Catatan Akhir Tahun, Pemerintah Gagal Jalankan Program Dana Desa

LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Refleksi pembangunan perdesaan tahun 2017 adalah gagalnya pelaksanaan dana desa sebagai suatu skema perwujudan semangat UU Desa.

Demikian ditegaskan Ketua Departemen Luar Negeri Badan Pelaksana Pusat (BPP) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Serikat Petani Indonesia (SPI) Zainal Arifin Fuad dalam Catatan Akhir Tahun 2017 SPI.

Menurut Zainal, melihat kenyataan terkait dana desa terdapat dua isu besar yang perlu dibenahi, antara lain; pertama, pendistribusian dana desa seharusnya diarahkan untuk kepentingan pemberdayaan melalui penguatan kapasitas dari mayoritas masyarakat perdesaan. Penguatan ini haruslah didasarkan kepada karakteristik potensi desa serta kelembagaan ekonomi koperasi yang khas sebagai media pengembangan ekonomi masyarakat perdesaan secara luas.

Dalam realitanya, tidak jelas apakah target pembangunan infrastruktur yang didanai dari dana desa secara sistematis berimbas kepada kesejahteraan masyarakat tani di Indonesia, namun yang pasti target pembangunan Infrastruktur tersebut dinikmati oleh kelompok-kelompok kecil kontraktor dengan legitimasi dari desa.

Persentase penggunaan dana desa untuk pembangunan infrastruktur dalam tiga tahun terakhir tercatat kurang lebih 90 persen. Sisanya adalah untuk kegiatan pemerintahan dan kegiatan pemberdayaan desa. Mirisnya, angka dana desa yang digunakan untuk pemberdayaan desa tidak lebih dari 5 persen.

“Dengan target pembangunan infrastruktur yang senantiasa diukur pemerintah pusat maka desa akan tidak lebih sebagai operator pelaksanaan proyek semata,” kata Zainal dalam keterangan tertulis kepada redaksi, Kamis (27/12).

Kedua, pemerintah harus melihat pembangunan perdesaan sebagai pembangunan yang menitikberarkan kepada perlindungan kepada khazanah lokal perdesaan. Upaya pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan perlu dilakukan agar masyarakat desa tetap berdaya dalam melanjutkan relasi sosial, politik dan kulturalnya secara mandiri.

Bukan dengan memberikan instruksi yang mengubah wajah perdesaan menjadi bercorak kapitalis dan industrialis.

“Secara rata-rata petani masih dilingkupi kegamangan pemerintahan desa dalam menggantungkan ekonomi petani dan mata rantai distribusi hasil panen petani kepada pihak lain. Alhasil manfaat BUMDes belum dirasakan langsung oleh petani dalam berusaha tani,” ujar Zainal.

berita ini di kutip dari rmol.co yang dapat di baca lebih lengkapnya pada link berikut.

Orang Tionghoa di Indonesia Dijadikan Musuh, Bukan Sumber Pengetahuan Seperti Pesan Alquran, Belajar Sampai Negeri China

 

MARI KITA BELAJAR GAYA HIDUP ORANG TIONGKOK

Oleh : KH. A. Hasyim Muzadi
Pengasuh Pesantren Mahasiswa Al Hikam Malang

Saya ingin menyampaikan sesuatu yang menarik tentang RRT (Republik Rakyat Tiongkok) kepada anda sekalian.

Dengan perjalanan ini, saya menjadi lebih mengerti kenapa Rasulullah SAW menganjurkan kita supaya mencari ilmu, sekalipun ke Negeri Tiongkok.

Saya perhatikan ada beberapa kekhususan dari orang Tiongkok yaitu:

1. Segi Historis (Sejarah)

Tiongkok adalah bangsa yang tua karena beribu-ribu tahun sebelum masehi, Tiongkok sudah menjadi bangsa yang besar bersama dengan Romawi, Yunani, Persia, India, dll.

Ini adalah bangsa-bangsa tua yang ribuan tahun sebelum masehi sudah dikenal dalam sejarah.

 

2. Segi Geografis

RRT persis berada pada posisi tengah-tengah dari Benua Asia. Adapun selisih waktu antara Beijing dengan Jakarta hanya 1 jam sebagaimana selisih WIB dan WITA.

Luas Negara RRT ini luar biasa, bahkan melampui luasnya Amerika Serikat dan hampir sama dengan luas Uni Sovyet sebelum pecah.

