kendaraan angkutan umum juga melakukan pengawasan terhadap kualitas sarana dan prasarana dari keseluruhan sistem yang ada.

(hen/dnl)

#HibahDiriTukDesa #HDTD #desa #perdesaan

Indeks Kemiskinan Multidimensi (IKM)- perdesaansehat.com

Indeks Kemiskinan Multidimensi (IKM)

Konsep Definisi
Indeks Kemiskinan Multidimensi (IKM) mengukur kekurangan (deprivation) setiap individu ke dalam 3 dimensi yaitu kesehatan, pendidikan dan standar hidup. IKM merupakan perkalian antara proporsi penduduk yang mengalami kemiskinan dan intensitas kemiskinan individu.

Rumusan

Kegunaan
– Mengidentifikasi kemiskinan rumah tangga secara multidimensi – Membedakan antara rumah tangga yang miskin dan tidak miskin secara multidimensi

Keterangan Tambahan

Interpretasi
Nilai Indeks Kemiskinan Multidimensi yang dihasilkan menggambarkan persentase rata-rata penduduk yang mengalami kekurangan multidimensi dilihat dari 10 indikator IKM, yaitu : 1. Tidak memiliki anggota keluarga yang telah menyelesaikan pendidikan 9 tahun (SMP) 2. Memiliki minimal satu anak usia sekolah (sampai kelas 9) 3. Memiliki setidaknya satu anggota keluarga yang kekurangan gizi 4. Memiliki satu atau lebih anak yang meninggal dunia 5. Tidak memiliki listrik 6. Tidak memiliki akses air minum bersih 7. Menggunakan bahan bakar memasak dari bahan bakar arang, batubara atau kayu bakar 8. Memiliki rumah dengan lantai tanah 9. Tidak memiliki kendaraan bermotor dan hanya memiliki salah satu barang berikut ini : sepeda, sepeda motor, radio, kulkas, telepon, atau televisi.

Dihasilkan Oleh :
Analisis Sosial Ekonomi Rumah Tangga Usaha Pertanian tahun 2014

Blog at WordPress.com.

Up ↑