Issue Kesehatan Global Terbesar Tahun 2017

Issue Kesehatan Global Terbesar Tahun 2017 anatara lain :

  1. Pemilihan Ketua WHO
  2. Pengembalian kembali “Peraturan Global GAG”
  3. Proses Dana Global Kesehatan yang kontroversial
  4. Kontroversi mengenai kontrak kesehatan terbesar USAID
  5. Wabah kolera di Yaman
  6. Pergeseran kebijakan dan pemotongan anggaran AS
  7. Momentum kesetaraan jender
  8. Kematian pemimpin kesehatan global
  9. Vaksin
  10. Pertarungan melawan ancaman kesehatan masyarakat lama dan baru muncul Dll.

Dan lain-lain yang untuk lebih jelasnya dapat di baca pada website http://www.devex.com pada link Berikut Ini.

 

 

 

Surat Rekomendasi dari SATGAS IMUNISASI DEWASA 

Berikut surat rekomendasi dari SATGAS IMUNISASI DEWASA

Sehubungan dengan Kejadian Luar Biasa (KLB) Difteri di 23 provinsi di Indonesia maka bersama ini Satgas lmunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Perhimpunan Alergi lmunologi Indonesia (PERALMUNI) dan Perhimpunan Kedokteran Tropis dan lnfeksi Indonesia (PETRI):
1.Mendukung kebijakan Kementerian Kesehatan RI untuk melakukan Outbreak
Response Immunization(ORI) pada daerah KLB. Diharapkan anggota PAPDI dapat memberikan informasi yang benar kepada masyarakat mengenai KLB difteri ini dan sebagai pegangan dapat merujuk kepada informasi Kemenkes dan IDAI.
2. Mengingatkan kembali perlunya imunisasi ulangan pada orang dewasa untuk mencegah tetanus, difteri, dan pertusis. Sesuai dengan jadwal imunisasi dewasa PAPDI,pada orang dewasa yang telah mendapatkan imunisasi tetanus-difteri-pertusis dasar yang lengkap, imunisasi ulangan dilakukan 10 tahun sekali. Adapun vaksin yang dapat digunakan adalah kombinasi Tetanus-difteri-aseluler pertussis / Tdap (Boostrix atau Adacel) atau Tetanus-difteri / Td (Biofarma).
3.Orang dewasa kelompok risiko tinggi untuk kontak dengan anak yang terinfeksi difteri
seperti petugas poliklinik dan perawatan inap anak, petugas poliklinik dan perawatan inap THT, petugas gawat darurat, guru atau pendamping anak, dan anggota keluarga anak yang terinfeksi difteri dianjurkan untuk menjalani imunisasi Tdap atau Td.
4. lmunisasi Tdap pada ibu ham ii dilakukan pada usia kehamilan trimester 2 dan 3.
5. Pemerintah telah melaksanakan imunisasi tanggap KLB (ORI) untuk anak usia 1 – <19 tahun secara cuma-cuma. Untuk ulangan imunisasi Tdap atau Td pada orang dewasa dilaksanakan dengan biaya mandiri.
6. Mengingatkan seluruh anggota PAPDI untuk mengajak masyarakat melaksanakan
gaya hidup sehat serta menjalani imunisasi agar tercapai cakupan yang tinggi untuk mencegah penularan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.

 

Berikut kami kirimkan pula copy surat  aslinya yang dapat di unduh pada link : Rekomendasi Imunisasi Difteri

beserta kami kirimkan pula jadwal imunisasi dewasa tahun 2017 pada link berikut : jadwal imunisasi dewasa 2017

dan bahan bacaan dari website WHO terkait imunisasi pada link berikut :Vaccines-and-trust

Mari kita samakan dulu pemahaman: apa definisi imunisasi difteri lengkap? Yaitu ketika:

  • Usianya satu tahun, sudah dapat vaksin DPT atau DPaT 3x (tiga kali). Karena imunisasi DPT/DPaT kombo dengan Hib dan/atau Hepatitis B dan polio diberikan pada usia 2, 3, dan 4 bulan (atau 2, 4, dan 6 bulan).
  • Usianya 18-24 bulan, sudah dapat vaksin DPT/DPaT kombo 4x (empat kali)! Ya, vaksinasi dosis ke-4 diberikan pada usia 18 bulan.
  • Mendapatkan dosis DPT atau DT ke-5 di usia 5 tahun (4 – 6 tahun). Atau bila tidak mendapatkannya di praktik dokter mandiri/RS, maka dapat imunisasi DT ke-5 ini saat BIAS (bulan imunisasi anak sekolah) di kelas 1-2 SD.
  • Mendapatkan dosis Td (tetanus dan difteri) ke-6 di usia 10-12 tahun.

Jadi ketika orangtua membawa anaknya dengan kecurigaan sakit difteri di usia 2 tahun, tetapi ketika ditanyakan apakah sudah lengkap imunisasinya ia menjawab sudah, padahal kenyataannya baru dapat 3 dosis sebelum berusia 1 tahun, maka artinya tidak lengkap status imunisasinya! Karena belum dapat dosis ke-4.

Begitu juga contoh lain ketika anak berusia 8 tahun dengan kecurigaan sakit difteri mengaku lengkap status imunisasinya, padahal belum dapat dosis ke-5 saat berusia 5 tahun atau saat BIAS, maka artinya belum lengkap imunisasi difterinya. Imunisasi yang tidak lengkap ini berisiko membuat anak tetap sakit, seiring menurunnya kekebalan tubuh yang diciptakan oleh vaksin. Itulah mengapa ada yang namanya dosis pengulangan atau booster pada imunisasi.

Maka petugas kesehatan HARUS memastikan kelengkapan status imunisasi dengan melihat buku catatan kesehatan atau buku KIA/KMS anak, bukan semata berdasarkan keterangan lisan orangtua.