3. Segi Populasi

Negara RRT mempunyai jumlah populasi terbesar di dunia, yaitu mencapai 1,3 milyar jiwa. Ini jumlah penduduk yang ada di Tiongkok daratan, belum lagi bangsa Tionghoa yang berada di luar RRT (Overseas Chinese).

Di Negara mana-mana pasti ada orang Tionghoa, termasuk Kalpataru, Cengger Ayam, bahkan daerah yang nyelempit-nyelempit itu. Ada satu pribahasa mengatakan : Dimana ada tebit matahari, disitulah ada orang Tionghoa .

Jadi, tidak ada satu kota pun di dunia ini yang tidak ada orang Tionghoanya.

Jumlah populasi orang Tionghoa yang berada di luar RRT itu kalau ditotal sekitar 600 juta jiwa. Sehingga kalau ditotal secara keseluruhan, maka jumlah populasi warga Tionghoa mencapai hampir 2 milyar jiwa.

4. Segi Ekonomi

Tiongkok ini adalah bangsa yang mempunyai etos kerja tinggi dan pekerja keras.

Dalam satu hari, orang Tiongkok mampu bekerja selama 11 jam, padahal kita saja yang bekerja 8 jam sehari sudah merasa berat.

Perhatikan orang Tiongkok yang buka toko. Pada pukul 06.00 dia sudah membuka toko dan tutup menjelang Maghrib, kemudian malam harinya, dia totalan. Jadi, waktu yang tersisa itu hanya digunakan untuk tidur atau untuk keperluan yang berkaitan dengan usaha dagangnya.

Di samping sebagai pekerja keras, orang Tiongkok adalah pekerja rajin dan cerdas.

Sekarang ini, tidak ada satu barang pun di dunia ini yang tidak ditiru oleh Negara RRT. Suatu saat saya pergi ke pasar malem. Di sana saya ditunjukkan jam tangan merk Rolex, mulai dari yang asli seharga 70 juta Rupiah, sampai Rolex yang seharga Rp. 70.000, dan kita sulit untuk membedakan antara yang asli dengan yang palsu. Oleh karena itu, RRT mempunyai potensi luar biasa untuk menghancurkan Barat. Apalagi produksi-produksi di sana dibuat secara besar-besaran, yaitu kalau satu orang membuat 10 baju, maka dari RRT akan mengekspor sekitar 12-13 milyar baju.

5. Rasa Persaudaraan (Kekeluargaan)

Bangsa Tiongkok mempunyai rasa batin “keluarga besar” bila dinegara luar , kalau orang Tiongkok ketemu sama orang Tiongkok lainnya, perasaannya lebih akrab dibandingkan ketemu dengan bangsa lain.

6. Segi Politik

Dahulu Negara RRT diperintah oleh Kaisar. Tunduk kepada Kaisar adalah harga mati, sehingga pada zaman Kekaisaran, Kaisar menyuruh rakyat untuk membangun tembok Raksasa Tiongkok meski harus mengorbankan ratusan ribu jiwa. Tembok Rajsasa Tiongkok ini dibangun di puncak-puncak bukit dan panjangnya sekitar sepanjang 6000 KM. Kalau ada pekerja yang mati, maka langsung dikuburkan di dekat situ. Jadi, tembok Rajsasa Tiongkok itu sebenarnya angker karena ada alam arwahnya.

Setelah itu Negara RRT dipimpin oleh Komunis. Pemerintahan Komunis ditambah dengan etos kerja bangsa Tiongkok yang luar biasa, menjadikan Negara RRT memperoleh untung besar. Kenapa?, karena nilai yang dimakan oleh masing-masing orang Tiongkok, lebih sedikit dari pada nilai hasil kerja mereka. Ibaratnya: kalau nilai kerjanya Rp. 20.000 perhari, maka dia hanya memakainya sebanyak Rp, 10.000 sehari, sedangkan yang Rp. 10.000 lainnya menjadi hak Negara, sehingga yang semakin kuat adalah Negaranya. Ini terjadi pada waktu pemerintahan Komunis dipimpin oleh tokoh bernama Mao Zhedong.

Setelah Mao Zhedong meninggal dunia, sistem ekonomi RRT diubah, namun politiknya tetap berhaluan Komunis. Artinya: orang Tiongkok masih diperintahkan untuk kolektivitas, tapi ekonomi RRT mulai dibuka pelan-pelan. Dari situ, mulai ada ekspor dan impor, investasi, dsb. Bahkan lebih dari 4 juta anak-anak muda Tiongkok , dikirim ke seluruh dunia untuk belajar membuat barang-barang yang dibuat di negara-negara yang mereka tempati. Semua itu dibiayai oleh Negara.

Akhirnya ekonomi Tiongkok meledak dan berkembang sangat pesat. Kenapa?, karena bangsa Tiongkok itu tidak suka hidup mewah, di samping karena budaya, juga karena faktor politik Komunisme yang dianut.

Jadi, Negara RRT itu dari Komunis, bergeser ke arah Sosialis yang agak longgar, bahkan sekarang menjadi Kapitalis, namun bukan “dikapitalisasi” oleh orang lain.

Dalam tempo kurang dari 20 tahun, kota-kota besar di RRT disulap menjadi lebih hebat dari pada Washington dan New York. Jadi, di sana saya seperti memasuki daerah yang exclusive , karena saya dulu pernah ke RRT, tapi tidak seperti yang sekarang ini. Sekarang ini Negara RRT luar biasa hebatnya dan mulai menggeser posisi ekonomi Barat.

Kenapa itu bisa terjadi?, karena RRT tidak mau terikat dengan semua ikatan ekonomi internasional, baik itu IMF, ILO, WTO, dsb. Sehingga RRT ini berjalan tidak berdasarkan konsensus internasional, melainkan menggelinding sendirian dengan kekuatan raksasa yang mereka miliki.

Hidup orang Tiongkok tetep sederhana, karena mereka mempunyai budaya yang mengacu kepada filsafat Konghucu. Sekalipun orang Tiongkok adalah komunis yang menganut ajaran tidak bertuhan (atheisme), tapi sebenarnya mereka masih mengamalkan jujung tinggi ajaran Kongfuche sampai hari ini.

Orang Tiongkok yang beragama Kristen menganut Konghucu juga, orang Tiongkok yang beragama Islam juga menganut firsafat Konghucu, dsb.

Filosofi Konghucu sedari dulu sudah menjadi landasan berbangsa dan bernegara.

Umat Islam di Tiongkok tidak besar, jumlah mereka kurang lebih sekitar 50 juta saja. Apa artinya 50 juta muslim di tengah-tengah 1.3 milyar penduduk RRT. Orang Islam di sana rata-rata sudah berusia tua yang kelasnya “Husnul khatimah”.

Nah, yang menarik bagi saya dan mungkin cocok dengan kandungan Hadits di atas adalah bahwa bangsa Tiongkok itu selalu hidup di bawah jumlah penghasilannya. Saya kira, sikap ini perlu kamu tiru. Tidak ada orang Tiongkok yang menghabiskan uang Rp. 10.000 sehari, kalau penghasilannya tidak mencapai Rp. 15.000. Ketika orang Tiongkok masih berpenghasilan Rp. 5.000, maka dia hanya makan sebanyak Rp. 4.000 saja. Jadi, irang Tiongkok itu pantang memakan habis hasil keringatnya dan harus ada sisa dari hasil keringatnya tadi.

Bangsa Tiongkok /Tionghoa sudah terbiasa hidup sederhana. Mereka bisa bikin mobil, motor, dsb. Mereka juga bisa meniru sepeda motor model Harley Davidson. Meskipun demikian, mereka jarang naik sepeda motor.

Saya lihat di kota Beijing , kalau orang mau bepergian yang jaraknya kurang dari 1 KM, maka mereka memilih jalan kaki; kalau lebih dari 1 KM, mereka memilih naik sepeda; dan kalau lebih dari 5 KM, maka mereka memilih naik bus.

Kalau sudah kaya betul, baru mereka mempunyai mobil; itupun jarang dipakai, karena mereka lebih suka naik bus sekalipun sudah mempunyai mobil sendiri. Alasan mereka sederhana dan rasional, yaitu jalan kaki itu lebih hemat, lebih sehat, lebih selamat, dan anti-polusi.

Di sana juga banyak sepeda pancal, namun sepeda yang dipakai itu jelek-jelek, karena yang baik-baik itu untuk dijual. Jadi, bangsa Tiongkok ini mempunyai sifat-sifat yang agak aneh dibandingkan dengan bangsa-bangsa yang lain. Du Tiongkok itu kalau yang terbaik untuk dijual, sedangkan yang jelek untuk dipakai sendiri.