Dan orangtua harus memastikan lagi status kelengkapan imunisasi anak-anaknya lewat buku catatan, serta menyimpannya dengan baik, jangan sampai hilang.

( Dr. dr. Soedjatmiko, Sp.A(K) dari Satgas Imunisasi IDAI )

OUTBREAK RESPONSE IMUNIZATION DIFTERI (ORI DIFTERI)

Apa Itu Outbreak Response Imunization Difteri atau ORI Difteri ?

Outbreak Response Imunization Difteri (ORI Difteri) adalah suatu kegiatan imunisasi secara massal sebagai upaya untuk memutuskan transmisi penularan penyakit difteri pada anak usia 1 tahun sampai dengan <19 tahun yang tinggal di daerah KLB tanpa mempertimbangkan status imunisasi sebelumnya

Penyakit Difteri berbahayakah ?

Penyakit Difteri disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium Diptheriae dapat menyebabkan komplikasi yang serius, seperti sumbatan saluran nafas serta peradangan pada otot jantung bahkan kematian.

Penyakit Difteri dengan gejala demam 38℃, sakit menelan, selaput putih keabu-abuan di tenggorokan, leher membengkak dan sesak nafas disertai suara mengorok.

Selain itu bakteri Corynebacterium diptheriae akan mengeluarkan racun difteri yang bisa membuat peradangan otot jantung dan akhirnya akan menyebabkan kematian

Pengobatan untuk penyakit Difteri rawat inap di ruangan isolasi, pemberian antibiotik dan jika perlu diberikan anti racun difteri atau Anti Difteri Serum (ADS)

penyakit Difteri dapat dicegah. Imunisasi dengan vaksin DPT-Hib-HB/DT/Td adalah pencegahan terbaik untuk penyakit Difteri.

Siapa aja yang mendapatkan Outbreak Response Imunization Difteri atau ORI Difteri ?

Outbreak Response Imunization Difteri atau ORI Difteri diberikan untuk semua anak usia 1 tahun sampai dengan usia kurang dari 19 tahun

ORI akan dilaksanakan sebanyak 3 putaran, dengan interval 0-1-6 bulan
Dimulai pada minggu ke 2 bulan Desember 2017

ORI akan memberikan vaksin dengan ketentuan sbb :

  • DPT-HB-Hib : usia 1 thn – <5 thn
  • DT : usia 5 thn – <7 thn
  • Td : usia 7 tahun <19 thn

Dimanakah bisa mendapatkan Outbreak Response Imunization Difteri atau ORI Pelaksanaan di sekolah masing – masing

  • TK, PAUD
  • SD/ MI/ Sederajat
  • SMP/MTS/ Sederajat
  • SMA /MA/ Sederajat
  • Perguruan Tinggi / Universitas
  • RS
  • Puskesmas
  • Faskes lain
  • Posyandu,
  • Day care
  • Apartemen
  • Rusun
  • Pos Vaksinasi lain yg ditetapkan oleh Puskesmas

Lindungi putra, putri, kerabat, orang- orang yang kita sayangi dari ancaman penyakit difteri

Dapatkan imunisasi Difteri

GRATIIIIISSSSS

400 juta orang masih kekurangan akses terhadap layanan kesehatan esensial secara Global

400 juta orang masih kekurangan akses terhadap layanan kesehatan esensial. Di antara keluarga berpenghasilan rendah dan menengah, 6 persen orang terdesak ke dalam kemiskinan ekstrim atau berada di sana dengan pengeluaran layanan kesehatan.

Konsensus politik internasional yang berkembang muncul seputar jangkauan kesehatan universal. Sejak dia mengambil alih sebagai direktur jenderal Organisasi Kesehatan Dunia pada bulan Juli, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus telah menempatkan UHC di puncak agendanya. Para pemimpin G20 Memuji UHC dalam pidato akhir mereka dari pertemuan tahun ini di Hamburg, Jerman. Dan tujuan pembangunan keberlanjutan menyerukan akses terhadap layanan kesehatan tanpa kesulitan keuangan. 

Namun saat isu tersebut mendapat perhatian di tingkat tertinggi, 400 juta orang masih kekurangan akses terhadap layanan kesehatan esensial. Di antara keluarga berpenghasilan rendah dan menengah, 6 persen orang terdesak ke dalam kemiskinan ekstrim atau berada di sana dengan pengeluaran layanan kesehatan. 

Dr. Rüdiger Krech, direktur sistem dan inovasi kesehatan WHO, mengatakan bahwa mengatasi hambatan untuk memberikan perawatan medis dasar tidak hanya memerlukan komitmen politik tapi juga kolaborasi global, implementasi kebijakan, dan tindak lanjut yang berkelanjutan. Dia berbicara kepada Devex tentang kedua tantangan tersebut dan bagaimana hal itu harus ditangan.

Untuk selengkapnya dapat dibuka pada Link Berikut

Kiriman sahabat Prof. Chandra Yoga.

Tokoh Kesehatan Nasional yang sedang bertugas di WHO

Konsolidasi Percepatan PPMD bidang Kesehatan dan Pendidikan Desa Terutama Tata Kelola Issue Stunting

Konsolidasi Percepatan PPMD bidang Kesehatan dan Pendidikan Desa Terutama Tata Kelola Issue Stunting pada kegiatan Rapat Koordinasi Nasional Generasi Sehat dan Cerdas yang dilaksanakan di Hotel Falatehan sejak tanggal 25 Agustus hingga 30 Agustus 2017 , yang dimana pada hari minggupun Bapak Hanibal Hamidi melakukan konsolidasi  demi tercapainya tata kelola yang baik akan issue stunting tersebut.

 

Blog at WordPress.com.

Up ↑