Di RRT jarang ada rumah mewah, yang banyak adalah rumah susun, maklum jumlah penduduknya milyaran orang. Sedangkan bangunan yang megah-megah adalah semacam universitas, pertokoan, mall, kantor, dsb.

Orang-orang Tiongkok/Tionghoa jarang yang gemuk, padahal makannya banyak. Mereka bisa langsing karena sering jalan kaki dan berolah raga rutin.

Bahkan hampir seluruh tumbuh-tumbuhan yang berkhasiat sebagai obat-obatan, tumbuh subur di Negara Tiongkok/RRT, Ibaratnya, Negara Tiongkok adalah miniatur dari tanaman-tanaman yang berkhasiat obat.

Lha, ini yang menginspirasi Mr. Li Xiang untuk memproduksi obat-obatan, tapi sudah dimodernisir.

Pabrik yang dimiliki oleh Mr. Xiang ini sekarang sudah menguasai 1/3 pasaran obat di dunia. Dia menggunakan sistem MLM (Multi Level Marketing) dan sistem bonus, yaitu setiap orang yang berhasil menggaet pelanggan lain, akan diberi bonus. Jadi, kalau saya membuat 100 anak Al-Hikam membeli produk obatnya, maka saya akan mendapatkan keuntungan dari 100 orang tadi. Dengan sistem promosi yang berjenjang seperti ini, maka orang berlomba-lomba kaya melalui pabrik milik Mr. Xiang ini. Bonusnya juga ndak tanggung-tanggung, ada bonus berupa pesawat, kapal pesiar, mobil, sepeda motor, dsb.

Saya sudah ke Eropa, Amerika, Timur Tengah, Afrika, dsb., saya melihat bangsa Tionghoa ini memang aneh. Mereka lebih mendulukan bekerja daripada makan. Jumlah yang dimakan harus di bawah hasil kerja. Sebenarnya makannya orang Tionghoa itu banyak sama dengan makannya orang Arab; akan tetapi karena mereka berolah-raga terus, sehingga jarang yang gemuk. Lain halnya dengan orang Amerika, di sana ada wong gowo wetenge tok wis kabotan, mergo kakean badokan (orang bawa perutnya sendiri sudah keberatan, sebab kebanyakan makan berlebihan red.).

Lalu saya teringat pada Hadits Rasulullah SAW , Hadits itu ditujukan untuk urusan kehidupan duniawi.

Bangsa Tionghoa ini pekerja keras dan pekerja cerdas. Kalau orang Bugis, Madura dan Batak adalah pekerja keras, tapi tidak cerdas, sehingga kalau ayahnya jualan rokok di rombong, maka anaknya juga demikian. Beda dengan orang Tiinghia, kalau ayahnya jualan kacang buntelan, maka pada saat anaknya nanti, usahanya sudah menjadi pabrik kacang. Jadi, untuk faktor enterpreneurship, mungkin org Tionghoa itu nomer satu di dunia.

Orang Barat itu hebat dalam hal penelitian dan penemuan. Mereka meneliti sampai bisa menemukan listrik, kereta api, silinder, dsb.

Adapun masalah berdagang dan mencari rezeki, jagonya adalah org Tionghoa.

Sedangkan kalau makan tapi tidak kerja, jagonya adalah orang Indonesia. Jadi, orang Indonesia itu maunya, kalau kerja tidak berkeringat, tapi kalau makan, harus berkeringat …

Berarti di sini kita mengalami hambatan budaya untuk maju.

Ini semua membuat saya mikir-mikir: Seandainya ibadah, tauhid, dan akhlaq kita digandengkan dengan etos kerjanya orang Tionghoa , maka saya kira, itulah yang dimaksud oleh Hadits Rasulullah SAW:

“Bekerjalah untuk duniamu, seakan-akan engkau hidup selamanya; dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati esok hari”

Kesalahan orang Islam adalah menghindari kerja keras, seakan-akan tidak bekerja keras adalah bagian dari tasawuf, padahal pandangan seperti itu adalah bagian dari kebodohan.

Tasawuf itu ngeresii ati, bukan nganggur. Banyak orang Islam yang merasa mulya ketika ngganggur, tapi kok urip, padahal orang seperti ini pasti menjadi benalu atau seperti bunga teratai yang hidup terombang-ambing di atas air, sekalipun berbunga, ia tidak bisa lepas dari air. Oleh karena itu, saya ingin kamu semua mempunyai etos kerja dan enterpreneurship.

Saya melihat orang Tionghoa di sana jarang omong. Mereka ngomong seperlunya, karena pekerjaan lebih mereka dahulukan.

Sedangkan di sini, omong-omongan tok iso sampek 4 jam sambil ngentekno kopi 4 gelas (berbincang-bincang saja bisa sampai 4 jam sambil menghabiskan kopi 4 gelas. red), serta bercerita yang sama sekali tidak ada gunanya.

Ini disebut dengan wasting time (menyia-nyiakan waktu), padahal di dalam Hadits disebutkan bahwa orang yang menyia-nyiakan waktu atau hidupnya, berarti dia sedang disia-siakan oleh Allah SWT.

Sebenarnya Islam mengajarkan etos kerja ini ketika Rasulullah SAW ditanya:

“Rezeki apa yang paling baik?”

Beliau menjawab:

“Rezeki terbaik adalah rezeki hasil tangannya sendiri”.

Kadang-kadang, karena orang tua masih cukup, maka seseorang nebeng kepada orang tua, sementara dia sendiri tidak ada mempunyai kreativitas; sehingga begitu ditinggal mati oleh orang tuanya, dia akan kelabakan.

Saya melihat bahwa perusahaan-perusahaan besar milik orang Keturunan Tionghoa di Indonesia, rata-rata Grand Manager-nya berusia di bawah 40 tahun. Misalnya: Gudang Garam, Djarum, dsb. Perusahaan-perusahaan itu sudah tidak dipegang oleh ayahnya, karena ayahnya sudah menjadi konsultan, sedangkan yang menjadi eksekutif commite-nya adalah anak-anaknya.

Saya sebenarnya ingin kamu berlatih dua hal, yaitu:

🔸 Jangan memubadzirkan waktumu, demi menegakkan etos kerja dan …

🔸 Berusahalah berprestasi lebih tinggi dari pada apa yang kamu butuhkan.

Hal-hal seperti di atas, kalau digandengkan dengan akhlak dan tauhid, maka itulah bentuk nyata dari fiddunya hasanah wa fil-akhirati hasanah.

Negara-negara Islam, mulai dari Saudi Arabia sampai Maroko, adalah Negara-negara yang kaya, namun bukan Negara yang maju. Negara-negara di Timur Tengah menjadi Negara kaya, karena mempunyai minyak yg melimpah. Namun karena yang menyedot minyak adalah Amerika, maka Negara-negara Timur Tengah hanya dikasih 15 % dari hasil sedotan. Itu sudah membuat mereka menjadi Negara kaya, akan tetapi tidak bisa menjadikan mereka sebagai Negara maju, karena nyedot minyak saja tidak bisa.

Sementara Negara-negara di Timur Tengah yang tidak punya minyak, semuanya menjadi Negara miskin, contoh: Mesir, Tunisia, Al-Jazair, Moroko, apalagi Sudan.

Sudan itu ibukotanya bernama Kartoum, namun bandara Kartoum saja tidak ada WC-nya, sehingga kalau mau kencing harus melayu adoh ke tempat sing gerumbul-gerumbul (yang rimbun. red), sehabis kencing, diobati (maksudnya; diobat-abit).

Sebenarnya, perintah melihat bangsa Tionghoa adalah bagian dari Hadits yang menyatakan bahwa hikmah itu adalah milik orang mukmin. Kalau hikmah itu kececer pada orang lain, maka hikmah itu adalah milikmu.

Jangan karena tidak Islam, lalu kamu memusuhi mereka.

Karena mutiara itu kececer dan dipegang oleh orang lain, maka ambil kembali hikmah itu.

Contoh: Penelitian itu kan perintah Islam, lalu kenapa kita tidak memakai hasil penelitian orang Eropa …?

Dulu, sebelum orang Eropa maju, yang bisa meneliti dalam bidang kedokteran, matematika, gizi, dsb. diteliti oleh ulama-ulama Islam.

Oleh karena itu, ambillah hikmah dari mana saja, asal hikmah itu benar menurut syariat Islam.

Jadi, tidak bagus kalau ada orang yang membeda-bedakan antara daerah Islam dengan daerah yang tidak Islam. Karena di daerah Islam itu ada tauhid, namun ada kelemahan; sedangkan di daerah yang tidak Islam, ada kekufuran, namun ada kelebihannya.

Hanya saja, sampai hari ini, orang-orang Timur Tengah, masih juga membagi peta antara Negara Islam dengan Negara tidak Islam, padahal mutiara-mutiara Islam sebagai agama, telah tercecer di sana-sini, karena tidak dipegang oleh orang muslim di negara Islam itu sendiri.

Ketika saya masuk Somalia, penduduknya begitu miskin … Kalau di sana ada orang bisa makan cukup setiap hari, itu sudah Alhamdulillah …

Padahal Negara ini mempunyai tambang-tambang yang banyak.

Ini semua mengingatkan kita, kenapa Negeri Islam, penduduknya miskin-miskin, sedangkan penduduk di daerah non-muslim kok tidak demikian. Ilmu memang ada di sini, namun yang melakukan adalah orang di luar Islam … Jadi, ilmu etos kerja, ilmu penelitian dan kerja keras adalah Islami.

Mereka yang melakukan ilmu itu, meskipun ndak pakai syahadat; sedangkan di Negara-negara Islam pakai syahadat, tapi ilmunya tidak diamalkan.

Jadi, kalau syahadat itu ibarat lokomitif, sedangkan gerbongnya adalah ilmu. Baik lokomotif maupun gerbong, itu sama-sama diperlukan.

Kalau ada lokomotif ndak pakai gerbong, itu kan lucu … Akhirnya di Negara-negara Islam, penduduknya bertentangan karena selisih paham, saling bunuh-membunuh karena selisih aliran, dsb.

Jadi, Islam yang kaffah itu bukan Negara harus di-stempel Islam, namun unsur-unsur ke-Islam-an yang harus diterapkan di Negara itu.

Nah, sekarang itu, golongan seperti Hizbut Tahrir, FPI, dsb. mengatakan bahwa Islam Kaffah adalah kalau Indonesia yang dihuni oleh banyak orang Islam ini, distempel Islam; ndak peduli apakah masyarakat di dalamnya itu menjadi maling atau tidak …

Padahal yang akan dihisab nanti adalah orang-perorang, bukan institusi … Jadi yang harus bertanggung jawab adalah individu, bukan nation state-nya.

Baru pemahamannya saja, mereka sudah menceng dan tidak karu-karuan … Mereka itu sebenarnya tidak kaffah, tapi merasa paling kaffah.

Kemarin saya didatangi oleh Redaktur Majalah Sabili; saya dikritik karena saya kok masih mempertahankan Pancasila, kenapa kok tidak setuju dengan Khilafah, berarti tidak kaffah … Lalu saya jawab:

“Lho, yang dimaksud kaffah bukan simbolistik-simbolistik, melainkan hikmah-hikmah Islam yang berserakan, kemudian dijadikan satu, itulah Islam kaffah.”

Untuk mengerti bahwa shadaqah itu penting, kita cukup membaca Hadits … Akan tetapi untuk menciptakan masyarakat yang mampu bersedekah, maka tidak cukup hanya dengan menghafalkan Hadits-hadits, karena itu adalah proses perjuangan ekonomi kerakyatan.

Sementara sekolah-sekolah Islam yang di Timur Tengah, isinya menghafal saja, sehingga berhenti sampai hafalan, tidak pada aktualisasinya …

Dino-dino omongane dalil (sehari-hari bicara dalil. red), tapi dalil iku gak tahu dilakoni (tidak pernah dilakukan. red).

Semua ini menjadikan saya termenung …

Sudah berapa Negara yang saya kelilingi, saya kira sudah lebih dari 40 Negara. Namun, untuk kunjungan ke RRT, rasanya lain bagi saya.

Bagaimana tidak …?

Mereka punya sesuatu, tapi tidak mau pakai; mempunyai etos kerja tinggi, tetapi hidup sederhana; barang yang terbaik untuk dijual, sedangkan yang asal jadi, dipakai sendiri. Mereka juga jarang yang mau pakai sepeda motor, karena mengakibatkan polusi dan tidak sehat. Maka dari itu, umure wong Tiongkok iku dowo-dowo, gak mate-mate sampek tuek tuyuk-tuyuk (umur orang Tiongkok itu panjang-panjang, tidak mati-mati sampai tua. red) , bahkan mencapai usia lebih dari 100 tahun.

Jadi, budaya kita ternyata tidak produktif. Bagaimana kita bisa mempunyai budaya yang produktif, tapi etis dan tauhidi dan Islami, ini baru menjadi bangunan dari fiddunya hasanah wa fil akhriati hasanah.

Saya masih akan ke Moskow. Rusia itu dedengkot komunis dunia. Mereka telah mendirikan komunisme yang bertahan selama 70 tahun, lalu ambruk.

Kenapa Rusia setelah direformasi, kok ambruk, sedangkan Tiongkok setelah reformasi kok malah melejit, padahal keduanya sama-sama komunis …?

Itu karena komunis di Tiongkok menggunakan budaya Tiongkok (filosofi Konghucu), yaitu makan kurang dari penghasilan; sementara orang Rusia, biaya makan melebihi kapasitas hasil kerjanya.

Sekarang ini orang Tiongkok pergi ke Moskow secara besar-besaran untuk menggarap pertanian-pertanian. Sehingga sekarang ini Rusia tampaknya berada di bawah kendali RRT.

Ketika saya di RRT(Republik Rakyat Tiongkok) , saya bertemu dengan pedagang Amerika yang berasal dari Wall Street di New york … Dia minta dengan hormat, supaya Tiongkok itu tidak mengekspor barang-barang seperti sekarang ini, karena kalau ini diteruskan, maka perekonomian akan ambruk dalam 5 tahun.

Jawabnya orang Tiongkok :

“Saya tidak ingin mengekspor barang saya, kalau rakyat Anda tidak ingin membeli barang saya”.

Hitungan kan begini: PendudukTiongkok itu berjumlah 1.3 Milyar jiwa, kalau setiap orang memperoleh bati 1$ saja, berarti untungnya sudah mencapai 1.3 Milyar dollar. Jadi, gimana mereka mau disaingi, itu kan tak mungkin.

sumber artikel :
http://mylazuardi.multiply.com/journal/item/7/belajarlah-gaya-hidup-kepada-bangsa-Tionghoa

Di Negeri Kita ini

orang suku Tionghoanya dijadikan “MUSUH”

Dijadikan Kambing Hitam

Bukan dijadikan “GURU”.

Issue Kesehatan Global Terbesar Tahun 2017

Issue Kesehatan Global Terbesar Tahun 2017 anatara lain :

  1. Pemilihan Ketua WHO
  2. Pengembalian kembali “Peraturan Global GAG”
  3. Proses Dana Global Kesehatan yang kontroversial
  4. Kontroversi mengenai kontrak kesehatan terbesar USAID
  5. Wabah kolera di Yaman
  6. Pergeseran kebijakan dan pemotongan anggaran AS
  7. Momentum kesetaraan jender
  8. Kematian pemimpin kesehatan global
  9. Vaksin
  10. Pertarungan melawan ancaman kesehatan masyarakat lama dan baru muncul Dll.

Dan lain-lain yang untuk lebih jelasnya dapat di baca pada website http://www.devex.com pada link Berikut Ini.

 

 

 

Siapa yang dapat menolong wanita jika wanita sendiri tidak memecahkannya? Tidak berusaha, tidak bertindak, tidak beraksi, tidak pula mencari jalan??

Surgaku Di Kaki Mu Ibu, Nasehat dan Semua hal yang engkau berikan atas cinta dan kasih sayangmu saat kami dalam kandunganmu, pelukan dan suapanmu, asuhan perwatanmu yang disertai selalu doa tulusmu, saat kami hanya bisa menangis, tertawa dan memekik sampai mulai bisa merangkak dan berlari, serta kami ingat saat selalu ada dalam pengawasanmu untuk melindungi kami saat mulai remaja sebagai buah hati dari perpaduan kasih dan cintamu pada ayah, dan saat kami menerima begitu banyak kehangatan pandangan “cemburu” sekaligus bangga dan bahagia disaat kami mulai meniti kesiapan untuk dewasa dan berbagi kasih, perhatian dan waktu untuk Mu dengan calon pasangan kami serta pilihan karir masa depan kami, dan kedekatan dengan kasih sayangmu perlahan kami lebih siap untuk mulai mandiri melalui hantaran tangis bahagiamu saat mengantarkan kami penghulu untuk melakukan hal yang sama yang enkau dan ayah lakukan dalam mempersiapkan diri untuk mampu memberikan semua curahan kasih, sayang dan cinta pada cucu cucu mu. semoga engkau diberikan tempat yang layak di sisi Allah SWT. Amin. Terima kasih kami pada Mu Ibu dan Ayah dari semua keluarga yang engkau harapkan melalui doamu selama ini. SELAMAT HARI IBU ….

HANIBAL HAMIDI

22 Desember selalu dirayakan sebagai Hari Ibu. Tak sedikit yang belum tahu, asal muasal penetapan Hari Ibu di Indonesia. Dari beberapa informasi yang dihimpun dari sejumlah sumber, 22 Desember 1928 merupakan pertama kalinya Kongres Perempuan di Indonesia diselenggarakan.

Dalam kongres yang digelar di kota perjuangan Yogyakarta, sejumlah perempuan bertemu membahas perjuangan perbaikan derajat kedudukan perempuan. Di antara yang hadir adalah Nyi Hajar Dewantara yang merupakan istri tokoh pendidikan Ki Hajar Dewantara.

Ada pula Suyatin, Putri Indonesia pertama yang menjadi ketua penyelenggara. Salah satu keputusannya adalah dibentuknya satu organisasi federasi yang mandiri dengan nama Perikatan Perkoempoelan Perempoean Indonesia (PPPI).

Tetapi di dalam permusyawaratan-permusyawaratan yang demikian itu, saya selalu hanya memberi petunjuk garis–garis besar saja, dan selalu saya peringatkan bahwa soal wanita hanyalah dapat diselesaikan oleh wanita sendiri. Terutama sekali di dalam prakteknya pemecahan soal-soal cabang, soal-soal ranting, – siapa yang dapat menolong wanita jika wanita sendiri tidak memecahkannya? Tidak berusaha, tidak bertindak, tidak beraksi, tidak pula mencari jalan?

Saya sepaham dengan Vivekananda yang selalu, jikalau ditanya oleh orang laki-laki tentang soal-soal kecil urusan wanita (soal-soal yang tidak prinsipiil) lantas menjawab:
”Apakah aku ini seorang wanita, maka engkau selalu menanyakan hal-hal yang semacam itu kepadaku? …Engkau itu apa, maka engkau mengira dapat memecahkan soal-soal wanita? Apa engkau itu Tuhan Allah, maka engkau mau menguasai tiap-tiap janda dan tiap-tiap perempuan? Hands off! Mereka akan mampu menyelesaikan soal-soalnya sendiri!”

Ya, wanita sendiri harus bertindak, wanita sendiri harus berjoang! Tetapi ini tidak berarti, bahwa wanita harus berusaha terpisah sama sekali dari pihak laki-laki. Tidak, untuk kepentingan wanita pula, wanita harus menjadi roda hebat dalam Revolusi Nasional; wanita di dalam Revolusi kita ini harus bersatu aksi dengan laki-laki, dan wanitapun harus bersatu aksi dengan wanita pula.
Jangan terpecah belah, jangan bersaing-saingan! Jangan ada yg memeluk tangan!

Tulisan Presiden Soekarno di Buku SARINAH, Kewajiba Wanita dalam Perjuangan Republik Indonesia, Yogyakarta, 3 November 1947.

Sesi Hari Ibu (Wanita), tgl 22 Desember

PP No 45 Tahun 2017 tentang Partisipasi Masyarakat dalam Penyelenggaraan Pemerintah Daerah

Berikut kami berikan link untuk mengunduh PP No 45 Tahun 2017 tentang Partisipasi Masyarakat dalam Penyelenggaraan Pemerintah Daerah

PP No 45 Tahun 2017 tentang Partisifasi Masyarakat Dalam Penyelenggaraan Pemda adalah sebuah Regulasi yang sangat setrategis dalam kerangka agenda Konsolidasi Demokrasi melalui adanya komitmen politik pemerintah dalam untuk memfasilitasi dan mengakomodasi Peran Partisifasi Masyarakat yang berkualitas dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan pembangunan Daerah Provinsi, Kabupaten dan Kota.

Semoga demikian juga untuk Pemerintah Pusat dan Desa diberikan regulasi yang tipikal dengan hal ini.

Selamat Bagi Kita Semua.

Hanibal Hamidi, #merDesaInstitute #PemerataanPembangunan #PersepatanPembangunan

PP Nomor 45 Tahun 2017 (PP Nomor 45 Tahun 2017)

Blog at WordPress.com.

Up ↑